Reaksi dari para pemimpin masih segar dalam ingatan saya. Kami mempelajari lebih dalam beberapa ayat yang berhubungan dengan buah-buah pengajaran Hukum Taurat Musa dan reaksi itu muncul dengna seketika. Mereka melihatnya dengan jelas.
Mari kita melihat beberapa ayat yang kami diskusikan. ” Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak (Rom 5:20).” ”Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: “Jangan mengingini!” Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa mati (Rom 7:7-8).” ”Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat (1 Kor 15:56).”
Jika saya meminta Anda menutup mata dan TIDAK memikirkan tentang ayam panggang, nasi hangat dan Fanta, apa yang terjadi? Kemungkinan Anda malah akan memikirkannya! Mengapa? Karena saya memasukkannya dalam pikiran Anda. Hal itu telah menjadi fokus Anda sekalipun saya mengatakan agar Anda TIDAK melakukannya. Dengan cara yang sama; jika kita banyak mengajarkan tentang berbagai macam dosa, maka kemungkinan besar hal-hal tersebut yang muncul dalam pemikiran orang. Karena itu marilah kita berhenti berfokus pada dosa-dosa dan mulai berfokus pada Yesus, karya yang telah Ia selesaikan di kayu salib, siapakah Dia di dalam kita dan siapakah kita di dalam Dia. Dengan demikian hal itu yang akan ada di pikiran orang dan mereka akan dibebaskan untuk hidup sesuai dengan hal itu.
Nikmati artikel pengajaran penting tentang Perubahan Sejati yang disampaikan dalam newsletter GGN ini dan ijinkan Allah menyatakan kepada Anda siapakah Anda sebenarnya karena Yesus!
Selamat Natal!
Untuk memulai perubahan yang sejati dan berdampak panjang, hal pertama dan utama adalah merevolusi sistem kepercayaan Anda. Artinya adalah bahwa Anda merubah bagaimana Anda percaya, atau bagaimana Anda telah diajarkan untuk percaya, dan mulai menyelaraskan pikiran-pikiran Anda dengan Firman Allah. Sebelum Anda mulai berpikir, “Oh, hal itu mudah,” mari saya sampaikan kenyataannya.
Merubah sistem kepercayaan Anda membutuhkan usaha - dan usaha yang keras! Tergantung sampai sejauh mana Anda telah diajar dengan cara yang salah, itulah yang akan menentukan seberapa banyak penyelarasan itu dibutuhkan. Kabar baiknya adalah hal itu dapat dilakukan, dan saat Anda mulai melihat bagaimana sebenarnya Allah memandang Anda, hal itu akan membebaskan Anda untuk menjadi pengikut Yesus seperti yang telah Ia tetapkan!
Salah satu hal yang paling penting untuk mendapatkan perubahan dalam sistem kepercayaan Anda adalah dengan cara merubah apa yang Anda dengar.
Salah satu hal yang paling penting untuk mendapatkan perubahan dalam sistem kepercayaan Anda adalah dengan cara merubah apa yang Anda dengar. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran, dan pendengaran, dan pendengaran. (Roma 10:17) Bukan iman saja yang timbul dari pendengaran. Keraguan, dakwaan, ketidakpercayaan dan pemikiran agamawi semuanya timbul dengan cara yang sama: melalui pendengaran! Sangat sederhani. Jika Anda terus menerus dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengingatkan betapa “buruknya” Anda dulu (atau mungkin masih seperti itu), maka Anda perlu merubah lingkungan Anda. Beradalah disekitar orang-orang yang akan memberitahu Anda apa yang sebenarnya dikatakan Allah tentang Anda: orang benar, kudus, dan telah ditebus! Itu adalah langkah pertama untuk merubah cara Anda percaya.
Beberapa tahun lalu saya mulai memasukkan sebuah pernyataan tepat ditengah-tengah khotbah saya yang saya tahu pasti akan menarik perhatian orang. Saya menggunakannya untuk membuktikan poin yang dahsyat; tetapi jujur, saya pikir sama menyenangkannya saat melihat reaksi orang-orang. Setelah memberikan referensi kitab suci kepada mereka, saya berkata, “Sekarang, saya mau semua orang yang kudus di ruangan ini membaca ayat ini dengan keras bersama-sama dengan saya.” Kemudian, saya berdiri saja disana dan memperhatikan! Berbagai respon yang terlihat sungguh tak ternilai. Mulai dari “Apa yang baru saja dia katakan?” sampai “Kudus? Pastinya dia tidak bicara tentang saya!”
(Kadang saya pikir saya akan mendapatkan respon yang jauh lebih baik bila saya mengumpat di tengah khotbah saya!) Saat orang terbengong-bengong, saya melanjutkannya dengan berkata, “Hei, jika kalian adalah orang percaya, kalianlah yang saya maksudkan!” Nah, kalau saya mengatakan, “Saya mau semua orang yang dulunya adalah seorang berdosa membuka Alkitab dan membacanya bersama dengan saya,” dengan segera setiap orang di tempat itu akan mengatakan, “Amen. Itulah saya!” Apakah Anda lihat apa yang terlewatkan? Mengapakah sangat mudah untuk menghubungkan dengan seperti apa kita dulu, tetapi sangat sulit untuk mengidentifikasi siapakah kita sekarang ini oleh karena kasih karunia Allah? Jawabannya sederhana: Kita perlu perubahan sistem kepercayaan! Kita perlu mulai mempercayai apa yang dikatakan Alkitab - bukan doktrin agamawi - tentang kita.
Ingat, Anda menjadi seperti apa yang Anda percayai. Karena itu, jika Anda ingin untuk hidup dan mengalami perubahan sejati, pertama kali Anda harus merubah bagaimana anda percaya untuk menyelaraskan pemikiran Anda dengan apa yang dikatakan Allah tentang diri Anda!
Pernahkah Anda mendengar orang berkata seperti, “Saya tidak dapat menunggu lagi untuk pergi ke sorga karena saat itu saya akan melihat Yesus sebagaimana adanya Dia sebenarnya!” Meskipun pernyataan tersebut ada benarnya - suatu hari nanti kita akan melihat Yesus dari muka ke muka - namun bila tidak memperhatikan apa yang dikatakan Kitab Suci akan membuat Anda melewatkan sesuatu yang benar-benar diinginkan Allah bagi Anda pada saat sekarang ini, di atas bumi.
Perhatikan apa yang dikatakan Alkitab:
”Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
Sangat mudah untuk melihat bagaimana Anda dapat membaca ayai ini dan hanya menghubungkannya dengan Allah menyatakan diriNya sendiri di sorga. Tetapi kuasa dari ayat ini tidak terletak disana. Anda perhatikan, Allah tidak menunggu Anda untuk masuk sorga untuk menyatakan kuasa dan sifat alamiNya pada Anda. Dia ingin untuk menyatakan diriNya kepada Anda pada saat ini...melalui FirmanNya! Anda tidak perlu menunggu sampai Kedatangan Kali Kedua untuk bisa mendapatkan pewahyuan tentang Dia; Anda dapat menemukan Dia pada hari ini, di dalam Kitab Suci. Hal ini sangat penting untuk dapat memahami hal yang satu ini, fakta yang sederhana:
Mari kita kembali dan melihat bagaimana awal dari ayat tersebut. Dikatakan “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah…” Kebanyakan orang Kristen melewatkan kata yang terpenting dari ayat ini - “sekarang”. Kapan? Sekarang! Kemudian, pertanyaannya adalah, “‘Sekarang’ itu kapan?” dan jawabannya adalah, “Saat ini”! Bukan di suatu hari yang indah nanti, suatu saat di masa depan, dalam hal yang baik dan layak untuk disebut anak-anak Allah. TIDAK. Perhatikan apa yang dikatakan Alkitab, “Sekarang, kita adalah anak-anak Allah.” Itu berarti pada detik Anda percaya, pada seketika itu juga, Anda memenuhi syarat bagi ayat tersebut. Tidak ada periode tunggu.
SEKARANG Anda adalah anak Allah!
bukannya belajar tentang sifat alami dan karakteristik Bapa Sorgawi mereka, kebanyakan orang Kristen menghabiskan sebagian besar dari waktu mereka pada hal-hal lain: memerangi kelemahan dan kegagalan mereka
Tebak apa yang dilakukan anak-anak? Dalam sebagian besar kasus, mereka berusaha keras untuk meniru orang tua mereka! Menurut Anda mengapa anak-anak laki-laki mengoleskan krim cukur ke kulit muka mereka yang masih halus dan anak-anak perempuan bergaya dengan sepatu hak tinggi yang kebesaran dan mewarnai wajah mereka dengan make-up? Itu karena sifat alami yang melekat pada anak-anak adalah menjadi seperti orang tua mereka. Saat mereka melakukan hal kecil saja untuk menjadi seperti ayah atau ibunya (sekalipun dalam usia yang masih sangat muda), hal itu membuat para orang tua menjadi bangga! Secara rohani hal itu juga sama. Alkitab megatakan agar kita menjadi “penurut-penurut/peniru Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” (Efesus 5:1) Setiap anak Allah seharusnya meniru Bapa Sorgawi mereka. Akan tetapi, bukannya belajar tentang sifat alami dan karakteristik Bapa Sorgawi mereka, kebanyakan orang Kristen menghabiskan sebagian besar dari waktu mereka pada hal-hal lain: memerangi kelemahan dan kegagalan mereka.
Setiap orang tahu kelemahan dan area pergumulan daging mereka; mereka mengucapkan salam kepada Anda setiap pagi begitu Anda melihat cermin! Tetapi, pernahkah Anda berhenti sejenak untuk memikirkan mengapa area-area kelemahan dalam hidup Anda begitu umum dn mudah dilihat? Sederhana sekali. Mereka berulang-ulang selalu dinyatakan kepada Anda. Bahkan faktanya, beberapa orang Kristen diingatkan tentang semua hal itu pada setiap hari Minggu - di Gereja tepatnya - oleh seorang pengkhotbah yang ingin agar mereka semakin terikat pada kelemahan dan bukan merdeka dalam kasih karunia Allah.
Dan kemudian kita heran mengapa begitu banyak orang percaya tetap tinggal dalam kebiasaan rohani yang selalu berputar!
Inilah bagaimana perubahan sejati itu terjadi.
Pada tahun 1980an sampai awal 1990an sebuah kampanye dilancarkan dan itu merupakan bagian dari pernyataan perang dari Amerika Serikat terhadap narkoba. Jutaan dolar telah dihabiskan untuk memastikan semua anak di Amerika mengetahui tiga kata terkenal ini: Just Say No (Katakan Tidak Saja). Tujuan aslinya adalah untuk mencegah anak-anak untuk menggunakan narkoba, tetapi setelah beberapa tahun, ruang lingkupnya diperlebar sehingga meliputi area kekerasan, seks pra-nikah dan berbagai macam masalah lain yang menggoda anak muda.
Slogan “Just Say No” merupakan frase yang mudah ditangkap dan menghasilkan beberapa hasil positif yang sebagian besar berdampak dalam waktu yang singkat; akan tetapi, hal itu kurang memiliki satu elemen yang menghasilkan perubahan dalam jangka waktu lama. Anda perhatikan, sebelum Anda dapat berkata,”Tidak” pada sesuatu, lebih dulu Anda harus berkata, “Ya” pada suatu hal yang lebih besar! Hanya mengatakan, “Tidak” pada godaan dan kelemahan daging Anda tidaklah cukup. Banyak orang berkata, “Tidak” akan tetapi berbalik lagi dan melakukan hal yang sama berulang-ulang. Lalu apa yang terjadi bila metode ini tidak berhasil? Hal itu akan semakin menghasilkan frustrasi bukannya kemenangan - semakin menghasilkan penghukuman dan bukan perubahan.
Pada saat rasa bersalah karena melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang sudah tidak mampu ditanggung lagi, beberapa orang Kristen malah menumpukkan rasa bersalah pada kepala mereka dengan bertanya, “Aku sudah melawan iblis seperti yang dikatakan Alkitab tetapi mengapa dia tidak pergi juga?” Mereka mencoba dan mencoba untuk berkata“Tidak” pada setiap serangan musuh, namun dengan hasil yang kecil. Jawaban bagi rasa frustrasi mereka ditemukan pada ayat yang sama. Coba perhatikan ayat ini secara keseluruhan:
“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”
Yakobus 4:7
Inilah bagian yang terlewatkan: melawan iblis (dengan kata lain hanya berkata tidak) hanyalah setengah bagian saja. Agar dapat menjalani hidup yang selalu menang atas daging, ada suatu hal lain yang harus terjadi lebih dulu. Anda harus tunduk pada Allah. Anda tidak dapat memiliki kuasa untuk berkata “Tidak” terhadap dosa tanpa lebih dulu berkata “Ya” pada satu-satunya kuasa yang dapat menjauhkan Anda dari dosa. Dengan kata lain, tanpa penundukan diri pada kebenaran, mustahil untuk melawan dosa. Mencoba untuk melawan iblis dan menaklukkan daging dalam kekuatan Anda sendiri tidak hanya membuat Anda tetap dalam lingkaran kekalahan yang kejam, tetapi juga akan membuat Anda gila! Tetapi, ada cara untuk melawan iblis dan melihat dia lari dari Anda: dengan sepenuhnya menundukkan hidup Anda pada kasih karunia Allah yang berkuasa.
Sebelum Anda dapat “hanya berkata tidak,” mulailah dengan berkata, “ya” pada hidup yang indah dalam kasih karunia
Jika tunduk pada Allah adalah kunci kemenangan atas iblis, lalu mengapa begitu banyak orang Kristen tetap bergumul dengan pencobaan dan dosa? Mengapa mereka tidak belajar untuk berkata, “Ya” lebih dulu pada Allah? Salah satu alasannya adalah umumnya lebih banyak waktu di atas mimbar digunakan untuk menekankan tentang kelemahan daging dan bukan pada kuasa kebenaran dan kasih karunia. Mereka mendengar segala hal yang “tidak dapat” mereka lakukan tetapi tidak pernah memiliki pemahaman tentang apa yang “dapat” mereka lakukan melalui penundukan diri pada Allah. Anda dapat melawan iblis dan menjalani kehidupan yang mengalahkan dosa. Kuasa untuk menjalani kehidupan dalam perubahan yang sejati berakar dalam kemampuan Anda untuk sepenuhnya bersandar pada kasih karuniaNya. SaatAnda melakukannya, berikut ini adalah sesuatu yang akan dengan segera Anda perhatikan:
Ketika Anda berserah pada kasih karunia Allah, maka masalah pertahanan terhadap dosa akan semakin berkurang.
Sebelum Anda “cukup katakan tidak,” mulailah berkata, “ya” pada hidup yang luar biasa oleh kasih karunia. Saat Anda lakukan itu, maka Anda diposisikan untuk tidak berjalan menurut daging Anda, tapi menurut kasih karunia!
Seringkali Anda melihat saya mereferensikan hidup oleh kasih karunia ini sebagai suatu perjalanan. Memang seperti itulah adanya! Namun itu mungkin tidak terjadi dalam semalam saja. Tidak mengapa! Mulailah dari mana Anda berada dan ambil langkah berikutnya. Mulailah merubah sistem kepercayaan Anda. Mulailah melihat Allah sebagaimana adanya Dia sekarang! Serahkan seluruh hidup Anda pada Allah dan lihatlah iblis menyingkir! Anda telah memulai suatu proses yang dikenal sebagai bertumbuh dalam kasih karunia Allah. Bukan berarti kasih karunia Allah berubah – ia tetap sama sejak Yesus datang dan menggenapi seluruh Hukum Taurat – namun pewahyuan dan pengetahuan Anda tentang bagaimana menghidupi kasih karunia-Nya akan bertumbuh secara pasti. Sekali Anda mulai berjalan dalam kebenaran dan kasih karunia, hal berikut inilah yang pasti akan Anda sadari: semakin Anda bertemu dengan Allah, semakin berkurang rasa harus bertemu namun bertambah rasa ingin bertemu!
Banyak orang yang telah menjadi orang percaya dalam kurun waktu yang panjang bertanya pada saya, “David, mengapa Allah tidak memberiku sepatah kata seperti yang Ia lakukan sewaktu aku masih bayi Kristen?” Jawaban saya mengejutkan sebagian besar dari mereka. Saya katakan, “Saya tidak akan terganggu dengan hal itu karena itu adalah tanda kedewasaan.” Perhatikan, saat Anda masih muda dalam Tuhan, Anda membutuhkan setiap konfirmasi dari pihak luar dan perkembangan spiritual yang bisa Anda temukan. Namun semakin Anda bertumbuh dalam Tuhan, Anda akan temukan bahwa Anda tidak lagi butuh infus rohani. Sebelum akhirnya Anda akan berdiri dengan kaki Anda sendiri dan berjalan dengan iman!
Ini disebut kuasa kasih, dan kasih adalah agen pengubah terbesar yang disediakan bagi manusia.
Apakah ini berarti Anda tidak akan lagi berbuat kesalahan? Tentu tidak. Akankah Anda mendapat lebih banyak godaan terhadap daging Anda? Kebanyak itu pasti. Namun inilah bedanya. Semakin Anda bertumbuh, mengerti, dan berjalan dalam kasih karunia Allah, semakin Anda mengasihi-Nya, dan semakin Anda ingin menjalani hidup dengan menghormati-Nya tanpa rasa malu! Bukan karena Anda harus….namun karena Anda mau. Itu disebut kuasa kasih, dan kasih adalah agen pengubah terbesar yang disediakan bagi manusia.
Ketika putra saya berada pada masa pra-remaja mereka, sepertinya saya selalu memberitahu mereka untuk menyikat gigi, memakai deodoran, dan menyisir rambut mereka. Kadang-kadang saya akan mengancam mereka dalam satu inci kehidupan mereka, tetapi masih saja ada yang kurang dari hasil yang menguntungkan ... sampai! Sampai hari mereka benar-benar tertarik pada seorang gadis. Tiba-tiba, saya tidak harus meminta mereka untuk melakukan apa pun. Sebagai fakta, saya harus menendang mereka keluar dari kamar mandi karena mereka menghabiskan begitu banyak waktu berdandan. Dan begitu mereka berjalan keluar, Anda bisa mencium bau parfum murah sampai dua blok jauhnya. Apa bedanya? Ketika mereka harus, itu adalah tugas, tetapi ketika mereka ingin, mereka tidak pernah lagi harus diminta atau diancam.
Mereka melakukannya karena kasih.
semakin Anda mengenal Dia, semakin Anda mengasihi Dia
Ini merupakan prinsip yang sama dalam perjalanan Anda bersama Tuhan: semakin Anda mengenal Dia, semakin Anda mengasihi Dia. Semakin Anda dibentuk serupa gambaran-Nya dalam batin Anda, semakin Anda menjadi seperti Dia. Sepanjang perjalanan Anda dalam kasih karunia, orang mungkin tidak selalu melihat sisi luar Anda, namun itu tidak akan pernah bisa mengubah siapa Anda secara batiniah – benar, kudus, dan ditebus!
Teruslah berjalan.
Terus bertumbuh dalam kasih karunia Allah telah tercurah pada Anda dengan melimpah. Hidup dalam kasih karunia-Nya dan tidak tunduk pada Hukum Taurat. Berhentilah menghukum diri Anda setiap kali Anda tersandung, jatuh, atau membuat kesalahan. Biarkan Firman Allah mengubah sistem keyakinan Anda, sehingga Anda dapat melihat siapakah dan apakah Anda sesungguhnya di dalam Kristus. Berhenti berfokus pada apa yang diperlukan untuk “melayakkan” Anda pada kasih karunia Tuhan dan dapatkan pewahyuan tentang apa yang telah Yesus disediakan untuk Anda di salib! Saat Anda percaya, lalu mulailah berani menyatakan hal itu, kemudian lihat bagaimana wahyu ini membangun dalam hati Anda. Kemudian sebaiknya Anda berhati-hati ...
.....Nyata, abadi, perubahan seumur hidup datang dalam hidup Anda!
Markus 16:9-4 Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. 10 Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. 11 Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. 12 Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. 13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.14 Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
Ini menyatakan peristiwa luar biasa tentang Yesus SETELAH kebangkitan serta kondisi dari para pengikut terdekatNya. Mereka adalah orang-orang yang mengikutiNya setiap hari. Mereka telah melihat mukjizat-mukjizat, melihat Dia berjalan di atas air dan menyaksikan Dia membangkitkan Lazarus dari kematian. Mereka juga ada saat ribuan orang diberi makan sampai kenyang hanya dengan bekal makan siang anak kecil.
Banyak hal yang telah mereka lihat dan dengar! Mereka telah diberi kuasa atas sakit penyakit dan kuasa jahat oleh Yesus dan telah diutus untuk pergi melakukan perjalanan misi singkat. Yesus telah memberitahu mereka bahwa akan ada masalah yang datang dan bahkan Ia telah memberitahu mereka dimana tempat untuk menemuiNya.
32 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea. Saat semuanya reda, temui Aku di Galilea.
Mungkinkah bahwa orang-orang tersebut sangat berakar dalam keagamaan sekalipun telah bersama dengan Yesus lebih dari tiga tahun?
Mari kita melihat lebih dalam tentang beberapa hal ini karena kita dapat menemukan kebenaran yang sangat penting. Mengapakah mereka tidak dapat percaya? Mungkinkah bahwa orang-orang tersebut sangat berakar dalam keagamaan sekalipun telah bersama dengan Yesus lebih dari tiga tahun? Mereka dibesarkan dibawah Hukum Taurat Musa, tetapi Yesus datang dengan suara baru dan kuasa Allah yang mengalir melalui Dia.
Mereka Tetap Tidak Tahu Luar Biasanya Pewahyuan Tentang “Kristus Di Dalam Kita, Harapan Akan Kemuliaan!” Mereka mengenal Yesus sebagai Allah diluar diri mereka – kita mengenal Dia sebagai Allah yang tinggal di dalam kita!
Mereka melihat Dia menggenapi Hukum Taurat seperti yang tertulis. Dia bahkan telah memberikan percikan dari apa yan akan datang tetap mereka tetap belum dapat menangkapnya, karena segala sesuatu yang mereka lihat disaring melalui mata Hukum Taurat.
Yohanes 16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
Setelah kebangkitan Yesus mulai menyatakan diriNya kepada mereka dan mereka mulai melihat Yesus tanpa selubung kedagingan, tanpai sebulung Hukum Taurat dan semua alasan dalam pikiran-pikiran mereka. Saat kita, juga, bertemu Yesus, segera segala sesuatu yang lain mulai menjadi fokus dalam hidup kita.
Mari kita melihat kejadian tentang dua murid yang bertemu Dia saat melakukan perjalanan.
Lukas 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
Iman harusnya timbul dari pendengaran, tetapi kadang hal itu dikaburkan oleh berbagai macam situasi dan juga oleh pemikiran agamawi yang mencoba untuk dapat mengerti semuanya.
Mereka berdua telah mendengar bahwa Yesus bangkit melalui laporan dari Maria dan para perempuan lainnya, tetapi mereka tidak percaya. Iman harusnya timbul dari pendengaran, tetapi kadang hal itu dikaburkan oleh berbagai macam situasi dan juga oleh pemikiran agamawi yang mencoba untuk dapat mengerti semuanya. Ingat, para murid telah diberitahu oleh Yesus agar pergi ke Galilea dan bertemu dengan Dia, tetapi mereka malah berduka dan menangis saat para perempuan itu datang.
Pada saat para lelaki itu berjalan pulang sejauh tujuh setengah mil dan berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang baru terjadi saat seharusnya mereka berjalan menuju ke Galilea, Yesus bergabung dengan mereka dalam perjalanan itu. Akan tetapi mereka tidak mengenal siapa Dia.
Banyak orang di dunia saat ini tidak mengenali siapakah Yesus sebenarnya. Gereja-gereja Kristen dipenuhi dengan orang-orang yang sangat mengenal tentang agama. Tetapi saya membayangkan bagaimana bila Yesus bergabung dalam perjalanan mereka, akankah mereka mengenal siapa Dia?
Para murid itu sangat prihatin dengan hal-hal buruk yang telah mereka lihat, dan Yesus, yang adalah pribadi utama dalam drama itu mengatakan, “Hal apa?”
Lukas 24:27-36 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
Saat mereka duduk makan, Yesus mulai untuk memecah-mecahkan roti dan membagikannya ke sekeliling meja. Pastinya Dia mulai terlihat seperti yang mereka kenal – cara Dia bertingkah laku dan bagaimana gerak-gerikNya. Kemudian tiba-tiba mereka tahu – Dia hidup! Dia hidup! Itu memang benar! Penghalang dari Hukum Taurat menghilang dan situasi yang gelap menghilang!
32 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”
Kita tidak akan pernah benar-benar memahami Perjanjian Lama sampai kita melihat Yesus yang telah bangkit!
Mereka merasa begitu hidup saat Ia berbicara dengan mereka dan untuk pertama kalinya Perjanjian Lama mulai menjadi masuk akal dalam hati mereka. Kita tidak akan pernah benar-benar memahami Perjanjian Lama sampai kita melihat Yesus yang telah bangkit! Hari sudah menjadi gelap, sudah malam, dan mereka telah mengalami masa-masa traumatis selama beberapa hari belakangan, lalu kemudian mereka melakukan perjalanan pulang sejauh tujuh setengah mil. Tetapi mereka bahkan tidak menghabiskan makanannya.
33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” 35 Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.
Hati mereka berkobar-kobar! Mereka tidak dapat menahan lebih lama lagi, mereka membawa api itu dengan berjalan kembali ke Yerusalem lagi selama tiga jam perjalanan. Saya hampir dapat merasakan detak jangtung mereka saat mereka semakin dekat ke Yerusalem. Mereka mungkin mulai berlari dn berteriak sebelum sampai ke tempat tujuan.
Di dalam kitab Markus tentang hal ini, bahkan saat dua orang murid itu kembali lagi, dipenuhi dengan pewahyuan tersebut, mereka menemukan kesebelas murid dan yang lainnya masih berkumpul dalam kesedihan, kedukaan dan ketidakpercayaan. Mereka tidak percaya. Ini adalah sebuah kelompok yang keras – sebuah kelompok yang terikat dengan situasi – melihat melalui realita alami dari pikiran yang tidak mengenal Allah.
36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!” Berbahagialah mereka yang berdukacita karena akan dihiburkan! Damai sejahtera bagimu.
Lukas 24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.
Mereka masih tidak percaya. Mereka tidak mempercayai Maria dan mereka juga tidak mempercayai kedua orang murid. Sekarang Yesus sendiri berdiri di hadapan mereka dan mereka tetap tidak percaya! Mereka dibutakan oleh Hukum Taurat, dibutakan oleh rasa takut dan dibutakan oleh situasi sekitar.
38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?
39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” 40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.
Secara pribadi Yesus berkata pada mereka “Aku sendirilah ini.” Rabalah Aku. Kemudian Dia menunjukkan tangan dan kakiNya yang memiliki bekas paku akan tetapi tetap saja…
41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?”
Lukas 24:42 2 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. 43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. 44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”
45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.
Sekaranglah waktunya untuk bertemu Juru Selamat yang telah bangkit, Yesus Kristus! Dia telah membayar lunas di atas kayu salib. Dia telah menanggug dosa-dosa kita, Dia telah menanggung sakit penyakit kita; Dia menjadi miskin supaya kita dapat diberkati dan menjadi berkat. Dia adalah penuntun kita dan menjadi sahabat yang jauh lebih karib dari saudara. Dia telah mengalahkan semua kuasa maut dan neraka; Dia telah menaklukkannya sehingga kita dapat menjadi lebih dari pemenang! Kita selalu menang dalam Kristus Yesus! Dia tidak hanya telah bangkit, Dia juga telah naik dan duduk – jauh mengatasi semua pemerintah-pemerintah, penghulu-penghulu dan penguasa-penguasa dan dia telah membangkitkan kita untuk duduk bersama dengan Dia dalam kemuliaan!
One very important thing I have come to know over the years is this: truth is a progression. As you walk with the Lord, God will continue to change the way you see Him. This is so important for the simple reason that the image of God you believe is the image of God you become. It also determines the way you show God to other people. If you think God is mean and hateful, guess what? You’re probably going to be mean and hateful. If you think God doesn’t like you, more than likely you will deal with acceptance issues your entire life. However, the more you get to know the real character and personality of God, the more of the real Him you project to others around you.
the image of God you believe is the image of God you become
When I was growing up as a child, my image of God was a bit distorted mainly because of how those around me saw Him. Many times, I would hear statements like, “David, you better watch out. God is going to get you!” or “I don’t know how much more God is going to take!” Of course, the one that really grabbed my attention was, “I think God has just about had enough of that!” I remember thinking, “Man, what happens when God finally does get fed up?” The answers I came up with just filled my heart with fear.
Those images even carried into my teenage years and early adulthood. I just knew that God was some angry, old man out there about 700 miles from Mars with a huge stick in His hand and His index finger resting on the “kill all” button! In my mind, all God was waiting on was for me, or someone around me, to step over the line – cross the point of no return – and then “zap.” It would all be over but the dying and the crying.
What was happening to me? I was forming an image based on what those around me believed. What complicated it even more was all of the sermons I heard about how we were supposed to “love our enemies.” I remember scratching my head thinking, “Now, wait a minute. We serve a God who is ready to kill us, His children, but we are supposed to love those who hate and despitefully use us? How can we do that?” To this day, this still makes no sense to me at all. But, thank God, I didn’t stay in that state of mind.
I was forming an image based on what those around me believed.
A progression of truth started in my mind.
As I grew older and learned more about who God really is and not just what others said about Him, I began to see Him in a completely different light. The God I knew was a God of wrath, but the truth of His nature – His love and grace – was now being revealed in my heart. I began to see how the love of God drew people to Him and not the fear of going to hell or the dreaded “kill all” button. For the first time in my life, I was seeing God for who He really is.
The God I knew was a God of wrath, but the truth of His nature – His love and grace – was now being revealed in my heart.
While I loved this new perception about Him, I still lived far below my potential in Him. I was, once again, a product of what I heard. People were always quick to tell me how undeserving I was, how God required a holy life that I could never live, and no matter what I did, it would never be good enough to be considered “righteous.” To make it even worse, they had Scripture to back up all of their theories and ideology. The only trouble was they were grossly misusing the Bible!
For the first time in my life, I was seeing God for who He really is.
The truth is many Christians are still doing the same thing today.
Let’s take for example one of the most misquoted verses in the New Testament. It’s found in Romans chapter three. Its one of those scriptures many people learn in their Christian walk, and sadly, wear it boldly like some holy badge of honor. The scripture I’m talking about is this: “As it is written: ‘There is none righteous, no, not one’” (Roman 3:10)
It’s very obvious that this verse says no one is righteous. The problem is, most people stop right there. Religious-minded Believers will say, “See! Right there, the Bible says that not one of us is righteous. We are all filthy rags and dogs in God’s sight!” While this may sound good and “holy,” the trouble is this passage doesn’t stop there. It continues with an explanation of who this verse applies to, and guess what? It’s not for the New Covenant Believer. Take a look: “Now we know that whatever the law says, it says to those who are under the law…..” (Romans 3:19)
Seeing this verse in context, who does the Bible say is not righteous? It’s easy to see: Those who are the Law. This entire passage of Scripture – from verse 10 through verse 19 – is actually a quote from the Old Testament that Paul uses to later prove a point. So, yes, while it is true the Old Testament Law says no one can live righteous, there is better news: We have been redeemed from the curse of the law! (Galatians 3:13) You see, it’s not about what God is going to do; it’s about what He has already done over 2000 years ago! The church need not stop in any verse of the Bible which condemns us to unrighteousness, but move forward to understand that Jesus became our curse, took our unrighteousness, and paid the price for us to be and live in righteousness before God!
And the truth of that revelation is just beginning.
Pada saat Anda percaya dan berkata ‘Ya’ pada Yesus, sesuatu telah terjadi. Anda telah berubah! Pada bagian luar Anda mungkin masih terlihat persis sama, tetapi ada yang berubah dengan drastis dalam manusia rohani Anda. Pada saat itu manusia roh Anda berpindah dari maut kedalam kehidupan, dari kegelapan kedalam terang dan Anda meninggalkan keadaan yang terhilang kemudian menjadi anak dari Allah yang hidup! Transformasi ini sangat radikal dan Yesus menyebutnya sebagai ‘kelahiran baru.’ (Yohanes 3:3) Secara literal, dalam sekejap mata, manusia lama Anda mati dan Anda yang baru hidup dalam Kristus Yesus.
Transformasi kelahiran baru adalah sesuatu yang dapat disetujui oleh sebagian besar orang Kristen, bahkan di kalangan yang paling agamawi sekalipun. Kita semua bersorak, “Haleluya, satu lagi orang berdosa diselamatkan oleh kasih karunia,” tetapi setelah mengalami perubahan tersebut, banyak sekali orang yang dengan cepat mengabaikan kasih karunia yang menuntun mereka pada keselamatan. Bukannya berjalan dalam kasih karunia dan bertumbuh dalam kasih karunia, secara otomatis mereka kembali pada apa yang selalu mereka ketahui sebelumnya – perbuatan daging. Tetapi, kesalahan siapakah yang membuat orang-orang Kristen baru tersebut meninggalkan kasih karunia Allah? Dapatkah bayi yang baru lahir dalam Kristus itu dibebani semua tanggung jawab untuk dapat berjalan dalam pengalaman baru tersebut seorang diri? Saya pikir masalahnya bukan terletak pada orang yang baru percaya tetapi lebih pada orang-orang yang mendoktrinasi mereka dengan pemikiran yang agamawi, berdasarkan hukum taurat dan menurut tradisi.
Coba pikirkan tentang bayi secara alami. Apa yang akan terjadi bila dua minggu setelah ia dilahirkan, orangtuanya mengatakan, “Oke, kamu sudah dilahirkan di dunia ini, tugas kami sudah selesai. Kamu belajarlah sendiri untuk menjalani kehidupan ini sebaik-baiknya!”? Saya beritahu apa yang akan terjadi. Orang tua semacam itu akan berakhir di penjara dalam waktu yang sangat lama! Akan tetapi sering kali para bayi rohani dibiarkan untuk mencari sendiri bagaimana caranya berjalan dengan Allah. Atau, yang lebih parah lagi, seseorang yang masih terikat dengan Hukum Taurat mulai memberikan polusi pada pikiran mereka dengan apa yang mereka pikir merupakan cara hidup dalam Perjanjian Baru. Dengan segera, apa yang dimulai dengan “Oh saudaraku, hanya percaya saja”, berubah menjadi “Sekarang, saudaraku, inilah yang harus kamu lakukan…”
Dengan segera, apa yang dimulai dengan “Oh saudaraku, hanya percaya saja”, berubah menjadi “Sekarang, saudaraku, inilah yang harus kamu lakukan…”
Tetapi, mempercayai dan melakukan hampir selalu saling kontradiksi!
Apakah ada yang pernah berpikir mengapa begitu banyak orang Kristen – sekalipun mereka sudah diselamatkan selama bertahun-tahun – tetap menjadi bayi rohani? Mereka harus tetap minum susu formula yang telah diproses, harus tetap disuapi setiap kali makan, dan bahkan beberapa dari antara mereka tidak dapat berjalan sendiri. Coba bayangkan seorang anak kecil kelas lima SD, tetapi setiap hari masih selalu membawa botol susu formula ke sekolah. Anda mungkin akan berkata, “Orangtua anak itu harusnya dipukul,” dan itu memang benar. Tetapi, di dalam Gereja, kita hanya membiarkan orang merangkak kesana kemari dalam popok rohani mereka selama bertahun tahun tanpa menuntut pertanggungjawaban dari guru rohaninya.
Saya percaya bahwa ini adalah saat untuk memperkatanan tentang apa yang dikatakan oleh Alkitab dan memutuskan belenggu agamawi, agar orang Kristen dapat dibebaskan. Saya tidak dapat menemukan tempat lain yang paling baik untuk memulai kecuali dengan melihat pada bagaimana Firman Allah berkata tentang perubahan – perubahan yang sejati, autentik, berdampak panjang – yang terjadi dalam kehidupan seorang Percaya.
Coba lihat kembali hari dimana Anda dilahirkan kembali. Apakah Anda harus mengusahakan sesuatu? Tidak. Anda datang kepada Yesus sebagai seorang yang kacau balau, dan dengan seketika Anda berubah. Anda hanya perlu melakukan sesuatu: percaya. Seorang pemabuk dapat datang kepada Yesus pada saat ia mabuk berat bahkan sampai tidak dapat mengeja namanya sendiri, dan dengan seketika ia berubah sampai selamanya. Sering kali, mereka bahkan tidak dapat mengatakan pada Anda tentang apa yang telah terjadi, tetapi satu hal yang mereka ketahui: Allah, melalui kasih karunia-Nya, telah menjangkau mereka dan mengubahkan seluruh hidup mereka. Tidak hanya bagi para pemabuk saja tetapi bagi semua orang Percaya, proses keselamatan itu terjadi seketika…tetapi apa yang proses yang terjadi setelah pengalaman kelahiran baru merupakan hal yang membuat banyak orang bergumul.
Sepanjang hidup saya telah menyaksikan banyak orang kristen yang memiliki hati yang baik, mengasihi Allah mengalami pergumulan dengan berbagai permasalahan pribadi sampai mereka kembali ke sorga. Sering kali mereka bukanlah orang-orang yang jahat ataupun yang murtad, namun sebaliknya. Mereka sangat mengasihi Allah dan berkomitmen untuk mengikut Dia sepanjang hidup mereka akan tetapi mereka terus menerus bergumul untuk hal-hal yang sama. Jujur, saya tidak pernah dapat benar-benar memahami mengapa orang-orang yang baik tersebut dapat selalu tersiksa…dan dikalahkan…oleh satu atau dua hal yang sama dan tidak pernah mengalami perubahan dan kemenangan yang sejati. Namun pada suatu hari, saat saya mempelajari tentang kasih karunia Allah, jawaban itu menghantam saya.
Ternyata tidak terlalu sulit untuk dilihat!
Jika Anda bertanya pada orang-orang tersebut tentang suatu area pencobaan atau kelemahan tertentu dari daging mereka, biasanya mereka akan mengatakan, “Oh, tetap dukung saya dalam doa saudaraku. Saya masih berusaha untuk mengalahkannya!” Hal ini mungkin merupakan hal yang “benar” dan rohani untuk dikatakan, tetapi realitanya, hal itu menunjukkan dasar dari permasalahan mereka. Alasan mengapa mereka tetap memiliki pergumulan yang sama (dan selalu kalah dalam hal yang sama!) adalah karena mereka mengusahakannya! Semuanya tentang mereka – apa yang mereka lakukan dalam kekuatan dan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan hal-hal tersebut. Hal itu memang kedengarannya baik, tetapi disanalah terletak kesalahan dari pola pikir tersebut: Pada hari pertama mereka tidak mengusahakannya, mereka langsung masuk kembali kedalamnya!
Alasan mengapa mereka tetap memiliki pergumulan yang sama (dan selalu kalah dalam hal yang sama!) adalah karena mereka mengusahakannya!
Mungkin Anda pernah mengatakan hal yang sama dengan itu. Anda mungkin adalah salah satu dari “orang-orang kudus” yang menggunakan ayat Alkitab untuk mendukung peperangan pribadi Anda dengan mengatakan, “Aku mengusahakan keselamatanku seperti yang dikatakan Alkitab.” Memang benar, Anda memang melakukan sesuatu, tetapi dalam realitanya, kelemahan dan godaan tersebut mungkin lebih bekerja atas Anda dibandingkan Anda bekerja atasnya! Satu hari Anda mendapatkan kemenangan, hari berikutnya Anda mulai melakukan apa yang telah Anda janjikan pada Allah untuk tidak melakukannya lagi. Saya pastikan satu hal bagi Anda: Lingkaran kefrustrasian ini tidak akan berakhir sampai satu hal terjadi…
…Anda mengalami perubahan yang sejati!
Setiap orang Kristen yang saya kenal pada umumnya hidup, dalam suatu saat, dalam apa yang saya sebut Kekristenan “kantong campuran”. Tampaknya mereka secara konstan teromabang-ambing antara berkat dan kutuk. Satu hari mereka mendapatkan terobosan, hari berikutnya seperti neraka di bumi! Mengalami kemenangan dalam satu minggu, dan “doakan saya, iblis menghantui saya” di minggu berikutnya. Nah, jangan salah mengerti, selama Anda dan saya masih bernapas pasti akan selalu ada godaan dan pergumulan. Tetapi saat kita memahami dan merangkul kasih karunia Allah, kita mulai hidup – seperti yang dikatakan Alkitab – dari “iman kepada iman” dan dari kasih karunia kepada kasih karunia! (Roma 1:17)
Jadi apa yang dapat membawa perubahan sejati yang kita semua inginkan dalam kehidupan kita? Saya akan mulai dengan memberikan perubahan sikap mental. Inilah dia:
Perubahan sejati yang tidak membutuhkan usaha!
Saya bahkan dapat melihat Anda menggaruk kepala dan berpikir, “Apa? Saya bisa benar-benar berubah tanpa melakukan apa-apa?” Jawabannya adalah “Ya, Anda bisa!” Saya tahu karena selama bertahun-tahun saya berusaha untuk melakukan segala sesuatu dengan benar (ingat, saya dulu berpikir bahwa Allah sedang meletakkan jari-Nya di tombol “hajar semua!”), dan semua hal itu malah menghasilkan hidup yang frustrasi, penuh penghukuman dan selalu melanggar janji kepada Allah. Tidak peduli berapa kali saya berkata, “Allah, aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi,” akhirnya saya tetap melakukan “hal itu” lagi. Tentu saja, saya selalu saja bisa membenarkan kelemahan saya dengan mengutip perkataan Yesus: “Roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41) Apa yang saya lupa sadari adalah bahwa Yesus menyampaikan kata-kata tersebut berkaitan tentang – kekuatan untuk berdoa, bukan mengenai kelemahan daging-Nya!
Keinginan untuk berdoa sama sekali bukan menjadi masalah saya. Saya dapat berdoa sepanjang hari, setiap hari, tetapi tetap menjalani kehidupan dalam “kantong campuran” Kekristenan. Bahkan kenyataannya, saya berpikir bahwa semakin banyak berdoa akan memberikan kekuatan untuk mengalahkan daging. Karena itu, saya meningkatkan jam doa saya. Coba tebak! Hal itu tidak dapat menolong saya merubah satu pun. Kemudian saya berpikir, kalau semakin banyak berdoa tidak dapat menolong saya untuk mengalahkan permasalahan yang menghantui tersebut, maka pasti kuncinya adalah berpuasa. Jadi, saya berpuasa. Tebak apa yang terjadi! Berat badan saya turun (bukan hal yang buruk!), tetapi saya menjadi sering marah terhadap orang-orang disekitar saya, dan saya terus menerus dihantui dengan betapa laparnya saya!
Tetap tidak ada perubahan.
Setelah mengalami frustrasi dan menyalahkan diri sendiri selama bertahun-tahun tanpa ada hasil yang dapat bertahan lama, saya menyadari bahwa harusnya ada jalan lain. Saya juga mengetahui bahwa tidak terhitung jumlahnya orang Kristen yang juga mengalami hal yang sama, memiliki pola pikir yang dikendalikan setan. Dan mereka, sama seperti saya, sangat ingin untuk dibebaskan. Jadi, saya memulai perjalanan saya untuk menemukan jawaban yang sejati, kebenaran sejati, dan perubahan yang sejati. Perjalanan ini sebenarnya ada dua: mengeluarkan diri saya dari indoktrinasi agamawi yang salah, yang telah mencengkeram pikiran saya dan menemukan apa sebenarnya yang dikatakan Firman Allah tentang perubahan yang sejati.
Apa yang saya temukan merubah hidup saya sepenuhnya!
Alih-alih menemukan banyak ayat yang berhubungan dengan “perubahan,” saya malah menemukan semakin banyak kebenaran dalam Alkitab tentang apa yang menyebabkan perubahan seumur hidup: Kasih karunia Allah yang luar biasa! Semakin saya pelajari, semakin jelas pesan luar biasa tentang kasih karunia ini mulai hidup di dalam hati saya. Bahkan sampai hari ini, hal itu tetap bertumbuh, berkembang dan menjadi pesan yang memerdekakan saya juga banyak orang lainnya – merdeka untuk benar-benar menjadi dan menghidupi panggilan Allah bagi kita.
saya malah menemukan semakin banyak kebenaran dalam Alkitab tentang apa yang menyebabkan perubahan seumur hidup: Kasih karunia Allah yang luar biasa!
Jadi, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda siap meniggalkan “kantong campuran” tua dari kehidupan Kekristenan yang berisi frustrasi dan rasa bersalah? Jika iya, berikut ini ada beberapa langkah yang saya percaya akan dapat menolong Anda meninggalkan cara yang lama, mengalami perubahan hidup, dan semakin jatuh cinta dengan kasih karunia Allah. Hal-hal berikut ini lebih dari sekedar teori dan konsep yang baik. Saya tahu hal-hal ini berhasil! Bukalah hatimu dan bersiaplah….
...Bersiaplah untuk mengalami perubahan yang sejati!
Bagian 2 dari artikel ini akan dilanjutkan pada newsletter berikutnya. Artikel ini diambil dari buku barunya “Grace Shift”
Orang-orang Farisi memandang pertobatan sebagai perubahan tingkah laku; berhenti melakukan tindakan-tindakan “dosa” tertentu dan mulai melakukan tindakan-tindakan “suci” lainnya. Berhenti melanggar perintah-perintah Allah dan mulai mengikutinya sebaik mungkin merupakan inti dari agama mereka. Sayangnya definisi tentang pertobatan dari orang Farisi hampir sama dengan yang dipegang oleh banyak orang Kristen saat ini – berhenti minum minuman keras, merokok, berkata kotor, berbohong dan mulai membaca Alkitab, berdoa dan mulai pergi ke gereja. Dengan demikian pertobatan menjadi sesuatu yang berhubungan dengan apa yang ada di luar kita dan juga usaha kita, bukannya berpaling dari “perbuatan sia-sia” kita [Ibrani 6:1] kepada Yesus.
Kekristenan menjadi sebuah gaya hidup yang baru, bukan Dia, yang adalah kehidupan – Yesus Kristus sendiri.
Kekristenan menjadi sebuah gaya hidup yang baru, bukan Dia, yang adalah kehidupan – Yesus Kristus sendiri.
Momen pertobatan dari anak yang terhilang bukanlah pada saat dia “menyadari dirinya sendiri” karena saat kita menyadari diri kita sendiri kita hanya akan menemukan diri kita sendiri. Bahkan saat sang ayah lari menyongsong anaknya, dia masih terus mengulangi idenya sendiri bahwa dia akan membayar hutang pada ayahnya; dia mau memperbaiki kesalahan dan membuat segalanya menjadi benar. Ayahnya tidak pernah memerintahkan anaknya untuk menghentikan perkataan yang sudah dilatihnya akan tetapi ia terus melanjutkan memeluk dan mencium anaknya. Pada akhirnya si anak terhilang menjadi terdiam – tidak ada pemikiran tentang apa yang ingin dia lakukan akan tetapi ia hanya menerima bahwa dia diterima oleh sang ayah. .
Pada akhirnya si anak terhilang menjadi terdiam – tidak ada pemikiran tentang apa yang ingin dia lakukan akan tetapi ia hanya menerima bahwa dia diterima oleh sang ayah.
Inilah dia: terimalah penerimaan Anda.
Anak terhilang menerima kasih ayahnya dan dipulihkan, bukan karena sesuatu yang telah ia lakukan, tetapi hanya karena ia adalah anak dan dia dikasihi karena jati dirinya yang sebenarnya. Ini adalah momen yang sebenarnya dari sebuah pertobatan. Si anak terhilang melepas semua usaha pribadinya dan menerima kasih yang tidak pernah lelah menanti dirinya.
Bagaimana kita memandang pertobatan? Apakah hal itu berkaitan dengan perubahan yang ada diluar? Apakah hal itu tentang berhenti dari sesuatu dan mulai melakukan aktivitas lainnya? Berhenti dari satu kebiasaan dan memulai kebiasaan yang lain?
Apakah pertobatan itu tentang Anda yang mengekang diri Anda sendiri dan mencoba keras untuk menjadi orang Kristen yang baik? Tidak, pertobatan yang sejati itu terjadi saat kita mengijinkan kasih Allah memeluk kita, dan kita menerima bahwa kita diterima di dalam Yesus Kristus serta dikasihi oleh Pencipta kita.
Pertobatan berkaitan dengan perubahan pola pikir. Bahasa Yunani-nya adalah “metanoia” yang berarti “berubah pikiran” atau “merubah pemikiran Anda.” Kita berhenti berpikir bahwa diri kita harus menjadikan segala sesuatu menjadi benar; bahwa kita akan memulihkan segala sesuatu yang telah kita rusakkan. Akan tetapi kita menerima kasih yang cuma-cuma dan kasih karunia yang ditawarkan kepada kita oleh Bapa sorgawi kita.
Sebuah perubahan gaya hidup dan perbuatan-perbuatan baik, yang memang diperlukan karena kita diciptakan untuk melakukan “pekerjaan baik” [Efesus 2:10], merupakan hasil dari menerima penerimaan kita di dalam Yesus Kristus
Bagaimana Anda memberitakan tentang pertobatan? Dalam Lukas 15, kata pertobatan digunakan Yesus lebih banyak dari tempat-tempat lainnya. Dengan jelas Ia menyatakan bahwa kish tentang gembala yang baik dan domba yang hilang adalah tentang pertobatan. Dalam hal apa domba itu bertobat? Apakah domba itu benar-benar merasa sengsara karena ia telah berjalan menjauh? Kita bahkan tidak yakin apakah domba itu menyadari bahwa dirinya tersesat. Pertobatan dari domba itu adalah bahwa ia menerima posisinya di atas bahu gembala yang baik. Sekarang domba itu teridentifikasi sepenuhnya dengan gembalanya.
pertobatan yang sejati itu terjadi saat kita mengijinkan kasih Allah memeluk kita, dan kita menerima bahwa kita diterima di dalam Yesus Kristus serta dikasihi oleh Pencipta kita.
Yesus mengatakan bahwa kisah tentang perempuan yang kehilangan dirhamnya merupakan gambaran dari pertobatan. Dalam hal apa uang dirham itu bertobat? Tidak diragukan lagi bahwa itu merupakan salah satu uang logam yang biasa dipakai pada kalung oleh para perempuan Timur Tengah. Dalam kasus perempuan di Lukas 15, ia memiliki 10 dirham di kalungnya dan yang satu hilang. Kalung itu sekarang menjadi tidak lengkap; ada sesuatu yang salah, tidak pada tempatnya. Akhirnya saat ia menemukan uang itu, segalanya menjadi sebagaimana mestinya seperti awalnya. Dirham yang telah ditemukan itu hanya menerima tempatnya di kalung. Pertobatan adalah menerima kasih yang telah ditunjukkan Allah kepada kita melalui Yesus Kristus.
Anda mungkin bertanya: Bagaimana dengan hidup benar, melakukan yang benar dan hidup kudus? Semua itu datang setelah kita bertobat dari usaha dan perbuatan sia-sia kita. Pekerjaan baik merupakan hasil dari hidup yang baru yang kita terima dalam posisi kita yang telah dipulihkan.
Jika kita harus membuat daftar tentang apa yang perlu kita lakukan agar dapat berkuasa dalam hidup, seberapa panjangkah daftar itu jadinya? Berapa banyak poin yang akan harus kita tuliskan? Sangatlah menarik bila memperhatikan perkataan Rasul Paulus dalam Roma 5:17:
Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
Kita hidup dan berkuasa karena SATU orang itu, bukan melalui ratusan kunci dan formula. Dan kita dapat melihat bahwa fokusnya terletak pada menerima, bukan melakukan. Kita menyambut serta menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran dan hal itu akan membuat kita berkuasa di dalam hidup.
Kata “dosa” berarti “gagal mencapai sasaran.” Definisi tersebut agar samar, yang kemudian menarah pada pertanyaan berikutnya: Apa sasarannya?
“Polisi allah”
Bagi orang-orang Farisi, sasarannya adalah Hukum Taurat Musa, ditambah peraturan-peraturan yang mereka tambahkan. Bagi mereka, dosa adalah melanggar Hukum Taurat. Orang-orang Farisi melihat diri mereka sendiri sebagai perwakilan Allah yang memiliki dua tugas: memberikan informasi pada masyarakat luas tentang perintah Allah dan berusaha untuk menegakkan ketaatan pada Hukum Taurat dan penghakiman pada mereka yang dianggap sebagai pelanggar hukum. Orang-orang Farisi menjadi “polisi allah” yang bertugas penuh untuk mendakwa orang-orang berdosa dan marah terhadap para pemungut cukai. Anak sulung dalam Lukas 15 adalah gambaran dari orang Farisi. Dia menjelaskan peraturan-peraturan yang telah dilanggar adiknya, meskipun ayahnya tidak pernah menyebutkan pelanggaran-pelanggaran tersebut.
Hubungan yang Rusak
Pandangan Yesus terhadap dosa sangatlah berbeda. Bagi Dia, dosa bukanlah melanggar peraturan tetapi merupakan hubungna yang rusak – sebuah penolakan untuk masuk dalam hubungan kasih dimana kita diciptakan untuk untuk hal itu. Saat anak terhilang itu bersikeras meminta bagian warisannya, itu sama seperti dia sedang berharap ayahnya mati, dan didalam kebudayaan Timur Tengah hal itu merupakan sebuah perbuatan buruk yang tidak ada bandingannya. Semakin bertambah buruk lagi saat anak tersebut menghabiskan seluruh harta warisannya di “negeri yang jauh,” dengan demikian ia menunjukkan kepada seluruh desa bahwa ia sama sekali tidak ingin berhubungan dengan ayahnya. Dia menciptakan hidupnya sendiri sejauh mungkin dari rumah. Apakah dosa dari anak terhilang itu? Hubungan yang rusak.
Ini merupakan cerminan dari dosa Adam, dosa mula-mula. Adam ingin mencari jalannya sendiri bukan mempercayai Allah yang mengasihi dia. Ia mendengarkan ular, mencoba menyelesaikan masalah dengan tangannya sendiri, mencoba untuk mengangkat dirinya sendiri ke tingkatan yang lebih tinggi untuk memperbaiki situasinya dan menjadi “seperti Allah.” Ini merupakan inti dari dosa: ketidakpercayaan. Adam lebih mempercayai kemampuannya sendiri dibanding Allah yang mengasihinya.
Setelah Adam jatuh dalam dosa, sekali lagi ia menarik dirinya menjauh dari Allah. Ada orang-orang yang mengklaim bahwa karena Allah terlalu kudus maka Dia tidak dapat melihat dosa. Ini merupakan dusta besar. Dengan segera dan penuh dengan kasih karunia Allah mendekati Adam setelah ia berbuat dosa. Allah tidak menarik diri – Adam yang menjauh dari Allah.
Beberapa pasal kemudian dalam kitab Kejadian, setelah Kain membunuh Habel, Allah mendatangi Kain dan melindunginya. Sekali lagi, Kainlah yang menjauhkan diri dari hadirat Allah, bukan sebaliknya, karena Allah tidak pernah memalingkan mukanya dari orang berdosa – Allah adalah sahabat orang-orang berdosa.
Akhirnya, dan sudah pasti, segala hal menjadi buruk bagi si anak terhilang, karena upah dosa selamanya adalah maut. Ia mendapati dirinya terjebak dalam musibah kelaparan, dan kemudian berakhir diantara babi-babi – sebuah hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang Yahudi. Saat dia berseru, “Aku tidak layak lagi untuk disebut sebagai anak,” ini bukanlah perkataan pertobatan. Dia hanya mengatakan tentang kenyataan yang ada. Anak terhilang itu sangat memahami kebudayaan saat itu – orang-orang desanya menganggap dia tidak layak dan tidak dapat menerima dia kembali. Lebih jauh lagi, sang ayah tidak dapat menyambut kembali anak yang telah mempermalukan ayahnya sendiri dihadapan semua orang. Para penduduk desa bahkan bisa meludahi anak terhilang tersebut dan menuntut penebusan dosa. Sesuai dengan adat, tugas mereka dan tugas dari sang ayah adalah membuat dia bertanggung jawab akan segala tindakannya.
Bagi anak yang terhilang itu, dosa adalah tentang perilakunya yang salah dan sekarang ia ingin memperbaiki tindakannya yang salah tersebut. “Biarkan aku menjadi salah satu hambamu,” katanya. Perhatikan, ia tidak meninginkan kedekatan dengan ayahnya. Tidak, dosa yang sama yang membuat dia menjauh menahan dirinya agar tetap berada pada jarak yang “aman” dari ayahnya. Anak terhilang tersebut ingin menyelesaikan masalah dengan tangannya sendiri, membayar kembali hutang-hutangnya, bekerja sebagai hamba, hidup diantara para hamba, dan pelan-pelan memperbaiki kesalahannya – selangkah demi selangkah. Dia tetap berusaha dengan kekuatannya sendiri, seorang yang berusaha membenarkan diri yang siap untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanya dengan cara mencoba lagi.
“Dia sadar akan dirinya sendiri.” Tetapi itu tidak berarti keselamatan, karena pertobatan tidak terjadi saat kita menyadari diri kita sendiri. Hal itu hanya terjadi bila kita datang kepada Bapa; kembali kepada kasih yang karenanya kita diciptakan. Sang bapa melihat dosa sebagaimana mestinya – sebuah hubungan yang rusak. Si anak telah merusakkan hubungan dan melepaskan dirinya dari rumah bapanya untuk menemukan tujuan alternatif dalam hidupnya.
Hubungan Yang Dipulihkan
Jika dosa hanyalah sekedar melanggar peraturan dan perintah, maka kehidupan Kekristenan menjadi suatu usaha kita untuk menjalankan perintah. Sebaliknya, jika dosa adalah rusaknya hubungan dengan Allah, maka kehidupan Kekristenan adalah pemulihan hubungan dengan Allah, sebuah hidup yang baru di dalam Kristus.
Jika agama adalah tentang peraturan-peraturan, Allah kita akan seperti hakim yang memutuskan siapa yang terbaik dalam melakukannya, siapa yang berada pada tempat kedua, ketiga dan siapa yang sama sekali tidak masuk hitungan.
Dosa adalah sesuatu yang jauh lebih mendalam – sebuah hubungan yang rusak antara Allah dengan manusia. Yesus datang untuk menjadi Juru Selamat dunia; untuk memulihkan setiap manusia dalam hubungan kasih ini.
Lalu apa yang terjadi dengan dosa dalam kehidupan manusia? Usaha manusia untuk menepati perintah-perintah pada akhirnya hanya membawa pada kemunafikan. Kemenangan atas dosa, kekudusan yang sejati dan pengudusan yang sejati adalah hasil dari hidup dan hubungan dengan Allah yang selalu mengasihi kita.
Dosa tidak pernah dapat menghentikan aliran kasih karunia Allah – kasih karunia Allah yang menghentikan dosa dan membawa kekudusan yang sejati.
Saat itu bulan Desember dan saya sedang berada di pedesaan, sekitar tiga jam dari Beijing, China. Suhu udara berkisar dibawah sepuluh derajat Fahrenheit. Saya dapat melihat uap napas saya di udara dingin di sebuah gudang pabrik yang telah kosong dimana saya tidur dan mengajar Alkitab pada saat saya masih berada di daerah yang diserang oleh kemiskinan ini.
Lima belas orang duduk melingkar di sekitar saya, satu persatu harus menyelinap kedalam ruangan agar tidak terdeteksi oleh polisi. “Apakah kamu tidak takut masuk penjara?” tanya salah satu orang percaya. “Kalau kamu?” tanya saya. Merupakan sebuah tidakan ilegal bagi orang Kristen di China untuk berkumpul seperti yang sedang kami lakukan dan kami semua tahu akan hal tersebut. Akan tetapi orang-orang percaya ini sangatlah lapar akan pengajaran Alkitab sehingga mereka mau mempertaruhkan nyawa mereka untuk bisa menghadiri pendalaman Alkitab.
Seorang ibu tua bernyanyi kepada Yesus
Pada hari itu saya telah mengajar selama empat belas jam. Sekarang hari telah menjadi malam. Kami telah berdoa dan orang-orang Kristen yang bersama-sama dengan saya telah menyanyikan lagu-lagu himne dalam bahasa China, mempersembahkan pujian bagi Tuhan karena kebaikanNya. Tiba-tiba saat seorang ibu tua berumur 87 tahun mulai menyanyi, terjadilah keheningan di ruangan itu dan semua orang berdoa di dalam hati.
Sebelumnya saya sudah bercakap-cakap dengan dia melalui penterjemah saya dan saya mengetahui kisah pribadinya. Ia dan suaminya telah terpisah pada saat terjadi perang di China lebih dari tiga puluh tahun sebelumnya. Pada saat para tentara Jepan dan China bertempur disekitarnya, ia bersembunyi di pojok sebuah gedung. Tetangga-tetangga di sekitarnya semunya tewas terbunuh, tetapi semua tentara itu melewatkan dia, tampaknya tidak ada satu pun yang memperhatikan keberadaannya.
Pada akhirnya suara tembakan berhenti dan semua tentara meninggalkan tempat itu. Ia mengatakan bahwa pikiran pertama yang masuk dalam benaknya adalah, “Pasti ini karena Tuhan karena tidak ada penjelasan lain mengapa saya bisa selamat dari apa yang baru saja terjadi. Aku mau mengenal Tuhan ini.” Sepuluh tahun berlalu sebelum ia mendengar tentang ibadah gereja bawah tanah di dekat tempat tinggalnya. Dengan menggandeng anak perempuannya, ia berkata, “Mari kita pergi ke gereja ini dimana kita bisa bertemu dengan Tuhan yang menyelamatkan nyawaku sepuluh tahun yang lalu.” Kemudian mereka pergi ke gereja rumah pada hari itu dan disana ia bertemu dengan Yesus Kristus.
Sekarang disinilah saya, dua puluh tahun sesudahnya, duduk di dalam sebuah pabrik yang ditinggalkan dimana secara sembunyi-sembunyi dipakai untuk tempat tinggal sebuah keluarga. Saya telah mengajarkan tentang keintiman dengan Kristus, tetapi ibu tua berumur 87 tahun ini membuat pengajaran yang saya ajarkan menjadi semakin nyata bagi saya. Dia menutup matanya dan mulai menyanyi.
Lagu yang ia nyanyikan begitu lembut dan manis, dalam bahasa Mandarin. Pada saat ia menyanyi, air mata mulai menuruni pipinya yang telah keriput, membasahi senyumnya yang lebar. Saya tidak dapat mengerti kata-kata yang ia nyanyikan tetapi saya sadar bahwa ia secara literal memancarkan kasih Yesus Kristus. Tiba-tiba saya merasakan manifestasi kehadiran Allah yang luar biasa.
Saya tidak dapat menahan air mata saya, dan saat saya melihat ke seluruh ruangan saya melihat orang-orang yang lain juga menangis. Saya melihat kembali orang kudus ini yang saat ini sepertinya sedang berada di dunianya sendiri, tampak jelas sekali dihadapan kami yang ada di dalam ruangan itu. Sangat jelas sekali – ia tidak menyanyi bagi kami. Ia menyanyi bagi Yesus.
“Setiap hari Dia menanti kedatangan saya ,”
Dalam beberapa saat berikutnya, ia menyelesaikan nyanyiannya dan keheningan yang kudus memenuhi ruangan. Ia berhenti sebentar dan kemudian membuka matanya dan melihat saya. ”Setiap hari Dia menanti kedatangan saya,” kata nya sambil tersenyum lebar dengan pipi yang basah. Saya merasa seperti seorang anak kecil yang sedang diajari sebuah pelajaran yang belum pernah diterima. Sambil memandang dia melalui mata yang basah, saya tersenyum dan mengangguk perlahan.
Yesus sangat menantikan untuk bertemu mempelainya, “Dia sangat menantikan kedatangan saya.” Pernahkan Anda berpikir demikian? Sebagian besar orang berpikir tentang betapa bahagianya bila kita nanti bertemu Yesus Kristus muka dengan muka, tetapi pernahkah Anda membayangkan betapa rindunya Dia untuk bertemu dengan Anda? Dalam Perjanjian Baru kita disebut sebagai mempelai wanita Kristus. Suatu hari nanti Dia akan datang dan kita akan dipersatukan dengan Dia dalam pernikahan yang kekal. Yesus berkata,
Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada (Yohanes 14:2-3)
Suatu hari nanti kita akan mendengar bunyi undangan diserukan diseluruh jagat raya, “Mempelai datang! Songsonglah dia!” (Lihat Matius 25:6) Pada saat itu, Anda akan melihat Dia yang gairahnya begitu besar pada Anda sampai Dia berpikir lebih baik mati daripada hidup tanpa Anda.
Injil adalah tentang Allah mendatangi kita, menjelma menjadi manusia, menebus kita untuk selamanya – agar kita dapat bersama dengan Dia disepanjang kekekalan. Hati-Nya tertuju pada semua orang dan Ia menginginkan sebuah hubungan kasih dengan seluruh umat manusia.
Cara untuk memulihkan hubungan dengan Dia sangatlah sederhana: seseorang hanya perlu untuk percaya dan meresponi undangan kasih-Nya. Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11:28) Ia juga berkata, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” Yohanes 7:37-38.
Yesus berbicara kepada orang-orang yang ada didalam agama yang penuh dengan perintah dan persyaratan. Ia tahu bahwa hal tersebut merupakan beban berat bagi mereka dan sekarang Ia menawarkan kepada mereka hidup yang penuh dengan peristirahatan. Kita dapat beristirahat dalam karya yang telah diselesaikan oleh Yesus Kristus. Kita dapat melayani dalam peristirahatan, memastikan bahwa Dia yang tinggal didalam kita yang akan membuahkan hasil.
Hari ini kami membawakan Anda dua artikel dari Peter Youngren dan Steve McVey. Mereka berbicara tentang hubungan kasih kita dengan Allah dan bagaimana Allah menginginkan kita untuk percaya kepada-Nya. Kami percaya Anda akan diberkati saat Anda mempelajari pengajaran ini.
Dapat menyambut Anda dalam surat pengajaran Global Grace News ini merupakan sukacita besar. Kedua artikel ini sama-sama melihat betapa luar biasanya Perjanjian Baru.
Hal itu hampir seperti sebuah transaksi yang menguntungkan: Perjanjian Baru yang diadakan oleh Yesus bagi kita dimana diri-Nya sendiri berdiri sebagai penjamin bagi kita. Pelajarilah artikel-artikel ini dengan cermat dan ijinkan Roh Kudus untuk memberikan pewahyuan dan membangun jaminan yang dalam dan kuat dalam kehidupan pribadi dan pelayanan Anda.
Perjanjian Anda dengan Allah tidak berdasarkan pada diri dan usaha Anda sendiri, akan tetapi semuanya berdasarkan pada Yesus dan apa yang telah Ia lakukan di kayu salib. Iman kita berada di dalam Kasih Karunia Allah dan karya yang telah diselesaikan Yesus Kristus.
Di kesempatan ini saya juga menyambut para pemimpin dari D.R. Congo dan Rwanda, dan Anda semua yang baru pertama kali bergabung dengan kami. Merupakan kesempatan yang luar biasa untuk dapat tetap terhubung dengan Anda, keinginan kami adalah agar sumber pengajaran GGN ini dapat dipakai oleh Tuhan untuk menguatkan dan terus memperlengkapi Anda dalam pekerjaan penting yang Anda lakukan.
Kami sangat senang sekali bila dapat mendengar sesuatu dari Anda melalui .(JavaScript must be enabled to view this email address). Kami menantikan kesaksian atau atau pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan pengajaran-pengajaran yang ada. Selain itu Anda juga dapat melihat bahwa ada beberapa pertanyaan dan jawaban yang tersedia di website http://www.globalgracenews.org.
Perjanjian Yang Tak Terpatahkan
Anda adalah penerima keuntungan dari Perjanjian Baru. Apa artinya? Untuk memulainya, coba pikirkan sesuatu yang lebih sering kita dengar seperti: sebuah wasiat (surat wasiat) dari orang tua (contoh dari seorang ayah).
Saat seorang ayah membuat surat wasiatnya, ia menyatakan keinginannya berkaitan dengan harta miliknya setelah ia meninggal. Mungkin anak laki-lakinya diberi sebuah rumah, anak perempuannya diberi mobil…atau gabungan dari keduanya juga bisa sesuai dengan yang dimiliki ayahnya. Selain itu, surat wasiat tidak dapat dirubah tanpa persetujuan dari sang ayah.
Bahkan di dunia nyata sekalipun, suatu wasiat (perjanjian) yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.
Saya baru saja menggunakan sebuah contoh yang bagi pemahaman kita merupakan sesuatu yang alami. Tetapi tahukah Anda bahwa Rasul Paulus juga menggunakan contoh yang sama untuk menggambarkan Perjanjian Baru? Perhatikan Galatia 3 dimana Paulus membuat perhatian orang-orang Galatia kembali pada kesempurnaan Perjanjian Baru yang telah diadakan antara Allah dan manusia di dalam Yesus:
“Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.” (Galatia 3:15).
Apa yang dikatakan Paulus? Bahkan di dunia nyata sekalipun, suatu wasiat (perjanjian) yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun. Karena itu betapa lebih kuatnya Perjanjian Baru? Hal itu merupakan gagasan Allah; inisiatif Allah; Allah yang melakukan. Hal itu tidak dapat ditambahi dan dibatahkan. Saudaraku, hal ini penting untuk kita ketahui.
Paulus menulis pada jemaat Galatia yang sedang berusaha untuk meningkatkan posisi mereka dihadapan Allah dengan perbuatan mereka sendiri. Entah bagaimana mereka telah tertipu sehingga berpikir bahwa mereka perlu melakukan perbuatan-perbuatan agamawi tertentu agar dapat menjaga perjanjian, atau menerima nilai lebih dari perjanjian. Respon empati dari Paulus dari pemikiran tersebut adalah, “Tidak, Tidak, Tidak!!!”
Jadilah kuat, saudaraku. Allah tidak mengurangi keuntungan apapun yang telah datang pada Anda dalam Yesus dan juga tidak ada ruang yang perlu ditingkatkan lagi dalam Perjanjian Baru. Ruang apa yang diperlukan? Semakin mengenali Yesus. Dia setia dalam perjanjian (meskipun kita tidak selalu setia); kesetian-Nya diperhitungkan pada kita; dan karena Dia itu setia, Perjanjian Baru tidak dapat dibatalkan.
Mungkin ada waktu-waktu dalam hidup Anda sebagai orang percaya dimana Anda diyakinkan bahwa Allah sedang tidak berkenan pada Anda. Sama seperti banyak orang yang terjebak dalam agama yang sepenuhnya berdasarkan pada Perjanjian Baru, mungkin Anda telah sampai pada suatu titik dimana dalam pemikiran Anda, Anda mempercayai bahwa kegagalan Anda telah memberikan sebuah alasan yang tepat agar Allah meninggalkan Anda, mengeluarkan Anda dari keluarga-Nya atau membatalkan berkat-berkat-Nya dari hidup dan pelayanan Anda.
Tolong baca kalimat berikut ini dengan seksama: Kegagalan-kegagalan serta ketidaksetiaan Anda tidak merubah pandangan Allah terhadap Anda, juga tidak melanggar Perjanjian Baru, yang membuat Anda tidak mendapatkan kebaikan Allah. Jika Anda mau mengambil bagian dalam keuntungan-keuntungan dari Perjanjian Baru melalui percaya dalam Yesus, Anda selalu diundang untuk melakukannya.
Anda bukan mitra Allah dalam perjanjian. Manusia Kristus Yesus yang merupakan mitra Allah dalam perjanjian.
Sekarang, apakah benar bahwa sebuah perjanjian membutuhkan kesetiaan? Tentu saja. Apakah benar bahwa dalam Alkitab mencatat bahwa dalam suatu perjanjian ada konsekuensi yang serius bagi orang-orang yang melanggarnya? Ya, itu benar. Kalau begitu, bagaimana mungkin ketidaksetiaan kita kepada Allah tidak menyebabkan Dia menolak kita sebagai mitra dalam perjanjian? Jawaban: Anda bukan mitra Allah dalam perjanjian. Manusia Kristus Yesus yang merupakan mitra Allah dalam perjanjian. Dia tidak pernah tidak setia pada perjanjian. Kesempurnaannya selalu ada dihadapan Allah (Ibrani 9:24). Dan karena Anda ada di dalam Dia (Roma 6:11; Efesus 1 & 2; Kolose 2:9-13), kegagalan Anda tidak muncul dihadapan Allah. Akan tetapi, kesempurnaan dan kesetiaan Kristus yang nampak dihadapan Allah bagi Anda. Puji Tuhan.
Mari sejenak kita lanjutkan pembelajaran kita tentang perjanjian. Perjanjian Baru adalah penggenapan dari perjanjian yang dibuat Allah dengan Abram pada waktu yang sudah lampau. Ya, memang ada waktu dimana ada Perjanjian Musa (Lama). Tetapi kita diberitahu dalam Galatia 3:17-26 bahwa Perjanjian Musa tersebut, yang disebut sebagai “hukum Taurat,” berakhir saat Yesus datang dan tidak membatalkan perjanjian yang sebelumnya telah dibuat oleh Allah dengan Abram dan keturunannya. Allah tidak mengganti perjanjian-Nya dengan Abram. Akan tetapi, hukum Taurat diberikan untuk menunjukkan pada bangas Israel dan semua orang bahwa tidak mungkin kita mendapatkan keuntungan dari kebaikan Allah melalui usaha atau kebaikan manusia. Sejak awal kehidupan kita, kita terkurung…di bawah kekuasaan dosa” (Galatia 3:22), dan hanya karena kebaikan dan kasih karunia Allah kita dapat menerima keuntungan dari janji-jani-Nya. Tentu saja Allah tahu hal itu dari mulanya. Jadi saat Ia menetapkan perjanjian-Nya dnegan Abram dan keturunannya, kasih karunia Allah bagi semua generasi sudah berlaku.
Apakah Anda ingat ksah bagaimana Allah meneguhkan perjanjian-Nya dengan Abram dan keturunannya? Allah telah menjanjikan berkat yang besar bagi Abram dan keturunannya (Kejadian 12:2-3; 15:1-6). Saya sering mengatakan seperti ini: Allah berjanji untuk memampukan Abram dan keturunannya untuk menjadi baik dan ada dalam keadaan yang baik, untuk kebaikan mereka sendiri dan juga kebaikan bagi semua orang. Saudaraku, itu juga yang disediakan Allah bagi Anda saat ini: Dia telah membuat ketentuan bagi Anda untuk dimampukan agar menjadi baik dan dalam keadaan yang baik bagi kebaikan Anda sendiri dan kebaikan orang lain melalui Anda. Puji Tuhan sekali lagi!
Lalu bagaimana hal ini terjadi dalam kehidupan kita? Kita sudah melihat bahwa sebuah perjanjian menuntut sebuah kesetiaan. Dan kita telah melihat hal tersebut dalam hal-hal yang berkaitan dengan Allah, usaha manusia sia-sia dan menunjukkan dengan jelas bahwa kita semua adalah orang-orang yang tidak setia. Lalu bagaimana seseorang dapat menerima keuntungan dari perjanjian Allah? Sebelumnya saya sudah menyinggung jawaban tentang hal ini: Dalam me
Dalam Kejadian 15:8-21 kita dapat membaca tentang Allah meneguhkan perjanjian-Nya dengan Abram, yang jelas sekali terbiasa dengan segala formalitas dari perjanjian kuno. Abram mempersiapkan hewan korban untuk upacara perjanjian, dengan membuat sebuah jalur darah diantara hewan korban. Jalur darah semacam itu diletakkan disuatu tempat dimana nantinya para pihak yang mengikat perjanjian akan melewatinya saat mereka saling berjanji dan juga menyebutkan kutukan yang akan terjadi bila salah satu pihak melanggar perjanjian.
Tetapi setelah Abram mempersiapkan segalanya, Allah membuat suatu perubahan yang sangat penting bagi jaminan kelangsungan perjanjian tersebut.
Sebelum kita melanjutkan ceritanya, ingatlah beberapa hal: Sebuah perjanjian dibuat antara dua pihak atau lebih; sebuah perjanjian menuntut adanya kesetiaan; sejak lahir Abram adalah orang berdosa, sama seperti semua orang yang lahir dalam keturunan Adam.
Jelas sekali Allah tidak dapat bergantung pada Abram. Sekarang mari kita kembali pada kisah dalam Kejadian 15.
Yesus, Keturunan, ada saat Allah mensahkan perjanjian dimana Abram dan keturunan-keturunannya akan menjadi penerima keuntungan.
Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mengadakan perjanjian telah siap. Akan tetapi pada menit terakhir Allah membuat perubahan yang penting: Dia membuat Abram tidur (ay 12). Apa artinya ini? Abram akan menjadi penerima keuntungan dari perjanjian tanpa perlu menanggung tanggung jawab bagi kelangsungan perjanjian.
Lalu siapa yang bertanggung jawab? Sebuah perjanjian harus memiliki lebih dari satu pihak. Allah ada disana. Abram tidur. Apakah hanya ada satu pihak? Tidak. Menurut Galatia 3 segala sesuatu baik-baik saja meskipun Abram tidur, karena:
kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan “kepada keturunan-keturunannya” seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: “dan kepada keturunanmu”, yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. (Galatia 3:16-17).
Apakah Anda melihatnya? Yesus adalah Keturunan yang melalui Dia perjanjian itu dibuat, dan perjanjian itu telah disahkan oleh Allah dalam Kristus. Yesus, Keturunan, ada saat Allah mensahkan perjanjian dimana Abram dan keturunan-keturunannya akan menjadi penerima keuntungan. Saat Abram tertidur ”kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu” (ay 17). Tidak hanya satu, tetapi ada dua benda yang muncul dan melewati darah perjanjian. Allah hadir. Keturunan Abraham yang sekarang kita kenal sebagai Yesus Kristus, hadir. Perjanjian telah disahkan, dan bagi Abram, Anda dan saya, selamanya aman, karena berlangsungnya perjanjian tersebut tidak terbgantung pada Anda dan saya, namun hanya tergantung pada Yesus. Dia setia, Dia tidak berubah, Dia adalah Allah dan Dia adalah manusia. Didalam Dia ada kesetiaan pada bagian Allah, dan dalam Dia ada kesetiaan pada bagian manusia. Perjanjian Baru dalam Tuhan Yesus Kristus adalah PERJANJIAN YANG TAK TERPATAHKAN!
berlangsungnya perjanjian tersebut tidak terbgantung pada Anda dan saya, namun hanya tergantung pada Yesus.
Lalu apa yang kita lakukan? Pertimbangkanlah Yesus dalam setiap aspek kehidupan, dan responilah sejalan dengan Dia. Dia memimpin kita dalam kehidupan yang saleh. Dia memberi inspirasi kepada kita dalam iman. Kuasa kesembuhan-Nya, Kekuatan-Nya dan kemampuan-Nya dimanifestasikan dalam tubuh kita. Kasih dan kebaikan-Nya terdengar dalam perkataan kita dan terlihat dalam tindakan kita.
Yesus itu setia. Yesus itu tidak berubah. Yesus adalah Dia yang didalam-Nya Perjanjian Baru selamanya sempurna dan terjamin. Anda berada di dalam Dia. Hal itu membuat Anda menjadi apa? Penerima segala hal yang baik yang ditemukan dalam kehendak Allah, dan menjadi sebuah bejana bagi kasih dan kuasa-Nya agar melaluinya Dia menjadi dikenal oleh orang-orang disekitar Anda.
Anda dimampukan untuk menjadi baik dan ada dalam keadaan baik bagi kebaikan Anda sendiri dan bagi kemuliaan Allah. Dan sebagai seorang pelayan Injil Yesus Kristus, Anda dimampukan untuk menolong orang lain untuk menjadi baik dan ada dalam keadaan baik.
Deklarasi Perang dari Kasih terhadap Agama – Bagian 1 seri pengajaran dari Lukas 15
Lukas 15 adalah deklarasi perang dari kasih terhadap agama yang berdasarkan pada kebenaran pribadi. Perumpamaan yang terkenal tentang gembala yang baik, perempuan yang kehilangan dirham dan seorang bapa dengan dua anak laki-lakinya merupakan tanggapan Yesus terhadap serangan kemarahan orang-orang Farisi. Kita membaca, “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka…” (Lukas 15:1-2)
Ayat 2 menyimpulkan keseluruhan Injil: Allah menerima orang berdosa dan memiliki hubungan dengan mereka. Ini adalah pesan luar biasa kita yang sayangnya jarang sekali kita dengar.
“Orang-orang berdosa” adalah mereka yang tidak hidup sesuai dengan standar yang diajarkan di sinagog. Para pemungut cukai lebih buruk dibandingkan dengan orang berdosa biasa, ditolak oleh orang-orang Farisi dan dikucilkan dari masyarakat umum. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang dipekerjakan oleh pemerintah Romawi untuk mengumpulkan pajak dari bangsa Yahudi – orang-orang kaya yang mencuri uang tanpa perlu bertanggung jawab akan perbuatan kriminal mereka. Mereka ini adalah “sampah” masyarakat, sangat dibenci bahkan sampai pada tingkatan yang tidak ada bandingannya saat ini. Kelompok orang fanatik melihat bahwa membunuh para pemungut cukai merupakan sebuah tindakan penyembahan terhadap Allah.
Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa dan para pemungut cukai untuk menunjukkan seperti apakah pelayanan-Nya yang sesungguhnya: “mencari dan menyelamatkan yang terhilang.”
Disini kita melihat Yesus mengadakan pesta makan dengan orang-orang yang paling dibenci yang dapat Anda bayangkan. Makan bersama seseorang tidaklah sesederhana yang kita pikirkan – hanya sekedar makan siang singkat atau minum satu cangkir kopi. Tidak, menurut kebudayaan Timur Tengah hal itu merupakan sebuah cara untuk membangun persahabatan, menunjukkan penerimaan dan solidaritas, untuk merangkul orang lain. Terjemahan Amplified Bible mengenai dua ayat pertama dari Lukas 15 mengatakan, “Sekarang pemungut cukai dan orang-orang berdosa [yang terkenal dan [seorang] yang sangat jahat] semuanya datang mendekati [Yesus] untuk mendengarkan Dia, maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa [yang paling jahat] dan makan bersama-sama dengan mereka. ” (Lukas 15:1-2 Amp)
Mengapa Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa dan para pemungut cukai? Kita dapat saja menyimpulkan bahwa Yesus kurang berhikmat untuk dapat memahami bahwa hubungan semacam itu akan memberikan pengaruh negatif terhadap pelayanan-Nya. Namun sebaliknya, karena Yesus penuh dengan hikmat maka kita dapat menyadari bahwa tindakan Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa dan para pemungut cukai untuk menunjukkan seperti apakah pelayanan-Nya yang sesungguhnya: “mencari dan menyelamatkan yang terhilang.”
Perumpamaan tentang gembala yang baik yang mencari domba terhilang, perempuan yang kehilangan dirham dan seorang ayah yang menyambut kembali anaknya yang terhilang lebih dari sekedar sebuah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan orang Farisi: hal itu merupakan sebuah deklarasi terhadap segala sesuatu yang kita kenal sebagai keagamawian. Yesus dan orang-orang Farisi saling bertentangan berkaitan dengan pemahaman tentang siapakah sebenarnya Allah itu.
Yesus dan orang-orang Farisi saling bertentangan berkaitan dengan pemahaman tentang siapakah sebenarnya Allah itu.
Melalui Yesus kita dapat melihat bagaimana hati Allah sepenuhnya dinyatakan. Yesus berkata, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya .” (Yohanes 1:18) Perbedaanya sangat tajam: Yesus vs orang-orang Farisi, hati Allah melawan pola pikir agama.
Untuk dapat semakin memahami pesan yang diberikan Yesus, pertama kita harus mengetahui beberapa hal tentang orang-orang Farisi. Mereka merupakan sebuah pergerakan rohani berdasarkan Kitab Suci: kitab-kitab Torah, Mazmur dan kitab para Nabi. Mereka memandang diri sendiri sebagai perwakilan kehendak Allah di muka bumi. Yesus dapat saja lahir tujuh puluh lima tahun lebih cepat, namun bila demikian maka para orang Farisi itu baru saja dalam permulaan pergerakan mereka. Allah melihatnya sehingga Yesus datang pada masa dimana para orang Farisi sedang berada dalam puncak pengaruh mereka. Kelihatannya memang merupakan kesengajaan dari Allah agar injil kasih karunia menentang sikap-sikap kefarisian. Orang-orang Farisi hanya mengenal Allah yang selalu menuntut tetapi Yesus datang untuk menunjukkan pada mereka Allah yang mengasihi, bahkan sampai mati.
Orang-orang Farisi hanya mengenal Allah yang selalu menuntut tetapi Yesus datang untuk menunjukkan pada mereka Allah yang mengasihi, bahkan sampai mati.
Referensi Yesus pada pangkuan Bapa mengacu pada waktu dimana dunia belum dijadikan dan Yesus berada dalam sukacita dan kasih dalam Trinitas yang Kudus. Bapa-bapa Gerjea biasanya menyebut hal ini sebagai “perichoresis,” diterjemahkan bebas sebagai sebuah lingkaran, sebuah tarian kasih dimana Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus hidup saling mengasihi secara kekal. Allah adalah kasih dan selalu ditemukan dalam kasih ini.
Allah tidak menciptakan manusia karena Dia kesepian tetapi agar persekutuan penuh kasih tersebut dapat dibagikan pada manusia. Melalui Adam, manusia menjauh dari kasih ini tetapi dalam Kristus kita dipulihkan kedalamnya.
Sikap Yesus dalam Lukas 15 menunjukkan kepada kita tentang kasih Bapa kepada orang-orang berdosa, akan tetapi hal itu sangat menyinggung segala hal yang dilihat orang-orang Farisi sebagai kekudusan. Bagaimana mungkin Mesias bersekutu dengan orang-orang berdosa? Allah, pada hakekatnya kudus dan tidak mungkin mempunyai hubungan dengan orang berdosa, itulah yang mereka pikirkan saat ini, dan masih banyak orang yang memiliki pemikiran yang sama saat ini.
Bagi orang Farisi, hubungan mereka dengan Allah berdasarkan pada kontrak agamawi yang berisi apa yang harus “dilakukan” dan “jangan dilakukan”; dan hal itu juga terjadi pada banyak orang saat ini.
Sebuah kontrak adalah tentang dua atau beberapa pihak yang membuat kesepakatan dimana mereka mengikatkan diri untuk menjalani kewajiban-kewajiban tertentu. Sebuah kontrak sama sekali tidak berhubungan dengan kasih ataupun kepercayaan, akan tetapi malah menjunjuk pada yang sebaliknya: menuntut serta memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk membawa pihak lain ke pengadilan. Orang-orang Farisi bangga karena mereka kelihatannya mampu untuk mentaati kontrak agamawi lebih baik dibanding dunia sekitar mereka. Kehidupan mereka diisi dengan mencapai prestasi kerohanian dan sukacita mereka berada dalam fakta bahwa mereka lebih baik dalam melakukan hal itu dibanding orang lain. Mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan “orang-orang berdosa dan para pemungut cukai.” Seperti itulah yang terjadi dalam semua agama.
Lukas 15 menyatakan tentang perjanjian kasih: kasih Allah diberikan kepada kita dengan cuma-cuma dan tanpa bayaran .
Kontrak agamawi menjadi cermin dimana kita melihat diri kita dan juga orang lain. Dalam kisah tentang orang Farisi yang berdoa di bagian depan bait suci, kita dapat membaca bahwa dia berdoa “didalam dirinya sendiri.” Bahkan kehidupan doanya telah menjadi semacam pertunjukan; sebuah cermin dimana dia menunjukkan kemampuan pribadinya dan dibandingkan dengan mereka yang “kurang” kudus.
Lukas 15 menyatakan tentang perjanjian kasih: kasih Allah diberikan kepada kita dengan cuma-cuma dan tanpa bayaran. Allah adalah Allah dari perjanjian dan perjanjian-Nya selalu dihubungkan dengan orang-orang seperti Abraham, Ishak dan Yakub – orang-orang yang lemah dan bersalah yang diundang masuk kedalam perjanjian kasih Allah. Dalam Kristus kita menjadi anak-anak Abraham, disambut dengan penuh kasih masuk dalam tarian kasih.
Kata “perjanjian” adalah kunci bagi pemahaman kita tentang Allah. Sebelum saya mengerti tentang kasih karunia Allah seperti sekarang ini, saya dulu berpikir bahwa sebuah perjanjian itu seperti sebuah kontrak, dan karena itu didalamnya tercakup adanya keuntungan-keuntungan-keuntungan dan risiko-risiko. Jika salah satu pihak melanggar kontrak maka ada kemungkinan besar terjadi konflik bahkan tuntutan secara hukum. Sebuah kontrak yang berhasil itu tergantung pada pihak-pihak yang seimbang dan mereka mampu memenuhi kewajiban mereka.
Sebuah perjanjian tidak ada hubungannya dengan sebuah kontrak. Perjanjian merupakan penganugerahan kemurahan hati Allah kepada kita melalui Yesus Kristu, bukan karena kemampuan kita untuk menjalani kewajiban-kewajiban yang ada dalam kontrak. Agama adalah tentang kontrak. Kalau Anda melakukan ini dan itu, maka Allah akan meresponi dengan hal yang sepadan.
Di sisi yang lain Injil adalah kasih karunia yang diberikan dengan cuma-cuma jauh sebelum kita meresponi Allah, bukan karena usaha kita tetapi tergantung pada karya yang telah diselesaikan Yesus 2000 tahun yang lalu.
Gereja perlu menemukan Perjanjian Injil!
Begitu gereja mengetahui Kabar Baik, maka dunia akan juga mengetahuinya.
Kita, yang berada di dalam Perjanjian Baru yang telah diberikan Allah kepada kita melalui Yesus Kristus, memiliki kesempatan untuk hidup dalam perhentian, hidup tanpa tekanan bersama dengan Allah. Bagi banyak orang, kebenaran ini tampaknya begitu jauh karena ada berbagai kekacauan di sekitar hidup mereka. Yesus masih membawa damai ke dalam badai hidup. Ada peristirahatan yang asli dan nyata bagi umat Allah! Ketidakpercayaan membawa tekanan dan kegelisahan tetapi percaya pada karya yang telah diselesaikan Kristus membwa peristirahatan.
Ibrani 4:1-4 – “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: “Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,” sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.”
Ada peristirahatan yang asli dan nyata bagi umat Allah!
Hidup kita bersama Tuhan seharusnya penuh peristirahatan dan bukan terombang-ambing oleh badai yang ditiupkan oleh musuh kepada kita dari segala jurusan. Kita dapat hidup dan beroperasi dalam atmosfer dimana kita berhenti dari segala usaha kita (Ibr 4:9) dan mengetahui bahwa segala janji Allah adalah milik kita karena Kristus telah menggenapi setiap persyaratan dan duduk di sebelah kanan Allah. Kita dapat berkata dengan kepercayaan penuh bahwa kita tahu di dalam siapa kita telah percaya dan kita yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita hingga pada hari Tuhan. (2 Timotius 1:12).
Kerajaan sorga adalah milik kita melalui Kristus – kerajaan itu telah diberikan kepada kita.
2 Petrus 1:3 – “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Allah kita adalah Allah yang baik dan Dia telah memberikan kepada kita segala hal yang berguna untuk hidup yang saleh melalui Kristus Yesus. Kita memiliki hikmat, damai sejahtera, kebenaran dan semua janji-janji yang sangat berharga dalam Alkitab yang telah dianugerahkan kepada kita.
Ibrani 4:11 – “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” Ada banyak orang stres dalam kekristenan yang telah gagal dalam memahami dan menangkap bahwa saat kita memiliki Yesus maka kita memiliki segalanya! Yesus selalu bersama kita setiap saat dan setiap waktu dan Dia adalah cukup bagi hari esok dan masa depan kita. Beberapa orang perlu ditumpangi tangan dan diberi perkataan nubuatan tetapi kita perlu untuk percaya kepada Yesus yang ada di setiap kita – Dia yang tidak akan pernah meninggalkan atau membiarkan kita!
Beberapa orang perlu ditumpangi tangan dan diberi perkataan nubuatan tetapi kita perlu untuk percaya kepada Yesus yang ada di setiap kita
Yesaya 40:29-31 – “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. 30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, 31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Ada tempat dimana kita bisa menjalani pertandingan kita tampa menjadi lelah dan lesu. Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus menyatakan bahwa dia telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua” tetapi itu karena kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Pendekatanya pada pelayanan adalah di dalam tempat peristirahatan dimana pekerjaannya dimampukan oleh Tuhan. Yesus telah menyelesaikan ”segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya” (Yoh 5:36). Dia mengatakan dan melakukan apa yang diperintahkan dan diserahkan Bapa kepada-Nya dan beristirahat dalam kenyataan itu. Ia mengetahui jalan yang dimiliki Bapa untuk Dia ikuti dan beristirahat dalam hasil dari segala sesuatu yang telah diletakkan dihadapan-Nya.
Efesus 2:10 – “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita perlu bergerak maju pada hal-hal yang telah disediakan bagi kita. Kita perlu untuk menjadi peka terhadap pimpinan Roh Kudus dan tetap berada dalam rancangan Bapa. Serahkan segala yang ada dan kita miliki kepada Tuhan dan Dia akan memimpin kita dengan tanpa ada tekanan dan keraguan yang kita buat sendiri. Jika kita tidak memiliki kepastian untuk bergerak maju dalam sebuah keputusan, jangan bergerak! Yesus adalah Tuhan dari hidup kita dan kita perlu mendengarkan apa yang Ia katakan.
Serahkan segala yang ada dan kita miliki kepada Tuhan dan Dia akan memimpin kita dengan tanpa ada tekanan dan keraguan yang kita buat sendiri.
Matius 11:28-30 – “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Kehidupan kekristenan ditentukan untuk menjadi hidup yang penuh peristirahatan dan bebas tekanan. Tidak ada tempat untuk kehabisan tenaga dalam pelayanan dan melayani Tuhan. Saat kita benar-benar melayani Yesus, kita tidak akan pernah kehabisan tenaga karena kita tidak melakukannya dalam usaha kita sendiri. Kita melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan Tuhan bagi kita; pekerjaan yang telah diletakkan-Nya bagi kita. Sangat berbeda bila kita terpaut oleh kuk dengan Tuhan – Dialah yang menarik beban yang berat, bukan kita! Ini adalah hidup tanpa tekanan dan berkelimpahan yang diberikan Yesus melalui kedatangannya. Jawaban bagi stres adalah: Marilah dan belajarlah pada-Ku!
Saat saya menulis buku pertama saya, Grace Walk, pada tahun 1995 ada beberapa hal yang saya katakan pada saat itu yang akan berbeda bila saya katakan sekarang. Hal-hal yang saya pikir sebenarnya dapat saya jelaskan dengan lebih jelas. Topik tentang tinggal didalam Kristus adalah salah satu diantaranya.
Saya menulis banyak hal di buku tersebut tentang betapa pentingnya tinggal didalam Kristus. Batu loncatan saya adalah perkataan Yesus dalam Yohanes 15:4 dimana Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Metafora yang digunakan Yesus adalah tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya, dengan demikian bahwa peranan kita satu-satunya adalah “bersama” dengan Dia dan bergantung pada-Nya untuk menjadi Satu-satunya yang menghasilkan buah apapun yang muncul melalui hidup kita.
Dia akan menunjukkan pada kita kapan harus bertindak dan apa yang harus dilakukan pada waktu kita harus melakukannya.
Lebih dari 15 tahun belakangan ini, banyak orang bertanya kepada saya sebenarnya bagaimanakah agar kita bisa “tinggal didalam Kristus.” Ini merupakan pertanyaan bagus yang layak menerima jawaban. Paradoks dalam mengatakan bahwa manusia perlu untuk tinggal didalam Kristus adalah bahwa mereka mungkin akan berpikir ada sesuatu yang perlu untuk mereka lakukanagar hal itu dapat terjadi. Alasan mengapa hal tersebut merupakan sebuah paradoks adalah gagasan mengenai tinggal didalam Kristus membuat kita berpaling dari melakukan sesuatu kepada tempat perhentian, mempercayai bahwa Dia adalah satu-satunya yang telah melakukan segalanya yang perlu dilakukan.
Bisa dikatakan, tinggal didalam Kristus berarti satu hal: tenang dan mempercayai Hidup-Nya yang ada di dalam kita untuk memotivasi dan memobilisasi tindakan kita. Itu berarti kita tahu bahwa bukan tergantung pada kita untuk membuat sesuatu terjadi. Itu berarti kita mempercayai Dia dan berhenti kuatir tentang diri kita sendiri. Dalam faktanya, hal itu berarti kita tidak memandang diri kita sendiri tetapi hanya memandang kepada Dia, mengetahui bahwa tidak ada apapun yang harus kita lakukan dan bahwa Dia akan menunjukkan pada kita kapan harus bertindak dan apa yang harus dilakukan pada waktu kita harus melakukannya. Itulah hidup dalam perhentian.
Ironi dari semua hal itu adalah bahwa kita benar-benar tidak dapat melakukan apapun kecuali tinggal didalam Kristus. Kenyataannya, kehidupan kita ditemukan di dalam Dia. Jadi ada suatu keadaan dimana kita setiap saat tinggal didalam-Nya, tidak perduli apa yang terjadi. Diperintahkan untuk “tinggal” sebenarnya hanya berarti untuk mengenali realita dari kesatuan kita dengan Dia dan melepaskan segala sesuatu yang mungkin kita miliki agar bisa berkntribusi dalam rancangan ini.
“tinggal” sebenarnya hanya berarti untuk mengenali realita dari kesatuan kita dengan Dia
Buah di pokok anggur tidak bergumul agar bertumbuh, agar rasanya menjadi enak atau apapun juga. Buah itu hanya bergantung disana dan nutrisi yang berasal dari tanah naik keatas melalui pokok anggur menuju ranting dan buah merupakan hasil alami (sebenarnya, supranatural) yang muncul. Itulah apa yang terjadi saat kita mengerti tentang tinggal didalam Yesus Kristus.
Jangan mengusahakannya. Lepaskan tangan Anda dari hidup Anda sendiri; dari keadaan dan tantangan hidup Anda, dari usaha dengan kekuatan sendiri untuk mencoba mengemudikan hidup Anda saat ini dan merancang masa depan Anda. Dia yang memegang kendali atas segalanya. Jadi Anda hanya perlu santai dan berkata, “terima kasih banyak” dan saat Anda melakukan itu, Anda sedang tinggal dalam kesadaran yang aktif dari firman.
Ada sebuah pemikiran yang terus terngiang dalam pikiran saya dalam minggu-minggu terakhir ini: Jangan rubah janji-janji Allah menjadi persyaratan-persyaratan. Jangan rubah janji-janji yang indah dari tentang siapa Allah dalam kehidupan kita menjadi persyaratan-persyaratan yang harus kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri.
Perjanjian Lama berisi banyak sekali persyaratan yang harus dilakukan orang Yahudi agar mereka dapat menerima berkat. Dalam Pejanjian Baru juga terdapat instruksi-instruksi berkaitan dengan sikap hidup kita, akan tetapi ada perbedaan yang besar. Sekarang Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Fil 2:13). Kristus di dalam kita, harapan akan kemuliaan. Saat Paulus dan yang lain memberikan instruksi-instruksi pada orang percaya yang telah lahir baru, Ia sering menekankan bahwa hal itu mungkin karena kita memiliki sifat alami yang baru dan kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita dan Allah bekerja di dalam hidup kita melalui Roh Kudus.
Paulus menggambarkan kehidupan baru yang sekarang dapat kita jalani, bukan sebagai sebuah persyaratan agar diterima oleh Allah tetapi sebagai buah dari hidup baru di dalam kita. Marilah kita mempertahankan fokus yang benar dan tetap mengingat bahwa Kristus di dalam kita adalah solusinya.
Kebenaran ini juga berlaku dalam area-area seperti Tuntunan Roh Kudus dan iman. Keduanya merupakan janji Allah yang indah, jadi janganlah kita kemudian merubahnya menjadi beban dan sesuatu yang harus kita usahakan untuk dapat meraihnya.
Nikmatilah Masa Natal dan ketahuilah bahwa Yesus datang untuk menjadi hidup kita – dan hidup yang berkelimpahan.
Lebih dari tiga minggu saya telah membagikan tiga bagian seri pengajaran dalam siaran “Khotbah Minggu” yang berjudul, “Dua Perjanjian, Bukan Satu.” Selama bertahun-tahun saya bingung saat membaca Alkitab karena saya tidak mengerti aspek sederhana ini berkaitan dengan Kitab Suci. Perjanjian Lama dan Baru sangatlah berbeda dalam banyak hal. Allah mengatakan pada mereka yang ada dalam Perjanjian Lama bahwa akan datang satu hari dimana Dia akan membuat perjanjian baru dengan umat-ya dan hal itu tidak akan seperti perjanjian yang Dia adakan dengan mereka melalui nenek moyang mereka. (Lihat Yeremia 31:31-32) Melalui Yesus Kristus, hari tersebut telah datang pada kita sehingga sekarang perjanjian yang telah Dia buat sama sekali berbeda – sama sekali tidak sama. Perjanjian itu baru dan menurut Ibrani 8:13, yang lama telah menjadi “usang.” Perjanjian itu telah berlalu. Sudah tidak ada lagi, kadaluarsa, selesai, tamat!
Fakta ini merupakan poin yang menonjol dalam banyak pemikiran kita. “Bukankah Perjanjian Lama itu adalah Firman Allah?” Tentu saja Perjanjian Lama sama seperti Perjanjian Baru yang merupakan bagian dalam Alkitab, akan tetapi berikut ini adalah sebuah kunci yang akan amat sangat membantu kita bila kita dapat memahaminya. Perjanjian Lama tidak dituliskan kepada kita! Hal itu dituliskan bagi kita tetapi tidak kepada kita. (Lihat Roma 15:4) Ada perbedaan yang besar. Itulah mengapa Rasul Paulus memperingatkan Timotius untuk memperhatikan dengan baik agar dia dapat “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran” saat ia mengajarkan Alkitab. (Lihat 2 Timotius 2:15) Ada banyak sekali permasalahan yang terjadi dalam pikiran dan hidup kita saat kita tidak melakukan hal itu.
Perjanjian Lama tidak dituliskan kepada kita! Hal itu dituliskan bagi kita tetapi tidak kepada kita.
Hal yang paling utama, hukum Taurat tidak pernah diberikan pada bangsa-bangsa non-Yahudi, melainkan diberikan pada bangsa Israel. Pertimbangkan teks berikut ini:
Itulah ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan serta hukum-hukum yang diberikan TUHAN, berlaku di antara Dia dengan orang Israel, di gunung Sinai, dengan perantaraan Musa (Imamat 26:46).
Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa… (Mazmur 147:19-20).
Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri (Roma 2:14).
Orang Kristen saat ini meletakkan diri mereka sendiri dalam siklus yang membingungkan dari penghukuman saat mereka mencoba mengaplikasikan mentalitas Perjanjian Lama untuk memahami Alkitab. Baru dan Lama jangan dicampur!
Orang Kristen saat ini meletakkan diri mereka sendiri dalam siklus yang membingungkan dari penghukuman saat mereka mencoba mengaplikasikan mentalitas Perjanjian Lama untuk memahami Alkitab.
Contoh: Apakah Anda percaya bahwa hati Anda benar-benar jahat dan penuh kepalsuan diatas segalanya? Jika iya, itu karena Anda gagal untuk “membedakan degan benar firman.” Allah memerintahkan Yeremia untuk mengatakan pada orang-orang bahwa “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu” (Yeremia 17:9) tetapi dalam Roma 5:5 Paulus mengatakan bahwa “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita.” Manakah yang benar? Keduanya benar! Hal itu benar saat Yeremia mengatakannya kepada orang-orang di Perjanjian Lama dan perkataan Paulus juga benar bagi kita yang hidup di bawah Perjanjian Baru! Apakah Anda bisa melihat kebingungan yang terjadi saat kita gagal membuat perbedaan antara kedua perjanjian? Ada banyak teks Alkitab yang semacam itu. Saat kita membaca Alkitab, kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, “Siapa yang berbicara? Kepada siapa ia berbicara? Kapan ia berbicara?” Ini adalah pertanyaan-pertanyaan dasar untuk membereskan banyak kebingungan dalam membaca Alkitab.
Ingat hal ini: Perjanjian Baru tidak dimulai pada Matius 1:1. Perjanjian Baru dimulai pada saat kematian Yesus. Pentingnya fakta ini tidak dapat dibesar-besarkan. Ibrani 9:16 berkata, “Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu.” Dengan kata lain, sebuah permintaan terakhir & wasiat tidak berarti apa-apa sampai orang yang menulisnya meninggal. Hal itu penting saat kita membaca halaman-halan Perjanjian Baru.
Ingat hal ini: Perjanjian Baru tidak dimulai pada Matius 1:1. Perjanjian Baru dimulai pada saat kematian Yesus.
Sebagai contoh, Anda akan masuk dalam dunia kebingungan jika Anda mencoba mengaplikasikan Khotbah di Bukit bagi diri Anda sendiri. Ingat Yesus belum mati saat Ia mengatakan firman tersebut. Ia sedang berbicara pada mereka, bukan Anda. Mereka adalah kelompok orang yang berpikir bahwa mereka mampu meraih kebenaran dengan kehidupan moral mereka sehingga Yesus menunjukkan pada mereka betapa mustahilnya hal tersebut. Dia berkata seperti, “Kalau kamu bernafsu, cungkil matamu. Kalau kamu mencuri, potong tanganmu.” Jadi, inilah pertanyaannya: Apakah Anda benar-benar percaya bahwa itu yang harus Anda lakukan? “Tentu tidak!” akan muncul kritik sebagai respon, “Jelas sekali bukan itu yang Ia maksudkan!” Tunggu sebentar. Kalau Anda mengklaim bahwa kita seharusnya melakukan segala yang dikatakan Yesus, Anda tidak dapat mengabaikan hal tersebut. Alkitab bukanlah seperti daftar menu yang dapat Anda pilih.
Fakta bila kita tidak membedakan perjanjian-perjanjian dengan benar maka kita akan memperlakukan Alkitab seperti buffet dimana kita ambil yang kita suka dan meninggalkan yang tidak kita sukai. Bukan seperti itu cara untuk memperlakukan Kitab Suci, lebih baik menghormati Kitab Suci dengan menginterpretasikannya dengan benar. Tidak, Yesus tidak memerintahkan agar Anda mencukil keluar mata Anda. Dia bahkan tidak sedang berbicara dengan Anda.
Satu contoh lagi: Yesus berkata bila kita tidak mengampuni orang yang bersalah pada kita maka Allah tidak akan mengampuni mereka yang tidak mau mengampuni. (Lihat Matius 6:14-15) Apakah Anda berpikir hal itu untuk Anda? Apakah Anda sepenuhnya percaya bahwa memungkinkan bila Anda telah mempercayai Yesus Kristus sebagai Juru Selamat Anda, berjalan bersama dengan Dia, mengenal dan mengasihi Dia, mempercayai karya yang telah Dia selesaikan di kayu salib dan sekarang bila terjadi ada orang yang bersalah pada Anda dan Anda meninggal sebelum Anda mengampuni orang tesebut maka Anda tidak akan diampuni? Setiap orang yang mau menggunakan akal sehatnya tahu bahwa hal itu sama sekali tidak benar!
Apakah jawabannya? Jawabannya adalah bahwa Yesus mengatakan hal tersebut sebelum salib – sebelum Perjanjian Baru dimulai. Perhatikan bagaimana segalanya berubah setelah salib.
Efesus 4:32: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”. Perhatikan disini bahwa kita mengampuni karena kita telah diampuni bukan agar kita mendapatkan pengampunan.
Apakah yang diajarkan dalam Kolose 3:13 tentang motivasi kita untuk mengampuni orang lain? “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Lihat bagaimana segalanya berubah dengan berakhirnya Perjanjian Lama dan dimulainya Perjanjian Baru?
Marilah kita memisahkan perjanjian-perjanjian kita. Langkah yang sederhana tersebut akan membuat perbedaan besar dalam memahami Alkitab.
Kalau Anda ingin mendengar keseluruhan (seri) pengajaran ini, bukalah http://www.gracewalkresources.com atau http://www.gracewalk.org. Ini adalah bagian ketiga dari seri yang berjudul “Two Covenants, Not One.”
Rahasia dari salib adalah bahwa Kristus mengidentifikasikan diri-Nya sendiri dengan kita dan kita menjadi satu dengan Dia. Melalui Dia yang menjadi satu bagi kita, menggantikan tempat kita, memikul dosa, penghukuman, kesalahan dan penghakiman kita, kita dapat mengidentifikasikan diri kita dengan Dia, menjadi satu dengan kebenaran, kemenangan, kemerdekaan dan kekudusan-Nya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Firman: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Kor 5:21)
Dia telah menjadi satu dengan dosa kita sehihngga kita dapat menjadi satu dengan Dia di dalam kebenaran.
“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Rom 6:5-6)
Melalui kematian dan kebangkitan-Nya kita telah mati dan dibangkitkan. Kita mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah. Segala sesuatu telah terjadi karena Yesus menjadi satu dengan kita dimana kita telah mati bersama dengan Dia dan bangkit bersama dengan Dia.
Konsekuensi-konsekuensi dari Kalvari itu sangat besar!
Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita sehingga kita dapat menerima kesehatan-Nya (Mat 8:17).
Yesus menjadi miskin sehingga melalui kemiskinan-Nya kita dapat menjadi kaya (2 Kor 8:9).
Oleh salib Kristus dunia telah disalibkan bagi kita dan kita bagi dunia. (Gal 6:14)
Konsekuensi-konsekuensi dari Kalvari itu sangat besar!
Marilah kita mengambil beberapa waktu dan melihat kedalam penebusan dan apa yang terjadi pada diri kita saat kita diidentifikasikan dengan Yesus.
Mati bagi Dosa, Hidup bagi Allah
Yesus telah mengambil dosa-dosa dunia sampai sedemikian rupa sehingga dosa-dosa tersebut sudah tidak ada lagi, dibersihkan. Akan tetapi manusia akan tetap sengsara apabila si pendosa tidak ikut diambil juga. Sebagai seorang pendosa, seseorang hidup dalam kehidupan dosa dan terus meners menghasilkan dosa-dosa baru. Dengan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat hal ini merupakan sebuah keberadaan yang membuat frustasi. Jadi solusi Alah bagi hal ini merupakan hal yang mendasar dalam Injil. Pesannya adalah bahwa kita “mati bagi dosa” saat kita “mati bersama Kristus.”
“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rom 6:6)
Yesus tidak hanya telah membereskan dosa, Ia juga telah membunuh si pendosa.
Ini adalah kabar baik! Yesus tidak hanya telah membereskan dosa, Ia juga telah membunuh si pendosa. Di dalam dia kita adalah ciptaan baru dengan sifat alami Allah di dalam kita. Kita tidak dapat berbuat dosa karena kita telah dilahirkan dari Allah (1 Yoh 3:9).
Hal ini merupakan pesan fundamental berkaitan dengan masalah ini. Bagaimanapun juga, Alkitab mengajarkan bahwa “bayi-bayi di salam Kristus” masih kedagingan dan bahwa orang Kristen masih dapat berbuat dosa. Yohanes berhadapan dengan masalah ini dan bagaimana hal tersebut dapat diatasi di dalam pasal pertama dari suratnya yang pertama. Akan tetapi hal ini haruslah tidak menghilangkan sengatan dari pesan dalam Rom 6:1-11, 1 Yoh 3:9; 5:18 dan 1 Pet 4:1-2.
Rom 6:11 berkata bahwa hendaknya kita memandang bahwa kita telah mati bagi dosa, tetapi kita hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Petrus berkata bahwa kita telah berhenti berbuat dosa (1 Pet 4:1), dan dalam permasalahan yang khusus ini Yesus menekankan bahwa “apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh 8:32-36).
Bebas dari Hukum Taurat
Dalam Kristus orang Yahudi mati terhadap Hukum Taurat, dan Kristus adalah akhir dari Hukum Taurat. Tujuan dari Hukum Taurat telah tergenapi dan kita telah bebas, bersama dengan orang-orang Yahudi yang telah lahir baru.
Hanya dia yang dimerdekakan dari hukum Taurat merdeka dari dosa.
Kemerdekaan dari hukum Taurat merupakan keharusan agar dapat hidup bebas dari dosa:
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Rom 6:14)
“Hanya dia yang dimerdekakan dari hukum Taurat merdeka dari dosa.”
Tidak Dibawah Kutuk, Tetapi Dibawah Berkat-berkat Abraham
Beberapa orang sangat merisaukan kutuk hukum Taurat. Tetapi kita tidak pernah berada di bawah hukum Taurat dan karena itu juga tidak berada di bawah kutuknya. Selain itu hal yang fantastis, pesan yang memerdekakan itu juga mengatakan bahwa orang-orang Yahudi juga merdeka. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita.” (Gal 3:13)
Beberapa orang sangat merisaukan kutuk hukum Taurat. Tetapi kita tidak pernah berada di bawah hukum Taurat dan karena itu juga tidak berada di bawah kutuknya.
Penebusan mematahkan kuk kemiskinan dan peyakit serta memimpin kita ke dalam berkat-berkat Abraham.
Dia Menjadi Miskin Supaya Kita Menjadi Kaya
“Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Kor 8:9)
Konteks dari ayat ini adalah nasihat untuk memberikan persembahan. Paulus sedang menantang mereka untuk memberi dan mengingatkan mereka tentang hal yang fantastis, bahwa Yesus – yang jauh lebih kaya dari siapapun juga – menjadi miskin bagi kita. Di atas kayu salib Ia telah dirampok dari segalanya. Dia menjadi miskin, tidak punya tempat tinggal, lapar, telanjang dan haus bagi kita, sehingga kita bisa menjadi kaya.
Allah ingin agar kita selalu memiliki kecukupan akan segala sesuatu, dan memiliki kelimpahan untuk semua kebajikan (2 Kor 9:8).
Dia menyatakan bahwa “segala sesuatu adalah milik kita!” Ini adalah hasl dari penebusan diatas salib. Ini adalah efek samping dari kita yang telah dinyatakan sebagai orang benar.
Dia Menanggung Penyakit Kita Agar Kita Menjadi Sehat
“Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:17)
Nubuatan yang dikutip dalam Mat 8:17 berasal dari Yesaya 53:4-5
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi.” (Yes 53:4-5)
Injil tentang kesembuhan ini lebih dari sekedar syafaat dan penumpangan tangan, meskipun hal itu memiliki tempat pada pelayanan orang-orang kudus. Penebusan merupakan dasar dari hidup dalam kesehatan, sebuah hidup yang bebas dari sakit dan penyakit.
Hal ini berkaitan dengan janji yang diberikan dalam Kel 23:25-26, yang berkata: “Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu” dan “Aku akan menggenapkan tahun umurmu.”
Kesehatan dan umur panjang adalah hasil dari Kalvari!
Disalibkan Bagi Dunia
“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)
Dunia telah disalibkan bagiku. Apa arti dari hal ini?
Kalvari adalah sebuah penghakiman atas dunia dan penguasanya (Yoh 12:31). Dunia telah dihakimi dan penguasa dunia telah dihakimi. Dunia telah hancur dan sampai pada akhirnya, dan penguasa dari dunia ini telah hancur dan terkutuk selamanya.
Hal ini membuat saya terhubung dengan “bentuk dari dunia ini” dengan cara yang sama sekali baru. Dalam kenyataannya, kata “dunia” disini dapat diterjemahkan “masa.” Roh yang bekerja dalam anak-anak ketidakpercayaan telah bangkrut. Pintu terhadap hal tersebut masih tetap terbuka tetapi kita bebas dari daya tarik dan tipuannya. Dunia telah disalibkan bagi kita.
Roh yang bekerja dalam anak-anak ketidakpercayaan telah bangkrut.
Akan tetapi menjadi semakin kuat saat kita mengetahui bahwa diri kita telah disalibkan bagi dunia! Dunia masih tetap sangat aktif, bahkan setelah dinyatakan bangkrut sekalipun dan tidak memiliki masa depan. Akan tetapi pada saat yang bersamaan kita telah disalibkan bagi dunia, hal itu membuat kita bebas dari kekuasaannya. Pengusasa dunia ini bukan lagi penguasa dalam dunia saya, karena kita telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam kerajaan Anak yang dikasihi-Nya. Yesus-lah yang menjadi Tuhan dalam dunia kita, kita bergerak dalam Kerajaan-Nya, dan penguasa dunia ini “tidak memiliki apapun di dalam kita.” Inilah mengapa Yohanes mengatakan: “ Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya. Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat.” (1 John 5:18-19)
Kita telah ditebus dengan sepenuhnya dan kita telah merdeka. Kita telah keluar dari Mesir dan jauh dari Firaun dan prajurit-prajuritnya, kita telah pindah ke tanah Kanaan, sebuah tanah yang penuh dengan susu dan madu.
Dunia Adalah Milik Kita
Mungkin agak sedikit membingungkan bahwa pada saat yang bersamaan Alkitab megatakan bahwa “Dunia adalah milik kita.” Tetapi poinnya adalah bahwa kita memiliki pengertian tentang perbedaan antara “dunia” dalam hal “ilah zaman ini,” dan “dunia” seperti “dunia dan segala kepenuhannya.” Allah telah menebus kita dari ilah zaman ini dan melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan penguasa dunia ini.
Di sisi yang lain, Allah yang menciptakan dunia ini beserta segala kepenuhannya untuk dinikmati dan dikuasai oleh anak-anak-Nya. Ia tidak menciptakan segala sumber daya di bumi bagi iblis dan anak-anaknya.
Kita ditentukan untuk memerintah di dalam hidup ini
Menurut Kejadian 1 Allah ingin memberikan emas, permata, tumbuhan yang subur serta benih, sumber minyak dan seluruh kekayaan pada anak-anak-Nya.
Sekarang, berkat-berkat tersebut telah ditebus kembali bagi kita, jadi 1 Kor 3:21-23 menjelaskan bahwa segalanya adalah milik kita: dunia, kehidupan dan kematian, hal-hal yang ada sekarang dan yang akan datang. Kita telah dijadikan kaya dalam segala sesuatu.
Kita ditentukan untuk berkuasa di dalam hidup ini; kita adalah raja-raja dan imam-imam bagi Allah kita. Kristus adalah kepala – kita adalah tubuh. Segala sesuatu diletakkan di bawah kaki-Nya, artinya bahwa seluruh tubuh berada di atas semua penghulu, pemerintah dan penguasa.
Yesus berkata,
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5)
Ini merupakan inti dari pewahyuan yang diterima Rasul Paulus. Pesannya tentang siapa kita di dalam Kristus dan siapa Kristus di dalam kita merupakan pusat syaraf dalam Kekristenan Perjanjian Baru. Rahasia yang sekarang telah disingkapkan adalah: “Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” (Kok 1:27)
Identifikasi dengan Kristus ini telah dilepaskan dalam penebusan saat Yesus menjadi satu dengan dosa, penyakit dan kutuk kita, dan kita menjadi satu dengan kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya.
Realita Dan Pengalaman – Bukan Sekedar Teori
Setelah Roh datang pada hari Pentakosta, hal ini menjadi kenyataan hidup.
“Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yoh 14:20)
“Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.” (1 Yoh 3:24)
Pengalaman dari realita kehidupan ini datang melalui Roh Kudus. Identifikasi kita dengan Kristus secara total seperti ini:
“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Kol 3:3-4)
“Tersembunyi bersama denga Kristus di dalam Allah.”
Karena itu tidaklah mudah bagi musuh untuk mencengkeram Anda. Dia harus melewati Allah dulu kemudian Kristus kemudian baru bisa menemukan Anda.
Inilah Kekristenan. Adalah menjadi seorang manusia Yesus. Menjadi satu dengan Dia
Perhatikan ungkapan: “Kristus, hidup kita.” Kita sangat menyatu dengan Kristus sehingga Dia adalah hidup kita. Dia adalah kebenaran, pengudusan dan penebusan kita.
Kita telah disalibkan dengan Kristus. Bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita (Gal 2:20).
Inilah Kekristenan. Adalah menjadi seorang manusia Yesus. Menjadi satu dengan Dia – Dia berbicara melalui mulut kita, menyentuh dengan tangan kita dan melihat melalui mata kita.
Reinhard Bonnke mengalapi saat seorang penjaga toko musik jatuh berlutut dan meminta doa saat Bonnke dan tiamnya masuk ke sebuah toko untuk membeli organ. Dia berkata, “Aku dapat melihat Yesus di matamu.” Di waktu berikutnya saat Bonnke bertanya kepada Tuhan tentang kejadian tersebut, Dia menjawab, “Aku hidup didalammu, dan kadang aku melihat melalui jendela!”
Kita sepenuhnya bersatu dengan Kristus. Kita ada di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Kesatuan ini terjadi saat Kristus datang pada kita. Dia menjadi satu dengan kita. Hal ini dimulai saat Dia menjadi manusia. Inkarnasi merupakan awal dari identifikasi Dia dengan kita.
“Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;” (Ibr 2:14)
Agar Dia mampu menyelamatkan kita, Dia harus menjadi seperti kita. Hal itu hanyalah merupakan perwakilan agar manusia dapat menyelamatkan manusia.
Hanya melalui kematian maka Dia segara legal dapat masuk Hades, itu adlaah tempat dari maut, dan iblis harus melawan di kandangnya.
Dalam pertemuan antara Yesus dengan iblis, ada banyak sekali yang tidak dapat dimengerti oleh hikmat dari dunia ini, dan yang juga tidak dimengerti oleh para teolog modern, karena hal ini hanya dapat dimengerti secara rohani.
Kita telah mati bersama dengan Dia dan dengan cara itu kita telah mati bagi dosa dan telah mati bagi dunia.
Setelah Dia turun dan menjadi manusia, Dia mengambil langkah berikutnya: Dia menjadi satu dengan dosa, penyakit dan kutuk kita. Inilah mengapa Ia harus mati di kayu salib, karena upah dosa adalah maut.
Saat harga itu telah dibayar, maka ia dapat mendirikan kebenaran yang kekal.
“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” (Ibr 10:14)
Inilah tempat dimana hal yang tidak dapat dipahami terjadi: Melalui Dia menjadi satu dengan kita, kita menjadi satu dengan Dia. Karena Dia menjalani kematian kita, kita juga diperhitungkan mati. Kita telah mati bersama dengan Dia dan dengan cara itu kita telah mati bagi dosa dan telah mati bagi dunia.
Kesatuan kita dengan Dia menjadikan Dia sebagai kebenaran, pengudusan dan penebusan kita. Inilah pesannya:
“Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” (Rom 6:5-8)
Tradisi telah meletakkan selubung atas kebenaran, dan selubung itu perlu untuk dibuang.
Ayat-ayat berikut ini menunjukkan bagaimana kita telah mati bersama dengan Yesus, sekali untuk selamanya dan sekarang kita hidup dalam kehidupan dimana kita telah mati terhadap dosa. Pesan ini dalam Roma 6 sangat jelas dan tidak salah. Bacalah tanpa prasangka sebelumnya. Saya pikir Anda akan mengeri bahwa pesan ini belum berakar dalam kekristenan pada saat ini. Tradisi telah meletakkan selubung atas kebenaran, dan selubung itu perlu untuk dibuang.
Fokus Paulus adalah pada siapa kita di dalam Kristus dan siapa Kristus di dalam kita. Dia mengatkan bahwa dia bekerja keras untuk menunjukkan setiap orang sempurna di dalam Kristus Yesus. Dasar dari rahasianya adalah tentang Kristus di dalam kita.
“Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kol 1:27-28)
Karena hal inilah yang ia fokuskan dalam pengajarannya, kita akan melihat bahwa surat Efesus penuh dengan hal tersebut. Dia berkata dalam Efesus 3:1-6 bahwa rahasia yang dinyatakan kepadanya telah dituliskan dengan singkat dalam pasal 1 dan 2. Efesus 2:4-6 adalah sebagian dari tulisan yang paling luar biasa tentang identifikasi kita dengan Kristus.
“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita—oleh kasih karunia kamu diselamatkan—dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.”
Mati bersama dengan Dia, dibangkitkan bersama dengan Dia dan didudukkan bersama dengan Dia di sorga. Kita ada dimana Dia ada dan Dia ada dimana kita ada.
“Karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.” (1 Yoh 4:17)
Hal ini sulit untuk diterima oleh mereka yang terbiasa dengan gambaran yang diberikan oleh tradisi bahwa kita adalah orang berdosa yang menyedihkan dan sengsara. Akan tetapi hal ini merupakan terang yang sederhana dan penuh kemuliaan bagi mereka yang mulai menatap pada hukum kemerdekaan yang sempurna dimana terang injil bersinar.
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Karena Kristus adalah hidup kita, kita tidak membutuhkan bantuan dari hukum Taurat yang merupakan prinsip dasar dari dunia.
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (Kol 2:6-10)
Tidak hanya keselamatan tetapi juga bagian “berjalan” yang berada di dalam Dia. Karena Kristus adalah hidup kita, kita tidak membutuhkan bantuan dari hukum Taurat yang merupakan prinsip dasar dari dunia.
“Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu!” (Kol 3:11)
Kristus adalah segalanya! Maka kita tidak butuh apapun yang lain kecuali Dia!
Tujuan dari GGN adalah membantu Gereja menemukan kembali Yesus dan membawa kabar baik ke seluruh dunia.
Seringkali fokusnya lebih mengarah pada apa yang harus kita lakukan daripada apa yang telah Yesus lakukan. Sungguh suatu kebenaran yang menakjubkan bahwa seluruh Perjanjian Baru adalah tentang karya yang telah diselesaikan Yesus! Dan Dia sendiri adalah Perantara dan Jaminan dari Perjanjian Baru.
Ini mengingatkan saya akan kisah tentang Mefiboset dalam 2 Samuel 9, kita bisa membaca betapa ia diberkati karena perjanjian antara Daud dan Yonatan. Mefiboset diberkati sepenuhnya “karena Yonatan” dan kita diberkati sepenuhnya “karena Yesus”.
Baru-baru ini saya melihat sebuah artikel yang ditulis oleh Norman Grubb dan saya ingin membagikan hal ini pada Anda. Anda bisa menemukan lebih banyak lagi artikelnya pada situs mereka. Dengan begitu bagus ia menyatakan bahwa Kristus adalah segalanya diatas segalanya. Nikmatilah saat membaca artikel ini, sebagai kelanjutan dari “Reign in life” yang ditulis oleh Pastor Mike Walker.
Terima kasih untuk semua respon yang Anda kirimkan pada kami – kami sangat bersyukur pada Tuhan karena bisa terhubung dengan Anda semua.
Saat saya masih bergabung dengan tentara Inggris dalam Perang Dunia I, sangat jelas Allah memanggil saya, meskipun saat itu saya merencanakan untuk berkarir pada bidang yang lain, untuk bergabung pada sebuah kelompok misi independen yang baru saja mulai di Afrika. Saya tidak lama berada disana karena saya merasa tidak mampu.
Bukannya saya suam-suam kuku bagi Yesus Kristus; bukan berarti saya telah berpaling pada hal yang lain. Saya adalah hamba-Nya dan seluruh keinginan saya tertuju pada mengenalkan saudara-saudara Afrika saya kepada-Nya.
Kekurangan yang saya rasakan dalam diri saya adalah mengenai kurangnya kasih. Saya sangat merasakan, saat saya bersama dengan mereka, bahwa saya tidak memiliki cukup kasih yang bisa menjembatani jurang yang ada. Hal itu mengarah pada kebutuhan akan iman - dan dengan hal itu mengarah pada kebutuhan akan kuasa. Semua hal ini saling terhubung.
Respon terhadap pesan kekristenan di Afrika Tengah, sama seperti di Amerika Serikat, tampak begitu besar. Tetapi dengan cepat saya temukan bahwa ada lebih banyak profesi dibanding dengan kepemilikan. Saya mulai berkata pada diri saya sendiri, Apakah kita membawa sesuatu yang benar-benar berharga pada orang Afrika? Apakah kita hanya membawa sebuah kode etik? Atau suatu liturgi, atau sejarah iman? Sudahkan kita mendapatkan sesuatu yang benar-benar bisa merubah untuk dibagikan pada orang lain?
Kemudian saya membuat pertanyaan tersebut menjadi hal pribadi, “Sudahkah saya?”
Saya pikir Dia seharusnya menyalurkan beberapa bagian dari kasih kedalam hati saya, beberapa bagian iman, beberapa bagian kuasa, beberapa bagian kekudusan — dan semakin meningkatkan saya.
Saat saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya temukan bahwa saat pelayanan Anda terganggu, hal itu juga cenderung mengganggu kehidupan pribadi Anda. Saya temukan diri saya, seperti yang juga diketahui oleh isteri saya, menjadi cepat marah di rumah dalam hal-hal yang biasanya tidak membuat saya marah – juga selalu mencela orang lain untuk menutupi kegagalan saya sendiri.
Saat saya ragu, mengajukan pertanyaan dan menyelidiki Alkitab untuk menemukan jawaban bagi ketidakcakapan saya, saya menemukan beberapa jawaban yang luar biasa. Beberapa diantaranya sangan mengejutkan saya. Hal itu telah merubah seluruh pandangan saya – dan pengalaman saya.
Saya tidak dapat menyebutnya sebagai pewahyuan karena hal-hal tersebut berdasarkan pada pewahyuan, disaksikan oleh Roh.
Untuk memulainya, sikap saya adalah bahwa Allah seharusnya meningkatkan kemampuan saya.
Saya berpikir bahwa Saya adalah hamba Yesus Kristus. Saya telah ditebus oleh kasih karunia-Nya, saya adalah milik-Nya. Saya harus minta kepada Allah untuk menjadikan saya hamba yang lebih baik bagi Yesus Kristus.
Saya pikir Dia seharusnya menyalurkan beberapa bagian dari kasih kedalam hati saya, beberapa bagian iman, beberapa bagian kuasa, beberapa bagian kekudusan — dan semakin meningkatkan saya.
Secara keras saya harus belajar bahwa peningkatan diri sendiri adalah dosa dan juga kemustahilan. Hal itu sangat mengejutkan bagi saya.
Tetapi meskipun pikiran saya tentang bagaimana Allah seharusnya menjawab permasalahan saya itu sepenuhnya salah, perasaan tentang ketidakmampuan yang saya miliki merupakan hal yang baik. Dan penemuan pertama yang saya dapatkan saat membaca salah satu ayat yang terkenal dalam surat 1 Yohanes: “Allah itu kasih.”
Seketika, kata ‘itu’ terlihat jelas. Hal yang muncul di dalam hati saya adalah seperti berikut: Tidak dikatakan bahwa Allah memiliki kasih, tetapi Allah itu kasih. Jika seseorang memiliki sesuatu, hal itu bukanlah dirinya sendiri. Itu adalah sesuatu yang melekat kepadanya, sama seperti kalau Anda memakai jaket atau memiliki sesuatu dalam kantong Anda. Anda hanya memilikinya dan Anda dapat membagikannya. Tetapi Alkitab tidak mengatakan bahwa Allah memiliki kasih, tetapi Allah itu kasih.
Karena itu, kasih bukanlah sesuatu yang dapat saya miliki. Kasih adalah seorang Pribadi. Allah itu kasih. Karena itu tidak ada hal lain yang murni, kasih yang memberikan diri sendiri dalam alam semesta yang melampaui Dia Sendiri. Kasih secara eksklusif merupakan karakteristik dari satu Pribadi saja – dan pribadi itu bukanlah Norman Grubb.
Hal itu merupakan sebuah penurunan bagi saya. Sebelumnya saya berpikir bahwa kasih itu diimpartasikan pada saya, disalurkan pada saya, dan saya akan dapat lebih mengasihi. Tetapi, tiba-tiba saya menemukan Allah berkata, “Kamu tidak akan memiliki satu titik pun dari kasih. Akulah kasih, dan itulah akhirnya.”
Bukan Kristus memiliki kuasa, tetapi Dia adalah kuasa.
Kasih adalah seorang Pribadi; seorang Pribadi yang hanya mengasihi — dan pribadi itu bukanlah saya dan bukan Anda. Allah itu kasih dan karena itu Allah mengasihi.
Hal itu membuat sebuah jalan pemikiran yang baru. Saya mulai menghubungkan hal ini pada kebutuhan saya yang lain yaitu kuasa. Tiba-tiba saya temukan satu ayat dalam I Korintus 1 dimana dikatakan bahwa Kristus adalah kuasa Allah. Bukan Kristus memiliki kuasa, tetapi Dia adalah kuasa.
Sekali lagi, saya sebelumnya memiliki pemikiran bahwa kuasa adalah sesuatu yang diberikan kepada saya, karena itu saya akan menjadi hamba Yesus Kristus yang penuh dengan kuasa. Tiba-tiba saya juga menemukan bahwa kuasa itu juga seorang Pribadi. Dan pribadi itu bukanlah saya melainkan hanya Kristus, yang adalah Allah; tidak masalah apakah Anda memanggilnya Bapa, Anak atau Roh Kudus.
Kemudian saya sampai pada satu hal yang diklaim dimiliki oleh semua orang Kristen. Semua orang Kristen percaya menerima fakta bahwa diri mereka memiliki kehidupan kekal. Ia memiliki pemahaman bahwa ia memiliki sebuah kehidupan yang akan berlangsung sampai selamanya di Sorga. (“Karunia Allah adalah kehidupan kekal melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.”)
Tetapi tiba-tiba saya temukan bahwa kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang dapat saya miliki – karena Yesus tidak mengatakan, “Aku memiliki hidup untuk diberikan padamu” – tetapi, “Aku adalah hidup.”
Sekali lagi saya temukan bahwa sesuatu yang sebelumnya saya pikir saya miliki – kehidupan kekal – ternyata adalah satu pribadi saja, dan pribadi itu bukanlah saya. Yesus Kristus adalah “kehidupan kekal” itu.
Tetapi dimanakah hal ini ditemukan sehingga semuanya cocok?
Akhirnya saya sampai pada satu pernyataan yang menggabungkan semuanya dan juga mengakhiri investigasi saya karena adanya kepastian yang diberikannya. Ayat tersebut adalah Kolose 3:11, dimana dikatakan tentang orang percaya di dalam Kristus bahwa “Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”
Kristus adalah segalanya, bukan Kristus memiliki segalanya.
Dan kalau Kristus adalah segalanya, apa yang tersisa buat saya? Tidak banyak, menurut matematika saya.
Saya dulu berpikir bahwa saya adalah seseorang, dan sesuatu atau dapat mendapatkan sesuatu. Saya temukan bahwa Allah telah mengambil bagian itu. Kristus adalah segala sesuatu.
Kemudian saya mendapatkan hubungannya. Kristus adalah semua di dalam segala sesuatu.
Sekali lagi saya temukan bahwa sesuatu yang sebelumnya saya pikir saya miliki – kehidupan kekal – ternyata adalah satu pribadi saja, dan pribadi itu bukanlah saya.
Kemudian saya pertama kali melihat bahwa satu-satunya alasan dari keberadaan setiap ciptaan adalah untuk berisi Sang Pencipta! Bukan agar menjadi sesuatu, tetapi untuk berisi Seseorang.
Disanalah terbit sebuah kebenaran yang penting. Kita, manusia, secara alami menghargai diri manusia itu penting. Tetapi kita memiliki gagasan yang salah mengenai alasan tentang keberadaannya itu sendiri.
Sebuah distorsi yag besar sekali telah datang dalam setiap segi kemanusiaan. Hal itu adalah distorsi dari ego – dari diri sendiri. Meskipun kita merasa diri sendiri itu penting, semua hal ini menunjukkan pada saya bahwa diri sendiri itu sama sekali tidak penting.
Hanya ada satu Pribadi di alam semesta yang benar-benar penting. Saya hampir mengatatakan bahwa hanya ada satu Aku.
Mengapa? Karena hanya satu Pribadi dalam seluruh alam semesta yang pernah berkata, “AKU.”
hanya satu Pribadi dalam seluruh alam semesta yang pernah berkata, “AKU.”
Allah berkata ribuan tahun yang lalu bahwa itu adalah nama-Nya, saat Musa bertanya apa yang harus ia katakan saat bangsa itu bertanya, “Siapakah nama Tuhanmu?” (Keluaran 3:13, 14).
Kita diberi tahu bahwa akhir dari sejarah alam semesta adalah Allah Yang akan menjadi semua di dalam segala sesuatu! Lalu apa yang tersisa? Ini luar biasa.
Hanya ada satu Pribadi, dan manusia sebagai ciptaan dibawa dalam hidup persekutuan dengan yang Satu ini, sehingga Ia dapat memanifestasikan Diri-Nya sendiri dalam kesempurnaan hidup dan kasih-Nya melalui kita.
Semua ciptaan ada karena Roh harus memiliki sebuah tubuh yang digunakan untuk memanifestasikan Diri-Nya sendiri. Kitab suci mengatakan, “Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Mereka berkata bahwa Kristus naik “sehingga Ia dapat memenuhi segala hal.”
Jika ia memenuhi segala hal dan segala hal adalah bejana-Nya.
Jika ia memenuhi segala hal dan segala hal adalah bejana-Nya. Ini merupakan bahaya dari betapa tinggi dan rendahnya kemanusiaan.
Secara sederhana, tinggi adalah sebagai berikut: seluruh ciptaan dapat berisi manifestasi Allah; kita dapat memuat Allah sebagai seorang Pribadi. Seorang pribadi tidak dapat memanifestasikan dirinya sendiri sebagai seorang pribadi melalui hal yang lain kecuali seorang pribadi. Anda dapat berhubungan dengan anjing atau batu. Anda dapat menikmati keindahan dari atom atau dari sebuah batu berharga, tetapi Anda tidak dapat bersekutu dengannya. Tetapi saya dapat bersekutu dengan Anda karena kita memiliki riasan yang sama.
Allah dapat memanifestasikan keajaiban dan keindahannya melalui bunga dan pohon-pohon. Kita dapat melihatnya melalui mikroskop dan teleskop dan mengaguminya – tetapi kita tidak mengatakan, “Itu adalah Tuhan.”
Kekaguman yang terbesar, kepribadian yang tertinggi, adalah saat kita dapat melihat manusia dan berkata, “Allah ada disana.”
Bagian yang rendah, bahaya, dari kemanusiaan adalah kepribadian berarti kebebasan. Pilihan yang cerdas adalah inti dari kepribadian.
Karena itu, Allah tampaknya berada pada ujung tanduk dilema saat Ia menciptakan manusia. (Tentu saja Dia tidak seperti itu, karena Ia tahu pekerjaan-Nya dari awal sampai akhir.) Tetapi tampak sedemikian karena manusia yang Ia ciptakan tidak dapat berbalik dan berkata, “Terima kasih banyak, aku tidak mau Engkau hidup di dalamku.”
Itulah yang sebenarnya terjadi
Kita membuat diri kita menjadi Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Secara alami kita menjalani hidup kita sendiri. Dan itulah masalah kita.
Kita membuat diri kita menjadi Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Secara alami kita menjalani hidup kita sendiri. Dan itulah masalah kita..
Tidak ada masalah dalam kehidupan manusia selain daripada reaksi pribadi kita sendiri: tidak satupun.
Iblis bukanlah permasalahannya. Ia telah dibereskan pada 2000 tahun yang lalu.
Tetanggamu bukanlah masalahmu
Lingkungan bukanlah masalahmu
Masalahnya adalah reaksimu sendiri
Pribadi yang menyimpang, keluar dari jalur, adalah masalah kita.
Saat kita tahu bagaimana mengatur diri dan mengarahkannya kembali pada posisi yang seharusnya, maka kita telah menemukan kunci kehidupan.
Norman Grubb (1895 – 1993) adalah seorang misionaris, penulis dan pengajar. Dapatkan informasi selengkapnya tentang penulis di http://www.NormanGrubb.com.
Artikel ini diambil dari sebuah artikel yang berjudul “ The Key to everything.”
2 Pet 1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh, oleh pengenalan kita akan Dia yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib Kita dipanggil untuk berkuasa dalam hidup. Kita telah dipanggil oleh Tuhan untuk mencapai kesuksesan, untuk menikmati kecukupan karena kita diberkati untuk menjadi berkat, untuk menikmati kesehatan dan menikmati hidup yang berkemenangan! Kita bisa melihat dalam ayat ini bahwa dengan kuasa ilahiNya Ia telah memberikan pada kita segalanya – melalui pengenalan akan Dia! Bukan keinginanNya untuk kita hidup dalam kekalahan, kemiskinan dan kegagalan!
Kita dipanggil untuk berkuasa karena Yesus adalah Tuhan atas hidup kita! Saat kita berkuasa dalam hidup, kita berkuasa atas dosa, atas kuasa kegelapan, atas tekanan, atas kemiskinan, atas setiap kutuk. Kita berkuasa atas penyakit dan kesakitan, dan atas iblis serta segala rencananya
Kuasa untuk memerintah tidak bergantung pada latar belakang kita. Itu tidak bergantung pada pendidikan kita, bagaimana penampilan kita, atau pada jumlah tabungan kita di bank. Kuasa untuk memerintah sepenuhnya berdasarkan pada Yesus saja! Pernyataan ini bahwa kita akan berkuasa atas hidup berdasarkan pada janji yang telah dicantumkan dalam firman Tuhan.
Rom 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.)
Ketika seseorang belajar untuk menerima kasih karunia maka mereka akan mulai berkuasa dalam hidup!
Terakhir kali kita melihat kebenaran yang luar biasa ini dan menemukan kesederhanaan Injil.Kita belajar bahwa cara Tuhan bukanlah tentang mencapai, namun tentang menerima! Ia berjanji bahwa saat kita menerima kelimpahan kasih karunia berkuasa dalam hidup kebenaran, kita akan berkuasa dalam hidup. Ia tidak berkata bahwa ketika kita menerima kasih karunia dan kebenaran kita pribadi, kita akan berkuasa dalam hidup.
Ketika seseorang belajar untuk menerima kasih karunia mereka akan mulai berkuasa dalam hidup! Karena itulah musuh telah memasang banyak rintangan dan penghalang di sekeliling Injil kasih karunia.
Yohanes 10:10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Musuh tidak ingin kita berkuasa dalam hidup, maka ia bekerusaha keras untuk mencegah orang percaya menerima kasih karunia dan anugerah kebenaran.
Kini kita akan membongkar beberapa dari rintangan yang ia tempatkan yang menghalangi kita menerima!
Tuhan memberkati kita bukan karena kita baik, tapi karena Dia baik! Kasih karunia didasari oleh kesetiaan dan kebaikanNya pada kita. Hal itu tidak didasari oleh perbuatan kita, namun didasari oleh kemurahanNya yang tidak bisa diusahakan. Bila itu berdasarkan pada kebaikan diri kita, maka itu bukan lagi kasih karunia, namun menjadi sistem dari Hukum Taurat. Itu akan menjadi kemurahan yang dapat diusahakan.
Hukum Taurat adalah kemurahan yang bisa diusahakan – saat kita bisa mentaati peritah dengan sempurna, maka kita akan diberkati. Kasih karunia adalah kemurahan yang tidak bisa diusahakan. Yesus mentaati Bapa dengan sempurna dan kita diberkati karena percaya padaNya.
Beberapa orang percaya bahwa mereka harus sangat hati-hati saat mengajar tentang kasih karunia, dan saat mereka mendengar seseorang berbicara tentang kasih karunia secara langsung mereka akan berjaga-jaga. Kasih karunia bukanlah topik – kasih karunia adalah Injil itu sendiri! Itu adalah kabar yang terlalu baik untuk menjadi nyata, namun itu nyata! Bukanlah sebuah doktrin – melainkan pribadi Yesus Kristus! Itulah mengapa Tuhan ingin kita memiliki kelimpahan kasih karunia, karena memiliki kelimpahan kasih karunia berarti memiliki kelimpahan Yesus.
Yohanes 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (KJV)
Hukum Taurat diberikan,maka kita merasakan adanya jarak, namun kemudian kasih karunia datang! Kasih karunia datang sebagai seorang pribadi namanya Yesus! Yesus adalah kasih karunia! Yesus juga adalah kebenaran dan saat kita mengenal kebenaran, kebenaran itu akan memerdekakan. Yesus memerdekakan kita dari dosa, bukan dari Hukum Taurat Musa! Taurat Musa adalah kebenaran, namun bukan kebenaran yang memerdekakan. Kebenaran yang memerdekakan ada dalam kasih karunia!
musuh melakukan segala cara yang ia bisa untuk membuat orang-orang tetap berada di bawah Taurat supaya ia bisa selalu mengalahkan mereka!
musuh melakukan segala cara yang ia bisa untuk membuat orang-orang tetap berada di bawah Taurat supaya ia bisa selalu mengalahkan mereka! Kita tidak pernah mendengar seseorang mengatakan, hati-hati dengan sepuluh perintah atau hati-hati dengan pengkhobah Taurat. Tidak ada pertentangan mengenai sepuluh perintah karena iblis ingin kita menjadi pelaku hukum Taurat. Ia tidak ingin orang-orang tahu bahwa Yesus telah membebaskan kita dari hukum Taurat.
Sebagian orang takut bila kita mengatakan oaa orang lain bahwa ia telah sepenuhnya diampuni oleh kasih karunia dan tidak perlu membayar untuk dapat berdiri di hadapan Tuhan, maka orang ini akan pergi dan berbuat dosa.
1 Kor 15:56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.(KJV)
Kita dapat melihat dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa kuasa dosa adalah hukum Taurat. Maka semakin seseorang berada di bawah Taurat, maka dosa yang mereka gumuli semakin menyerang mereka. Namun semakin kita mengerti bahwa kita dibawah kasih karunia, maka semakin dosa kehilangan kuasanya atas hidup kita!
Rom 6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat tetapi di bawah kasih karunia. (KJV)
Ini berarti semakin Anda menerima kelimpahan kasih karunia, semakin Anda berkuasa atas dosa dalam hidupmu. Saya sering melihat dosa. Lalu saya berkhotbah dengan keras menentang suatu dosa tertentu, tidak memahami bahwa sesungguhnya saya sedang menguatkan dosa itu. Itu seperti menyiram bensin ke api, karena dosa semakin diperkuat setiap kali Taurat dikhotbahkan! Namun kuasa untuk mengatasi dosa diberikan pada kita ketika kasih karunia semakin diberitakan!
dosa semakin diperkuat setiap kali Taurat dikhotbahkan!
Jadi siapa yang telah mengubah pengertian ini? Iblis yang datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Dia tidak ingin agar kita berkuasa dalam hidup – ia ingin agar dosa dan maut berkuasa atas kita!
Rom 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Mari kita berkuasa dalam hidup dan melihat keselamatan dari Tuhan! Mari kita menjalani hidup kita berdasarkan pada karya yang telah diselesaikan Yesus. Terimalah kelimpahan kasih karunia – dosa telah diampuni, kesembuhan, damai sejahtera, pemenuhan kebutuhan, tuntunan, persahabatan, kemenangan! Semua hal tersebut tidak dapat diusahakan atau layak untuk diterima.
Pada kesempatan yang lain kita akan melihat rintangan yang diletakkan musuh untuk menentang anugerah kebenaran! Bukan tetang meraih kebenaran; bukan tentang meraih kelimpahan kasih karunia – melainkan tentang menerima!
Dapatkah Anda setuju bahwa dosa berkuasa dalam hidup manusia karena Adam berbuat dosa? Tetapi lebih dari itu – “menjadi berlimpah, sebuah tingkatan yang jauh lebih besar, semakin berlimpah, jauh melampaui” – mereka yang menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran berkuasa dalam hidup oleh satu Orang itu, yaitu Yesus Kristus!
Kami tidak menurunkan standar moral; faktanya, buah kehidupan dalam Kristus membawa standar moral yang lebih tinggi
Beberapa orang menjadi bingung saat mereka mendengar bahwa kita bebas dari hukum Taurat dan bahwa orang Kristen yang telah lahir baru Cuma memiliki satu perintah, bukan sepuluh perintah. Meskipun kebenaran ini langsung berasal dari Alkitab, saya percaya sangat tepat untuk menekankan pada apa yang tidak kami katakan. Kami tidak menurunkan standar moral; faktanya, buah kehidupan dalam Kristus membawa standar moral yang lebih tinggi. Hidup yang kami gambarkan hanya dapat dicapai oelh orang Kristen yang telah lahir baru dan memperbolehkan hidup Kristus untuk hidup didalamnya. Karena itu kami katakan bersama rasul Paulus, “Sekali-kali Tidak!”
“Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?
Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Roma 6:1-2)
“Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.
Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!” (Roma 6:14-15)
Paulus menggunakan ungkapan ini: “Sekali-kali tidak!” sebenarnya yang dikatakan Paulus adalah: “Itu adalah sama sekali salah mengerti pesannya!”
Dia menggunakan ungkapan ini saat orang-orang mencapai kesimpulan yang salah dan membayangkan konsekuensi yang salah saat mendegar pengajarannya
Dia menggunakan ungkapan ini saat orang-orang mencapai kesimpulan yang salah dan membayangkan konsekuensi yang salah saat mendegar pengajarannya. Kenyataannya, dia sendiri yang menangkap pikiran bahwa apakah kita akan bertekun dalam dosa sehingga kasih karunia semakin melimpah. Dia mengerti bahwa beberapa orang akan berpikir bahwa inilah yang dia maksudkan, jadi dia memberikan pertanyaan untuk memberikan jawabannya.
Sayangnya, hal ini juga terjadi pada saya. Setelah beberapa pengkhotbah dan penulis mencoba untuk salah mengartikan apa yang kami ajarkan, saya harus berteriak keras: ”Sekali-kali tidak!”
Sangat jelas bahwa beberapa orang benar-benar salah mengerti pengajaran kami tentang bebas dari hukum Taurat. Mereka mengklaim bahwa kebebasan dari hukum Taurat membawa pada pelanggaran hukum. Tetapi inilah kesimpulan dari sangkalan Paulus dalam Roma 6:1-2 dan 14-15. Malah dia mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya jalan “yang bisa dilalui” untuk menuju pada kekudusan dan kemenangan atas dosa!
Karena itu, ini merupakan kesalahpahaman saat sebagian orang berpikir bahwa kami memberikan ijin untuk berbuat dosa. beberapa orang bahkan berpikir bahwa jika kita bebas dari hukum Taurat, hal itu akan memimpin pada pelanggaran hukum. Oleh karena itu mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Alkitab tentang kita dimerdekakan dari hukum Taurat. Orang Kristen yang telah lahir baru, yang telah memiliki benih Allah di dalam dia dan berjalan di dalam kasih, sangat jelas akan tunduk pada hukum Allah yang dituliskan pada hatinya, dan juga pada peraturan dan pemerintahan yang ada di dunia.
Ini merupakan kesalahpahaman saat sebagian orang berpikir bahwa kami memberikan ijin untuk berbuat dosa
Pelanggaran hukum yang dikatakan Alkitab seagai karakteristik akhir zaman adalah pelanggaran hukum di dalam dunia, diantara orang berdosa dan yang tidak mengenal Allah. Itu adalah pelanggaran hukum yang berhubungan dengan roh antikris, yang merupakan pelanggar hukum. Mencampurkan hal ini dengan pertandingan yang dijalani Paulus untuk kebenaran Injil dan kemerdekaan dari hukum Taurat serta jalan-jalan legalistik sepenuhnya merupakan salah pengertian. Itu adalah percampuran dari kata dan frase yang disebabkan oleh kebingungan bahasa.
Kekudusan juga merupakan hasil dari kasih karunia, sama seperti keselamatan oleh kasih karunia
Memiliki Pengertian Yang Benar tentang Kasih Karunia. Pada akhir Roma 5 Paulus mengulangi tentang “kekayaan dari kasih-karunia-Nya.” Dia berkata, “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Roma 5:20-21)
Mereka yang takut kalau kami mengkhotbahkan terlalu banyak kasih karunia tidak menangkap kelanjutan dan keseluruhan dari pesannya. Kenyataannya, Roma 6:1-2 merupakan jawaban langsung dari pemikiran yang mungkin dimiliki beberapa orang – penekanan yang diletakkan Paulus pada kasih karunia bisa memberikan kemerdekan bagi orang untuk berbuat dosa karena kasih karunia begitu besarnya.
Pada poin inilah dia berseru, “Sekali-kali tidak!”
Faktanya, Paulus menyingkapkan fakta yang sangat memerdekakan bagi kita. Bukan kelimpahan kasih karunia memberikan ijin untuk berbuat dosa, kasih karunia itu sangat luar biasa sehingga memerdekakan Anda dari dosa! Darah Yesus membersihkan dari semua dosa dan saat mati bersama Dia, kita mati bagi dosa.
Ini adalah bagian dari Injil yang kurang sekali diajarkan dengan benar pada kita, dan hal ini membuat orang menjadi bingung. Banyak orang salah mengerti apa sebenarnya pesan indah dalam Roma 6:1-2, itu karena pengajaran tradisional telah banyak menekankan pada kejatuhan dan sifat dosa dari umat manusia. Pesannya adalah bahwa Yesus telah melakukan lebih dari sekedar mengampuni dosa-dosa kita: Dia telah melepaskan kita dari dosa dan kuasanya!
Firmannya sangat jelas tentang konsekuensi memiliki “mati bersama Kristus”:
“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” (Roma 6:6)
Ayat-ayat berikutnya melanjutkan perincian tentang hal ini dan menjelaskan tentang persatuan kita bersama Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. “Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana…” (Roma 6:10-12)
Dia telah menunjukkan pada kita bahwa keselamatan lebih kuat daripada kejatuhan dalam pasal 5:
“Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.” (Roma 5:17)
T. B. Barratt menulis buku yang judulnya sangat bagus. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan seperti ini “Karya Pengudusan dari Kasih Karunia”. Ini adalah poin yang sangat penting: Kekudusan juga merupakan karya dari kasih karunia, sama seperti keselamatan juga dari kasih karunia. Karena itu Paulus menulis kepada Titus,
“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini…” (Titus 2:11-12)
Dengan kata lain: Baik kebenaran dan kekudusan diberikan kepada kita di dalam Kristus (1 Korintus 1:30). Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan perbuatan. Ayat berikut ini menunjukkan bahwa kita adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik (Efesus 2:8-10).
Sebagai konsekuensi, pengampunan dosa serta hidup baru yang menghasilkan perbuatan baik termasuk dalam kasih karunia-Nya. Tidak ada celah disisi manapun untuk usaha sendiri dan pekerjaan manusia. Ia yang bermegah, biarlah ia bermegah di dalam Tuhan!
Jika kekuatan kita sendiri dibutuhkan pada salah satu sisi, kita akan memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Merupakan hal yang alami bagi manusia untuk mencari sesuatu yang bisa kita banggakan. Tetapi kebanggaan diri kita ditiadakan! Jika hasilnya baik, maka seluruh pujian dan kemuliaan adalah bagi kasih karunia-Nya (Efesus 1:6).
Hal itu membuang jauh cinta akan dosa; membuat kita menyukai hal-hal yang disukai Allah dan membenci hal-hal yang dibenci Allah
Kasih karunia dan keselamatan bukanlah hasil usaha kita, tetapi dari Allah (Efesus 2:8-10)
Hidup yang baru bukanlah dari kita, tetapi dari Allah (Yohanes 1:12-13)
Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah (2 Korintus 3:5)
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan (1 Korintus 1:30-31).
“Intisari dari Injil”
A. B. Simpson menulis dengan sangat indah tentang hal ini. Dia menggambarkan kekayaan dalam keselamatan. Pertama dia berbicara tentang darah yang membersihkan dari semua dosa dan kemudian dia lanjutkan:
“Tetapi lebih dari itu. Hal itu juga merupakan ketetapan Allah untuk membuang dosa dari hati manusia dan memberikan kuasa kepada manusia yang lemah dan telah jatuh untuk menjadi benar dihadapan Allah dan seluruh manusia.”
“Umat manusia tidak berdaya, dan intisari dari Injil adalah hal itu memberikan kuasa untuk memilih dan melakukan yang benar. Hal itu membuang jauh cinta akan dosa; membuat kita menyukai hal-hal yang disukai Allah dan membenci hal-hal yang dibenci Allah. Hal itu mempunyai kuasa untuk membersihkan, menyucikan dan meninggikan umat manusia. Hal itu merupakan kuasa ilahi yang diletakkan di dalam hati manusia yang menyebabkan kita dapat berjalan di dalam ketetapan-Nya dan menepati perintah-Nya.”
“Inilah Injil yang kita percayai dan yang kita beritakan! Pesan ini sangat menjadi fokus pada apa yang disebut sebagai “Gerakan Kekudusan” yang dialami dunia pada abad ke-19. Para pengajar seperti Simpson, Kenyon dan John G. Lake membawa dimensi lain dari pengajaran yang berpusat pada Kristus kedalam suatu masa yang sangat berfokus pada pengalaman-pengalaman pribadi, dan kita harus menyucap syukur kepada Tuhan yang mengangkat suara-suara ini yang terus melanjutkan untuk memberkati dan menuntun kita bahkan yang hidup pada seratus tahun berikutnya.
Jadi kami ingin meminta semua orang memperhatikan pada segala yang kami katakan dan menangkap pesan secara keseluruhan.
Pesan kami tentang kemerdekaan dari hukum Taurat adalah tentang jalan penyucian dari Allah.
“Hanya Dia Yang Dimerdekakan Dari Hukum Taurat Yang Dimerdekakan Dari Dosa”
”Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” (Roma 6:14)
Inilah dimana pesan tentang kemerdekaan atas hukum Taurat memiliki kuasa terbesarnya. Saya akan mengutip Norwegian Study Bible:
“Hanya dia yang dimerdekakan dari hukum Taurat yang dimerdekakan dari dosa”
Maka Anda telah menangkapnya! Karena “hawa nafsu dosa dirangsang oleh hukum Taurat” (Roma 7:5), keselamatan harus membebaskan kita dari hukum Taurat untuk dapat memberikan kehidupan yang berkemenangan atas dosa kepada kita. Tidak ada yang salah dengan hukum Taurat – hukum itu kudus, adil dan baik. Permasalahannya adalah dosa. Dosa dibangkitkan oleh hukum Taurat, jadi perintah yang harusnya membawa hidup, membawa kematian. Inilah fakta yang dijelaskan secara terperinci oleh Roma 7.
Sangat penting untuk mengerti bahwa ”apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah” (Roma 8:3). Kita bersyukur karena Dia, melalui Yesus Kristus Tuhan kita, telah melepaskan kita dari “tubuh maut ini,” dan memerdekakan kita dari “hukum dosa dan maut” (Roma 7:24-25 dan 8:1-2).
Mari saya ingatkan Anda kembali bahwa hidup seperti ini hanya dapat diperoleh bagi mereka yang telah lahir baru. Kita harus lahir baru agar dapat melihat kerajaan Allah.
Yesus mengkhotbahkan tentang kemerdekaan dari dosa. Dia berkata bahwa jika kita tetap dalam firman-Nya, kita akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kita (Yohanes 8:32). Dia lanjutkan dengan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:34-36)
2 Petrus 1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Kita ditentukan untuk berkuasa dalam hidup. Kita dipanggil oleh Allah untuk menjadi sukses, menikmati kecukupan – bahwa kita diberkati untuk menjadi berkat, menikmati kesehatan dan menikmati hidup dalam kemenangan. Kita dapat lihat dalam ayat tersebut bahwa segala sesuatu telah diberikan kepada kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib – melalui pengenalan akan Dia! Bukanlah kehendak-Nya supaya kita hidup dalam kekalahan, kemiskinan dan kegagalan.
Dia telah memanggil kita untuk menjadi kepala dan bukan ekor! Jika Anda adalah seorang pengusaha, Allah ingin agar Anda memiliki usaha yang berhasil. Jika Anda ibu rumah tangga, Anda diurapi untuk mendidik anak-anak yang luar biasa di dalam Tuhan. Jika Anda adalah seorang pelajar, Allah ingin agar Anda lulus semua mata pelajaran. Jika Anda mempercayakan karir baru kepada Allah, Dia tidak sekedar ingin agar Anda memiliki pekerjaan. Dia ingin agar Anda memiliki posisi yang berpengaruh sehingga Anda dapat menjadi berkat dan aset bagi organisasi Anda!
Kuasa untuk memerintah sepenuhnya berdasarkan pada Yesus sendiri
Kita ditentukan untuk berkuasa dalam hidup karena Yesus adalah Tuhan dalam hidup kita! Saat kita berkuasa dalam hidup, kita berkuasa atas dosa, berkuasa atas kuasa kegelapan, berkuasa atas depresi, berkuasa atas kemiskinan dan atas segala kutuk, berkuasa atas segala sakit penyakit, berkuasa atas iblis dan segala rencananya. Saat Yesus dan para murid diserang badai ditengah laut, Yesus berkuasa dalam hidup!
Kuasa untuk memerintah tidak tergantung pada latar belakang Anda. Tidak juga tergantung pada pendidikan kita, pada penampilan kita, pada seberapa banyak tabungan kita di bank. Kuasa untuk memerintah sepenuhnya berdasar pada Yesus sendiri! Deklarasi ini, bahwa kita akan berkuasa dalam hidup, berdasarkan pada janji yang telah dicatat dalam Firman Tuhan.
Roma 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
Berkuasa: Yunani basileuo- 1) menjadi raja, mempergunakan kuasa raja, memerintah a) digunakan oleh gubernur suatu propinsi b) digunakan dalam pemerintahan Messias 2) secara metafora, mempergunakan pengaruh tertinggi, untuk menguasai.
Banyak orang berpikir agar Tuhan mau memberkati mereka, mereka harus layak untuk menerima berkat itu
Rahasia untuk dapat berkuasa dalam hidup terletak dalam menerima segala sesuatu yang telah diraih Yesus bagi kita di atas kayu salib!
Jika kita hidup dalam kekalahan, dikalahkan oleh dosa, rasa bersalah dan penghukuman, oleh serangan kepanikan atau oleh kekurangan finansial, kita tidak hidup dalam kehidupan berkelimpahan yang diberikan Yesus oleh kedatangan-Nya. Berdasarkan otoritas Firman Allah, kita ditentukan untuk berkuasa dalam hidup sebagai seorang raja – memiliki kekuasaan raja atas segala tanntangan hidup yang datang kedalam kehidupan kita. Kita dipanggil untuk berada diatas semua hal tersebut. Kita memiliki hak yang diberikan Allah untuk berkuasa dalam hidup. Yesus juga berada ditengah badai di laut, tetapi Ia tidak dikalahkan oleh badai!
Roma 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.
Karena dosa satu orang, Adam, di Taman Eden, maut mulai berkuasa. Kita menjadi orang berdosa bukan karena kita berbuat dosa, tetapi karena dosa Adam. Banyak orang percaya masih berpikir bahwa kita menjadi orang berdosa karena berbuat dosa, tetapi tidak demikian kata Firman Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita menjadi orang berdosa karena dosa Adam. Tetapi kita juga dijadikan orang benar dalam Perjanjian Baru bukan karena kita melakukan perbuatan benar tetapi karena ketaatan satu orang – yaitu Yesus diatas kayu salib.
Rahasia untuk dapat berkuasa dalam hidup terletak dalam menerima segala sesuatu yang telah diraih Yesus bagi kita di atas kayu salib! Kita dapat melihat sangat jelas dalam Firman Tuhan bahwa kita berkuasa di dalam hidup melalui Yesus Kristus hanya dengan menerima dua hal dari-Nya: kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran!
Cara dunia adalah menyuruh kita untuk bekerja lebih keras.
Banyak orang berpikir agar Tuhan mau memberkati mereka, mereka harus layak untuk menerima berkat itu, atau mereka harus berusaha untuk mendapatkan berkat itu sehingga dengan usaha mereka sendiri mereka dapat menerima anugerah Allah. Banyak orang berpikir bahwa berkat-berkat Allah berdasarkan pada prestasi dan perbuatan-perbuatan baik.
Tetapi jalan Tuhan bukan tentang meraih, melainkan menerima! Dia berjanji bahwa saat kita menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, kita akan berkuasa dalam hidup. Tidak dikatakan saat kita meraih kasih karunia dan kebenaran kita sendiri maka kita akan berkuasa dalam hidup. Tetapi karena alasan tertentu beberapa orang Kristen masih melanjutkan hidup mereka berdasarkan sistem dunia tentang prestasi.
Kalau memang benar semudah itu, mengapa tidak banyak orang Kristen yang berkuasa dalam hidup? Sebagian besar orang percaya bahwa mereka harus bekerja keras untuk meraih keberhasilan dalam hidup. Mereka membangun hidupnya dalam usaha dan ketekunan. Saya percaya pada kerja keras; Saya juga percaya dalam kesetiaan dan kerajinan. Tetapi masalahnya datang saat kita mulai percaya bahwa apa yang kita lakukan, usaha kita tersebut yang membuat kita berhasil dalam hal-hal berkaitan dengan Allah mengenai hidup kita.
2 Korintus 1:19 Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”. 20 Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.
Kita digerakkan untuk melakukan, melakukan, melakukan – lupa bahwa kekristenan adalah tentang sudah selesai, sudah selesai, sudah selesai.
Dunia mengatakan kepada kita bahwa semakin banyak yang kita lakukan, semakin keras kita bekerja, semakin banyak waktu yang kita berikan, semakin besar sukses yang akan kita raih. Cara dunia adalah agar kita bekerja lebih keras, melupakan untuk pergi ke gereja secara teratur, menghabiskan sedikit waktu dengan keluarga dan menghabiskan lebih banyak waktu pada pekerjaan kita. Waktunya untuk membayar harga untuk bisa maju….tidak ada rasa sakit….tidak ada yang diperoleh!
Berhentilah mencoba mengerjakan apa yang sudah selesai
Yang dilakukan oleh beberapa orang percaya adalah mengambil sistem dunia dan mengaplikasikannya pada kehidupan kekristenan. Daripada bersandar pada kasih karunia Allah untuk mengalirnya anugerah dan berkat-berkat-Nya, mereka lebih bersandar pada usaha mereka sendiri mencoba menjadi layak untuk menerima anugerah Allah dan berkat-berkat-Nya. Tetapi cara Tuhan bukanlah agar kita diberkati karena usaha kita sendiri.
Kita tidak dapat mendapatkan berkat Tuhan karena prestasi kita. Berkat-berkat Tuhan sepenuhnya berdasarkan pada kasih karunia-Nya. Berkat-berkat-Nya atas hidup kita harus merupakan anugerah yang tidak dapat diusahakan dan sebenarnya tidak layak untuk diterima. Tidak ada yang bisa kita lakukan agar layak menerima berkat-Nya. Semua itu sepenuhnya berdasar pada menerima Yesus dan melalui karya-Nya yang telah selesai – kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran.
Allah ingin agar kita berhenti untuk mencoba meraihnya dan mulai menerima menerima anugerah, berkat-berkat dan kesembuhan yang telah diraih Yesus di atas kayu salib. Saat Dia tergantung di kayu salib, Yesus berseru dengan suara keras, “SUDAH SELESAI!” Segala sesuatu yang Anda dan saya butuhkan untuk berkuasa dalam hidup telah diraih pada hari itu. Itulah mengapa kita menyebut apa yang telah diraih Yesus di kayu salib sebagai karya yang telah diselesaikan Yesus. Dia telah menyelesaikannya – dosa, kesembuhan, pemenuhan kebutuhan, persahabatan, tuntunan, damai sejahtera dan kemenangan. Dia telah selesaikan pekerjaan itu! Dia meraih apa yang tidak dapat kita raih sendiri.
Berhentilah mencoba mengerjakan apa yang sudah selesai! Berhentilah “berusaha” untuk memenuhi syarat menerima berkat. Yesus telah memenuhi syarat itu bagi kita – mulailah menerima apa yang sudah dilakukan Yesus!
2 Petrus 1:3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Merupakan perbedaan besar antara hidup dalam Perjanjian Lama dengan hidup di dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan melupakan dosa dan pelanggaran manusia, bahkan sampai pada keturunan ketiga dan keempat. Dalam Perjanjian Baru Tuhan berkata dalam Ibrani 8:12, “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”
Saat Daud berbuat dosa, anaknya harus mati. Akan tetapi, dalam perjanjian baru, anak kita tidak harus mati. Mengapa? Karena Anak Allah telah mati bagi dosa-dosa kita! Betapa diberkatinya kita yang hidup setelah salib, setelah penghakiman atas dosa dijatuhkan pada Yesus. Itulah luar biasanya Injil Kasih Karunia Allah.
Daud iri terhadap kita dan membicarakan betapa berbahagianya orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya. Dalam Roma 4:7 ia berbicara tentang Perjanjian Lama, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya” kemudian ia lanjutkan di ayat 8 tentang Perjanjian Baru, “berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Betapa diberkatinya kita! Kesadaran akan hal itulah yang merubah hidup kita! Kita mengasihi Dia karena Dia lebih dulu mengasihi kita!
Dalam newsletter ini kami mempersembahkan pengajaran tentang bagaimana Yesus membuat kita hidup dalam kemenangan dari dosa, kekalahan, kemiskinan dan sakit penyakit. Pastor Åge Åleskjær juga memberikan penjelasan penting terhadap beberapa kesalahpahaman mengenai pengajaran Kasih Karunia. Kami berdoa kiranya pengajaran ini akan membawa klarifikasi dan pewahyuan yang besar.
Saya dulu percaya bila saya terus menerus berdoa tentang suatu hal yang saya harapkan maka hal itu akan meningkatkan kemungkinan terjawabnya doa saya. Saya berpikir semakin lama saya berlutut megenai hal itu maka semakin baik hasil yang akan saya dapatkan. Sekarang saya tidak percaya hal itu lagi. Tuhan tidak membutuhkan saya untuk meyakinkan Dia agar bertindak bagi saya. Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan yang mengilustrasikan hati Bapa terhadap kita:
Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka.
Bukankah Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita perlu untuk terus berdoa dan berdoa tanpa menyerah agar Bapa menjawab doa kita?
Bukankah Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita perlu untuk terus berdoa dan berdoa tanpa menyerah agar Bapa menjawab doa kita? Saya pikir pandangan ini tidak tepat. Yesus menggunakan seorang yang lalim sebagai contoh dalam perumpamaan-Nya. Yesus dua kali menekankan bahwa hakim tersebut “tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.” Ia sama sekali bukan seorang yang penuh kasih dan perhatian. Ia tidak peduli akan kebutuhan si pemohon dan harus ditaklukkan dengan permohonan yang terus menerus.
Dalam perumpamaan ini Yesus sedang melakukan apa yang sering kali Ia lakukan, yaitu menyampaikan penjelasan melalui perbandingan yang kontras.
Kebenaran yang diinginkan Yesus agar kita melihatnya adalah agar kita tidak memandang Tuhan dengan cara yang sedemikian. Dalam perumpamaan ini Yesus sedang melakukan apa yang sering kali Ia lakukan, yaitu menyampaikan penjelasan melalui perbandingan yang kontras. Kita salah mengerti bila berpikir bahwa Tuhan seperti hakim tersebut, tidak peduli dengan kebutuhan orang lain dan hanya merespon bila kita merengek-rengek terus kepada-Nya. Tidak, yang dimaksudkan Yesus adalah, “Jika seorang hakim yang lalim, tidak memiliki kepedulian dapat dibujuk untuk bertindak bagi Anda, betapa lebihnya Tuhan yang baik dan memiliki kasih yang sempurna akan menjawab seruan hati kita!” Dia tidak sedang mengatakan kepada kita bahwa kita harus berdoa dalam waktu yang sangat lama untuk membujuk Bapa kita. Apa yang Dia katakan adalah setiap waktu dan kapanpun Anda berdoa, Anda dapat memiliki keyakinan bahwa Dia mendengar dan akan menjawabnya. Setiap saat Anda dapat berdoa dan mengetahui bahwa Dia mengasihi Anda dan tidak menahan-nahan sampai Anda membuktikan ketulusan Anda melalui waktu dan perjuangan di dalam doa. Tuhan bukanlah seorang hakim yang harus dibujuk. Dia adalah Bapa yang mau menjawab dan menunjukkan kasih-Nya pada Anda!
Tuhan bukanlah seorang hakim yang harus dibujuk.
Kadang kita membalik hal itu dalam pikiran kita dan percaya bahwa Tuhan tidak peduli. Kita berpikir, “Jika kita dapat mengajak cukup banyak orang untuk berdoa dan dapat berdoa dalam waktu yang cukup lama, maka mungkin kita bisa membuat Tuhan melakukan sesuatu yang sebenarnya Dia tidak tertarik untuk melakukannya. Jika Dia tidak di pihak kita sekarang, mungkin kita dapat membujuknya melalui usaha keras dan terus menerus.”
Kebenaran dari kasih karunia adalah kebalikan dari hal diatas. Kita tidak perlu membujuk Tuhan yang selalu enggan dan tidak peduli. Kebalikan dari hal itu. Tuhanlah yang mencari. Dia adalah sang pengasih yang utama. Tuhan selalu sebagai pemrakarsa, jadi pada kenyataannya yang berlaku adalah seperti ini: Saat Tuhan bersiap untuk melakukan sesuatu, Dia seringkali menggerakkan hati umat-Nya untuk berdoa. Dia menggerakkan kita agar berdoa dan bisa jadi kita digerakkan untuk mengajak orang lain untuk berdoa bersama. Mereka dapat bergabung dalam prosesnya dan bisa juga menjadi bagian dari jawabannya. Saat kita terlibat dalam doa, Tuhan mengijinkan kita untuk berpartisipasi dalam apa yang sedang Dia lakukan dalam dunia ini.
Saat Tuhan bersiap untuk melakukan sesuatu, Dia seringkali menggerakkan hati umat-Nya untuk berdoa.
Kembali ke perumpamaan yang diberikan Yesus mengenai hakim yang lalim. Sangat penting untuk diperhatikan bahwa dalam perumpamaan tersebut Yesus menceritakan tentang seorang yang memohon bantuan pada seorang hakim. Dia ingin agar kita melihat bahwa Bapa kita kita tidak seperti orang yang digambarkan dalam perumpamaan tersebut. Hakim itu enggan untuk menjawab, tetapi Bapa kita tidak demikian.
Bagaimana kita memandang Tuhan sangat berhubungan dengan harapan (iman) yang kita miliki saat kita datang kepada-Nya dalam doa. Saya telah mengatakan bahwa Yesus menggunakan kontras untuk menunjukkan perbedaan atara situasi saat kita meminta sesuatu kepada Tuhan dengan situasi dari janda yang ada dalam perumpamaan tersebut. Bisa saja ada perbedaan dalam harapan dan pendekataan kita saat kita datang kepada-Nya karena adanya perbedaan identitas dari orang yang dimintai pertolongan oleh si janda dan Dia yang kita mintai pertolongan.
Janda itu berbicara kepada seorang hakim. Anda tidak. Anda berbicara pada Bapa Anda. Perbedaan itu sangat jelas. Tuhan bukanlah seperti seorang hakim yang duduk di sorga dengan pola pikir penghakiman terhadap Anda sehingga membuat Anda harus menghadap kepada-Nya sama seperti saat Anda memohon kepda hakim manusia untuk memberikan kemurahan dan mengabulkan permohonan Anda dalam sidang.
Bapa sudah berada di pihak Anda dan ingin memberkati Anda dalam segala hal.
Hubungan Tuhan kepada Anda bukanlah yudisial melainkan relasional. Dia adalah Bapa Anda dan Dia senang meresponi permohonan hati Anda. Anda dapat mendekat kepada-Nya dengan kesadaran penuh bahwa Dia tidak perlu dibujuk untuk bertindak bagi kebaikan Anda. Peran-Nya dalam kehidupan Anda berdasarkan pada karakter-Nya yang penuh kasih. Fakta tersebut memberikan Alasan kepada Anda untuk mengetahui bahwa Anda tidak perlu mengemis kepada-Nya. Anda tidak perlu mengajak banyak orang untuk meyakinkan Dia seperti yang dilakukan orang dalam pengadilan dengan membawa petisi yang ditandatangani oleh orang banyak untuk meyakinkan hakim untuk bertindak di pihak mereka. Bapa sudah berada di pihak Anda dan ingin memberkati Anda dalam segala hal. Perumpamaan tentang janda dan hakim tidak mengajarkan pelajaran yang seperti telah diajarkan kepada kita selama ini. Faktanya, perumpamaan itu mengajarkan yang sebaliknya. (Lukas 18:1-8).
Iman itu mudah. Iman hanya bersandar dan beristirahat didalam kemampuan Yesus. Rasul Paulus bertanya pada orang percaya di Galatia, “Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat diantara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil?” (Galatia 3:5).
Mari kita gunakan kalimat masa kini untuk pertanyaan tersebut. Apakah kamu menerima Roh Kudus dan apakah Tuhan melakukan mujizat diantara kamu karena usaha atau perjuanganmu? Apakah hal itu terjadi karena kamu menjalankan kewajiban-kewajiban agamamu dengan baik? Ataukah berkat-berkat ilahi itu datang karena pendengaran akan Yesus dan kemampuan-Nya?
Sebagai seorang yang baru percaya, saya mendengar bahwa langkah selanjutnya dalam pertumbuhan rohani adalah menerima baptisan Roh Kudus. Secara alami, saya ingin meningkatkan hidup yang baru saya temukan sebagai seorang percaya, dan saya berpikir bahwa saya harus mendapatkan pengalaman dengan Roh Kudus itu. Saya menghabiskan waktu selama tiga minggu dalam kemah pemuda Kristen dimana banyak orang mengatakan kepada saya bila saya dengan tulus menginginkan baptisan Roh Kudus, saya harus mengikuti pertemuan doa setiap jam 7:00 pagi. Ada banyak teman-teman Kristen saat itu dan mereka menginginkan yang terbaik bagi saya. Mereka menekankan bahwa waktu doa tesebut hanya bagi mereka yang tulus dalam mencari Roh Kudus. Saat itu saya berumur empat belas tahun dan doa pagi hari sama sekali bukan kebiasaan saya, tetapi saya ingin menunjukkan usaha yang baik. Dengan mata masih kabur, saya bangun dari tempat tidur jam tujuh kurang lima menit dan bergegas datang ke pertemuan doa. Kami memohon dan berseru kepada Tuhan, “Tolong Tuhan, tolong baptis kami dalam Roh Kudus.” Jika orang harus menerimanya karena usaha yang telah dilakukan, maka kamilah orangnya. Faktanya, salah satu anak muda, Hans, yang merupakan pemimpin dalam pertemuan doa itu, adalah seorang pemuda yang patut dicontoh. Saya merasakan bahwa saya tidak se-“kudus” dia. Dialah yang membangunkan saya sehingga saya bisa mengikuti pertemuan doa dengan tepat waktu. Jika ada yang harus diberi upah dengan baptisan Roh Kudus, orang itu pastilah Hans. Hans memiliki saudara tiri yang benar-benar berkebalikan dengannya, namanya adalah Steve. Steve belum diselamatkan, lebih dari itu, dia termasuk salah satu pembuat masalah dalam kemah pemuda itu. Jika ada sesuatu yang bermasalah, ada yang diganggu, kami semua tahu bahwa pasti Steve biangnya.
Jika orang harus menerimanya karena usaha yang telah dilakukan, maka kamilah orangnya.
Suatu malam pemuda pemberontak ini masuk kedalam ibadah malam kami. Kami tidak pernah tahu apakah dia hadir ataupun tidak, meskipun peraturan kemah mengharuskan setiap orang harus hadir. Steve saat itu menangis dan berseru bahwa ia membutuhkan Yesus. Kami semua berpikir bahwa itu sangat baik. Kami tahu bahwa dia membutuhkan keselamatan mengingat betapa “berdosanya” ia. Lima belas menit setelah Steve menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya, dia dibaptis dalam Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa roh. Saat kami melihat hal ini, menganggap betapa belum sepenuhnya dia kudus, kami agak tidak yakin. Akan tetapi kami berpikir, “Ah, Tuhan itu baik jadi mungkin hal ini tidak masalah.” Kemudian, dua puluh menit setelah kejadian tersebut, kami mendengar suara Steve dari bagian belakang auditorium mengucapkan pesan dalam bahasa roh yang dimulai dengan “beginilah kata Tuhan.”
Jika Anda tidak terbiasa dengan kejadian semacam ini, Anda bisa melihatnya dalam tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus. Sebuah pesan dalam bahasa roh dan penafsirannya adalah dua dari sembilan karunia Roh Kudus yang disebutkan disana. Steve menyampaikan pesan dalam bahasa roh dan menafsirkannya, bernubuat kepada kami yang merasa lebih unggul darinya dalam hal kerohanian. Perkataan yang dia sampaikan sangat dahsyat dan meskipun kami merasakan bahwa perkataan itu berasal dari Tuhan, kami mengalami kesulitan untuk bisa menerimanya. Urusan apa sampai Tuhan memakai pembuat onar semacam itu? Jika ada yang harus bernubuat, harusnya kan salah satu dari kami yang selalu menghadiri pertemuan doa jam 7:00 pagi. Kami telah memohon kepada Tuhan dan sepertinya tidak menerima apa-apa. Bisakah Anda melihat bagaimana pola pikir agamawi bekerja? Seorang yang legalistik dan suka menghakimi membenci anugerah Tuhan yang tidak dapat diusahakan, sebenarnya tidak pantas dan tidak layak untuk diterima. “Bukankan Steve masih harus disucikan?” mungkin demikian pertanyaan Anda. Tentu saja, tetapi Tuhan tidak memberikan mujizat sesuai dengan apakah seseorang tersebut memenuhi syarat atau tidak. Dia melakukannya oleh iman. Saya telah melihat skenario ini berulang-ulang kali. Mereka yang tidak ada harapan dan yang terluka adalah mereka yang dijamah oleh Yesus.
Orang yang berfokus pada iman jarang sekali menerima; mereka yang berfokus pada Yesus siap sedia untuk menerima.
Semua kebajikan Kristen, termasuk kerendahan hati dan kekudusan, sangat penting. Kasih karunia Allah akan bekerja di dalam kita bila kita mengijinkannya untuk menghasilkan kualitas-kualitas tersebut. Bagaimanapun juga, memiliki kebajikan-kebajikan Kristen tidak membuat kita mendapatkan poin untuk sebuah mujizat.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, ratusan orang telah mendekati saya dan berkata, “Pastor Peter, doakan saya. Saya memiliki banyak iman. Mintalah agar Tuhan menyembuhkan saya sekarang.” Mungkin saya salah – mungkin ada beberapa kejadian yang tidak saya ingat, tetapi saya tidak dapat mengingat satu orang pun yang mendekati saya dan mengatakan betapa besar iman yang mereka miliki dan mereka benar-benar menerima mujizat yang mereka butuhkan. Iman bukanlah persoalan perbuatan manusia, akan tetapi merupakan hubungan seseorang dengan Yesus. Orang yang berfokus pada iman jarang sekali menerima; mereka yang berfokus pada Yesus siap sedia untuk menerima.
Inilah mengapa kisah tentang seorang perempuan Kanaan dan perwira Romawi menjadi sangat penting. Yesus mengatakan bahwa mereka memiliki “iman yang besar.” Mereka bahkan tidak mengetahui seluruh persyaratan untuk menerima kesembuhan. Mereka adalah orang non-Yahudi yang tidak pernah terikat dengan hukum Taurat Musa. Semakin sedikit kita memandang pada diri sendiri dan semakin kita memandang kepada Yesus, semakin iman itu datang. Iman tidak ada hubungannya dengan apa yang dapat kita capai ataupun kelayakan kita. Pertanyaan seperti “Apakah aku sudah cukup baik? Apakah aku memenuhi syarat?” membuat iman tidak berfungsi.
Iman itu bersandar pada Yesus dan kemampuan-Nya. Itulah mengapa sering kali kita melihat orang-orang Muslim, Budha dan Hindu yang hampir tidak mengenal tentang Alkitab menerima mujizat-mujizat yang luar biasa. Meskipun mereka tidak pernah mendengar tentang Kitab Kejadian, surat-surat kepada jemaat di Roma atau Galatia, mereka menangkap kebenaran sederhana dari kasih Allah yang dinyatakan melalui Yesus bagi mereka. Begitu seseorang terhubung dengan Yesus, segala sesuatu menjadi mungkin.
Begitu seseorang terhubung dengan Yesus, segala sesuatu menjadi mungkin.
Saat kita melupakan diri kita sendiri dan memandang kepada Yesus Kristus kita menjadi penuh damai. Iman bukanlah peraturan-peraturan mengenai apa yang harus kita lakukan. Saat kita memandang Yesus sebagaimana besarnya Dia maka kita beristirahat di dalam-Nya. Saat Yesus nampak begitu besar bagi mata rohani Anda, secara otomatis Anda akan mulai berkata positif, memperkatakan Firman Tuhan. Faktanya, Anda tidak akan mungkin berkata negatif saat Anda melihat Yesus yang sepenuhnya, besar dan menakjubkan. Hal ini sepenuhnya bertentangan dengan menjadi tertekan untuk hidup sesuai dengan standar, sepertinya Tuhan adalah pencatat nilai di sorga, menghitung nilai untuk melihat apakah Anda telah menunjukkan iman yang cukup bagi jawaban doa Anda.
Iman Peter Youngren tidaklah sangat baik; itulah mengapa saya bergantung pada imannya Yesus. Kalau tergantung pada iman orang yang sakit atau iman sang pengkhotbah, kita tidak punya banyak harapan. Kadang orang berkata kepada saya, “Peter, kamu benar-benar pahlawan iman.” Tentu saja, saya senang saat orang mengatakan hal-hal yang baik tentang saya, tetapi dalam diri saya sendiri, saya bukanlah seorang pahlawan iman. Sejujurnya, dalam diri saya sendiri, saya hanya memiliki iman yang kecil atau bahkan tidak memiliki iman, tetapi saya telah ribuan kali mengalami dimana kemampuan Yesus dan iman-Nya telah mengalir melalui saya. Karena Yesus tinggal di dalam saya, saya memiliki akses penuh pada iman-Nya. Saya bersandar pada-Nya.
Berpura-pura memiliki iman bisa membuat sangat tertekan. Bila dokter memberikan diagnosa bahwa saya akan meninggal dalam waktu tiga puluh hari, pikiran saya mengerti apa arti dari diagnosa tersebut. Saya tidak bisa memaksa diri saya untuk memiliki iman yang menghasilkan mujizat – saya membutuhkan iman dari Anak Allah. Saya akan berdoa, “Tuhan, seberapapun aku mencoba untuk percaya, seberapapun aku mencoba bermuka manis, aku tahu bahwa iman-Mu adalah satu-satunya iman yang bekerja. Yesus, aku cuma ingin mendekat kepada-Mu. Biarlah hidup-Mu, Firman, iman dan kuasa-Mu mengalir melalui diriku.”
Saat Yesus meredakan badai, para murid berada di atas perahu berteriak, “Kita binasa! Tuhan tolong kami!” Sementara itu Yesus tertidur di bagian bawah perahu. Kita mungkin dengan bodoh mencela Yesus, “Tidakkah Engkau memiliki rasa tanggung jawab, Yesus? Perahu hampir tenggelam dan Engkau malah tidur? Paling tidak para murid menunjukkan rasa tanggung jawabnya dan berteriak minta tolong.” Jika kita tidak mengetahui lebih lanjut, kita akan berpikir bahwa para muridlah yang memiliki iman. Jika Alkitab hanya mencatat bahwa ada tiga belas orang di perahu dan salah satunya sedang tidur, kita mungkin berpikir bahwa orang yang tertidur itu pastilah Yudas atau Tomas atau bahkan Simon Petrus dan bukan Yesus. Akan tetapi Alkitab mencatat dengan jelas bahwa yang tertidur adalah sang pencipta dan penggenap iman. Tidak ada kepanikan bersama Yesus.
jiwamu akan mendapat ketenangan
Saat Yesus mendengar Lazarus hampir meninggal kita dapat membaca, “Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; (Yohanes 11:6). Jika kita tidak mengetahui sebelumnnya bahwa Yesuslah yang dengan sengaja menunggu selama dua hari, kita pasti mengira itu adalah dari salah satu murid. Mungkin Yudas atau Tomas yang menyarankan penundaan tersebut. Kita mungkin berpikir bahwa karena hal itulah maka Yesus terpaksa harus bergegas ke rumah Maria, Marta dan Lazarus dan segera melakukan mujizat. Sekali lagi Yesus memberikan contoh tentang peristirahatan. Saat kita meninggikan Dia dan kita melihat betapa besarnya Dia dan kasih-Nya memenuhi hati kita, maka kita juga akan berada dalam peristirahatan. Iman yang penuh peristirahatan inilah yang membuat tumor meluluh dan piringan sendi yang tergelincir hernia, penyakit persendian serta peradangan menjadi sembuh.
Yesus selalu santai di segala situasi. Coba ingat peristiwa memberi makan lima ribu orang. Meskipun Yesus tahu apa yang akan Ia lakukan, Ia bertanya kepada Filipus, “Bagaimana menurutmu?” Yesus tidak berkata, “Akulah Mesias. Aku memiliki pewahyuan. Sebaiknya kamu mulai membawa keranjang-keranjang kosong kalau tidak mujizat ini tidak akan terjadi.” Tidak, Yesus berada pada peristirahatan.
Anda mungkin telah mendengar banyak khotbah yang membuat stres tentang bagaimana Anda harus menghasilkan iman. Tidak masalah bagi orang sehat untuk merasakan stres, tetapi bila Anda sedang berada di akhir hidup Anda dan dibawa ke sebuah ibadah kesembuhan dan saat Anda berada disana mereka menekan Anda dengan begitu banyak instruksi, hal itu sebenarnya lebih buruk daripada tinggal di rumah sakit. Itu bukanlah pelayanan Yesus. Karena Dia mengatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30)
Jangan biarkan ada sesuatu yang menghalangi antara Anda dan Yesus, meskipun itu adalah kesungguhan usaha Anda untuk memiliki iman .
Anda tidak perlu menjadi tertekan mengenai ukuran iman Anda. Akan tetapi, biarkan Yesus menjadi semakin besar bagi mata rohani Anda. Apakah Yesus cukup besar untuk menjamah keluarga Anda? Mengangkat tumor Anda? Cukup besar untuk mengatasi masalah paru-paru, psoroasis, enzima, migrain Anda? Apakah Yesus cukup besar untuk menyembuhkan kanker Anda? Seberapa besarkah Yesus Anda? Jangan biarkan ada sesuatu yang menghalangi antara Anda dan Yesus, meskipun itu adalah kesungguhan usaha Anda untuk memiliki iman. Beristirahatlah di dalam Yesus!
Sebelum kematian dan kebangkitan Yesus, saat kita masih berada dalam Perjanjian Lama, Yesus sering kali berkata “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Kalimat tersebut tidak pernah lagi diucapkan begitu masuk dalam Perjanjian Baru, setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Tidak pernah lagi orang percaya diberi pertanyaan, “Mengapa kamu tidak memiliki iman?” Anda tidak dapat menjadi orang percaya yang lahir baru tanpa memiliki iman. Begitu Anda menjadi seorang percaya, sang pemimpin dan pembawa iman kita kepada kesempurnaan itu tinggal di dalam Anda.
Kalimat “imanmu telah menyelamatkan engkau” tidak pernah diucapkan oleh Rasul Paulus, Yohanes ataupun Petrus, setelah Yesus telah menyelesaikan karya kematian dan kebangkitan-Nya. Akan tetapi, Simon Petrus memandang Eneas yang lumpuh dan berkata, “Yesus Kristus menyembuhkan engkau.” Filipus pergi ke Samaria dan “memberitakan Yesus pada orang-orang disitu.” Paulus berkata, “Aku hanya memberitakan ‘Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.’” Seluruh pesan dan terjadinya mujizat berpusat pada Yesus. Roh Kudus memuliakan Yesus. Saat kita meletakkan fokus pada Yesus, pada apa yang telah Ia lakukan dan pada kemampuan-Nya, Roh Kudus bekerja bersama kita.
Jika tidak ada yang terjadi saat kita pertama kali berdoa maka kita hanya perlu lebih mendekat kepada Yesus dan Firman-Nya.
Saat Ada menerima kesembuhan saat membaca halaman-halaman dalam buku ini, tolong jangan mengatakan, “Pelayanan Peter Youngren sangat luar biasa.” Tidak, kami tidak mau meninggikan sebuah pelayanan; kami hanya ingin meninggikan Yesus. Saya telah mendengar terlalu banyak pernyataan seperti, “Aku memiliki pelayanan untuk penyakit punggung; Aku punya pelayanan untuk telinga yang tuli; Aku memiliki pelayanan untuk menyembuhkan penyakit perut.” Inilah saatnya kita mengatakan, “Aku memiliki Yesus dan Dia saja sudah cukup.” Dengan cara ini kita tidak perlu mencari kesebuhan atau orang yang diurapi secara khusus, tetapi pengejaran kita adalah kepada Sang Penyembuh. Jika tidak ada yang terjadi saat kita pertama kali berdoa maka kita hanya perlu lebih mendekat kepada Yesus dan Firman-Nya. Kita tidak menyalahkan diri kita sendiri atau orang lain, akan tetapi kita meminta Roh Kudus untuk memberikan pewahyuan yang lebih jelas tentang Yesus.
Surat Ibrani mengatakan, “Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.” (Ibrani 4:10) Apakah Anda memperhatikan hal itu? Perhentian itu datang saat kita berhenti dari segala pekerjaan kita. Saat kita berhenti berusaha untuk memiliki iman agar bisa mendapatkan mujizat kta, kita dapat beristirahat dalam kasih dan kuasa Yesus.
Yesus berkata pada para murid “pada hari itu kamu akan berdoa…” Jadi, yang pertama, kita dapat melihat bahwa doa adalah milik dari orang percaya Perjanjian Baru! Kemudian Yesus melanjutkan dan berkata bahwa cara kita berdoa akan berubah saat kita telah masuk dalam Perjanjian Baru.
Beberapa kali saya mendengar dan melihat T.L. Osborn mengatakan bahwa setelah menemukan karya yang telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, ia masih membutuhkan waktu selama dua tahun untuk menyesuaikan kehidupan doanya selaras dengan hal itu.
Dalam newsletter GGN ini, Steve McVey dan Peter Youngren membagikan kepada Anda beberapa firman yang sangat menolong berkaitan dengan doa. Ada begitu banyak hal yang bisa dikatakan mengenai topik penting ini, jadi kami memberikan beberapa referensi material yang bisa anda miliki untuk pembelajaran lebih lanjut pada pojok pembelajaran. Beberapa material tersebut tersedia gratis di web, sebagian lagi harus dibeli. Kami sangat merekomendasikan pengajaran-pengajaran tersebut.
Mari kita meminta pewahyuan dan pengertian dari Tuhan mengenai betapa indah dan berkuasanya hak khusus berkaitan dengan doa. Mari kita juga terus bertumbuh dalam pengertian tentang bagaimana membedakan Firman Tuhan dengan benar saat berhubungan dengan doa sebelum dan sesudah Pentakosta. Salib Yesus membuat perbedaan besar dan saat ini Allah adalah Allah yang telah diperdamaikan dan menjadi Bapa kita yang penuh kasih.
Kami sangat bersyukur dengan email-email Anda yang mengatakan betapa Allah telah membawa perubahan dalam hidup, keluarga dan pelayanan melalui pewahyuan tentang Firman Allah. Anda berharga bagi Allah, dan merupakan kehormatan besar bagi kami untuk tetap terhubung dengan Anda melalui newsletter ini.
Beberapa cerita yang begitu kita dengar terus melekat pada ingatan kita sepanjang masa. Saya pernah mendengar cerita berikut ini satu kali saja, namun sudah tidak terhitung banyaknya saya membagikan cerita ini saat saya mengajar atau menyampaikan Firman di seluruh dunia.
Cerita ini mengisahkan tentang pasangan yang menemui pendeta untuk konseling. ”Suami saya tidak lagi mencintai saya,” keluh sang isteri. Suaminya menjawab, Tidak Pak Pendeta, itu tidak benar. Saya mencintai isteri saya!” “Tidak, dia tidak mencintai saya,” sang isteri berkeras. ”Sungguh, saya mencintai dia! Tapi saya hanya ingin agar dia memasak dan membersihkan rumah. Apakah itu permintaan yang berlebihan?” tanya sang suami. ”Lihat? Dia tidak mencintai saya”, jawab sang isteri, ”karena saya ingin agar ia tetap mencintai saya walaupun saya tidak memasak dan membersihkan rumah. Karena cinta itulah yang memberikan kekuatan dan sukacita bagi saya untuk melakukan semua hal itu.”
Ini adalah kebenaran yang sangat indah! 1 Yohanes 4:19 mengatakan, ”Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Kasih Allah BAGI kita dan DI DALAM kita yang menyebabkan hidup kita berubah secara radikal.
Kami berdoa agar Anda dikuatkan dan bertambah di dalam pewahyuan dengan membaca dua artkel yang dipersembahkan dalam newsletter ini. Ambillah waktu untuk mempelajari secara seksama pengajaran dari Pastor Åge M. Åleskjær tentang Hukum Kristus bekerja dalam hidup kita. Beberapa orang berpikir bahwa kalau kita mengatakan bahwa kita tidak dibawah hukum Taurat Musa, kita dikatakan tidak berhukum/durhaka. Namun, bukan seperti itu, karena di di Perjanjian Baru kita memiliki Hukum Kristus, Hukum Kasih. Hukum ini memiliki standar yang lebih tinggi dibanding hukum Musa, tetapi bekerja dengan jalan yang sangat berbeda.
Dalam artikel sebelumnya (“Membaca Firman Tuhan dalam Terang Perjanjian Baru”), saya menyebutkan tentang tiga kelompok berbeda yang dibicarakan oleh Alkitab, serta hukum-hukum yang memerintah dalam setiap kelompok tersebut. Orang Yahudi berada dibawah hukum Taurat Musa, orang non-Yahudi berada dibawah hukum kesadaran hati nurani, dan kita, gerejanya Allah, berada dibawah hukum Kristus. Apakah hukum Kristus itu? Alkitab menggunakan banyak nama untuk mendeskripsikannya, namun hanya mempunyai satu perintah: mengasihi. Dalam artikel ini kita akan mengambil waktu untuk mempelajari hukum Kristus ini, yaitu satu-satunya hukum yang membawa kemerdekaan!
Kasih yang telah dicurahkan ke dalam hati kita jelas sekali menginginkan agar bisa hidup dalam kehidupan yang menyenangkan Tuhan.
Kasih yang telah dicurahkan ke dalam hati kita jelas sekali menginginkan agar bisa hidup dalam kehidupan yang menyenangkan Tuhan. Inilah mengapa semua persyaratan yang diumumkan oleh Perjanjian Lama akan digenapi saat kita hidup oleh kasih Perjanjian Baru. Jadi saat beberapa orang berpikir bahwa kami mengabarkan tentang kehidupan yang tidak berhukum/melawan hukum, hal itu adalah kesalah pahaman yang besar. Kami memberitakan hukum yang lebih tinggi: hukum Perjanjian Baru, hukum kasih, hukum kemerdekaan yang sempurna, hukum kerajaan menurut Kitab Suci, yang hanya akan bekerja bila Yesus tinggal di dalam Anda!
Hukum yang sempurna ini melebihi semua persyaratan dari Perjanjian Lama, tetapi semuanya itu terjadi dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. Urusan orang Farisi dengan huruf hukum Taurat telah digantikan dengan aroma harum dari kehidupan yang datang dari hidup yang baru.
Kita telah berpindah dari jalan sempit huruf hukum Taurat kepada kemuliaan mulia dari Roh. Haleluya!
Tentu saja hidup yang baru berjalan selaras dengan standar benar dan salah dari Allah. Tetapi ini lebih dari pohon pengetahuan yang membedakan tentang yang baik dan yang jahat – ini adalah pohon kehidupan, membedakan antara kehidupan dan kematian. Banyak orang Farisi mencoba untuk melakukan dan mengatakan hal-hal yang benar, tetapi itu semua tanpa kehidupan. Tidak ada aroma kristus, dan hal itu memenuhi gereja-gereja Kristen dengan doktrin-doktrin tanpa kehidupan.
Oh, betapa senangnya saya saat saya mengalami hidup baru oleh Roh! Di Norwegia, orang percaya Pentakosta lama sering menyanyikan, “Rejoice that I came over to the Hallelujah side! (Bersukacitalah karena aku sampai pada sisi Haleluya)” Terhadap hal itu hati saya mengatakan, “Ya dan Amin.”
.
Kita adalah ciptaan baru; kita hidup dalam Perjanjian Baru dengan perintah yang baru.
Dalam Perjanjian Baru kita memiliki satu perintah, bukan sepuluh.
Dalam Perjanjian Baru kita memiliki satu perintah, bukan sepuluh. Satu perintah ini tidak ditulis pada “loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia” (2 Korintus 3:3).
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13:34).
“Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1 Yohanes 3:23).
Kunci untuk dapat hidup dalam perintah baru itu adalah “karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:5).
Perintah yang baru merupakan sebuah “persyaratan” yang mustahil dilakukan jika kita harus menghasilkan kasih tersebut dengan kekuatan kita sendiri.
Perintah yang baru merupakan sebuah “persyaratan” yang mustahil dilakukan jika kita harus menghasilkan kasih tersebut dengan kekuatan kita sendiri. Kalau demikian maka kita kembali ke awal lagi. Perintah yang baru lebih buruk daripada Sepuluh Perintah dari Gunung Sinai.
Tetapi solusi dari Allah sangat brilian! Dia sendiri yang menggenapi persyaratan itu di dalam kita dengan mencurahkan kasih-Nya kedalam hati kita; Dia memberikan sebuah sifat alami baru saat kita berpindah dari maut kepada hidup. Sifat alami yang baru ini mengasihi saudara-saudara, sama seperti yang dikatakan dalam 1 Yohanes 3:17. Karena itulah persyaratan tersebut digenapi di dalam kita.
Jika kita yang harus melakukan inisiatif awal – kalau kasih harus dimulai dengan usaha kita sendiri – persyaratan ini akan menjadi mustahil untuk bisa digenapi. Hal itu akan menjadi “misi yang mustahil (mission impossible)” jika kitalah yang harus menghasilkan kasih untuk menggenapi perintah tentang mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita dan mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri.
Jadi tanpa lahir baru, perintah ini tidak akan dapat dipraktekkan. Hal itu bisa dilakukan saat kita berpindah dari maut kedalam hidup karena kita menerima kasih, dan kemudian hal itu dituliskan dalam loh-loh daging yaitu hati kita. Kasih berasal dari Allah. Kita mengasihi karena Dia telah lebih dulu mengasihi kita. Kita mengampuni karena Dia telah mengampuni kita. Dia telah mati bagi kita saat kita masih menjadi orang berdosa.
Dengarkan hal ini:
“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1Yohanes 4:7-11).
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19).
Seluruh mukjizat didasarkan pada karya-Nya di dalam kita; perbuatan dan kemegahan kita tidak termasuk di dalamnya!
Ini adalah kunci dari perintah yang baru. Bukan kita yang telah mengasihi Allah – tetapi Allah yang telah mengasihi kita! Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita
Hal ini membunuh perbuatan agamawi dan memberikan semua kemuliaan bagi Tuhan. Hasilnya sungguh luar biasa. Kita mengasihi, kita memiliki kasih yang telah dicurahkan dalam hati kita, dan kita mengasihi sesama karena kita lahir dari Allah. Seluruh mukjizat didasarkan pada karya-Nya di dalam kita; perbuatan dan kemegahan kita tidak termasuk di dalamnya! Saat ini, ketika kita hidup dan melakukan perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya dan mentaati perintah-Nya, hal itu merupakan hasil dari Dia yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Bahkan saat Yesus memperkenalkan perintah baru dalam Yohanes 13:34, Dia tahu bahwa hal itu merupakan sebuah nubuatan tentang waktu yang akan datang setelah Kalvari. Dia mengetahui bahwa hal ini tidak akan bekerja sebelum Roh Kudus dicurahkan, karena oleh kasih Allah dicurahkan kedalam hati kita melalui Roh Kudus.
hal ini tidak akan bekerja sebelum Roh Kudus dicurahkan, karena oleh kasih Allah dicurahkan kedalam hati kita melalui Roh Kudus
Dalam Yohanes 13, 14, 15, 16 dan 17, Yesus bernubuat tentang masa setelah Pentakosta. Dia terus menerus merujuk kepada “saat Dia, Roh Kebenaran, telah datang,” dan Dia menggunakan ekspresi seperti “pada hari itu,” dll. Yohanes menjelaskan seperti ini:
“Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan” (1 Yohanes 2:7-10).
Mengapa Yohanes mengatakan bahwa mereka telah memiliki perintah ini sejak dari mulanya, hal itu bisa berarti bahwa dia mengacu pada fakta bahwa mereka telah memiliki perintah ini sejak mereka baru diselamatkan: “perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya.” Tetapi bisa juga berarti hal itu mengacu pada saat Yesus memperkenalkan perintah tersebut. Akan tetapi, sekarang telah ternyata benar “di dalam Dia dan di dalam kamu,” karena sekarang terang yang benar telah bercahaya.
Dalam banyak kasus, perintah yang baru adalah mengenai mengasihi sesama. Barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya, ia berada dalam kegelapan.
Firman menjelaskan:
“Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:8-10).
“Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14)
Jadi kita telah diberikan satu perintah saja, bukan sepuluh perintah. Apakah Anda bisa melihatnya?
Jika pada saat yang sama Anda memiliki pewahyuan tentang bagaimana Anda bisa menerima kasih ini, seperti yang telah kita lihat pada Roma 5:5, 1 Yohanes 3:14 dan 1 Yohanes 4:19, maka Anda telah menemukan jawaban tentang bagaimana Anda dapat hidup berkenan kepada Allah.
Beberapa Hal merupakan Permasalahan Individu
Perintah ini dituliskan dalam hati kita, karena itu, beberapa hal menjadi permasalahn individu bagi kita, misalnya sebagian orang menganggap suatu hari kudus sedangkan yang lain tidak. Tapi tidak satupun dari hal itu yang diperbolehkan untuk membenci yang lain. Dalam hubungan dengan makanan dikatakan bahwa bagi seorang percaya yang satu mungkin ia hanya makan sayur-sayuran sedangkan orang percaya lainnya mungkin makan segala jenis makanan. Bagian manapun tidak boleh digunakan untuk saling menghakimi karena kita semua hidup untuk Tuhan. Anda dapat menemukan tentang hal ini dalam Roma 14.
Pasal ini ditutup dengan mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. Karenanya, perintah Perjanjian Baru adalah kita harus hidup dalam iman dan kasih. Perintah baru adalah kasih, dan apapun yang dilakukan diluar kasih adalah dosa.
Jadi Anda akan menemukan bahwa perintah Allah dalam Perjanjian Baru adalah bahwa Anda harus berjalan di dalam kasih, karena dengan demikian Anda akan menggenapi hukum Taurat. Orang yang mengasihi tidak mencuri. Orang yang mengasihi tidak melakukan perzinahan. Orang yang mengasihi tidak berdusta. Orang yang mengasihi tidak membunuh. Dia yang mengasihi telah memenuhi hukum Taurat (Roma 13:8-10).
“Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
Firman Tuhan itu seperti cermin yang mengatakan kepada kita siapa kita sebenarnya
Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Yakobus 1:21-25).
Inilah dimana kuncinya ditemukan!
Firman Tuhan itu seperti cermin yang mengatakan kepada kita siapa kita sebenarnya. Coba pikirkan tentang semua yat dalam Alkitab yang berbicara tentang “di dalam Dia,” “oleh Dia,” “bersama Dia,” dsb. Alkitab menjelaskan tentang siapa kita di dalam Dia karena Dia tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia! Saat Anda melihat hal ini, sama seperti cermin yang digunakan untuk mengamati siapa Anda sebenarnya, dan setelah Anda pergi, Anda tidak melupakan seperti orang apa Anda sebenarnya, tetapi kalau Anda terus melihat ke dalam cermin, maka Anda akan melihat hukum sempurna yang memerdekakan dan Anda akan diberkati dalam apa yang Anda lakukan.
Jangan Lupakan Siapa Anda Sebenarnya
Mari kita melihat kalimat ini lagi: “ia segera lupa bagaimana rupanya.”
Ini adalah permasalahan umum bagi banyak orang Kristen. Mereka lupa siapa mereka di dalam Kristus, dan apa yang dapat mereka lakukan karena Dia hidup di dalam kita. Inilah mengapa kita harus terus menerus meneliti diri kita pada cermin, sehingga kita bisa mengetahui “orang seperti apa” kita itu sebenarnya. Kita harus tahu bahwa kita sekarang adalah ciptaan baru di dalam Kristus, bahwa kita telah mati terhadap dosa dan telah dibangkitkan kepada hidup yang baru. Kita telah diberkati dengan seluruh berkat rohani, telah disembuhkan oleh bilur-bilur Yesus, didudukkan bersama Dia di Sorga, Iblis ada di bawah kaki kita, dan Dia yang ada di dalam kita lebih besar dari apapun yang ada di dalam dunia.
Kita harus tahu bahwa kita sekarang adalah ciptaan baru di dalam Kristus, bahwa kita telah mati terhadap dosa dan telah dibangkitkan kepada hidup yang baru.
Itulah yang membuat Anda berkemenangan. Anda di atas dan tidak di bawah; kepala dan bukan ekor.
Banyak orang Kristen telah melupakan siapa mereka sebenarnya, dan itulah alasan mengapa mereka tidak merasakan diberkati dalam apa yang mereka lakukan.
Hukum yang Memerdekaan
Ini adalah nama mulia dari hukum yang memerintah kehidupan orang percaya. Ada banyak istilah yang menggambarkan tentang hukum-hukum yang berlaku setelah Kalvari. Berikut ini adalah beberapa istilahnya: hukum Roh kehidupan, hukum iman, hukum yang memerdekakan, hukum Kristus, yang merupakan perintah mengasihi.
Hukum yang memerdekakan disebut sebagai hukum yang sempurna atau “hukum sempurna yang memerdekakan.” Inilah hukum yang membawa kepada kemerdekaan yang sempurna. Itu benar-benar nama untuk kuasa yang bekerja di dalam kita saat Firman memegang kendali dan kita hidup dalam buah-buah penebusan. Karena itu, bila Anak memerdekakan Anda, maka Anda benar-benar merdeka!
Perhatikan bagaimana pesan kemerdekaan bertindak sebagai penghubung dalam Firman. Dia berkata: “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32).
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:36).
Kemudian dia berbicara tentang kemerdekaan dari hidup dibawah ikatan dosa. Paulus mengajarkan tentang kemerdekaan dari dosa diseluruh Roma pasal 6 dan 7, dia membawa kita bebas dari hukum Taurat. Dalam Galatia dia sangat memperhatikan tentang kemerdekaan yang kita miliki dalam Kristus (Galatia 2 dan 5:1). Surat Kolose berbicara tentang kemerdekaan dari ikatan, tradisi, perintah/hukum buatan manusia, filosofi dan kemunafikan.
Anda merdeka dari kutuk hukum Taurat, merdeka dari kuasa kegelapan, merdeka dari apapun yang mengikat Anda! Hukum sempurna yang memerdekaan inilah yang berlaku saat ini. Hukum yang memerdekakan adalah hukum yang sempurna.
Mari kita melihat sisi lain dari kemerdekaan ini. Ada perbedaan besar antara posisi individu dalam Perjanjian Lama dan Baru. Dalam Perjanjian Lama seseorang harus bertanya pada seorang “pelihat” (nabi) agar bisa mengetahui tentang kehendak Allah dan menerima tuntunan Allah. Hanya nabi yang memiliki Roh Allah, dan dia dapat mengajar sesama dan saudaranya serta mengatakan, “kenallah Tuhan.”
Tetapi sekarang, dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya telah menerima Roh Kudus dan “mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku” (Ibrani 8:6-12).
Perjanjian Baru, yang didirikan diatas janji-janji yang lebih baik memiliki keuntungan di dalamnya bahwa setiap individu memiliki Roh Allah dan dapat dipimpin oleh Roh Allah. “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Roma 8:14).
“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu—dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta—dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (1 Yohanes 2:27).
sebagai seorang individu, Anda sendiri dapat “mengenal Tuhan
Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan para guru, karena Allah menunjuk para guru di dalam gereja. Akan tetapi hal ini berarti sebagai seorang individu, Anda sendiri dapat “mengenal Tuhan.” Itulah keistimewaan dari orang percaya.
Sayangnya, lingkaran karismatik telah berdosa terhadap hal ini. Para pemimpin sering kali mengatur hidup seorang individu dengan cara yang salah, dan hal itu membawa sebuah kendali yang mengikat orang tersebut. Hal yang terburuk adalah memanipulasi nubuatan, dimana ada yang bernubuat terhadap orang lain untuk masuk kedalam pelayanan atau meminta mereka untuk melakukan hal-hal tertentu atau pergi ke tempat-tempat tertentu berdasarkan pada sebuah nubuatan. Itu sama sekali bukanlah Roh Perjanjian Baru.
Sebagai hamba-hamba Tuhan, marilah kita membantu orang untuk bertumbuh dalam pengenalan tentang hak-hak istimewa dan jalan-jalan Perjanjian Baru sehingga mereka dapat bertumbuh dan hidup sesuai dengan hal itu.
Sebagai para pelayan Injil, merupakan kehormatan bagi kita untuk membawa kabar baik dan informasi luar biasa kepada orang-orang yang membutuhkan Firman yang kita miliki.
Hampir membuat frustasi saat kita mengetahui bahwa kita memiliki pewahyuan yang akan membuat perubahan dalam kehidupan orang namun mereka menolak untuk memperhatikannya.
Lukas 19:39-42 (Amp) memberikan pengetahuan tentang bagaimana yang dirasakan Yesus saat hal tersebut terjadi pada-Nya. Ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa Dia menangis dengan bersuara karena ketidak mampuan mereka untuk mengerti pengajaran-Nya.
39 Beberapa orang Farisi yang turut dengan orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu.”
40 Jawab-Nya: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.” [Hab. 2:11.]
41 Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya [dengan bersuara], 42 kata-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu (untuk kemerdekaan terhadap semua keadaan sukar yang dihadapi sebagai hasil dari dosa dan akan dimana damai sejahteramu – keamananmu, keselamatanmu, kemakmuranmu, dan kebahagiaanmu – itu bergantung! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.
Orang-orang tersebut, seperti kebanyakan orang beragama pada saat ini, selalu ingin memarahi orang yang percaya dalam kemerdekaan total melalui Injil. Yesus menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui apa yang telah tersedia bagi mereka pada masa mereka.
Kita perlu agar Firman Tuhan menjadi sumber inspirasi – bukan tanggapan positif atau negatif dari mereka yang kita layani.
Mengetahui apa yang menjadi milik kita pada hari ini dan apa yang kita miliki untuk diberikan pada orang lain sangatlah penting. Kita perlu agar Firman Tuhan menjadi sumber inspirasi – bukan tanggapan positif atau negatif dari mereka yang kita layani. Ada ayat menarik dalam Yeremia pasal lima belas.
Dalam ayat yang ke-15 Yeremia melepaskan perasaannya mengenai sikap panjang sabar Allah terhadap orang-orang yang menentangnya. Faktanya, dia menyatakan bahwa sebagai hasilnya dia jadi menderita. Pernahkah Anda berada pada posisi seperti itu?
Tetapi perhatikan sumber dari inspirasinya
Yeremia 15:16 (Amp)
16 Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.
Para hamba Tuhan yang terkasih, saya tahu mungkin Anda merasa bahwa bangsa dan daerah Anda merupakan sebuah tantangan. Saya tahu bagaimana rasanya merasa sendirian. Akan tetapi, saya telah belajar bahwa firman-Nya adalah sumber sukacita saya dan hal hanya itu saja yang dapat membawa sukacita kedalam hati saya. Hal ini menjadi nyata khususnya saat orang-orang yang kita kasihi dan yang ingin kita bantu malah menentang Firman kasih karunia dan iman. Kita mungkin menangis bagi mereka, tetapi kita juga bersukacita bahwa kita semua dipanggil oleh nama-Nya. Saya harap Anda tidak membiarkan musuh melahirkan keputus-asaan dalam hati Anda.
Firman-Nya adalah sumber sukacita saya dan hal hanya itu saja yang dapat membawa sukacita kedalam hati saya.
Yeremia 15:19 (Amp)
19 Karena itu beginilah jawab TUHAN [kepada Yeremia]: “Jika engkau mau kembali [dan menghentikan suara-suara ketidak-percayaan dan keputus-asaan yang salah itu], Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina [membersihkan hatimu sendiri dari kecurigaan yang tidak layak dan tidak beralasan terhadap kesetiaan Tuhan], maka engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. [Tetapi jangan bersandar kepada mereka.] Biar mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali [kepada mereka].
Saya merasa saat saya menuliskan ini, ini adalah perkataan yang sesuai bagi sebagian dari Anda para hamba Tuhan yang luar biasa.
Ibrani 13:20-21 adalah doa saya untuk Anda:
20 Maka Allah damai sejahtera [yang memimpin dan membawa iman kita kepada kesempurnaan], yang oleh darah [yang memateraikan, mensahkan) perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, [Yesaya 55:3; 63:11; Yehezkiel 37:26; Zakharia 9:11.]
21 kiranya memperlengkapi kamu (menyeluruh, sempurna) dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan [sementara Dia sendiri] mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus (sang Mesias). Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (sepanjang masa)! Amin (terjadilah demikian).
22 Dan aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kata-kata nasihat ini kamu sambut dengan rela hati, sekalipun pendek saja suratku ini kepada kamu.
Jadilah kuat oleh pengetahuan bahwa Anda adalah harapan bagi DUNIA ini.
Seluruh dunia, sebagian besar tanpa sadar, sangat mengharapkan kasih karunia. Sebuah gambaran umum mengenai Tuhan atau dewa-dewa bagaikan suatu sosok ilahi yang sangat mahakuasa, tidak dapat didekati, acuh tak acuh terhadap pernderitaan manusia dan terus menerus harus dibuat senang. Tuhan tersebut biasanya ada dalam alam yang berbeda, terpisah dengan kita, sibuk dengan dirinya sendiri dan sedikit memiliki ketertarikan dalam urusan manusia, kecuali ada sesuatu yang bisa diperoleh bagi sang ilahi itu sendiri.
Selain menyenangkan orang-orang di sekitar kita, banyak orang merasa wajib untuk menyenangkan yang Mahakuasa. Konsep tentang Tuhan yang tidak puas melekat pada agama. Bahkan, tanpa hal tersebut sulit kita didapatkan agama seperti yang kita kenal untuk bisa terus bertahan. Kisah Injil sama sekali berbeda dari semua tuhan yang ada dalam bayangan pikiran manusia. Allah kasih karunia bukanlah pengambil, melainkan pemberi; tidak ada keegoisan di dalam Dia. Konsep tentang Allah yang tidak tersentuh merupakan kebalikan dari Injil. Allah, yang begitu penuh kasih sehingga Ia telah mengaruniakan Kristus, sangat ingin memberkati kita dengan kehidupan yang melimpah; tidak ingin ada pemisahan antara manusia dan Allah. Di hadapan Injil, mengapa masih ada begitu banyak orang terikat dengan mencoba menyenangkan sosok Allah yang dianggap sebagai sosok yang selalu tidak puas?
Di hadapan Injil, mengapa masih ada begitu banyak orang terikat dengan mencoba menyenangkan sosok Allah yang dianggap sebagai sosok yang selalu tidak puas?
Jawabannya selalu berkaitan dengan berbagai kelemahan manusia, berbagai area dimana kita merasa diri kita tidak dapat memenuhi harapan yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang Muslim yang taat akan merasa bersalah ketika ditengah bulan Ramadhan, bulan puasa, rasa lapar menguasai dirinya dan akhirnya ia makan sebelum waktu buka puasa tiba. Allah tidak senang dengna hal itu.
Orang Budha merasa bersalah karena tidak melakukan meditasi atau tidak berada ditempat saat para biksu datang untuk memberikan kesempatan berdana secara rutin. Orang Hindu kuatir dewa-dewa akan marah bila kuil ibadah dan doa-doa yang telah ditentukan diabaikan. Apakah dia akan mendatangkan murka para dewa?
Orang Kristen dihantui oleh kegagalan, bertanya-tanya apakah Tuhan tidak menjawab doanya karena dia masih ada dosa yang disembunyikan. Oh, dia mencoba untuk bertobat dan bahkan didoakan oleh pendeta terkenal. Namun, pencobaan itu masih ada. Kalau begitu Allah tidak dapat disenangkan.
Ada berbagai cara untuk mencari kelegaan – pretensi terhadap hal itu. Dengan bersikap tampaknya segalanya baik-baik saja. Jika orang lain berpikir bahwa kita baik, maka hal itu yang membuat kita baik, jika sekitar kita tidak setuju, kita juga merasa bersalah. Pandai dalam memasang muka baik, dan berkata-kata dengan istilah Kristen – Puji Tuhan, Haleluya, atau segalanya baik-baik saja. Ada juga cara melegakan diri dari kesalahan melalui aktifitas keagamaan yang dilakukan terus menerus untuk memperbaiki kesalahan – mengaku dosa setiap hari, bahkan mungkin beberapa kali dalam sehari. Terus-menerus menyelidiki hati kalau-kalau ada pelanggaran yang tersembunyi, kemudian mencoba mencari akarnya, lalu berjanji untuk tidak pernah menyentuhnya kembali.
Segala sesuatu yang telah saya gambarkan sejauh ini dapat ditaruh dibawah judul – HUKUM TAURAT.
Tiga puluh enam setengah kitab dalam Perjanjian Lama ditulis dalam periode waktu hukum Taurat, kecuali Ayub, Kejadian dan setengah dari kitab Keluaran. Mengapa Alkitab memberikan perhatian yang begitu besar terhadap hukum Taurat dan legalisme? Mungkinkah karena semua orang tergoda untuk mengandalkan usahanya sendiri dengan agama yang didasarkan pada peraturan daripada mengandalkan kasih karunia? Agama yang berdasarkan pada peraturan tidak hanya dimiliki orang Yahudi; hal itu adalah inti dari setiap agama.
Kenyataannya, model bisnis dari agama terletak pada dua konsep berikut ini: Tuhan yang tidak senang dan kesadaran akan kesalahan.
Kenyataannya, model bisnis dari agama terletak pada dua konsep berikut ini: Tuhan yang tidak senang dan kesadaran akan kesalahan. Setiap rabi, pastor, mulah, pendeta atau biksu yang dihormati harus tahu bagaimana caranya menegakkan gagasan tentang ketidakpuasan ilahi dan meningkatkan kesedihan yang mendalam dari hati nurani yang bersalah. Itulah caranya agar orang tetap terikat dalam agama. Tentu saja, Yesus telah menghancurkan model bisnis agama tersebut. Dengan satu pengorbanan, sekali untuk selamanya, Dia pergi dengan segala ketidaksenangan Allah, membuang dosa dengan pengorbanan diri-Nya.
Agama secara harfiah berarti “mengikat” dan hal itu mengikat Anda dalam sistem kepura-puraan serta penghukuman terhadap diri Anda dan dunia di sekitar Anda. Bagi mereka yang lemah dalam emosinya, hal ini membawa kepada suatu kehidupan yang membenci diri sendiri serta merasa dirinya tidak pernah cukup baik. Pikiran yang terus mengganggu pikiran adalah: “Kalau saja aku bisa ...,” “Seharusnya aku ...;” “Aku harus berusaha lebih keras untuk ...” Sementara, bagi mereka yang memiliki jiwa yang lebih kuat, saat menyadari adanya inkonsistensi dan kegagalan yang dialami, mereka masih melihat diri mereka lebih kuat dari orang lain. Tidak peduli kegagalan apa yang mereka lihat dalam jiwa mereka sendiri, mereka merasa berani karena berpikir bahwa mereka tidak seberdosa yang lain. Logikanya mungkin seperti ini: “Aku memang tidak seperti yang seharusnya, tetapi syukurlah aku tidak seperti ...” atau “Tak ada yang berusaha sekeras aku; tidak seorang pun berkomitmen seperti aku.”
Cepat atau lambat, agama membawa orang untuk mulai menyalahkan Tuhan
Cepat atau lambat, agama membawa orang untuk mulai menyalahkan Tuhan: “Aku tidak dapat mengerti mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doaku. Aku sudah melakukan semua yang aku ketahui: bertobat, berpuasa, pergi ke gereja. Aku tidak mengerti mengapa ini terjadi.”
Tujuan hukum Taurat adalah untuk membuat kita haus akan sesuatu yang lebih baik. Hanya ketika kita sampai pada akhir kemampuan kita sendiri, lelah, frustrasi serta kehabisan tenaga karena segala kekurangan kita, saat itulah kita siap untuk menerima kasih karunia.
Inilah undangan bagi dunia: Semua orang yang kehabisan tenaga karena segala kekurangan yang ada pada mereka – baik orang Hindu, Islam, Budha dan orang Kristen semuanya – ada jalan yang lebih baik. Tuhan, Sang Pencipta, telah memberikan anugerah bagi Anda yang sebenarnya tidak layak dan tidak pantas untuk diterima dan tidak bisa Anda usahakan. Ini benar – Anda mendapatkan sesuatu dari Tuhan dengan cuma-cuma; spenuhnya gratis. Mengapa? Karena Yesus yang telah membayarnya. Tidak diperlukan pembayaran lagi.
Keselamatan bukanlah kita memberikan hidup kita kepada Kristus.
Mereka, yang menerima pemberian kasih karunia ini, memperhatikan sebuah perubahan dramatis yang disebut keselamatan. Keselamatan bukanlah kita memberikan hidup kita kepada Kristus. Tidak, tapi lebih besar dari itu – Kristus lah yang memberikan hidup-Nya bagi kita. Sangat luar biasa, kita bahkan menjadikan keselamatan menjadi sesuatu yang legalistik: “Aku sudah menaikkan doa orang berdosa,” “Aku telah memberikan hidupku pada Kristus,” dll. Tuhan tidak menginginkan hidup Anda, dan apa yang dapat dipergunakan-Nya dari hidup Anda? Tidak, yang merupakan mukjizat adalah kehidupan Kristus masuk ke dalam Anda, dan sekarang Dia hidup di dalam Anda. Kekudusan, kebenaran dan kehidupan baru Anda sepenuhnya tergantung pada Kristus yang hidup melalui Anda. Perhatikan ayat-ayat berikut ini:
“Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30).
Kekudusan, kebenaran dan kehidupan baru Anda sepenuhnya tergantung pada Kristus yang hidup melalui Anda.
“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol 3:3).
“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).
Sekarang Kristus adalah kehidupan kita. Ya, kita memang masih berada dalam tubuh daging kita, tetapi tersembunyi di dalam Dia, dikasihi oleh Dia dan diberi kekuatan oleh iman-Nya di dalam kita.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Oleh kasih karunia.
Tidak layak: Sederhananya, Anda tidak layak menerima kebaikan Tuhan, dan tidak pernah bisa layak mendapatkannya. Satu-satunya cara untuk menerima itu sebagai pemberian kasih karunia dari Tuhan.
Tidak pantas: Tidak ada dalam kita yang pantas atau mewajibkan agar Tuhan memberkati kita. Apa yang tampak sepertinya kepantasan bagi kita – kerja keras, niat baik, dedikasi kita – sama sekali tidak pantas.
Tidak diusahakan: Anda pernah mendengar perkataan, “Tidak ada yang gratis” Memang pernyataan itu banyak benarnya, kecuali bila berhubungan dengan Tuhan, karena dengan Tuhan, segala sesuatu adalah cuma-cuma, karena pengorbanan Yesus telah membayar semuanya.
Ini adalah firman pendamaian. Begitu Anda mempercayainya, Anda tidak akan pernah menjadi sama lagi. Perhatikan bagaimana hal ini berpengaruh pada Paulus:
“Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku
untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis 20:24).
Di mana kita memusatkan perhatian kita membuat perbedaan besar di dalam hidup kita. Kol 3:1-2 menguatkan kita, ”Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
Kita harus menetapkan pikiran kita pada Kristus - apa yang telah Dia lakukan, siapa Dia di dalam kita dan bagi kita. Ketika kita memandang diri kita sendiri dan juga orang lain, kita melihat kekurangan dan ketidakcukupan, tetapi ketika kita memandang Dia, tidak ada kekurangan atau ketidakcukupan.
Dia adalah kebenaran, pengudusan dan hikmat kita. Dia adalah iman, kekuatan dan kemampuan kita. Dia adalah kehidupan, pengharapan, penyedia dan pahlawan kita! Seorang teman saya pernah berkata, “Saya tidak percaya pada superstar. Hanya ada satu bintang dan Dia hidup di dalam setiap kita.” Itu benar! Yesus adalah Bintang kita, dan karena Dia hidup di dalam kita, kita dapat keluar dan membuat perubahan di dunia ini.
Kami sangat senang dapat tetap berhubungan dengan Anda melalui Global Grace News. Newsletter ini diterima oleh para pemimpin dan pendeta di seluruh dunia. Anda ada di dalam hati kami dan Anda penting bagi Tuhan. Dia akan melakukan mukjizat dan merubah kehidupan banyak orang melalui Anda semua!
Secara khusus kami juga menyambut Anda yang baru pertama kali menerima newsletter GGN ini. Silahkan untuk melihat artikel-artikel sebelumnya – artikel-artikel tersebut tersedia di situs GGN.
Sudah bertahun-tahun saya kehilangan agama saya dan saat ini saya menjadi lebih baik. Saya tidak melebih-lebihkan tentang hal ini. Saya bersungguh-sungguh. Kadang orang-orang bertanya kepada saya, “Apa maksudmu berkata kehilangan agamamu?” Jawabannya sederhana.
Dengan mengerti arti sesungguhnya dari kata “agama/religion” akan menolong untuk bisa menjelaskan pernyataan saya. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut diambil dari bahasa Latin relgio, yang memiliki arti “kewajiban” atau “ikatan.” Kemungkinan kata tersebut diturunkan dari kata kerja religare, yang berarti “mengikat erat.” (Diambil dari The Dictionary of Word Origins, oleh John Ayto). Asal kata “agama” menjelaskan masalah tersebut. Agama mengikat manusia dengan erat, mewajibkan mereka mentaati suatu rangkaian standar dan perilaku. Sejalan dengan waktu, kata tersebut dihubungkan dengan kewajiban yang dimiliki manusia terhadap dewa-dewa kuno.
Agama adalah sebuah rumah kaca untuk legalisme karena berfokus pada tugas dan kinerja.
Dalam terminologi modern, kata kata itu menunjukkan ide melakukan tindakan tertentu dengan tujuan dalam pikiran untuk mendapatkan pertolongan ilahi. Agama adalah sebuah rumah kaca untuk legalisme karena berfokus pada tugas dan kinerja. Menempatkan kewajiban pada manusia untuk menggapai Tuhan dengan usahanya. Meletakkan ikatan pada manusia, sehingga membuat mereka berada dalam perbudakan.
Kekristenan yang sejati dalam banyak hal berbeda dengan agama. Sebuah komentar yang baru-baru dikeluarkan mengenai tinju menggambarkan apa yang saya maksud. Seseorang berkata, “Bagi saya, tinju seperti balet, kecuali tidak ada musik, tidak ada koreografi dan para penari saling memukul.” Perbandingan yang diberikan antara tinju dan balet menggambarkan kesatuan yang ada antara Kekristenan yang sejati dengan agama legalistik. Tidak ada sama sekali.
Kekristenan yang sejati didasarkan pada Injil. Kata “Injil” berarti “kabar baik.” Apa itu kabar baik? Bahwa kita tidak lagi harus mencoba untuk menggapai Tuhan melalui tindakan kita, tetapi Allah yang bertindak untuk mempersatukan kita dengan Dia. Ini adalah kabar baik bahwa Allah telah mengulurkan tangan kepada kita melalui pribadi Yesus Kristus. Ini adalah kabar baik bahwa salib dan kubur kosong cukup untuk membuat Allah untuk merobek kartu skor kehidupan Anda dan menyatakan permainan telah berakhir – dengan Anda sebagai pemenang. Yang kita butuhkan hanyalah percaya pada karya yang telah diselesaikan Kristus. Itu saja – tidak ada yang lain. Para murid pernah bertanya kepada Yesus, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yohanes 6:28-29). Percaya – itu saja. Beberapa orang mungkin bertanya, “Bukankah kita harus melakukan hal-hal tertentu?” Jawabannya adalah kita akan melakukan hal-hal tertentu, bukan karena kita sedang mencoba mendapatkan nilai dari Allah, tetapi karena hal itu merupakan bagian dari DNA rohani kita untuk menghasilkan perbuatan baik. Sebagian orang mungkin salah berpikir bahwa kita sedang berperilaku agamawi, tapi sebenarnya tidak. Kita hanya bertindak seperti siapa kita sebenarnya – wadah dan saluran kehidupan ilahi.
Agama akan mewajibkan Anda untuk bekerja bagi Allah, tetapi Yesus akan membebaskan Anda untuk melayani karena kasih.
Agama akan membelenggu Anda. Yesus Kristus akan membebaskan Anda. Agama akan mewajibkan Anda untuk bekerja bagi Allah, tetapi Yesus akan membebaskan Anda untuk melayani karena kasih. Agama akan membuat Anda lelah. Yesus akan terus menerus menyegarkan jiwa Anda dengan kehidupan ilahi. Ya, saya telah kehilangan agama saya. Akibatnya, saya menjadi semakin intim dalam mengenal Yesus. Saya tidak akan menggantikan pengenalan tersebut dengan agama apapun di dalam dunia ini. Saya masih melakukan banyak hal yang bagi orang lain mungkin terlihat agamawi, tapi bukan itu maksudnya. Saya hanya menikmati Yesus dan melakukan apa yang saya inginkan (yang memang bertepatan dengan apa yang la inginkan). Apakah Anda perlu membuang agama Anda? Anda akan menemukan diri Anda menjadi jauh lebih baik bila Anda menemukan hidup Anda di dalam Kristus. Ayo, lakukan saja. Ucapkan selamat tinggal kepada belenggu yang terikat pada kewajiban agama dan jatuh ke dalam tangan Yesus Kristus. Anda tidak akan menyesal.
.....................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Baru-baru ini saya mendengar khotbah online yang meratapi kenyataan bahwa orang Kristen tidak mengasihi Allah dengan cara yang seharusnya. “Bagaimana mungkin Anda mengharapkan akan dipakai oleh Allah jika Anda tidak sepenuhnya mengasihi-Nya?” kata sang pengkotbah dengan penuh semangat. Pesannya mengingatkan saya pada banyak khotbah yang serupa yang dulu pernah saya khotbahkan, namun hal itu lebih mengingatkan saya tentang bagaimana selama bertahun-tahun saya berjuang untuk mengasihi Tuhan dengan cara yang saya rasa harus saya lakukan.
Merupakan upaya yang tulus untuk mengasihi Tuhan, tetapi begitu sering hal ini menjadi salah arah. Seorang pengacara pernah datang kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya, ” “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Perhatikan apa yang ditanyakan oleh orang tersebut. Dia bertanya tentang hukum Taurat. Yesus menjawab pertanyaannya dengan mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Menanggapi pertanyaan orang itu tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan. Ayat ini telah sering kali disalahgunakan oleh orang-orang Kristen yang sebenarnya bermaksud baik karena mereka gagal untuk memahami konteksnya. Sangat penting untuk dicatat bahwa orang itu bertanya pada Yesus tentang hukum Taurat. Seaneh yang terlihat, saat kita percaya bahwa kebutuhan kita yang terbesar adalah mencoba untuk lebih mengasihi Allah, kita sedang menetapkan diri pada kegagalan. Karena memang itu yang dilakukan hukum Taurat pada seseorang.
Jadi jika Anda berfokus pada seberapa besar Anda harus mengasihi Tuhan, hukum Taurat itu akan menghukum Anda dan menyebabkan diri Anda dipenuhi dengan rasa bersalah.
Alkitab mengatakan bahwa Hukum Taurat membangkitkan nafsu dosa (Lihat Roma 7:5). Hukum Taurat merangsang pemberontakan terhadap hal yang dituntut olehnya. Jadi jika Anda berfokus pada seberapa besar Anda harus mengasihi Tuhan, hukum Taurat itu akan menghukum Anda dan menyebabkan diri Anda dipenuhi dengan rasa bersalah. Tidaklah mungkin untuk mengasihi Dia seperti yang kita inginkan sampai kita memahami betapa Ia mengasihi kita. Setelah itu, dan hanya setelah itu, kita akan menemukan kasih untuk Tuhan itu meluap dalam hati kita.
Pernahkah Anda menemukan hal ini nyata dalam kehidupan Anda sendiri? Bila Anda telah berfokus untuk lebih mengasihi-Nya, apakah Anda merasa Anda berhasil melakukannya? Atau apakah Anda malah menemukan diri Anda sungguh-sungguh berdoa untuk minta pertolongan agar dapat mengasihi Dia lebih lagi? “Tuhan, bantu aku untuk lebih mengaihi-Mu” merupakan bukti bahwa Anda tidak mampu dalam hal itu.
Alkitab mengatakan, “Kita mengasihi, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita” Apakah Anda ingin lebih lagi mengasihi Tuhan? Kalau begitu kuncinya adalah fokus pada seberapa besar Dia mengasihi Anda, bukan pada seberapa besar Anda mengasihi Dia di setiap saat dalam kehidupan. Hal yang paling penting dalam hidup Anda bukanlah harus berjuang untuk mengasihi Tuhan. Dengan kekuatan apa Anda dapat melakukan hal itu? Bukankah kita semua berjuang dalam area itu? Rahasianya adalah mulai berfokus pada seberapa besar Bapa sorgawi mengasihi Anda.
fokus pada seberapa besar Dia mengasihi Anda, bukan pada seberapa besar Anda mengasihi Dia
Bersamaan dengan bertambahnya pemahaman Anda mengenai betapa besarnya kasih yang Dia miliki bagi Anda, Anda akan menemukan bahwa kasih yang ada dalam diri Anda akan dibangkitkan dan termotivasi. Sebagai respon dari kasih-Nya, kasih Anda akan tumbuh dan berkembang sehingga Anda akan menemukan diri Anda semakin mengasihi-Nya, oleh karena itu, Anda bahkan akan lebih mengasihi semua orang yang ada di sekitar Anda.
Pandangan legalistis terhadap hubungan kasih yang kita miliki dengan Bapa menjauhkan fokus kita dari kebaikan dan kasih karunia-Nya serta meletakkan tanggung jawab pada diri kita. Kasih karunia mengingatkan kita bahwa Dia adalah pencetus dan kita merupakan responden. Alkitab mengatakan bahwa Allah mengasihi kita, semua itu tentang kasih-Nya bagi kita, dan ketika kita fokus pada hal itu dan bukan pada kasih kita kepada-Nya, kita akan menemukan bahwa mengetahui kasih Allah kepada kita menjadi katalis untuk mengalami dan menikmati kasih-Nya dengan cara yang lebih dalam daripada yang pernah kita kenal. Kita akan menemukan bahwa kasih kita kepada-Nya bertumbuh dengan pesat dengan sendirinya.
Matt. 7:13-14
a) Narrow gate
b) Difficult way
c) Few find the way
Luke 13:24
a) Narrow gate
b) Difficult – they will seek to enter but will not be able
Is this a description of the New Covenant and our way to heaven? Many times it has been taught so. However, when we study this we see that those two passages of scripture refer to the Law of Moses and thereby the Old Covenant.
1. As we read the context of the two passages of scripture, we see that it is a description of the OLD way - saving yourself by your own works.
Matt. 7:12 says, “This is the Law and the prophets.”
Luke 13:28,34-35 says the Jews thought they would be saved because they were Jews (Abraham’s seed) and they hardened their hearts.
In Luke 13:29-30 Jesus prophesied about the new way – when the Gentiles (us) should be saved, be the first.
2. The Law as a way to salvation was
a) Extremely narrow
b) Extremely difficult
c) No one could make it
Rom 3:19-20 says that by the Law the whole world became guilty before God. By the deeds of the Law NO flesh will be justified.
Luke 18:18-27 describes how the way through the Law is more difficult than for a camel to go through the eye of a needle! With men it’s impossible! Only God could save us! Only Jesus could go through that eye of the needle. Jesus fulfilled the Law and then annulled the Law (Matt. 8:17-18). Now there is another way!
1. Not difficult, but easy!
Luke 3:4-6 is a prophecy about John, but truly about Jesus!
Illustration: A bulldozer cleared the way. Now it’s a straight, even, easy way!
Rom 4:21, Heb 10:20 A new and living way
John 14:6 I am the way
Rom 10:13 Everyone that calls upon the name of
the Lord shall be saved!
John 1:12 Everyone who received Him got the
right to become a child of God.
John 6:37 Not be cast away!
2. Not a narrow path/way, but a highway!
Isaiah 35:8-10 A highway for the Lord! - a big road, many lines, so multitudes can walk there. (We have preached the opposite for many years!) Easy to find and easy to walk on! Even the fool shall not go astray! The devil cannot come on this way.
3. Not few, but many!
Luke 3:4-6 All flesh shall see the Lord’s salvation
Luke 2:10 Good news of great joy for all people
Rom 11:25 The fullness of the Gentiles
Luke 14:23 The house shall be full of guests
Rev 7:9 A great multitude that none can count
of all people groups, families, languages.
This will end in a crescendo of harvest. The harvest shall be brought in!!
Easy to find Jesus. Easy to get help from God. Easy to become saved (in all aspects of what salvation means. This includes healing, prosperity, deliverance, wholeness, etc.). (Acts 15:19, Heb 10:20, Heb 4:16)
Hari-hari ini saya banyak berpikir tentang jalan yang telah dipersiapkan Allah. Saya baru saja mengalami melangkah di jalan yang telah dirancangkan oleh Allah dalam suatu area tertentu, bahkan sebelum saya benar-benar mulai mendoakannya. Hal itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Saya terpesona – dan sekarang masih terpesona! Merupakan hak yang istimewa untuk hidup dalam kehidupan yang telah dipersiapkan!
Ef 2:10 (terjemahan amplified) mengatakan, “Karena kita ini buatan (buatan tangan-Nya) Allah [sendiri], diciptakan kembali dalam Kristus Yesus, [lahir baru] sehingga kita dapat melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya (dirancangkan sebelumnya) bagi kita [mengambil jalan yang telah Dia persiapkan jauh sebelumnya], Ia mau, supaya kita berjalan di dalamnya [menghidupi hidup yang baik yang telah Dia rancangkan sebelumnya dan telah disiapkannya untuk kita hidup di dalamnya].”
Saya juga teringat tentang undangan yang diberikan Yesus dalam Mat 11:28-30 bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.
Saat kita berjalan memikul kuk bersama Dia, Dia mengambil bagian yang berat dan kita mendapatkan bagian yang ringan. Sehingga seluruh kemuliaan hanya bagi Dia! Yesus menginginkan agar kita semakin mengalami realita berjalan dengan memikul kuk bersama dengan Dia dan hidup dalam hidup yang telah dipersiapkan sebelumnya!
Nikmati dua artikel pengajaran yang kami bawakan. Kami juga ingin menyambut secara khusus Anda yang baru pertama kali menerima newsletter ini.
Beberapa orang mengalami ketakutan kalau pesan kasih karunia malah menjadi alasan untuk berbuat dosa. Akan tetapi, Alkitab menunjukkan banyak contoh tentang bagaimana pesan kasih karunia menjadi jalan menuju hidup dalam kemerdekaan dan sukacita. Ikutilah terus dan kita akan segera melihat bahwa pesan ini memiliki akhir yang sangat bahagia!
Injil menjunjukkan bagaimana Yesus berfokus pada pesan kasih karunia, bahkan sebelum harga untuk itu dibayarkan di atas kayu salib. Dia tidak dapat menunggu untuk mengungkapkan tentang apa yang akan datang dalam Perjanjian Baru. Saat itu dan disana Dia memberitakan tentang Perjanjian Kasih Karunia Tuhan.
Yesus mengetahui bahwa Perjanjian Baru akan berdasarkan pada darah-Nya dan penebusan di atas kayu salib, sehingga Dia sekaligus saja memberikan gambaran kepada mereka karena Dialah Anak Domba Allah yang menanggung semua dosa dunia.
Firman Allah mengenai Perjanjian Baru adalah: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka” (Ibr 8:12)
“dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka” (Ibr 10:17).
Hal ini mengingatkan saya pada lagu gereja anak-anak dari masa kecil saya: “Dia telah melemparkan semua dosaku ke belakang-Nya. Dia tidak akan pernah melihatnya lagi; Dia tidak akan pernah melihatnya lagi! Seperti Timur dari Barat begitulah jauhnya mereka dariku, Dia tidak akan pernah melihatnya lagi…”
Inilah Injil yang berkuasa melepaskan tawanan – selamanya!
Mari kita mempelajari beberapa situasi dalam pelayanan Yesus yang dapat membuka mata kita – pertama dalam Lukas 7:36-50
Yesus memberikan khotbah yang sangat luar biasa mengenai hal ini dan pesan tersebut seharusnya menjadi bahan pemikiran bagi mereka yang mengatakan bahwa pengajaran tentang kasih karunia memberikan kebebasan untuk hidup di dalam dosa. Yesus sendiri menunjukkan betapa salahnya pemikiran semacam ini. Faktanya malah sebaliknya!
Lukas 7:36-50 memberikan kepada kita sebuah kisah mengagumkan tentang seorang perempuan yang datang ke rumah seorang Farisi. Dia hidup dalam kehidupan yang penuh dosa. Orang Farisi yang mengundang Yesus terkejut karena Yesus membiarkan perempuan itu membasuh kaki-Nya dengan air matanya, mengeringkannya dengan rambutnya dan mengurapinya dengan minyak wangi yang mahal.
Simon (orang Farisi), dengan pemikirannya sendiri, menyimpulkan bahwa jika Yesus adalah seorang nabi, Dia harusnya tahu perempuan macam apa yang menyentuh-Nya itu. Tetapi Yesus menangkap hal ini sampai ke akarnya dan Simon benar-benar melihat bahwa Dia adalah seorang nabi – Yesus telah membaca pikiran Simon!
Faktanya adalah perempuan tersebut mengerti kasih karunia disaat orang Farisi itu masih hidup dalam koridor ritual dan tindakan agama yang dingin dan sempit. Itulah mengapa Yesus menggunakan kesempatan ini untuk memberitakan Injil kepadanya. Mengapa Yesus menerima dimuliakan oleh perempuan berdosa itu? Itu karena perempuan tersebut telah menerima kasih karunia-Nya dan telah mengerti sepenuh apa dia telah diampuni. Itulah mengapa dia menyembah Yesus dengan air mata dan minyak wanginya yang mahal.
Kisah yang diceritakan Yesus kepada Simon untuk mengilustrasikan pesan-Nya adalah tentang dua orang yang berhutang pada seorang pelepas uang. Orang pertama berhutang lima ratus dinar, sedang yang lain lima puluh dinar. Tetapi kabar baiknya adalah saat “kedua orang tersebut tidak memiliki uang untuk membayar hutangnya, hutang mereka berdua dihapuskan oleh sang pemberi hutang.” Mari sejenak kita renungkan hal ini, karena ini adalah Injil yang indah!
Karena mereka tidak memiliki uang untuk membayarnya maka ia menghapus hutang keduanya. Ini adalah pesan sederhana dari Injil! “Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu” (Luk 7:42).
Ini adalah kisah tentang setiap umat manusia. Seluruh dunia telah bersalah dihadapan Allah; tidak seorang pun dapat diselamatkan dengan perbuatan mereka sendiri. Pendosa besar ataupun kecil seluruhnya bergantung pada kasih karunia!
Dengarkan apa yang dikatakan Paulus: “Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya” (Rom 4:4-8).
Allah dapat menghapuskan hutang kita karena Yesus telah membayarnya! Di atas kayu salib Yesus membayar harga untuk seluruh dosa dunia.
Efek dahsyat dari salib adalah “sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. (Ibr 9:26). “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibr 10:14).
Hal ini begitu dahsyat sehingga membutuhkan waktu untuk diresapi.
Yesus menyampaikan banyak khotbah mengenai hal ini!
Dalam Yoh 8:8-12, Alkitab menceritakan bagaimana Yesus mengampuni perempuan berdosa lainnya – perempuan yang dibawa oleh para ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus. Mereka berkata: “Perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.”
Hukum Taurat sangat jelas: hukum Taurat “memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.” Tetapi mereka tahu bahwa Yesus pasti menunjukkan belas kasihan, jadi mereka mencoba menjebak-Nya. Dapatkah Anda melihat tuduhan dari para ahli Taurat terhadap Yesus sangat mengingatkan kita tentang tuduhan dari beberapa pengajar Alkitab saat ini terhadap pengajaran kasih karunia? Hal ini seharusnya menjadi panggilan yang menyadarkan Anda!
Karena kisah dalam Yohanes 8 sangat terkenal, kita dapat langsung menuju pada inti dari pesan tersebut – pesan Yesus adalah: “Aku pun tidak menghukum engkau!”
Disini terletak kekuatan dan inti dari seluruh Injil!
Penghukuman adalah produk dari hukum Taurat. Karena kita tidak sempurna, tuntutan dari hukum Taurat akan membawa penghukuman. Itulah mengapa “pelayanan hukum yang tertulis” disebut sebagai “pelayanan penghukuman.” “Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu” (2 Kor 3:6-9).
Itu adalah Sepuluh Perintah Allah!
Satu-satunya bagian dari hukum Taurat yang terukir dengan huruf pada loh-loh batu adalah Sepuluh Perintah. Hal ini penting untuk dimengerti karena beberapa pengajar Alkitab mengatakan bahwa dibebaskan dari hukum Taurat hanya berarti kita bebas dari upacara hukum Taurat. Tetapi 2 Korintus 3:6-9 menyatakan dengan jelas bahwa Sepuluh Perintah adalah pelayanan yang membawa kepada kematian dan pelayanan hukum yang tertulis. Jadi, inti dari paragraf ini adalah agar kita tidak memiliki pelayanan penghukuman, karena kita adalah pelayan-pelayan Perjanjian Baru!
Perjanjian Baru adalah “pelayanan kebenaran” – kebenaran dari Kristus Yesus. Injil adalah yang menyatakan kebenaran oleh iman, bahwa Ia “membenarkan orang yang percaya kepada Yesus” (Rom 3:26).
Agar kita merasakan, inilah yang diberikan Yesus dengan menyatakan: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8:11). Saat perempuan itu menjadi bebas dari segala hukuman, pada saat bersamaan dia juga bebas dari hidup yang selama ini dia jalani!
Inilah kebenaran yang memerdekakan kita! Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka! (Yoh 8:32-36). Itulah mengapa kemerdekaan dimulai dengan menyadari bahwa semua penghukuman telah berakhir oleh pengorbanan Yesus yang sempurna. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rom 8:1).
Lukas 15 merupakan pasal yang luar biasa berkaitan dengan pemikiran ini. Yesus menyampaikan khotbah dengan tiga perumpamaan tentang sukacita di sorga setiap kali seorang berdosa bertobat.
Kisah tentang anak yang hilang menyampaikan pesan ini dengan sangat jelas: Bapa tidak mempunyai penghukuman terhadap anak; satu-satunya penghukuman adalah yang dimiliki anak itu terhadap dirinya sendiri. Dia mendakwa dirinya sendiri akan hidup yang dia jalani, sementara perhatian Bapa-nya hanya dengan menunjukkan pengampunan, sukacita dan kasih (Luk 15:20-24).
Hal ini selaras dengan 1 Yoh 3:19-23 dimana Firman mengajarkan bahwa hati kita bisa menuduh kita saat kita melakukan sesuatu yang salah dan hal itu mungkin akan menghilangkan kepercayaan diri kita saat berdoa. Itulah mengapa sangat penting agar hati nurani kita disucikan dengan terang Injil dan berada pada jalan yang benar dalam hidup kita. Akan tetapi, intinya disini adalah “kapanpun hati kita menuduh kita, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.”
Dengan kata lain: Dia tidak pernah menghukum kita, karena Dia tidak pernah mengingat lagi dosa-dosa kita. Dia tidak lagi menghitung dosa-dosa kita sejak Yesus membayar korbannya; kita telah disucikan sekali untuk selamanya dan kita tidak lagi membutuhkan pengorbanan untuk dosa. Dia membuang dosa dengan pengorbanan-Nya. Hal yang paling dahsyat adalah hal tersebut tidak hanya bagi kita orang Kristen, tetapi bagi seluruh dunia! (2 Kor 5:19)
Yohanes menuliskan tentang hal ini dan berkata supaya kita jangan berbuat dosa. “Namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yoh 2:1-2).
Apakah ini suatu alasan untuk berbuat dosa? Sama sekali tidak! Ikuti terus dan kita akan segera melihatnya.
Inilah akhir yang mengesankan!
Ini adalah hasil dari Injil Kasih Karunia Allah.
Apa yang terjadi pada perempuan yang diceritakan dalam Lukas 7:42-47?
Pesannya adalah karena ia telah menerima begitu banyak kasih karunia, dia mengasihi Yesus lebih dari orang lain! Pengalamannya akan kasih karunia ini menjadikannya sebagai pengagum terbesar. Dia mengagumi Yesus dengan kekaguman yang tulus, melalui air matanya dan minyak wangi yang mahal. Bila dibandingkan, cara orang Farisi menerima Yesus itu menyedihkan dan penyembahan kepada Allah dari banyak orang Kristen yang mengandalkan kebenaran pribadi sia-sia saja bila dibandingkan dengan mereka yang telah merasakan kepenuhan kasih karunia demi kasih karunia.
Apakah hasil dari hal ini saat perempuan dalam Yohanes 8 mengalami bahwa Yesus tidak menghukumnya?
Perempuan itu dan orang lain tahu bahwa ia telah gagal; ya, gagal besar. Akan tetapi, kasih karunia yang dia temukan yang memberikan akhir bahagia dari kisah tersebut: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8:11).
Kemerdekaan dari hidup dalam dosa datang setelah sepenuhnya mengalami kemerdekaan dari penghukuman.
Itulah mengapa tidak benar bahwa pesan kasih karunia memberikan kebebasan untuk melakukan dosa. Tetapi benar-benar sebaliknya: kasih karunia memberikan kemerdekaan dari hidup dalam dosa.
Apa yang dikhotbahkan dalam Lukas 15?
Apakah anak yang terhilang kembali menginginkan hidup bersama babi setelah menerima perjamuan mewah dari Bapanya? Tidak dan tidak mau lagi!
Dia bersukacita dalam perayaan dan dia menikmati haknya sebagai anak dalam rumah itu. Disana ada perayaan, sukacita, musik dan tarian, sementara anak yang satunya berdiri di luar. Dia adalah budak hukum Taurat, tinggal di rumah, menyatakan bahwa dirinya “tidak pernah tidak taat pada perintah.” Dia menolak untuk masuk!
Itulah mengapa pesan kasih karunia adalah jalan menuju hidup yang merdeka dan penuh sukacita – pesan ini memiliki akhir yang sangat bahagia!
Tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh anak yang tinggal di rumah itu.
Anda tidak perlu menunggu sampai hari Natal agar dapat berjalan dalam damai dan sukacita. Anda dapat bersukacita terlepas dari situasi yang sedang Anda hadapi karena Allah ingin agar Anda untuk mengambil sikap hidup di takhta dan beristirahat saat Dia mengurus segala hal lainnya untuk Anda!
Saat ini, Yesus sedang duduk di sebelah kanan takhta Bapa (Ibrani 8:1). Alkitab mengatakan bahwa sama seperti Kristus, kita juga ada di dalam dunia ini (1 Yoh 4:17). Ini berarti bahwa kita juga duduk di sebelah kanan Bapa.
Sekarang, duduk adalah gambaran dari beristirahat. Dalam Perjanjian Lama, para imam tidak pernah duduk. Tidak ada kursi dalam tabernakel Musa ataupun di dalam Bait Suci karena pekerjaan mereka tidak pernah selesai. Tetapi Yesus duduk karena pekerjaan-Nya sudah selesai (Yoh 19:30, Ibr 10:11-13). Tuhan berkata kepada saya, “Anak-Ku, katakan pada umat-Ku untuk memiliki sikap hidup di takhta.” Jadi apa artinya memiliki “sikap hidup di takhta?”
Mazmur 110:1–2
1 Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” 2 Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu!
Dalam bahasa Ibrani, kata “TUHAN” yang pertama mengacu pada Yehova, dan kata “tuan” adalah Adonai. Karena itu, ayat pertama sebenarnya dibaca, “Demikianlah firman Yahweh kepada Adonai ku…” Setelah Yesus mengalahkan dosa dan maut, dan bangkit dari antara orang mati, Dia kembali pada Bapa, dan Bapa berkata, “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.” Jadi sikap hidup di takhta yang dimiliki Yesus adalah duduk dan menantikan Bapa-Nya membawa semua musuh yang telah dikalahkan-Nya menjadi tumpuan kaki-Nya.
Pada masa Alkitab, musuh yang telah dikalahkan dibawa dengan diikat rantai dan raja yang menang akan duduk diatas takhtanya dan meletakkan kakinya ke atas punggung musuh yang telah dikalahkan sebagai tanda kemenangan. Sama dengan hal itu, musuh yang telah ditaklukkan oleh Yesus diseret kepada-Nya satu persatu dan diletakkan di bawah kaki-Nya.
Efesus 1:20, 22–23 (NIV)
20…membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga… 22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. 23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya…
Kita, gereja, adalah tubuh Kristus, dan siapakah yang membuat musuh-musuh itu menjadi tumpuan kaki kita? Bukan kita, tetapi Allah sendiri! Firman Allah adalah kebenaran dan Dia menepati Firman-Nya. Allah mengatakan kepada kita untuk memiliki sikap hidup di takhta seperti Yesus – beristirahat, sementara Dia membuat musuh-musuh kita menjadi tumpuan kaki kita. Jadi setiap harinya kita memiliki segala hal, termasuk musuh-musuh yang telah dikalahkan seperti penyakit, kemiskinan, depresi dan segala jenis kutuk, diletakkan di bawah kaki kita.
Apakah Anda ingin mengetahui definisi Allah tentang perhentian-Nya? Ibrani 3 menggambarkan bagamana bangsa Israel tidak diperbolehkan masuk ke dalam tanah perjanjian karena mereka meragukan Firman Allah. Akan tetapi, alih-alih mengatakan “Mereka tidak akan masuk tanah perjanjian-Ku,” Allah menyebut tanah perjanjian sebagai “tempat perhentian-Ku.”
Ibrani 3:11 sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”
Ini berarti apa yang berarti tanah fisik bagi bangsa Israel di dalam Perjanjian Lama, bagi orang percaya saat ini adalah tempat yang penuh dengan kasih karunia dan peristirahatan — tempat perhentian Allah! Itulah warisan Anda saat ini. Allah ingin membawa Anda keluar dari kekurangan dan masuk kedalam tanah yang penuh kelimpahan! Dia ingin membawa Anda keluar dari penyakit kedalam kesehatan prima! Dan tanah perjanjian ini adalah tempat perhentian-Nya.
Firman Allah selalu mengatakan kepada kita, “Jangan takut, jangan takut!” Tetapi tahukah Anda bahwa ada satu hal yang dikatakan dalam Alkitab agar kita takuti?
Ibrani 4:1
1 Sebab itu, baiklah kita waspada (takut), supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.
Dalam Ibrani 4:1, Allah mengatakan kepada kita untuk takut bila kita tidak masuk kedalam perhentian-Nya. Saat ini, banyak dari kita kuatir terhadap banyak hal termasuk segala hal yang Allah katakan agar kita tidak mengkuatirkannya. Tetapi satu hal yang Allah katakan agar kita takuti, malah tidak kita takuti!
Ada pelajaran lain yang dapat kita pelajari dari kisah ini. Allah berkata kepada bangsa Israel bahwa Ia telah datang untuk membawa mereka ke dalam “sebuah tanah yang penuh dengan susu dan madu” (Keluaran 3:8). Ini berarti bahwa tanah perjanjian merupakan tempat yang penuh dengan kelimpahan dan kepenuhan. Hal itu juga merupakan janji yang pasti; sebuah pernyataan tentang apa yang pasti akan dilakukan oleh Allah.
Akan tetapi, seperti apa sikap umat Allah saat mereka mencapai Kadesh-Barnea, perbatasan antara padang gurun dan tanah perjanjian? Mereka mengutus dua belas pengintai kedalam tanah perjanjian selama empat puluh hari dan memilih untuk percaya pada laporan sepuluh pengintai yang berkata bahwa bangsa Israel tidak dapat mendudukinya karena tanah tersebut didiami oleh para raksasa dari keturunan Enak (Bilangan 13:33).
Dalam bahasa Ibrani, kata Enak berarti “rantai” atau “rantai leher. Rantai di sekeliling leher adalah lambang dari kuk yang membebani Anda. Meskipun Allah telah melepaskan bangsa Israel dari penguasa mereka di Mesir dan mereka tidak lagi menjadi budak, mereka masih memiliki mentalitas sebagai budak. Tidak berfokus pada kebaikan dan janji Allah, bangsa Israel malah berfokus pada masalah raksasa mereka – Anakim – dan mereka terbebani dengan kecemasan dan ketakutan.
Saat ini, beberapa dari kita masih memiliki mentalitas budak ini. Kita sangat fokus pada “Anakim” kita – permasalahan kita dan gejala-gejalanya – dibanding dengan karya yang telah diselesaikan Yesus di atas kayu salib, sehingga kita tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian perhentian kita.
Sekarang, saya ingin memberikan pertanyaan pada Anda seperti yang ditanyakan Allah kepada saya, yang juga harus saya jawab. Pernahkah Anda membaca kisah tentang dua belas pengintai dan bertanya pada diri Anda sendiri apakah Anda akan memihak pada Yosua dan Kaleb – dua pengintai yang berkata, “Mari kita segera masuk dan merebut tanah itu!” – atau apakah Anda juga akan setuju dengan kesepuluh pengintai yang lain?
Nah, Roh Kudus berkata, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun” (Ibrani 3:7-9). Dengan kata lain, apakah permasalahan Anda lebih besar dari apa yang dikatakan Allah mengenai situasi Anda? Sebelum tubuh Anda sembuh, sebelum uang masuk ke dalam rekening bank Anda, sebelum semua permasalahan dalam hidup Anda terpecahkan, apakah Anda mau percaya bahwa Allah akan melepaskan Anda sesuai dengan Firmannya dan Anda tetap berjalan dalam peristirahatan?
Allah ingin agar Anda memiliki pewahyuan bahwa apapun yang Anda butuhkan agar Dia lakukan bagi Anda telah selesai dilakukan karena Yesus telah menyelesaikan semuanya bagi Anda, dan Allah bertanya, “Walaupun ada raksasa, maukah kamu naik dan masuk ke dalam tanah perjanjian perhentian-Ku? Maukah kamu sadar akan perhentian daripada sadar akan raksasa?”
Apa yang terjadi saat Anda menjadi sadar akan perhentian? Mari kita melihat rahasia yang tersembunyi dibalik kisah tentang bagaimana Yesus menyembuhkan orang yang telah menderita lumpuh selama 38 tahun.
Yohanes 5:8-9
8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” 9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.
Saya bertanya kepada Tuhan mengapa Dia menyuruh orang tersebut untuk mengangkat tilamnya. Mengapa tidak langsung menyuruh dia untuk bangkit dan berjalan? Lalu Dia menunjukkan kepada saya bahwa tilam itu adalah gambaran dari perhentian. Jadi apa yang sebenarnya dikatakan Yesus pada orang itu adalah, “Bangunlah, angkatlah perhentianmu dan berjalanlah!”
Perhatikan bahwa hari itu adalah hari Sabat, hari perhentian? Karena itu, yang dikatakan Allah adalah saat Anda berhenti/beristirahat, Dia bekerja! Bukankah itu luar biasa?
Akan tetapi, pada saat itu ada sekelompok orang yang tidak senang saat Tuhan menyembuhkan orang lumpuh itu.
Yohanes 5:10-12, 16
10 Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” 11 Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.” 12 Mereka bertanya kepadanya: “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?... 16 Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.
Orang-orang religius marah karena saat itu adalah hari Sabat. Mereka memandang kesembuhan sebagai pekerjaan. Bagi mereka menyembuhkan orang pada hari peristirahatan berarti Yesus bekerja pada hari yang salah!
Sekarang, jika saja Anda bertemu dengan orang itu, bukankah Anda akan bertanya kepadanya, “Hai, apa yang terjadi padamu? Bagaimana ceritanya kamu bisa sembuh?” Akan tetapi orang yang bertemu dengannya berkata, “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.” Lihatlah, orang ini tidak bisa berjalan selama 38 tahun! Tetapi orang-orang disekitarnya hanya memperhatikan bahwa dia mengangkat tilamnya di hari peristirahatan. Seperti inilah orang religius: mereka tidak bisa melihat berkat, hanya melihat masalah.
Frase Terakhir “melakukan hal-hal itu pada hari Sabat” Dalam Bahasa Aslinya, Yunani, merupakan bentuk kata kerja yang tidak sempurna (imperfect tense). Kata kerja yang tidak sempurna biasanya memiliki arti berlanjut atau tindakan yang diulang-ulang. Ini berarti bahwa sudah menjadi kebiasaan bagi Yesus untuk menyembuhkan orang pada hari Sabat dan dia sering kali melakukan mukjizat semacam itu pada hari Sabat – pada hari dimana manusia berhenti, Allah mampu bekerja!
Contoh lain adalah kesembuhan seorang perempuan yang telah delapan belas tahun bungkuk punggungnya. Saat Yesus menyembuhkannya di rumah ibadat, kepala rumah ibadat itu, pendeta dari perempuan itu, berkata, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat” (Lukas 13:14).
Apa tanggapan Yesus?
Lukas 13:15-16
15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”
Yesus berkata bahwa kesembuhan perempuan itu terjadi hanya karena ia adalah anak, anak Allah. Tetapi beberapa orang Kristen masih berpikir bahwa kesembuhan adalah usaha manusia, bukan karya Allah. Mereka terus menerus berpikir, “Aku masih kurang baik melakukannya, itulah mengapa aku tidak disembuhkan.” Mereka tidak bisa bercaya bahwa kesembuhan dapat sesederhana seperti berada pada peristirahatan dalam karya Allah yang telah selesai, mengatakan dan percaya, “Tuhan Yesus, sama seperti Engkau bebas dari semua sakit dan penyakit, begitu juga aku di dalam dunia ini.”
Bahkan, tahukah Anda bahwa kata “disembuhkan” dan “santai” dalam bahasa Ibrani saling berhubungan? Salah satu nama Ibrani dari Allah adalah Yehova Rapha yang berarti “Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau” (Keluaran 15:26). Kata rapha dalam bahasa Ibrani tidak hanya berarti “menyembuhkan” tapi salah satu akar pengertiannya juga berarti “santai.” Jadi kesembuhan datang dengan berada pada peristirahatan, bukan dengan usaha. Kematian yesus telah memberikan kita kehidupan dan keutuhan.
Allah tidak berkata, “Tunggulah sampai semua musuhmu telah dihancurkan, sampai semua permasalahan dalam hidupmu terpecahkan.” Dia berkata, “Beristirahatlah dulu sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”
Apa yang Anda lihat bila berkaitan dengan kesembuhan bagi tubuh Anda yang sedang sakit atau terobosan bagi tantangan keuangan Anda? Apakah Anda melihat kekurangan itu dan berkata, “Biarkan aku keluar dari situasi ini dulu. Biarkan aku mendengar laporan dokter yang mengatakan segalanya baik-baik saja, baru kemudian aku bisa beristirahat”?
Kita temukan sulit untuk beristirahat karena sifat alami manusia kita lebih condong pada kekuatiran dan kegelisahan. Iblis suka untuk melihat sifat alami manusia berkuasa di dalam gereja dan melihat Anda percaya bahwa Anda hanya dapat beristirahat saat segala sesuatu berjalan dengan baik atau saat Anda melihat terobosan Anda. Berhentilah berkata, “Setelah anakku lulus SMP, aku akan berhenti kuatir dan mulai beristirahat.” Tahukah Anda? Setelah selesai SMP, ada SMA. Kemudian, setelah anak Anda lulus SMA, Anda akan berkata, ”Aku pikir sepertinya saat anakku sudah lulus kuliah, maka aku akan beristirahat.” Lalu Anda tidak akan pernah beristirahat!
Saya ingin membagikan tentang dua perempuan yang menghadapi kondisi keuangan pada masa kelaparan. Naomi adalah seorang yang takut Tuhan dan inilah yang dia katakan kepada Rut, menantunya.
Rut 3:1 (KJV)
1…Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia?
Dengan kata lain, Naomi berkata kepada Rut, “Apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat peristirahatan bagimu supaya engkau berbahagia? Bukankah aneh bahwa Naomi menyebutkan peristirahatan lebih dulu? Bukankah sifat alami manusia lebih cenderung mengatakan, “Apakah tidak ada baiknya mencari hal-hal yang membahagiakan kamu, supaya kamu bisa beristirahat?”
Tetapi Allah ingin sifat alami-Nya yang berkuasa dan Dia sangat mengasihi Anda sehingga Dia berkata, “Kamu telah didudukkan di takhta. Kamu beristirahat dulu. Duduk sampai aku meletakkan semua musuh yang telah ditaklukan – situasi keuangan, gejala-gejala penyakit dalam tubuh Anda – di bawah kakimu.”
Allah ingin agar Anda menemukan peristirahatan ditengah-tengah badai. Saat Anda berisitrahat di dalam Dia, segala sesuatu akan berjalan dengan baik. Hal ini tidak berarti bahwa tidak akan ada musuh. Tetapi Anda akan memerintah di antara musuh Anda! (Mazmur 110:2)
Mazmur 23:5 berkata bahwa Allah menyediakan hidangan bagi Anda di hadapan, bukan tidak dihadapan, musuh Anda. Beberapa dari Anda mungkin berkata, “Tuhan, bagaimana mungkin Engkau suruh aku makan sekarang? Gejalanya masih ada dalam tubuhku! Rekening bank ku masih kurang! Tuhan, aku akan makan enak dan merayakannya saat semua permasalahanku telah terpecahkan.” Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak mengikuti sifat alami manusia. Allah berkata, “Aku akan menyediakan hidangan. Kamu makan dulu! Kamu makan di hadapan lawanmu, dan Aku yang akan membereskan lawanmu.”
Yesaya 53 menggambarkan penderitaan Yesus dan apa yang telah Dia capai bagi kita di atas kayu salib. Dikatakan bahwa Dia telah menanggung penyakit kita dan memikul kesengsaraan kita. Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh!
Alasan mengapa kita dapat beristirahat dan bersukacita di tengah musuh kita adalah karena Yesus telah mengalahkan mereka saat Dia menggantikan tempat kita dan menanggung dosa-dosa kita di atas salib. Dia telah melakukannya dan karya itu telah selesai (Ibrani 10:12-14). Kita hanya perlu memiliki sikap hidup di takhta dan beristirahat di dalam Dia.
Jadi, saat kita beristirahat dalam karya yang telah diselesaikan-Nya, seperti apakah seharusnya respon kita? Bagaimana kita mengambil bagian dari semua yang telah dilakukan Yesus? Tepat setelah Yesaya 53, kitab suci mengatakan:
Yesaya 54:1-3
1 Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN. 2 Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! 3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa…
Yesus telah mengalahkan musuh-musuh dan Allah berkata pada perempuan mandul untuk bersukacita! Perempuan mandul adalah gambaran dari seseorang yang belum melihat hasil, tanda-tanda kesehatan dalam tubuhnya atau tanda-tanda kelimpahan dalam situasinya. Menjadi mandul adalah gambaran dari kutuk.
Firman mengatakan bahwa Allah tidak pernah bermaksud agar kita menjadi mandul. Allah memberkati dan memerintahkan manusia untuk beranak cucu (Kejadian 9:7). Jadi dalam Yesaya 54, Allah berkata, “Bersorak-sorailah dan bersiaplah untuk berkatmu! Perluaslah kemahmu dan bersiaplah untuk bertumbuh! Jangan menghemat; perluas daerahmu dan keturunanmu akan mewarisi bangsa-bangsa.”
Bayangkan Anda adalah perempuan mandul yang bernyanyi, “Haleluya! Aku ibu banyak anak! Tuhan mengasihiku!” Iblis akan datang dan berkata kepada Anda, “Ibu banyak anak? Dimana anakmu? Bukankah kamu seorang munafik?” Tetapi jangan berhenti bergembira. Allah ingin agar anda menikmati hidup sebelum masalah Anda terpecahkan. Mulailah bernyanyi bahkan sebelum Anda melihat manifestasinya. Berhentilah menunda sukacita dan kedamaian Anda. Berhentilah menunggu hari Natal untuk mulai merayakannya. Buatlah setiap hari menjadi perayaan akan hidup, dan belajarlah beristirahat di tengah segala permasalahan Anda.
Pergi kepada Yesus untuk peristirahatan seharusnya menjadi respon harian kita. Yesus sendri mengatakan kepada kita agar datang kepada-Nya dan Dia akan memberi kelegaan (peristirahatan).
Matius 11:28
28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Kapanpun Anda berbeban berat dengan kekuatiran atau kecemasan, terbebani oleh kuk hukum Taurat atau agama, atau berada di tengah musuh yang menekan Anda, datanglah pada Yesus dan Anda akan menemukan kelegaan di dalam Dia. Bersukacitalah, duduklah dan menyangga kaki Anda keatas, karena Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan membereskan musuh-musuh Anda dan menjadikannya tumpuan kaki Anda!
“Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor. 5:16-17).
“Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” (Yohanes14:19:20).
Mengenal Kristus setelah kebangkitan merupakan sebuah dimensi luar biasa dari kelahiran baru. Yohanes 14:20 menyatakan bahwa Yesus tidak hanya berbicara tentang penampakan yang terjadi selama empat puluh hari diantara kebangkitan dan kenaikan. Tetapi disini Dia berbicara tentang kita “melihat Dia” saat kita hidup di bawah Perjanjian Baru – “pada waktu itu” disaat Roh Kudus telah datang dan Yesus telah naik ke sorga.
2 Kor. 5:16-17 membuat hal ini semakin jelas. Paulus berbicara tentang mengenal Kristus dengan cara yang berbeda dengan yang pernah mereka alami – mereka yang mengenal Dia menurut daging.
Yesus berjanji untuk menyatakan diri-Nya pada mereka yang mengasihi-Nya (Yohanes 14:21). Karena itu kita dapat berkata bahwa, “persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1 Yohanes 1:3).
Tanpa kebangkitan iman kita sia-sia.
“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:14)
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus” (1 Kor 15:17-18).
Kebangkitan adalah pusat dari iman yang menyelamatkan.
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rom. 10:9).
Dalam kebangkitan Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa
Tradisi tidak memberikan perhatian yang benar tentang kebangkitan. Banyak orang tidak mengerti bahwa kita dilahirkan kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati (1 Pet. 1:3).
Dalam kebangkitan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rom. 8:29)
Dalam kebangkitan Yesus dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa (Rom. 1:4).
Saat kebangkitan terjadi Firman ini digenapi:
“Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini” (Kisah 13:33 dan Ibrani 1:5).
Dalam kebangkitan kita “diciptakan dalam Kristus Yesus.” Ciptaan baru langsung berhubungan dengan kebangkitan.
Sangat menarik mempelajari Yesus pada saat empat puluh hari setelah kebangkitan sebelum kenaikan.
Mereka yang terbiasa mengenal Dia dalam daging tidak mengenali-Nya lagi. Itu karena orang tidak dapat mengenal Dia dengan cara itu lagi (2 Kor 4: 6). Jadi dunia terakhir kali melihat Yesus saat Dia tergantung di kayu salib. Mereka yang hidup dan bergerak secara fisik, alam manusia tidak lagi melihat Dia.
Dia telah bangkit dengan sebuah tubuh fisik, tetapi itu adalah tubuh kemuliaan. Itulah mengapa mereka tidak mengenali Dia.
Maria berpikir Dia adalah tukang kebun. Dua murid yang dalam perjalanan ke Emaus berpikir bahwa Dia adalah orang asing yang tidak tahu apa-apa, dan para murid ingin bertanya, “Siapakah Engkau?” saat mereka bertemu Dia di tepi danau.
Pewahyuan adalah hal yang wajib untuk mengenali Yesus setelah kebangkitan.
Pewahyuan adalah hal yang wajib untuk mengenali Yesus setelah kebangkitan. Tiba-tiba Maria melihat bahwa Ia adalah Tuhan. Tiba-tiba mata kedua murid yang dalam perjalanan ke Emaus mengenali siapa Dia. Dan Yohanes berkata saat ia melihat Yesus di tepi danau, “Itu Tuhan!”
Tangkaplah pewahyuan yang mulia ini:
Saat Yesus menampakkan diri di taman dekat kubur, Dia menampakkan diri sebagai manusia normal. Dia berpura-pura seperti seorang tukang kebun. Pada titik tertentu Dia menyatakan siapa Dia sebenarnya. Saat Dia berjalan bersama “Murid-murid Emaus,” Dia berpura-pura seperti orang asing yang tidak tahu apa-apa, tetapi Dia menguraikan secara rinci seluruh isi Kitab Suci.
Di tepi danau Dia membakar ikan, dan tampak seperti manusia normal yang bertanggung jawab atas panggangan – sebuah peran yang dapat dihubungkan dengan kebanyakan laki-laki.
Tetapi sesungguhnya Dia adalah Anak Allah!
Pada saat yang tepat Dia menyatakan siapa diri-Nya kepada mereka.
Pada saat yang tepat Dia menyatakan siapa diri-Nya kepada mereka. Ini adalah petunjuk bagi kita tentang bagaimana kita dapat melatih untuk hidup sebagai umat Allah di dalam dunia ini. Kita adalah anak-anak Allah; kita telah dibangkitkan bersama dengan Dia dan duduk bersama dengan Dia di sorga. Bukan kita lagi yang hidup tetapi Kristus hidup di dalam kita. Kita sama dengan Dia di tengah dunia ini.
Tetapi kita harus berpura-pura tampak seperti manusia normal! Kita tidak boleh terlalu cepat mengungkapkan siapa kita sebenarnya. Kita harus bertindak seperti seorang tukang kebun yang normal, seorang normal yang sedang memanggang, dan seorang pendengar yang tertarik dengan berita yang diberitakan.
Kemudian kesempatan yang tepat akan diberikan pada Anda untuk mengungkapkan siapa Anda sebenarnya!
Yesus ingin kita mengenal-Nya sebagai Yesus yang bangkit! Dia tidak lagi berada di salib. Mereka yang belum memahami kebangkitan yang membawa salib dengan Yesus yang mati diatasnya.
Kita tahu bahwa Dia hidup, dan kita melihat-Nya; karena Dia hidup, kita hidup! Ada komunikasi di dunia orang hidup. Roh Kudus akan mengenalkan Anda pada Dia yang telah bangkit. Hal itu merubah hidup Anda.
Anda akan menemukan apa artinya saat Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu (Rom. 8:11).
Anda akan menemukan bahwa hidup Yesus dinyatakan dalam tubuh Anda yang fana. Hal itu memberikan vitalitas, kesehatan dan energi secara supranatural. Yesus tinggal di dalam Anda.
Kuasa kebangkitan yang memberikan kehidupan bagi tubuh fana kita melalui Roh-Nya.
Iman dalam Dia Yang Bangkit menyembuhkan yang sakit.
Merupakan fakta bahwa Yesus yang telah bangkit dari antara orang mati yang menyembuhkan orang lumpuh di Yerusalem (Kisah 3:16 dan 4:7-12). Saat hidup Yesus dinyatakan dalam tubuh fana kita maka pengurapan kesembuhan itu mengalir. Ini adalah kuasa kebangkitan yang memberikan kehidupan bagi tubuh fana kita melalui Roh-Nya. Semua ini adalah tentang menyadari akan Dia Yang Telah Bangkit.
Dr. T.L. Osborn menjelaskan bahwa apa yang merubah hidup dan pelayanannya adalah perjumpaan dengan Yesus yang bangkit.
Dia mengatakan bahwa dia melihat Yesus dalam pelayanan orang lain. Seseorang yang menunjukkan tanda-tanda dan keajaiban di dalam nama Yesus membuka matanya untuk percaya pada Yesus yang hidup. Kemudian Yesus menyatakan diri-Nya kepadanya. Yesus berdiri dalam kamarnya kira-kira pukuil 6:00 pagi. Dr. T.L. Osborn berkata, “Saat Anda melihat Yesus, Anda tidak akan pernah sama lagi.” Dan yang tidak kurang pentingnya, dia melihat-Nya dalam Firman-Nya.
Lagi dan lagi Paulus bersaksi tentang perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit.
Saya sangat bahagia karena saya bertemu Anak Allah yang hidup. Pada 29 Januari1970 Dia menyatakan diri-Nya kepada saya diatas bubungan atap di kota kecil di Norwegia, dan saya mendapatkan pengalaman pertama bahwa Dialah yang membabtis dengan Roh Kudus.
Sejak saat itu saya hidup dengan kesadaran bahwa Dia hidup di dalam saya. Dia menjalani hidup-Nya melalui saya, dan hidup-Nya dinyatakan dalam tubuh saya.
Saat Anda bertemu dengan Dia Yang Telah Bangkit, Anda tidak akan pernah sama lagi!
“God resists the proud and gives grace to the humble.” This was the kind of scripture I would not do without, especially when I wanted to really pin people down based on what they hadn’t done in order to be accepted by God. Anything that made people feel inadequate and inferior was like a great revelation that I often shared.
What humbleness meant to me was all about how it looked from the outward. What grace meant to me was so limited; it was just about the ability to endure trouble. I would sometimes relate this to moments of worship where people sobbed and cried, and looked like they were just so desperate. In this way I would teach on worship and, of course, quote some Psalms of David like “I am desperate for you lord” and such. Each time people looked desperate in a way it seemed like this was a clear sign of the perfect glory of God manifested among us. The more I made it hard for people, the more I felt like I was true to the “gospel.’’
What grace meant to me was so limited; it was just about the ability to endure trouble.
It made it worse when times, situations or moments in life became tough for people. One could easily relate to the feeling that God prepares people the hard way. Sometimes we would relate the things we’ve gone through to the manifestation of the glory of God in our lives. No wonder many like me are sometimes found ensnared by these dangerous thoughts - thinking that the anointing of God in our lives is directly proportional to what we had done and encountered in life. Like if we had gone through hardships in life, we would get a stronger anointing.
Having been born in a preacher’s family, I have seen the struggles of my parents while we grew up .We would go without food and school fees. Being the firstborn in this kind of setting was never easy. Sometimes I would be handed over to family friends because my parents just couldn’t afford the expenses. My health would deteriorate because of food deficiency diseases and being bitten by Gingers all over my feet and hands. All of this was like another great gauge for the worthy vessel of being God’s servant – no place to sleep except in the same shade with the goats; no blanket to cover with except sisal sack that worked as my sheet and blanket at the same time.
I actually thought one earns a right to be used by God based on what they had done, seen or gone through.
Well, when you have such a background and are now used by God, it’s easy to think that you have gone through all that it takes to be made a true servant of God. This is how I felt. I always felt like other people had not gone through enough where they could be used by God, or maybe that they had just not paid a real price. I actually thought one earns a right to be used by God based on what they had done, seen or gone through. In other words, it’s just like saying God squeezes people to nothing in order to have them carry His message. No wonder some people brag of their life in Jesus in relation to what they have done. I thought I had paid a high enough price so, therefore, I would use phrases like “If you want to walk in the same anointing like I do, you must go through what I went through.” I believed the lie that ‘The anointing doesn’t come easily; you must work for it.”
This is how I lived until the mystery of the Gospel was shown to me. It is the Gospel that helped me find my identity in Christ. My own works and my experience would no longer be a measure of my holiness or righteousness.
The Gospel, meaning “the good news of what Jesus has done,” helped me realize that the essence of yielding to Christ is totally based on His grace revealed by love and goodness through the generations. Many people think it’s all about how you work, how you talk and how you behave. But this basically means SELF DEPENDENCE.
I can now enjoy serving at rest in what Jesus has already done.
Trying to do things on our own always denies us the opportunity to yield when issues of life storm against our desires. I then realized the Gospel is vital, for it is not about the power without but the power within that flows to the outward. The life of Jesus working through us is all in all to help us do every good work. It is in Christ that I found the opportunity to yield and more so the ability to yield. To me this is nothing but grace where nothing of my own can stand as a price, for it is all about what He has done. God has given us an opportunity to depend on Jesus and He has also provided help to enable us to depend on Christ by His Spirit (2 Cor. 3:5-6).
I now enjoy ministry more than ever. Ministry has become easier and without struggle. I can now enjoy serving at rest in what Jesus has already done. The burden of Christ is light and easy to carry. Even so in the ministry of reconciliation - it’s not about what people have done but what Christ has done. God is not manipulating us to humility or forcing us to yield, but His goodness and mercy revealed to us and through us teaches us to walk hand in hand with Him throughout life.
None of the things I thought could stand as a price compares to what JESUS has DONE.
More often I would think He was behind circumstances of life, like when I faced issues of poverty, relationship breakdowns and such. I would often think He wanted me to pay for His anointing, and I was looking for what I would have to do. The Gospel, as the power of God leading to salvation, reveals something so different. The price He paid on the cross is exceedingly incomparable. None of the things I thought could stand as a price compares to what JESUS has DONE. This is what brings about true change – the knowledge of who Jesus is and what He has done.
Knowing Christ is, therefore, based on Christ alone - not our works and deeds whether good or bad.
Ketaatan pasti telah menjadi topik dari banyak khotbah selama bertahun-tahun. Para pengkhotbah telah menyatakan pandangan mereka mengenai ketaatan pada Firman Tuhan, mulai dari ancaman api dan belerang bagi ketidaktaatan sampai janji-janji ganjaran besar bagi mereka yang taat.
Apakah penting untuk mentaati Firman Tuhan? Tentu saja. Tetapi Firman Tuhan yang mana yang harus kita taati?
Dalam Ibrani 3 kita dapat membaca sebuah refleksi dari bagian sejarah Israel yang dicatat dalam Bilangan 13 dan 14. Pada masa Musa, Tuhan mengatakan pada Israel bahwa Ia akan memampukan mereka untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian dengan memberikan kemenangan atas semua bangsa yang menentang mereka. Namun mereka, setelah mendengar apa yang mereka anggap sebagai laporan yang menakutkan tentang kekuatan bangsa-bangsa lain, menolak untuk memasuki tanah tersebut. Terlepas dari janji dan kemampuan Allah yang tak terbatas, Israel menolak untuk percaya pada Firman-Nya. Perhatikan hasil dari kurangnya kepercayaan bangsa Israel:
“…siapakah yang telah Ia (Allah) sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.” (Ibrani 3:18-19).
Allah menyamakan ketidakpercayaan dengan ketidaktaatan
Hal pertama yang perlu kita perhatikan adalah bahwa Allah menyamakan ketidakpercayaan dengan ketidaktaatan. Bagi bangsa Israel, tidak mempercayai janji dan kemampuan Allah adalah ketidaktaatan.
Sekarang, bagaimana dengan kita? Biasanya khotbah tentang ketaatan mencakup perintah-perintah yang menurut pemikiran sang pengkhotbah tidak kita taati. Tetapi di sudut pandang bahwa Allah menyamakan kepercayaan dengan ketaatan, tindakan kita bukanlah tempat pertama dimana ketaatan itu harus terjadi.
tindakan kita bukanlah tempat pertama dimana ketaatan itu harus terjadi
Lalu dimana ketaatan itu dimulai? Sebenarnya, hal itu berada di tempat yang sama dimana segala hal dalam hubungan kita dengan Allah dimulai – INJIL!
Pesan paling awal yang tercatat dari pelayanan Yesus dapat kita temukan dalam Markus 1:15: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” Sekarang kita kembali ke Ibrani. Sebelumnya telah kita perhatikan bahwa karena ketidakpercayaan/ketidaktaatan, bangsa Israel tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian dan mendapatkan perhentian dari musuh-musuh mereka seperti yang telah dijanjikan Allah. Dalam konteks yang sama, Allah melanjutkan dengan berkata bahwa perhentian-Nya masih berlaku bagi manusia, dan “kita yang telah percaya masuk dalam tempat perhentian itu” (Ibrani 4:3).
Saat kita mempercayai Injil, kita sedang mentaati Allah.
Percaya apa? Injil dari Tuhan Yesus. Faktanya, kita dinasihati agar “berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga” (Ibrani 4:11). Jika ketidakpercayaan Israel disebut sebagai ketidaktaatan, maka percaya dalam bagian mereka adalah merupakan ketaatan. Hal yang sama juga berlaku bagi Anda dan saya saat ini. Saat kita mempercayai Injil, kita sedang mentaati Allah. Tidak percaya pada Injil adalah ketidaktaatan, sama seperti yang diperlihatkan bangsa Israel.
Ingatlah tentang jemaat Galatia saat Paulus menulis untuk menegur tentang sebuah permasalahan besar. Mereka telah menerima Injil; mereka telah menerima kemerdekaan dari Kristus dan nyatanya mereka pernah “berlomba dengan baik” (Galatia 5:7a). Tetapi sesuatu terjadi – mereka telah masuk kebawah pengaruh agama. Mereka telah “terpesona” dalam mencampurkan Yesus (kasih karunia) dengan perbuatan manusia (legalisme). Dan apa yang dikatakan Paulus tentang hal itu? “Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?” (Galatia 5:7b). Jika jemaat Galatia tidak menuruti, mereka pastinya telah tidak taat. Lalu apa yang tidak mereka taati? Kebenaran Injil. Paulus tidak menulis pada mereka tentang perintah-perintah Allah yang mereka langgar, atau tradisi yang tidak mereka lakukan. Dia menulis kepada mereka tentang berdiri teguh “dalam kemerdekaan dimana Kristus telah memerdekakan kita” (Galatia 5:1). Bagi jemaat Galatia dan bagi kita saat ini, mentaati Allah adalah tentang mempercayai Injil. Kristus telah membuang dosa kita; Dia sendiri adalah kebenaran kita. Dia hidup di dalam kita dan kita bersatu dengan Dia. Mentaati Allah! Bagaimana? Dengan mentaati serangkaian daftar perintah-perintah Allah? Tidak. Dengan mempercayai Injil kasih karunia Allah.
percaya hanya pada Injil Tuhan Yesus dan menyadari kehadiran-Nya di dalam kita tidak akan pernah membuat kita untuk melakukan dosa
Sekarang, apa yang baru saja saya bagikan mungkin membuat beberapa orang menjadi cemas. Karena itu saya akan membagikan pemikiran ini: percaya hanya pada Injil Tuhan Yesus dan menyadari kehadiran-Nya di dalam kita tidak akan pernah membuat kita untuk melakukan dosa. Malahan, semakin kita menyadari akan Yesus dan bertumbuh di dalam pengertian kita tentang Dia, kita akan semakin mau mendengarkan Dia setiap saat, setiap hari. Dan Yesus akan selalu memimpin kita di dalam jalan yang benar.
Sebagai contoh, perhatikan tentang pengampunan. Mayoritas umat Kristen dalam dunia saat ini akan setuju bahwa penting bagi kita untuk mengampuni orang lain saat kita merasa telah dirugikan. Saya sangat setuju dengan kepercayaan itu. Bahkan bagi diri saya, tidak mengampuni akan sama-sama merusak, malah bisa jadi lebih parah bagi saya dibanding dengan orang yang tidak saya ampuni. Mengampuni sesama tentu saja merupakan bagian yang penting dalam hidup kita. Dan Injil adalah sumber pertolongan kita saat kita perlu untuk mengampuni: “… sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:12-13). Apa yang akan menolong kita untuk mengampuni orang lain? Mempercayai (dengan kata lain mentaati) kabar baik bahwa Allah, di dalam Kristus, telah mengampuni kita.
Kita dapat mengaplikasikan kebenaran yang sama pada setiap aspek kehidupan kita. Injil menyatakan bahwa Anda dibenarkan di dalam Kristus Yesus (2 Korintus 5:21, Roma 5:17). Oleh karena itu, percayalah bahwa karena Yesus, hubungan Anda dengan Allah menjadi sempurna dan tidak terpatahkan. tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk membuat Allah berhenti mengasihi Anda, dan tidak ada yang perlu Anda lakukan untuk meningkatkan hubungan Anda dengan-Nya. Dia selalu berada bersama Anda. Dia telah membenarkan segala sesuatu antara Anda dan diri-Nya. Santai dan nikmatilah persekutuan dengan Tuhan Yesus.
Injil menyatakan bahwa oleh bilur-bilur yang ditanggung Yesus pada tubuh-Nya, Anda telah sembuh (1 Petrus 2:24). Karena itu, hiduplah sebagai orang yang telah disembuhkan dan menjadi sembuh.
Injil menyatakan bahwa Allah, melalui Yesus, telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri dan Dia tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia (2 Korintus 5:19). Karena itu, kita tidak perlu mengkritik orang-orang yang belum percaya pada Yesus. Akan tetapi kita adalah para duta besar bagi Allah yang memiliki undangan kabar baik untuk dibagikan pada setiap orang.
Yesus akan selalu memimpin kita ke jalan yang benar dan memampukan kita untuk hidup dalam jalan tersebut.
Apakah penting untuk mentaati Allah? Tentu saja. Karena itu, percayalah pada Injil!
Selamat memulai tahun baru yang penuh dengan kelimpahan bersama Global Grace News! Kami sangat bersyukur saat melihat semakin bertambahnya rekan sekerja dalam Kristus yang bergabung dalam GGN. Setiap artikel pengajaran dari website ini akan menunjukkan kita pada Yesus, dan mengingatkan kita tentang apa yang telah kita miliki di dalam Dia. Sangat penting bagi setiap kita untuk sukses dan berkambang di dalam hidup, dan merupakan keinginan kami di GGN untuk membagikan kepada Anda permata yang telah kami temukan dari Firman Allah.
Hati Anda adalah manusia batiniah Anda – kombinasi dari roh dan jiwa Anda. Kehidupan hampir sama seperti pohon; akar merupakan hati dan buahnya menggambarkan situasi dan keadaan hidup. Saat kita memakan buah dari suatu pohon, barulah kita rasakan manis atau asam, demikian juga keadaan dalam hidup kita. Dalam pengajaran-Nya tentang hati, Yesus berkata: “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Matius 12:35).
“Perbendaharaan” menunjukkan sesuatu yang tersembunyi. Pesan Yesus sangat jelas – hal-hal yang baik atau jahat dapat tersembunyi di dalam hati, dan apapun yang ada di dalam hati mempengaruhi hidup kita. Jika kita menginginkan hidup yang baik, kita perlu memastikan bahwa hati kita mempunyai perbendaharaan yang baik.
Kita mengetahui bahwa pikiran itu penting, tetapi apa yang membuat kita berpikir apa yang kita pikirkan - hati kita. Perhatikan urutan berikut ini:
Pemrograman > Pemikiran > Perkataan > Tindakan > Hasil
Kita semua menginginkan hasil yang baik tetapi hasil yang baik didahului oleh tindakan yang positif. Tindakan yang berbuah didahului oleh perkataan yang bijak, yang pada akhirnya didahului oleh pemikiran yang saleh. Bagaimanapun juga, pikiran adalah hasil pemrograman dalam hati kita. Di dalam sudut pandang Firman Allah, cara hati kita melakukan pemrograman menentukan hidup kita.
Umat Allah dapat menikmati kemakmuran bahkan saat dunia memperkatakan tentang kekalahan, hal-hal yang negatif dan kegagalan. Waktu-waktu yang terburuk berubah menjadi yang terbaik bersama dengan Allah! Pastikan bahwa hati Anda dipenuhi dengan perbendaharaan yang baik. Bersama Allah, ini adalah waktu-waktu yang terbaik bagi Anda!
Tuhan memberkati Anda,
Peter Youngren
Beberapa perkataan awal Yesus yang dicatat adalah “Bertobatlah dan percayalah pada Injil.” Kata bertobat dan percaya disini diletakkan bersama-sama. Mengapa demikian? Karena pertobatan mempunyai hubungan dengan pemikiran kita, dengan kepercayaan kita. Konkordansi Strong menjelaskan kata pertobatan sebagai “berpikir secara berbeda” atau “mempertimbangkan kembali”.
Coba pikirkan: Orang-orang Yahudi harus menjalani perubahan besar dalam kepercayaan mereka; dari meletakkan kepercayaannya pada Hukum Taurat dan sistem Perjanjian Lama menjadi mulai mempercayai Injil Yesus Kristus dan Jalan Hidup Yang Baru. Seluruh sistem yang lama sekarang harus digantikan dengan Yesus! Dia adalah penggenapan dari Hukum Taurat, Dia adalah Berkat yang dijanjikan, Dia adalah Jalan Hidup yang Baru, Dia adalah Sumber hidup di dalam kita, dsb. KeKRISTenan yang sejati adalah SEGALANYA tentang apa yang telah diselesaikan Yesus dan apa yang Dia lakukan saat ini di dalam dan melalui orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Visi dari Global Grace News adalah untuk menolong Gereja untuk menemukan kembali tentang Yesus Kristus dan memberitakan pesan ini kepada dunia.
Nikmati masa Natal Anda dan ingatlah bahwa “KRISTUS di dalam Anda yang adalah pengharapan akan kemuliaan.”
Dalam berbagai lagu-lagu dan khotbah Kristen, Tanah Perjanjian banyak digambarkan sebagai sorga. Hal ini sebenarnya tidak mungkin, karena di dalam sorga seharusnya tidak ada musuh, ataupun dosa dan kemurtadan. Apakah arti “tanah perjanjian” bagi kita?
Saat bangsa Israel memasuki Kanaan, Tanah Perjanjian mereka, ini adalah tonggak kemenangan – sesuatu yang mereka harapkan, sekarang telah mereka telah memilikinya. Kita juga sampai pada sebuah pengalaman saat, “yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Kor 5:17).
Menjalani kehidupan Perjanjian Baru berarti akhir dari pengejaran dan pemburuan mimpi-mimpi rohani yang sukar dipahami dan tidak pernah benar-benar diterima.
Perhentian kita tidak berada pada daerah geografis, tetapi di dalam Yesus itu sendiri. Menjalani kehidupan Perjanjian Baru berarti akhir dari pengejaran dan pemburuan mimpi-mimpi rohani yang sukar dipahami dan tidak pernah benar-benar diterima. Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari berkat, kelepasan, sukacita dan kemuliaan, tidak menyadari bahwa hal-hal tersebut telah kita terima di dalam Kristus. Perhentian rohani terletak pada kesadaran bahwa apa yang kita harapkan da dakan telah kita miliki di dalam dan melalui Yesus Kristus. Karya yang telah diselesaikan Kristus itu benar-benar telah selesai. Penemuan akan hal ini memberikan kekuatan bagi kita untuk menjalani kehidupan yang telah disediakan Yesus bagi kita.
Setiap suku, keluarga dan perorangan di Israel memiliki tempat geografis di dalam milik pusaka secara menyeluruh. Ada warisan pribadi untuk setiap orang. Sama dengan hal itu, ada warisan pribadi bagi setiap kita di dalam Kristus. Namun warisan pribadi dari kemenangan dan berkat di dalam Kristus selalu sesuai dengan keseluruhan rancangan Tuhan bagi umat-Nya.
“Tanah perjanjian” yang diberikan Allah kepada Israel adalah gambaran dari hidup kita di dalam Kristus. Kita temukan ada kota Hebron, Kiryat Sefer dan Timnat Serah.
“:14 Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb…” (Yosua 14:14). Secara militer, Hebron merupakan kota yang penting karena letaknya di tempat yang tinggi. Kaleb menetapkan hatinya dalam memilih daerah ini sebagai milik pusakanya. Dia telah menunggu selama empat puluh tahun di padang gurun sementara teman-teman sebayanya meninggal. Sebelum pada akhirnya Kaleb mendapatkan Hebron, dia turut berperang dengan bangsa Israel selama empat tahun agar seluruh suku bisa mendapatkan milik pusakanya. Kaleb menginginkan kota tersebut karena berada di tempat yang tertinggi dan yang terbaik dari tanah perjanjian. Beberapa orang puas dengan yang baik, sementara yang lain dengan yang lebih baik, tetapi ada mereka yang menginginkan yang terbaik dari Allah – “kehendak Allah yang sempurna” (Roma 12:2) dan “menyempurnakan segala kehendak baik dari Allah” (2 Tes 1:11).
Hebron secara literal berarti “sahabat yang penuh kasih.” Kaleb, yang merupakan gambaran dari iman yang bertahan, tinggal di Hebron, menunjukkan hubungan antara iman dan kasih, karena “iman bekerja oleh kasih.” Kaleb telah bertahan dalam iman selama empat puluh tahun, menggambarkan iman yang bekerja melalui Yesus (Kis 3:16).
Jika sedikit saja beban hukum Musa diterapkan pada Abraham dan David, mereka berdua pasti telah dirajam batu sampai mati.
Sebelum Kaleb, Hebron telah menjadi kota Abraham, sahabat Allah, dan kemudian menjadi kota Daud, orang yang berkenan di hati Allah. Baik Abraham dan Daud adalah orang-orang yang memiliki kelemahan. Jika sedikit saja beban hukum Musa diterapkan pada Abraham dan Daud, mereka berdua pasti telah dirajam batu sampai mati. Tetapi karena kasih dan iman, mereka malah menjadi lambang dari orang percaya perjanjian baru yang menerima kasih karunia Allah. Abraham dan Daud tidak mendapatkan apa yang layak mereka terima, sama seperti kita tidak mendapatkan apa yang layak kita terima, tetapi mendapatkan apa yang telah disediakan oleh Yesus.
Kota Kiryat Sefer ditaklukkan oleh Otniel, berbicara tentang pikiran Kristus di dalam kita. Kita baca, “Lalu berkatalah Kaleb: “Siapa yang menggempur Kiryat-Sefer dan merebutnya, kepadanya akan kuberikan Akhsa, anakku, menjadi isterinya.” Dan Otniel… merebut kota itu; lalu Kaleb memberikan kepadanya Akhsa, anaknya, menjadi isterinya. Ketika perempuan itu tiba, dibujuknya suaminya untuk meminta ladang kepada ayahnya. Maka turunlah perempuan itu dari keledainya, lalu berkatalah Kaleb kepadanya: “Ada apa?” Jawabnya: “Berikanlah kepadaku hadiah; telah kauberikan kepadaku tanah yang gersang, berikanlah juga kepadaku mata air.” Lalu diberikannyalah kepadanya mata air yang di hulu dan mata air yang di hilir. (Yosua 15:16-19).
Arti secara literal dari Kiryat Sefer adalah “Kota Kitab.” Kota itu juga disebut kota Debir, yang berarti “Pembicara.” Disini kita melihat sebuah gambaran tentang bagaimana Firman Tuhan mempengaruhi pemikiran dan pembicaraan kita. Sebelum Kristus, semua yang kita ketahui kalau bukan persyaratan hukum dari agama maka hikmat dunia ini, tetapi sekarang kita telah menerima pikiran Kristus. Otniel berarti “Singa-nya Allah” yang juga merupakan gambaran indah dari Yesus Kristus, Singa dari Yehuda yang tinggal di dalam kita.
Saat kita datang pada Allah karena karya Kristus yang telah selesai, berkat yang kita terima lebih besar dari yang kita kira .
Akhsa, puteri Kaleb, adalah gambaran dari kasih karunia. Dia meminta suaminya untuk mengejar hal-hal yang besar, sama seperti kasih karunia membuat kita percaya mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Kasih karunia tidak membuat kita malas. Sebaliknya kita menjadi penuh semangat kerena kita melihat Dia yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan (Ef 3:20). Otniel menerima tanah warisan yang kaya kerena Akhsa (kasih karunia), sama seperti kasih karunia Allah menyebabkan kita mewarisi apa yang telah disediakan oleh Yesus. Saat Akhsa membuat permintaan, dia turun dari keledainya, merendahkan dirinya. Allah selalu memberikan kasih karunia bagi mereka yang rendah hati. Pada akhrinya, ayahnya memberikan lebih banyak dari yang dia minta. Itulah bagaimana kasih karunia bekerja. Saat kita datang pada Allah karena karya Kristus yang telah selesai, berkat yang kita terima lebih besar dari yang kita kira.
Saat beberapa orang berpikir bahwa kemampuan untuk menerima itu hanya milik beberapa orang saja, Yohanes menulis, “ Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yoh 1:16). Perhatikan kalimatnya tidak mengatakan hanya sebagian yang menerima dan yang lain masih berharap untuk menerima. Tidak, kita “semua telah menerima.” Mengapa? Karena Yesus.
Baik Akhsa dan Otniel, keduanya berpikir besar dan menerima hal yang besar, hal ini menggambarkan pikiran Kristus yang membuat kita berpikir besar dan menerima hal yang lebih besar dari yang pernah kita mimpikan.
Kota yang ketiga adalah Timnat Serah, Kota Matahari, yang merupakan gambaran dari Yesus itu sendiri. “… orang Israel selesai membagikan negeri itu menjadi milik pusaka mereka menurut daerah-daerahnya… Sesuai dengan titah TUHAN, mereka memberikan kepadanya kota yang dimintanya, yakni Timnat-Serah di pegunungan Efraim. Kota itu dibangunnya dan menetaplah ia di sana” (Yosua 19:49-50).
Dengan mengetahui lebar dan panjang dan dalamnya kasih itu kita “ dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah”
Timnat Serah, yang terakhir dari tiga tanah warisan khusus, menjadi tempat tinggal Yosua. Kota tersebut menggambarkan Yesus sendiri, anak kebenaran, yang adalah “semua di dalam segala sesuatu.” Matahari memimpin langkah kita, sama seperti Yesus berkata bahwa mereka yang mengikuti Dia tidak akan berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai tuntunan yang terus menerus (Yoh 8:12). Matahari menyediakan kehidupan dan kekuatan; tanpanya kita tidak akan hidup sama sekali, dan tanpa Yesus kita tidak dapat melakukan apa-apa. Matahari memberikan kehangatan, sebuah gambaran dari kebaikan dan kasih Allah. Dengan mengetahui lebar dan panjang dan dalamnya kasih itu kita “ dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Ef 3:19). Matahari memberikan kesembuhan. Tidak heran Yesus dinubuatkan sebagai “Surya Kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya ” (Mal 4:2). Matahari yang alami adalah penyembuh – lebih lagi, Anak Allah. Kota matahari tidak mempunyai awan. Hal ini berbicara tentang persekutuan yang tidak terpatahkan dengan Yesus dimana tidak ada “bayangan karena pertukaran di dalam Dia” (Yak 1:17). Kita baca dalam Yesaya 60:20, “ Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut, sebab TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu, dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir.”
Karena dosa-dosa dunia telah dijatuhkan pada Yesus, kita mempunyai kemungkinan untuk memiliki persekutuan yang tidak terpatahkan dengan Allah. Yosua membangun kota Timnat Serah karena dia berencana untuk tinggal di sana. Kita tinggal di kota matahari. Yesus Kristus adalah tempat tinggal kita.
Pastikan Yesus bukan sekedar kemah musim panas Anda tetapi tempat tinggal permanen Anda.
Sering kali orang berkata “kita harus masuk dalam hadirat Allah” atau “meluangkan waktu dengan Tuhan” yang mengindikasikan bahwa kita meluangkan waktu dengan Yesus, dan kemudian ada waktu tanpa Yesus. Timnat Serah adalah gambaran dari hidup yang terus menerus dan di dalam hadirat Yesus Kristus. Yosua tidak hanya berencana untuk tinggal di Timnat Serah, tetapi dia melakukannya. Kadang orang membuat rencana untuk berjalan bersama dengan Yesus, tetapi, apa yang seharusnya menjadi tempat tinggal yang permanen malah menjadi kemah musim panas saja. Pastikan Yesus bukan sekedar kemah musim panas Anda tetapi tempat tinggal permanen Anda.
Yesus berkata pada murid-murid-Nya bahwa kitab-kitab Musa, kitab-kitab para nabi dan seluruh Mazmur berbicara tentang Dia. Dalam kitab Yosua kita menemukan banyak sekali gambaran indah tentang siapa Yesus dan keniginan-Nya untuk berada di dalam setiap kita. Tiga pilihan warisan ini mengingatkan kita pada kasih Kristus, pikiran-Nya di dalam kita dan bahwa Dia adalah penopang hidup kita setiap hari.
Kita, yang berada dalam Perjanjian Baru yang telah diberikan Allah melalui Yesus Kristus, memiliki kesempatan untuk hidup bersama Allah dengan penuh peristirahatan serta bebas stres. Bagi banyak orang, kebenaran ini tampaknya sangat tidak mungkin karena kekacauan yang terjadi dalam hidup mereka. Yesus tetap membawa kedamaian kedalam badai kehidupan. Ada peristirahatan yang sejati dan nyata bagi umat Allah! Ketidakpercayaan membawa stres dan kegelisahan, tetapi percaya pada karya yang telah diselesaikan Kristus membawa peristirahatan.
Ketidakpercayaan membawa stres dan kegelisahan, tetapi percaya pada karya yang telah diselesaikan Kristus membawa peristirahatan.
Ibrani 4:1-4 – “ Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: “Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,” sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan. Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: “Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.”
Kita dapat hidup dan beroperasi di dalam atmosfir dimana kita berhenti dari segala pekerjaan kita
Hidup kita bersama Tuhan seharusnya penuh peristirahatan dan bukan selalu dihempas badai angin kesengsaraan yang meniup kita dari segala arah. Kita dapat hidup dan beroperasi di dalam atmosfir dimana kita berhenti dari segala pekerjaan kita (Ibr. 4:10) dan mengetahui bahwa setiap janji Allah adalah milik kita karena Kristus telah menggenapi setiap persyaratannya dan telah duduk di sebelah kanan Allah. Kita dapat berkata dengan penuh keberanian bahwa kita tahu kepada siapa kita percaya dan kita yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita (2 Tim 1:12).
Kerajaan Sorga adalah milik kita melalui Kristus – hal itu telah diberikan kepada kita.
2 Petrus 1:3 – “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Allah kita adalah Allah yang baik dan Dia telah memberikan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh melalui Kristus Yesus. Kita memiliki hikmat, damai sejahtera, kebenaran dan seluruh janji yang sangat berharga di dalam Alkitab yang dianugerahkan kepada kita.
Ibrani 4:11 – “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” Ada banyak orang yang sangat tertekan di dalam kekristenan karena gagal mengerti dan menangkap bahwa saat kita memiliki Yesus, kita memiliki segalanya! Yesus ada bersama dengan kita setiap saat dan Dia cukup bagi hari esok dan masa depan yang masih jauh di depan kita. Beberapa orang membutuhkan ada yang menumpangkan tangan keatas mereka dan memberikan perkataan nubuatan, tetapi kita perlu untuk percaya pada Yesus yang ada di dalam setiap kita – Dia yang tidak akan pernah meninggalkan atau membiarkan kita!
Ada suatu tempat dimana kita dapat menjalani pertandingan kita dengan tanpa menjadi lelah dan lesu.
Yesaya 40:29-31 – “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Ada suatu tempat dimana kita dapat menjalani pertandingan kita dengan tanpa menjadi lelah dan lesu. Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus menyatakan bahwa ia “telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua” tetapi bukannya aku, “melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Pendekatannya pada pelayanan ada di dalam tempat perhentian dimana pekerjaannya dimampukan oleh Tuhan. Yesus telah menyelesaikan “segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya” (Yohanes 5:36). Dia berkata dan melakukan apa yang diperintahkan dan diserahkan Bapa kepada-Nya dan berhenti di dalam kenyataan tersebut. Dia mengetahui jalan yang dimiliki Bapa bagi-Nya yang harus dijalani-Nya dan kemudian beristirahat pada hasil bahwa segala sesuatu diletakkan dihadapan-Nya.
Pendekatannya pada pelayanan ada di dalam tempat perhentian dimana pekerjaannya dimampukan oleh Tuhan.
Efesus 2:10 – “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita perlu untuk bergerak maju dalan segala hal yang telah dipersiapkan bagi kita. Kita perlu peka terhadap tuntunan Roh Kudus dan tetap berada di dalam rencana Bapa. Memberikan segala yang kita punya dan menyerahkannya pada Tuhan dan Dia akan menuntun kita tanpa ada stres dan keraguan yang kita buat sendiri. Jika kita tidak mempunyai jaminan untuk bergerak maju dalam sebuah keputusan, jangan bergerak! Yesus adalah Tuhan dalam hidup kita dan kita perlu untuk mendengarkan apa yang Dia katakan.
Kita perlu peka terhadap tuntunan Roh Kudus dan tetap berada di dalam rencana Bapa.
Matius 11:28-30 – “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Kehidupan Kristen memang dijadikan sebagai hidup yang penuh dengan peristirahatan dan bebas dari stres. Tidak ada tempat untuk kelelahan di dalam pelayanan dan dalam melayani Tuhan. Saat kita benar-benar bekerja untuk Yesus, kita tidak akan pernah menjadi lelah karena kita tidak bekerja dengan usaha kita sendiri. Kita melakukan pekerjaan yang telah dipersiapkan Tuhan bagi kita; pekerjaan yang telah Dia letakkan bagi kita. Apa perbedaan saat kita terhubung dengan kuk pada Tuhan – Dia yang menarik beban yang berat itu, bukan kita! Inilah hidup yang bebas stres, penuh kelimpahan yang diberikan Yesus melalui kedatangan-Nya. Jawaban untuk stres adalah: Marilah dan belajarlah pada-Ku!
Terlalu sering kita berfokus pada apa yang kita pikir masih kurang. Doa kita merefleksikan hal itu saat kita berdoa meminta kasih yang lebih lagi, hikmat yang lebih lagi, damai yang lebih lagi, pengurapan yang lebih lagi, dll.
Kabar Baik-nya adalah semua hal tersebut telah diletakkan didalam Anda. Sekarang yang penting adalah percaya bahwa semua itu sudah ada di dalam Anda dan mulai bersandar pada Dia yang hidup didalamnya.
Dia adalah kasih, hikmat dan pengurapan kita, Dia juga merupakan damai sejahtera yang melampaui segala akal. Sumber itu sudah ada di dalam Anda! “Kristus didalam Anda, pengharapan akan kemuliaan!”
“tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal… Dari dalam hatinya, akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yohanes 4:14, 7:38).
Hal yang sama juga berlaku untuk kesembuhan. Kesembuhan itu sudah ada di dalam kita, dan saat kita percaya bahwa kita sudah memilikinya, kita akan mulai berjalan didalamnya!
Selamat menikmati membaca dua artikel pengajaran yang kami sediakan kali ini dari Pastor David Sterling dan Pastor Mike Walker. Kasih karunia yang membawa kemenangan dan perhentian, keduanya telah menjadi milik Anda.
Silahkan mengirim e-mail kepada kami, kami sangat ingin mendengar sesuatu dari Anda. Akan sangat luar biasa juga bila bisa melihat Anda hadir dalam konferensi GGN di Dar Es Salaam, Tanzania, tanggal 28 sampai 30 Januari, 2010.
Dengan begitu banyaknya ketidakstabilan dalam dunia ini dan semua suara yang berbicara dalam hidup kita, sangat luar biasa bisa menerima kelimpahan kasuh karunia Allah dalam area peristirahatan. Diatas kayu salib Yesus telah membayar lunas harga bagi kedamaian kita, sehingga dalam penebusan kita memiliki janji tentang perhentian. Oleh iman dalam karya Yesus yang telah dilakukan di atas salib, tempat perhentian ini, dalam alam nyata, adalah kedamaian dan kemenangan total dalam setiap area kehidupan kita dan hal itu ditemukan dalam percaya kepada Injil!
Ibrani 4:1-3 – “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: “Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku,” sekalipun pekerjaan-Nya sudah selesai sejak dunia dijadikan.”
Ada perhentian bagi umat Allah. Ada sebuah tempat dimana kita dapat hidup dan tahu dengan jaminan yang pasti bahwa Allah akan melakukan apa yang Dia katakan akan Dia lakukan. Segala yang kita butuhkan dalam hidup dan ibadah ditemukan dalam Kristus dan karya penebusan-Nya yang telah selesai. Tetapi karena ketidakpercayaan, banyak orang tidak percaya atau tidak dapat menerima kabar baik dari Injil – kedamaian, kemenangan, kesembuhan, kemakmuran, kelepasan dan segala hal yang baik. Satu-satunya kuasa yang dimiliki musuh atas hidup kita adalah dengan cara menipu kita untuk percaya bahwa Injil itu tidak benar! Agama berkata pada kita bahwa kita harus berusaha meraihnya, tetapi Injil mengatakan hanya percaya saja!
Diatas kayu salib Yesus telah membayar lunas harga bagi kedamaian kita, sehingga dalam penebusan kita memiliki janji tentang perhentian.
2 Korintus 4:3-4 – “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.”
Efesus 4:17-18 – “ Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.”
Kita tidak ingin menjadi jauh dari hidup berkelimpahan yang diberikan Yesus, tetapi kita ingin bersandar pada karya Yesus yang telah selesai. Percaya bahwa Dia adalah segala yang kita perlukan untuk kemenangan dalam hidup kita karena Dia telah memenangkan kemenangan itu, menyelesaikan pekerjaan dan duduk di sorga. Selain itu, Dia juga telah mengangkat kita untuk duduk bersama Dia – nah itu adalah kabar baik! Kita memiliki semua senjata surgawi di tangan kita untuk menangkap semua pikiran kita dan percaya pada Firman Allah, Injil – “kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan, tetapi kabar itu nyata.”
Ibrani 4:6 – “Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka.” Saat saya menyampaikan pengajaran pertama tentang “Perhentian,” Yosua dan Kaleb percaya pada berita baik tentang tanah itu dan masuk kedalamnya bersama dengan generasi berikutnya. Karena ketidakpercayaan, ada satu generasi yang tidak dapat masuk dan mereka mati di padang gurun. Ada banyak kekecewaan yang akan datang dan mengisi pikiran kita, tetapi kita bertanding dalam “pertandingan iman yang benar” serta berpegang pada janji-janji Tuhan. Kita dapat memiliki kedamaian dengan Allah yang melampaui segala akal dan maju dalam kemenangan karena kita tahu bahwa iblis ada dibawah kaki kita.
Percaya bahwa Dia adalah segala yang kita perlukan untuk kemenangan dalam hidup kita karena Dia telah memenangkan kemenangan itu, menyelesaikan pekerjaan dan duduk di sorga.
Efesus 1:3 – “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”
Efesus 1:12-13 – “supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya….”
Firman Kebenaran adalah kabar baik bagi keselamatan kita. Pertama kita mendengar kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan – kita diselamatkan dan mengalami kemenangan dalam segala area kehidupan kita – kemudian kita harus percaya kepada hal itu. Hal itu sudah selesai, dan kita bersandar pada karya Kristus yang sudah selesai – bebas dari dosa, penyakit, kecemasan, keterikatan, dan dari semua pekerjaan iblis. Ini adalah hidup berkelimpahan yang diberikan Yesus dengan kedatangan-Nya, dan kita duduk jauh diatas semua pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, kekuasaan dan kuasa serta semua nama yang disebutkan!
Efesus 1:13 selanjutnya berkata “… di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Saat kita percaya pada Injil, kita dimateraikan oleh Roh Kudus yang dijanjikan itu. Materai adalah suatu tanda atau cap atau stempel khusus. Sebagai contoh, tergantung pada negara yang kita kunjungi, saat kita mengadakan perjalanan keluar negeri kita memiliki paspor yang membutuhkan visa. Jika kita tidak memiliki paspor maka kita tidak diperbolehkan masuk atau meninggalkan negara tersebut. Beberapa tahun lalu, saya dan isteri saya, Jane, sedang dalam perjalanan ke Nigeria, Afrika Barat, melalui London. Saat kami melewati bea cukai, seorang pemuda dari Amerika entah bagaimana salah menaruh paspornya. Meskipun dia membantah dan mengakibatkan kericuhan, dia tidak diperbolehkan masuk dan dipulangkan kembali ke Amerika Serikat.
Sama seperti itu, Yesus adalah paspor dan percaya adalah visa-nya! Saat kita mendengar janji dan percaya pada Firman Kebenaran, kita memperbolehkan materai dikenakan kepada kita – pengampunan dosa, kesembuhan, pemenuhan kebutuhan, tuntunan, persahabatan dan kemenangan total atas semua kuasa musuh! Kita membawa tanda dari sorga dalam hidup kita dengan cara mempercayai Firman dan mempercayai karya Yesus yang telah selesai.
2 Korintus 1:20-22 menyatakan bahwa “Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin”” Kita telah dimateraikan “… dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan.” Allah telah meletakkan materai kepemilikan-Nya atas kita dan memberikan Roh-Nya dalam hati kita sebagai jaminan, jaminan akan apa yang akan datang! Kita dapat beristirahat dalam fakta bahwa janji-janji Allah adalah bagi kita dan untuk saat ini.
Kasih karunia itu jauh lebih besar daripada “anugerah yang sebenarnya tidak pantas kita terima” yang sering kali menjadi definisinya. Puji Tuhan, kasih karunia memang adalah anugerah-Nya yang gratis, sebenarnya tidak layak kita terima dan tidak perlu kita usahakan – tetapi kasih karunia itu lebih luar biasa dan sangat menakjubkan! Roh Kudus ingin memperluas kapasitas kita untuk mengerti dan mengalami kasih karunia Allah dalam segala aspek yang ada. Sama seperti memiliki “iman yang membawa kemenangan” semua anak Allah juga memiliki “kasih karunia yang membawa kemenangan.” Dengan berdasarkan pengalamannya sendiri, Paulus menjelaskan kasih karunia yang membawa kemenangan yang melimpah itu datang pada saat kita membutuhkan.
Paulus menceritakan segala hal yang dia lakukan untuk melayani Kristus dan kemudian dia tambahkan, “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10). Paulus melihat kasih karunia Allah sebagai sesuatu yang memberikan kekuatan kepadanya untuk menyerahkan hidupnya bagi Kristus. Dia mengerti bahwa kasih karunia Allah merupakan sesuatu yang tersedia pada waktu-waktu dia sangat membutuhkan. Dia menyadari bahwa kasih karunia Allah merupakan kekuatan yang memotivasi dibalik segala yang telah dia raih. Saat utusan Iblis menyiksanya, Yesus menyatakan bahwa kasih karunia Allah yang memberikan energi pada Paulus untuk mengalahkan serangan dari makluk roh supranatural tersebut. (Lihat 2 Kor. 12:7-10)
Duri dalam daging Paulus bukanlah penyakit atau kelemahan fisik. Duri dalam daging Paulus ini bukanlah kelemahan alami atau kecenderungan jasmani untuk berbuat dosa. “Duri dalam daging” ini merupakan roh supranatural yang dikirim untuk mengganggu dia dan merintangi pemberitaannya. Paulus bertemu dengan perlawanan sengit kemanapun dia memberitakan Injil yang tanpa kompromi. Dalam surat-suratnya dia menceritakan banyaknya penderitaan yang dia alami dalam membawa Injil kepada orang-orang yang belum terjangkau. Tuhan tidak berkata kepada Paulus bahwa Dia akan menghilangkan roh setan yang menyerangnya pada saat dia bekerja dalam Kerajaan Allah, akan tetapi Tuhan berkata bahwa “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” “Paulus,” Yesus berkata, “Semua kuasa yang engkau butuhkan sudah engkau miliki. Pencobaan yang engkau alami ini hanya membawa pada batas akhir dirimu sehingga engkau dapat menemukan kelimpahan kasih karunia yang ada didalammu untuk melawan dan mengalahkan serangan itu. Percayalah pada kasih karunia itu untuk menolong engkau mengalahkan tantangan yang engkau hadapi.” Setelah mengalami berbagai pencobaan dalam pelayanannya dan berdasarkan pengalamannya sendiri tentang “kasih karunia yang membawa kemenangan”, Paulus mampu berkata dengan penuh keyakinan kepada seorang hamba Tuhan muda - “ Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.” (2 Tim. 2:1).
Roh Kudus ingin memperluas kapasitas kita untuk mengerti dan mengalami kasih karunia Allah dalam segala aspek yang ada.
Kasih karunia adalah pengurapan Roh didalam dan diatas kita. Kasih karunia adalah kemampuan Allah sendiri yang bekerja melalui kita. Itu merupakan bantuan supranatural Allah yang diberikan kepada kita pada saat kita paling tidak layak untuk menerimanya. Kasih karunia adalah sesuatu yang diberikan pada kita saat kita membutuhkannya. Telah dikatakan bahwa Hukum Taurat membuat kita menjadi “pekerja,” tetapi Kasih Karunia akan membuat kita “beristirahat.” Saat kita menyadari kelemahan kita dan menyerahkannya kepada Tuhan, kita akan temukan arti sebenarnya dari “kuat di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Kita tidak kuat dalam diri kita sendiri dan dalam tekad pribadi kita, tetapi kuat dalam kemampuan-Nya yang memberi kemenangan (kasih karunia) yang bekerja melalui kita. Kita menjadi semakin kuat melalui kasih karunia-Nya yang memperlengkapi kita untuk mengadapi tantangan dalam kehidupan dan pelayanan. Kasih karunia-Nya tidak akan pernah mengecewakan ataupun meninggalkan kita!
Paulus berkata, “Saat aku lemah maka pengurapan, kemampuan dan kasih karunia Kristus rests ada atas ku.” Anda dapat benar-benar yakin apabila kuasa Kristus ada dalam Paulus, utusan Iblis tersebut pasti dikalahkan! “Duri dalam daging” Paulus ini tidak dapat bertahan melawan aliran kasih karunia yang senantiasa menyertai dia! Roh Kudus ada di dalam Anda sebagai Roh Kasih Karunia (Ibr 10:29). Tidak ada kuasa setan yang dapat bertahan melawan “Dia yang Terbesar” yang tinggal di dalam Anda!
Dia menyadari bahwa kasih karunia Allah merupakan kekuatan yang memotivasi dibalik segala yang telah dia raih.
Segala kuasa yang kita perlukan untuk meraih kemenangan telah ada di dalam kita. Tidak perlu lagi meminta kuasa, pengurapan atau otoritas “extra”. Firman Tuhan memastikan kita bahwa Roh yang sama yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati juga tinggal dalam tubuh kita ini. Kristus sendiri tinggal dalam manusia rohani kita dan menjadi “Pengharapan akan Kemuliaan” kita. Kebutuhan terbesar kita adalah belajar bagaimana bekerja sama dengan Dia, Roh Kudus, dan semakin bersandar kepada-Nya. Dia, yang adalah Roh Kasih Karunia yang luar biasa juga merupakan suara Kristus dalam manusia rohani kita. Dia yang menuntun kita kepada segala kebenaran atau realita. Dia adalah guru pribadi, penghibur dan penolong kita. Dia ada di dalam kita untuk menunjukkan kepada kita hal-hal yang secara cuma-cuma telah diberikan Allah bagi kita. Salah satu hal yang telah diberikan cuma-cuma bagi kita adalah Kehadiran-Nya yang tinggal di dalam kita! Ini saatnya bagi kita untuk mempunyai “pemikiran Allah didalamku”. Setiap hari hidup dalam kasih karunia Allah membuat kita semakin sensitif dan sadar akan kehadiran-Nya di dalam kita. Hal ini mungkin karena kasih karunia Allah, yang sekarang tersedia bagi kita dalam Perjanjian Baru! Percaya dan bersandarlah dalam kasih karunia-Nya! Mengucap syukurlah kepada-Nya karena kasih karunia-Nya selalu ada kapanpun kita butuhkan!
Apakah mungkin saat beristirahat masih dapat melihat mukjizat terjadi? Apakah kata istirahat dan kuasa Allah berjalan bersama-sama? Atau kita harus menambahkan dengan kata-kata seperti perbuatan, usaha pribadi, kebenaran pribadi dan membayar harga untuk mendapat kuasa Allah?
Kami percaya Anda akan menikmati dua artikel dalam newsletter bulan ini. Pastor Tom Lipkin dari Finlandia mengajar tentang kesederhanaan Injil sebagai kekuatan Allah, dan Pastor Mike Walker dari AS menjelaskan bagaimana kita dapat beristirahat dalam karya Yesus yang telah selesai dan mengalami buah-buahnya.
Injil adalah kabar baik tentang apa yang telah diselesaikan Yesus! Sayangnya fokus kita sering kali lebih pada apa yang harus kita lakukan. Galatia 1:6 berkata, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.”
Kapan kita berbalik dari Yesus – kepada siapa kita berbalik? Seringkali jawabannya adalah: diri kita sendiri! Sudahkah Aku cukup melakukannya, apakah Aku berhak menerima ini, apakah Aku cukup baik, dll. Itu semua adalah pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: Sudahkah Yesus membayar dengan lunas? Sudahkah Dia menyelesaikan karya-Nya? Apakah Yesus cukup baik? Dengan jawaban ‘Ya’ terhadap pertanyaan tersebut kita dapat beristirahat dalam jaminan karya yang telah diselesaikan-Nya!
Bersemangatlah dan biarkan Injil menjadi kekuatan Allah dalam hidup dan pelayanan Anda!
Perhentian – sebuah kata yang sering kali tampaknya diluar jangkauan orang-orang yang hidup dalam dunia yang penuh dengan ketergesaan, terus mengejar sesuatu, penuh tekanan. Tuntutan kebutuhan sehari-hari menghabiskan waktu dan energi kita, tetapi Tuhan telah memberikan kepastian bagi kita bahwa ada sebuah tempat perhentian bagi umat Allah.
Ibrani 4:1 – “ Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.”
Tuntutan kebutuhan sehari-hari menghabiskan waktu dan energi kita, tetapi Tuhan telah memberikan kepastian bagi kita bahwa ada sebuah tempat perhentian bagi umat Allah.
Ada sebuah perhentian bagi umat Allah; sebuah tempat di dalam Roh dimana kita dapat hidup dengan memiliki kesadaran akan hidup berkelimpahan dan kuasa supranatural yang telah diberikan Kristus bagi kita. Ada sebuah tempat pehentian dimana kita berhenti dari semua usaha kita dan masuk ke dalam hidup yang telah diberikan Yesus bagi kita melalui salib.
Ibrani 4:2-3 melanjutkan dengan: “ Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian…”
Teks tersebut berbicara tentang sebuah kejadian dalam Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Bilangan 13. Kita dapat membaca bagaiaman Tuhan berbicara kepada umat Israel dan memberikan “tanah perjanjian” tersebut. Tuhan menyuruh mereka untuk menjelajahi dan melihat berkat-berkat tersebut. Jadi mereka memilih dua belas pengintai yang dikirim untuk melihat tanah yang telah dijanjikan Allah. Dalam perjalanan mereka meneukan kota-kota yang berkubu dan raksasa-raksasa tetapi mereka juga menemukan berkat yang melimpah!
Sepuluh pengintai kembali dengan membawa laporan yang penuh dengan ketakutan; mereka tidak percaya bahwa TUHAN telah memberikan tanah itu bagi mereka. Hanya Yosua dan Kaleb yang menolak untuk percaya laporan buruk itu dan diwaktu kemudian mereka masuk ke dalam tanah perjanjian – sebuah tanah yang berlimpah dengan susu dan madu, atau dalam istilah Perjanjian Baru, kelimpahan dan kemakmuran. Mereka adalah dua orang dari generasi tersebut yang masuk ke dalam perhentian!
Jangan percaya berita jahat, tetapi percayalah pada Injil dan masuklah ke dalam tempat perhentian, kedamaian, kemakmuran dan kesehatan itu.
“Tanah perjanjian” ini tersedia bagi setiap orang percaya; ini adalah tanah yang penuh dengan kesehatan, kemakmuran dan segala hal yang baik. “Tanah perjanjian” ini bukanlah sebuah lokasi dalam peta akan tetapi merupakan suatu keadaan. Ini adalah sebuah tempat dalam dunia roh yang secara literal mempengaruhi bagaimana kita mengatur “kehidupan” dan keadaan kita melalui tantangan-tantangan hidup yang kita hadapi. Sebuah hidup yang diberikan Yesus yang melampaui dasar, sebuah tingkat pemeliharaan keberadaan yang diinginkan begitu banyak orang Kristen.
Tempat perhentian ini adalah kedamaian dan kemenangan total dalam setiap area kehidupan kita dan hal itu ditemukan dengan cara mempercayai Injil – kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan, tetapi memang nyata!
Yohanes 6:28-29 – “ Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Untuk masuk ke dalam tempat perhentian itu kita harus percaya pada Injil. Percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat, Penyembuh, Pembebas, Penyedia. Percaya bahwa Dia adalah Gembala Agung yang memimpin dan membimbing kita dalam setiap area kehidupan kita sehari-hari. Untuk bisa mengerjakan pekerjaan Allah, maka kita harus percaya! Percaya bahwa Dia telah mengalahkan semua kuasa musuh dan kita telah duduk bersama Dia di sorga.
Ada sebuah tempat yang penuh kuasa – sebuah posisi dimana kita tahu bahwa Allah bersama dengan kita.
Kita bertanding dalam pertandingan iman untuk percaya saat angin dan gelombang kesulitan menerpa hidup kita. Ada banyak suara yang terdengar dari dunia saat ini – suara dari media, suara dari keadaan, suara dari hubungan yang rusak, suara dari kecanduan, suara ketakutan dan masih banyak lagi. Semua itu dapat mempengaruhi hidup kita. Beberapa diantaranya dapat menjadi begitu besar dalam pemikiran kita seolah-olah menjadi raksasa yang menelan hidup kita.
Itulah mengapa sangat penting untuk mendengar suara kabar baik dari Injil! Hal itu merupakan sebuah kabar yang menyatakan tentang kasih Allah yang luar biasa dan tidak terukur bagi manusia sehingga Ia mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, Yesus, untuk turun dari sorga dan menjadi Penebus umat manusia. Sebagai manusia, Yesus menjadi korban yang sempurna dan berkenan untuk menebus dosa manusia. Semua kemurkaan Allah terhadap dosa ditimpakan pada Yesus! Kita dapat beristirahat dalam kenyataan tersebut. Yesus telah membayar lunas harga untuk dosa-dosa kita, untuk kedamaian kita, untuk kesembuhan kita, untuk pemenuhan kebutuhan kita, untuk persahabatan kita, untuk hikmat kita dan juga memberi kita kemenangan total terhadap setiap kuasa iblis!
Ada sebuah tempat yang penuh kuasa – sebuah posisi dimana kita tahu bahwa Allah bersama dengan kita. Kita mengerti bahwa iman timbul dari pendengaran dan pendengaran akan Firman, jadi begitu kita mendengar “kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan tetapi benar-benar nyata dalam hidup Anda”, terimalah, berpeganglah padanya, percaya dan nyatakanlah – kemudian beristirahat dalam kebenaran itu! Jangan percaya berita jahat, tetapi percayalah pada Injil dan masuklah ke dalam tempat perhentian, kedamaian, kemakmuran dan kesehatan itu.
Saat Yosua dan Kaleb memasuki tanah perjanjian bersama dengan generasi berikutnya, generasi mereka sendiri, yang tidak percaya dan tidak masuk kedalam perhentian itu, mati di padang gurun.
Kita duduk bersama Dia di sebuah tempat perhentian dimana kita telah mengalahkan dunia dengan iman di dalam karya yang telah diselesaikan-Nya.
Ibrani 4:9-11 – “Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.”
Masuklah kedalam apa yang telah diraih Kristus bagi kita. Dia duduk di sorga; Dia telah menag dan kemenangan itu diberikan kepada kita! Kita duduk bersama Dia di sebuah tempat perhentian dimana kita telah mengalahkan dunia dengan iman di dalam karya yang telah diselesaikan-Nya.
Terkadang hal ini tampaknya seperti jawaban yang diluar jangkauan kita dan sepertinya ada tembok besar diantara kemenangan dan diri kita. Raksasa-raksasa itu dapat tampak semakin besar dan kita merasa bagaikan belalang dihadapan mereka saat hidup kita dibebani oleh permasalahan, tetapi itulah saat untuk masuk kedalam tempat perhentian Allah. Pikiran dan hati kita dapat tenang dan meraih dibalik selubung ketidak percayaan serta beristirahat dalam apa yang telah diselesaikan oleh Kristus – kita duduk di sorga di dalam Kristus Yesus melampaui semua pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa dan setiap nama yang dapat disebut!
Matius 11:28-30 – “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”
Dekaplah janji Allah dan nyatakanlah bahwa melalui Kristus, tempat perhentian itu menjadi milik kita.
Bayangkan sebuah khotbah yang keras dan menakutkan bagi para pendengarnya yang merasa diri mereka penuh dengan dosa, dihakimi dan tidak nyaman. Ya, kadang sebuah khotbah dapat benar-benar membuat orang menjadi takut, kuatir, merasa rendah diri dan terhakimi.
Akan tetapi, sebuah khotbah adalah salah satu alat luar biasa yang telah diberikan Allah bagi gereja. Khotbah juga dapat membangkitkan iman, harapan dan kasih. Sebuah khotbah dapat memberikan efek yang membebaskan dan menyegarkan serta membuat hati penuh dengan sukacita.
...bahkan sebelum kita sadari, Hukum Taurat akan mengalihkan perhatian kita dari besarnya kemerdekaan dan sukacita yang telah diberikan Allah bagi setiap orang percaya.
Para murid mula-mula menggunakan khotbah dan memberitakan Firman saat memperkenalkan Yesus pada orang lain. Sebelum Yesus naik ke sorga, Dia memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injik kepada segala makhluk. Dia sendiri berjanji akan menguatkan Firman itu jika para murid tersebut memberitakannya (Mark 16:20). Sebuah dimensi luar biasa yang dirancangkan Allah dalam khotbah!
...selalu saja ada kecenderungan untuk memberitakan hal lain diluar Injil.
Khotbah-khotbah dalam Kisah Para Rasul berkonsentrasi pada kasih Allah kepada semua orang melalui Yesus Kristus. Para rasul hanya memberitakan inti dari Injil yaitu Yesus adalah pemberian Allah dan apa artinya bila orang menerima Dia dan percaya pada kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui Injil yang sederhana, Tuhan menguatkan firman-Nya dengan menyembuhkan orang yang sakit.
Dia Sendiri berjanji untuk menguatkan Firman yang diberitakan.
Pada saat itu, mereka tidak berkhotbah dengan jari yang menunjuk kemungkinan segala “kesalahan” yang dilakukan oleh orang. Mereka tidak berkhotbah dengan nada yang menghakimi ataupun menyalahkan. Mereka tidak meletakkan beban pada orang dengan menuntut berbagai hal dari mereka. Paulus tidak mengkhotbahkan tentang betapa “mengerikannya” penyembahan berhala di Athena atau betapa “buruknya” gaya hidup orang Korintus. Filipus juga tidak mengkhotbahkan penghakiman terhadap Samaria karena mereka memiliki agama yang berbeda. Tidak. Para murid hanya memberitakan tentang Yesus. Mereka memberitakan kasih karunia Allah yang dapat diterima semua orang. Mereka mengkhotbahkan tentang anugerah Allah yang turun bagi orang-orang yang menerima kasih karunia Yesus. Yesus adalah pusat dari segalanya. Kebaikan seseorang yang seperti apapun sama sekali tidak mengesankan bagi Allah.
Kebenaran dasar tidak pernah berubah. Meskipun demikian, selalu saja ada kecenderungan untuk memberitakan hal lain diluar Injil..
Dalam khotbah, kita dapat dengan mudah mengalihkan pandangan kita pada segala hal yang harus kita lakukan untuk “mendapatkan kebangunan rohani.” Konsekuensi dari hal ini sering kali hanyalah depresi. Seperti inilah seharusnya khotbah itu, khotbah seharusnya menggambarkan tentang Yesus didepan mata para pendengarnya dan mengajarkan tentang apa artinya memiliki Dia dalam hidup kita sehari-hari.
Itulah mengapa Paulus mengatakan: “Betapa mengerikannya bagiku jika aku tidak memberitakan Injil!” Dia melihat semua orang telah “disalibkan dalam Kristus” dan ingin menyampaikan bahwa semua orang “sempurna di dalam Kristus” dihadapan Allah. Paulus sangat tahu bahwa tidak seorang pun benar. Bahkan pembenaran itu adalah anugerah yang kita terima melalui Yesus Kristus (1 Kor. 1:30). Jika fokus saat berkhotbah tentang pembenaran tersebut ada di dalam “kita”, bukannya di dalam Kristus, hal tersebut akan dengan sangat mudah menciptakan rasa bersalah daripada menciptakan kehidupan.
Saat Injil diberitakan, orang akan diangkat dari kesalahan dan kekalahan. Yesus berkata kepada seorang perempuan berdosa dalam Yohanes 8: ““Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Kuasa dosa hancur pada saat itu. Saat kuasa dosa dihancurkan, Yesus membebaskan perempuan itu untuk hidup. Hari ini pun Yesus tetap sama. Melalui khotbah-khotbah dan pengajaran, rasa bersalah dan perasaan rendah diri akan hilang. Kuasa dosa akan dipatahkan. Sebuah khotbah harusnya menciptakan harapan dan iman sehingga para pendengarnya akan merasakan lagi kasih Yesus yang indah. Mungkin Anda juga telah terperangkap dalam perangkap rasa bersalah. Biarkan Roh Kudus menolong Anda. Tugas-Nya bukan untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan Anda, tetapi untuk menunjukkan betapa berharga, dikasihi dan betapa benarnya Anda di dalam Kristus tanpa memandang segala kesalahan Anda. Hanya kasih karunia Allah yang dapat mematahkan kuasa dosa. Kasih karunia tidak hanya membuang dosa dan rasa bersalah tetapi juga menghilangkan perasaan tertekan karena mengejar kesuksesan, keegoisan, kebiasaan untuk membandingkan satu dengan yang lain, dan perasaan yang selalu tidak cukup.
...mustahil bagi manusia untuk dapat mendekati Allah bahkan bila yang dibutuhkan hanyalah “sedikit saja” kebenaran diri sendiri.
Yesus adalah teladan kita dalam segala hal yang mungkin. Beberapa perkataan Yesus yang pertama kali dicatat adalah: “Bertobatlah dan percayalah pada Injil!” Apakah arti dari bertobat? Artinya kita tidak lagi mencoba untuk menyenangkan Allah dengan perbuatan baik kita. Tidak peduli betapa baiknya perbuatan kita, semuanya itu disebut perbuatan sia-sia. Akan tetapi, kita dipanggil untuk berjalan dalam iman. Ini berarti kita mengerti bahwa setiap hal baik yang kita alami adalah pemberian Allah bagi kita dan merupakan bagian dari kasih karunia-Nya yang luar biasa. Yesus menunjukkan pada kita bahwa mustahil bagi manusia untuk dapat mendekati Allah bahkan bila yang dibutuhkan hanyalah “sedikit saja” kebenaran diri sendiri. Semua berkat harus diterima sebagai anugerah saja.
Tentu saja Alkitab berbicara tentang hal-hal yang benar dan salah. Dalam Alkitab kita dapat menemukan banyak sekali hikmat dan nasihat baik yang dapat diterapkan sehari-hari. Tetapi Alkitab bukan sekedar kitab moral. Semua agama mempunyai sikap moral tertentu. Alkitab sebenarnya, dari halaman pertama kitab Kejadian sampai halaman terakhir kitab Wahyu, semuanya tentang satu pribadi – Yesus Kristus (Lukas 24:27). Semua khotbah harus meninggikan Yesus. Itulah saat dimana Yesus sendiri akan menguatkan Injil-Nya. Banyak orang percaya percaya bahwa Yesus lebih mudah melakukan mukjizat di Afrika atau Asia. Tetapi Yesus melakukan mukjizat dimanapun Injil-Nya diberitakan; dimanapun ada “seseorang” yang menerimanya dengan iman. Yesus tidak membeda-bedakan suku bangsa. Yang diperlukan hanya satu, ada orang yang memberitakan dan mendengar maka Yesus akan meneguhkan Injil-Nya dengan mukjizat. Anda dapat menjadi “orang” yang akan memberitakan atau menjadi “orang “ yang akan menerima.
Memberitakan Injil tidak berarti semua khotbah harus seperti khotbah pada waktu Paskah. Namun demikian, inti dari Injil harus selalu menjadi dasar dari semua khotbah.
Jalan sempit itu diubah menjadi jalan yang baru dan hidup! Bertahun-tahun kita telah mengkhotbahkan tentang “pintu yang kecil” dan “jalan yang sempit” dan bahwa “beberapa orang akan menemukannya” pada pengajaran Yesus dalam Matius 7:12-14 dan Lukas 13:23-40.
Kalau kita membaca lebih jauh, kita akan melihat bahwa ini merupakan suatu penjelasan tentang cara Hukum Taurat menuju keselamatan. Jalan ini bukan hanya sulit namun sesungguhnya mustahil. Namun pesannya masih sama: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya.”
Jalan melalui Hukum Taurat sesungguhnya sempit dan keselamatan melalui usaha adalah pintu yang kecil dan hanya sedikit orang yang mampu melewatinya. Hanya sedikit orang atau dengan kata lain sebenarnya TIDAK SEORANG PUN yang mampu!
Lukas 13:24 berkata: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat..” Mengapa tidak? Karena mereka menemukan batu sandungan, Yesus Kristus. DIA adalah pintu yang terbuka dan pintu yang baru dan hidup, jadi dengan melalui Dia pintu itu akan menjadi mudah. Namun karena orang Yahudi tidak mau tunduk pada keadilan Tuhan, mereka mencari keadilan mereka sendiri. Anda lihat, sesungguhnya Yesus sedang berbicara pada orang-orang Yahudi itu tentang pesan ini! (Lihat Mat. 15:24)
Bila Anda melihat lebih dalam pada Lukas 13, Anda akan menemukan dalam pasal ini bahwa Dia berbicara tentang kekerasan hati orang Yahudi dan keselamatan orang non-Yahudi. Cara mendapatkan keselamatan dengan usaha pribadi sangatlah sulit, bagi mereka yang melakukan cara itu tidak akan berhasil.
“Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat.” (Gal. 3:21)
Keselamatan lewat usaha sangatlah mustahil. Itu merupakan pintu yang kecil dan jalan yang sempit, penuh undang-undang dan hukum mengandung rincian yang besar dan kecil. Tidak satu pun rincian yang boleh terlupakan! Sebab itulah, Yesus harus membuka sebuah JALAN YANG BARU DAN HIDUP ketika Dia mati di salib! Dengan darah Yesus kita telah menerima sebuah jalan yang baru untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan. (Ibr.10:19-20).
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes 14:6)
Paulus berkata: “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (Rom.10:13) Ini bukanlah jalan yang sulit atau pintu yang kecil.
Yesus datang untuk meluruskan jalan yang berliku yang dulunya begitu sulit untuk kita lalui.
Lukas 3:5-6 says: “Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”
Dibawah hukum Taurat “tidak seorang pun dapat dibenarkan,” sementara kini, “semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” Berbicara tentang suatu perbedaan yang besar!
Jalan melalui hukum Taurat berliku-liku dan tak mungkin dilalui.
Jalan melalui hukum Taurat berliku-liku dan tak mungkin dilalui. Yesus sekarang, melalui keselamata dariNya, membuat jalan yang berliku menjadi lurus dan yang berlekuk diratakan. Kini semua orang bisa melihat keselamatan yang dari Tuhan!
Tidak lagi sulit. Kini tidak seorang pun yang mencari jalan masuk tanpa kemampuan untuk melaluinya. Keselamatan telah digenapi dan siapapun yang mau menerimanya akan mendapatkannya dengan gratis. Siapapun yang menerimaNya akan dilahirkan kembali. “Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” (Rom 3:26) Tragedi yang terjadi pada banyak orang Kristen adalah bahwa Firman Tuhan tidak dipelajari pada bagian yang penting ini. Dengan demikian, pesan tentang jalan yang sempit dan pintu yang kecil masih dikhotbahkan. Inilah yang membuat orang Kristen sulit untuk berjalan meskipun Yesus telah berkata bahwa itu mudah!
Yesus berkata: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat. 11:30)
Petemuan para rasul di Yerusalem menghasilkan suatu resolusi agar tidak mempersulit bangsa-bangsa lain yang berbalik pada Tuhan! (Kis: 15:19) Masih ada beberapa orang yang ingin membuatnya menjadi sulit, oleh karena itu hal tersebut hanya menjadi pesan bagi mereka yang tertarik. Namun Firman Tuhan berkata bahwa SEMUA MANUSIA akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. Malaikat di padang Betlehem berkata: “sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.”
“Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” (Lukas 3:4-6) Ini adalah suatu nubuatan tentang Yohanes Pembabtis namun sesungguhnya secara lebih mendalam nubuatan ini mengacu pada Yesus.
Lihatlah pada gambaran ini: Jalan itu mustahil untuk dilalui dan harus dibersihkan. Jalannya berliku dan harus diluruskan. Jalannya bergelombang dan harus diratakan. Sebuah bulldozer harus menimbun setiap lubang dan meratakan jalan yang terjal.
Yesus sendiri yang membersihkan jalan itu, meluruskan yang berliku dan meratakan jalan itu.
Kini pekerjaan itu telah selesai, Yesus sendiri yang membersihkan jalan itu, meluruskan yang berliku dan meratakannya. Hasilnya adalah jalan yang rapi, mudah, dapat dilalui dan rata.
Sebab itu wajar jika orang-orang Kristen pertama disebut “Jalan”’. Karena jalan itu kini bersih dan semua orang dapat melihat keselamatan yang dari Tuhan. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.”
Pesannya adalah: “Percayalah pada Yesus Tuhan dan engkau akan diselamatkan.” Semuanya tentang Dia bukan tentang tindakan agamawi. Nabi Yesaya menubuatkan tentang jalan ini: “Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ,dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang.
Ini adalah sebuah jalan tol, jalan utama, bukan jalan yang sempit dan berliku.
masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” (Yes. 35:8-10) Jalan ini sudah tersedia sekarang! Ini adalah sebuah jalan tol, jalan utama, bukan jalan yang sempit dan berliku.
Saya bertumbuh di daerah luar kota dan saya mengerti tentang jalan yang sempit, yang sering digunakan oleh hewan maupun manusia di hutan dan padang. Anda akan mudah tersesat jika tidak terbiasa dengan keadaan sekeliling. Banyak orang yang kehilangan petunjuk di hutan saat mereka melakukan semacam olahraga mencari jejak. Bila keadaannya berkabut atau gelap, Anda pasti akan tersesat.
Namun ada juga jalan yang dilalui mobil melewati hutan, seperti yang sering digunakan oleh pembalap selama rally-cross.
Sebuah jalan utama melintasi tempat tinggal saya sampai ke kota. Selama musim semi, jalannya menjadi begitu bergelombang dan sebagian sulit untuk dilalui, jadi rasanya seperti sebuah kebebasan saat melintasi E-6, sebuah jalan tol yang bagus. Namun sebagian orang Swedia mungkin tidak sependapat bahwa E-6 di Norwegia bukanlah jalan tol yang sesungguhnya dan orang-orang Jerman hanya akan tersenyum pada apa yang kami sebut sebagai jalan tol.
Namun merupakan suatu sukacita akan apa yang dikatakan Firman sebagai “sebuah jalan bagi Tuhan!” Jalan yang telah Tuhan buka adalah jalan yang lurus tanpa belokan, sudut atau kerusakan!
Tidak ada orang yang akan tersesat, dan jalan itu telah membawa kita menuju tempat kudus. (Ibr.10:19-20)
Dengan darahNya di salib, Dia telah menyatukan apa yang di bumi dan di surga. Dan pada tubuhNya melalui kematian, Ia telah mewakili kita menjadi kudus, tak bercela, dan sempurna seperti diriNya. Pesan ini benar-benar berbeda dengan pesan yang dahulu.
Kita telah hampir mengkhotbahkan kebalikan dari karya Yesus yang sempurna.
Kita telah hampir mengkhotbahkan kebalikan dari karya Yesus yang sempurna. Kita mengkhotbahkan tentang pintu yang kecil dan sempit, jalan yang berliku dan terjal. Kita dengan jelas telah melupakan bahwa kini jalan itu telah bersih, yang berlubang telah ditimbun, yang terjal diratakan, dan yang berliku diluruskan. Kini kita mempunyai jalan utama yang mulus – SEBUAH JALAN TOL BAGI UMAT TUHAN. Jalan yang mudah ditemukan dan mudah untuk dilalui. Bahkan orang bodoh pun tidak akan tersesat.
Sebuah jalan tol yang bersih, lurus dan rata, itulah keselamatan bagi semua manusia.
Ini bukan lagi hanya bagi beberapa orang pilihan. Kini jalan itu untuk semua manusia. Langkah awalnya adalah bahwa Dia telah mendamaikan dunia dengan diriNya dan menghapus semua dosa dunia. Masalah dosa telah diselesaikanNya bagi pertobatan atas dosa kita bukan hanya kita tapi untuk dosa seluruh dunia. Yesus tidak datang untuk menghakimi dunia, tapi agar dunia diselamatkan melalui Dia. Orang-orang harus mendengar tentang pendamaian ini; karena kita memiliki karunia atas pedamaian.
Karena pendamaian itu, orang-orang sekarang bisa menerima dan menggunakan anugerahNya dan kebajikan dan memperoleh pemulihan untuk mendapatkan kebajikan dan kasih karuniaNya.
Namun Tuhan telah memberikan manusia kehendak bebas; maka pesannya adalah: Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma! Inilah misi besar kita – inilah tugas pengutusan kita dalam terang pewahyuan Paulus.
tidak lagi hanya sedikit orang yang menemukan pintu itu; bangsa-bangsa lain akan datang “dalam jumlah banyak.”
Dengan demikina bukan hanya beberapa orang yang menemukan jalan dan pintu itu; bangsa-bangsa lain akan masuk dalam “jumlah yang penuh.” (Rom. 11:25)
Tuhan memiliki jumlah yang Ia tentukan dan kita tahu bahwa Ia ingin semua manusia diselamatkan. Karena itu Yesus belum datang kembali. Tuhan ingin agar pintu keselamatan itu masih tetap terbuka. (2.Pet. 3:9 and 15)
RumahNYA akan PENUH dengan tamu. (Luke.22:10)
suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa … (Wahyu 7:9)
Seluruh generasi, keluarga, bahasa dan dialek akan mewakili. Tuhan inin semua manusia diselamatkan….
TERIMA KASIH YESUS YANG TELAH MEMBERIKAN HIDUPNYA UNTUK MEMBUKA JALAN. SEBUAH JALAN YANG BARU DAN HIDUP TELAH MENGGANTIKAN JALAN YANG SEMPIT YANG BERLIKU DAN TERJAL….
INI AKAN BERAKHIR PADA SEBUAH PENUAIAN BESAR BAGI SURGA!
Ada satu pertanyaan dalam Alkitab yang menggambarkan dilema dari semua agama di muka bumi – pertanyaan itu adalah: “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?” (Ayub 25:4). Dengan kata lain, bagaimana mungkin bagi manusia yang secara alami, terikat dengan dosanya dan lahir ke dunia yang penuh dosa, dapat diterima untuk berdiri di hadapan Tuhan yang suci dalam keadaan bersih? Bagaimana mungkin orang yang benar-benar berdosa dapat mendekati satu-satunya Tuhan yang kudus?
Bagaimana mungkin orang yang benar-benar berdosa dapat mendekati satu-satunya Tuhan yang kudus?
Untuk mengetahuinya secara mendasar dan secara langsung, kita dapat mengatakan bahwa semua agama secara umum mempunyai satu hal yang khusus biasanya: yakni atas dasar apa yang harus engkau lakukan agar diterima di mata Tuhan. Agama adalah, dalam pandangan yang umum, tentang apa yang harus dilakukan manusia supaya menerima berkat, pengampunan, penerimaan, pertolongan dan jawaban doa dari Tuhan. Tidak masalah apakah agama itu merupakan suatu campuran yang aneh dari pemikiran mistik daerah timur atau bila itu adalah versi yang tercemar dan menyimpang dari “agama” Kristen, perbuatan manusia merupakan faktor penentu agar diperhitungkan.
Pernyataan agama: Bila engkau mencapai standar maka engkau akan menerima beberapa imbalan, beberapa penghargaan, dan beberapa berkat.
Pernyataan agama: Bila engkau mencapai standar maka engkau akan menerima beberapa imbalan, beberapa penghargaan, dan beberapa berkat. Itulah yang sering terjadi. Engkau melakukan bagianmu dan Tuhan akan melakukan bagianNya! Kau melakukan yang terbaik untuk memenuhi persyaratan dan Tuhan akan menunjukkan anugerah dan berkatNya padamu! Sungguh suatu dilema yang tanpa harapan – suatu cara yang sulit untuk hidup! Agama menempatkan beban yang tinggi dan semua tekanan pada Anda serta kemampuan Anda. Orang yang paling tertekan iasanya merupakan pengikut yang paling setia dari sebuah “sistem agama.” Kenyataannya, itu terlihat seperti hanya “manusia super” yang bisa mendekati persyaratan yang diberikan oleh beberapa agama. Tanpa harapan, sia-sia, dan tiada artinya – itu adalah jalan yang berujung maut – dan tak ada jalan keluar!
Usaha manusia, perbuatan dan kecakapan untuk menaati semua peraturan merupakan apa yang digarisbawahi oleh setiap agama. Supaya diperhitungkan untuk menerima kemurahan dan berkat, manusia harus tunduk pada standar yang luar kemampuan dan kemudian memenuhi semua persyaratan. Ini merupakan apa yang menentukan akhir hidup manusia. Jadi itu merupakan mode utama agama pada semua umat manusia. Kita dapat melihat melalui hal ini bahwa agama sungguh berbahaya – itu berpusat pada apa yang manusia harus lakukan, apa yang manusia harus capai, dan apa yang manusia harus tampilkan! Semua agama pada dasarnya berkisar pada sebuah sistem dari pekerjaan dan perbuatan – itu sebabnya mengapa hal itu sungguh sia-sia!
Sayangnya, bahkan model “agama Kristen” yang telah menyimpang telah jatuh ke dalam perangkap ini – semua telah berpusat pada perbuatan dimana manusia berusaha untuk menyenangkan Tuhan melalui usaha dan kerjanya secara pribadi. Terkadang begitu sulit untuk melihat perbedaan antara agama “yang berpusat pada penamilan pribadi” dengan Kekristenan!
”Agama” Kristen, juga memiliki petunjuk tentang “lakukan sendiri”.
”Agama Kristen” telah beralih menjadi runtutan permintaan yang tiada habisnya. Kenyataannya, Kekristenan memiliki banyak, berbagai variasi tentang “lakukan sendiri”. Anda mungkin telah melihat buku-buku tentang “lakukan sendiri” yang dijual di toko. Hampir setiap hobi mempunyai petunjuk bagaimana “melakukan sendiri” untuk menolong seseorang dalam memperbaiki, membangun dan mengoperasikan sesuatu. Contohnya ada petunjuk “lakukan sendiri” untuk setiap jenis mobil yang dimaksudkan untuk menolong Ada untuk memperbaiki dan menservis mobil Anda tanpa harus merepotkan orang lain. “Agama” Kristen juga, mempunyai petunjuk “lakukan sendiri” miliknya. Semua buku berbicara tentang bagaimana untuk mendapat lebih banyak kesuksesan, lebih banyak berkat, lebih banyak kemenangan, dan pertolongan dari Tuhan. Dengan berdoa lebih banyak, dengan memberi lebih banyak, dengan berpuasa lebih banyak, dengan berserah lebih lagi, dengan lebih berkomitmen, dengan percaya lebih lagi, dengan melakukan lebih lagi …daftarnya tak berakhir…lagi, lagi, lagi. Namun itu tidak pernah menghasilkan apa yang dijanjikan – sebaliknya itu menghasilkan kekecewaan bagi para pengikutnya. Kabar baik dari Injil adalah bahwa Anda tidak perlu melakukannya sendiri – Tuhan telah melakukan sesuatu yang nyata dan lengkap tanpa bantuan manusia - bacalah terus!
Kabar baik bagi semua yang lelah dengan treadmill agama yang tidak pernah berakhir adalah: Kebenaran adalah hadiah dari Tuhan bagi mereka yang menerima apa yang telah Yesus lakukan bagi mereka melalui iman! Penerimaan dan pengampunan tersedia karena apa yang telah Yesus lakukan! Kebenaran dan hidup kekal adalah pemebrian Tuhan bagi umat manusia! Ini tidak tergantung pada apa yang harus Anda lakukan – itu semua tergantung pada apa yang telah Tuhan lakukan! Sebuah hadiah tidak bisa diusahakan dan tidak bisa dibeli. Bila Anda harus membayar sejumlah nilai, maka itu bukan lagi sebuah hadiah!
Banyak orang di dunia yang menganut “agama Kristen” tidak pernah benar-benar mendengarkan Injil yang sebenarnya. Mereka telah menerima bentuk “Kekristenan” tanpa pernah mengerti tentang apakah Injil itu sebenarnya. Mereka berpikir bahwa “Kekristenan” hanyalah sekedar sebuah agama lain dengan sejumlah peraturan yang berbeda dari agama lainnya! Mereka telah mengganti “perintah” dan “larangan” Kristen untuk agama-agama lain itu. Mereka percaya bahwa mereka harus mengusahakan jalan mereka menuju Tuhan dan di saat yang sama mereka mencoba lakukan yang terbaik untuk menjaga keselamatan mereka. Ini bukan Injil yang sebenarnya. Ini jelas bukan kabar baik!
“Berita yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan” ini bagi mereka yang frustasi dan lelah dengan semua sistem agama adalah: penerimaan dan pengampunan dari Tuhan tidak tergantung dari perbuatanmu! Perbuatanmu tidak akan pernah menghasilkan kebenaran dan penerimaan – pengampunan dan kebenaran adalah pemberian gratis dari Tuhan! Anda bisa paham diluar semua bantahan bahwa Anda dikasihi, diterima dan diampuni karena apa yang telah Yesus lakukan bagi kita!
Modifikasi tingkah laku tidak mengubah motif dari hati seseorang – hal itu hanya menghasilkan “modifikasi tindakan”.
Pemberian kebenaran menghasilkan sebuah perubahan hati, yang kemudian, mengubah tindakan kita. Tindakan tidak bisa mengubah hati kita. Namun hati yang diubahkan dengan pasti akan mempengaruhi tindakan kita! Modifikasi tingkah laku tidak mengubah motif dari hati seseorang – hal itu hanya menghasilkan “modifikasi tindakan.” Kekristenan tidak berpusat pada “modifikasi tingkah laku” namu untuk mengubah seseorang dari dalam ke luar. Agama fokus pada tindakan di luar, namun Tuhan fokus pada mengubah hati manusia!
Ketika kita menemukan karya yang telah dilakukan Yesus Kristus, yang digenapi di kayu salib, kebenaran lalu menjadi kata yang positif. Itu tidak lagi menjadi suatu permintaan yang mustahil untuk kita lakukan. Kita mengenal bahwa satu-satunya kebenaran yang berharga adalah kebenarannya Yesus - dan kita menerimanya sebagai pemberian yang gratis.
Sebuah definisi yang tidak lengkap dan tidak terlalu rohani tentang kebenaran secara sederhana adalah “berada pada posisi yang tepat bersama Tuhan.” Definisi lain yang sederhana namin bermakna cukup dalam adalah “Kemampuan untuk berdisi dalam hadiran Allah Bapa tanpa rasa bersalah atau rendah diri.” Tidak begitu sulit untuk dipahami! Sebelumnya kita berada “di luar garis” dan kini kita berada di “dalam garis” setelah kita menerima anugerah kebenaranNya lewat iman akan apa yang telah Yesus lakukan. Kebenaran adalah kondisi saat kita berada dalam hubungan yang benar dengan Tuhan. Hal ini hanya bisa terjadi melalui iman dan ketergantungan sepenuhnya pada Kristus. Tidak ada jalan yang lain, dan tidak ada yang bisa kita tambahkan pada man kita untuk mendapatkan hubungan yang benar dengan Tuhan.
Pemberian yang luar biasa! Berkat yang luar biasa! TIDAK ada agama yang bisa menawarkan sesuatu seperti ini! Inilah mengapa Injil Kasih Karunia Allah adalah Kekuatan Allah bagi setiap orang yang percaya akan hal itu!
I have been preaching the Gospel for more than 40 years, and I have met many wonderful people. I have met a lot of people who want to live their lives for Jesus. I have heard people, especially many young people, who say that they want Jesus to be number one in their lives. And that is great to hear – you may very well say that Jesus is number one in your life. But I would like to take it one step further….
Many years ago, when I was working in the seamen’s church in London, I had a dramatic accident. My body and my brain were seriously damaged. I lived in pain and suffering for several months. But one night in my home, Jesus appeared to me. He filled me and the whole room with His glory. It was like warm oil moving around in the room and filling me with His presence. I jumped out of the bed with my hands lifted, and I praised Him in a new language. I didn’t understand a word of it, but I just felt that finally I could praise Him the way I wanted. It was so perfect.
When He was crucified, I was there on the cross with Him.
And I realized that I was completely healed, my body and brain were completely restored! A lot of things happened, and I heard a voice saying to me: “Now, you know you are crucified with Me. It is not you living anymore, because now I live IN you. And the life you now live as a person, you live through My life, through My faith, and through My strength. And it is all because I love you!”
It is all because He loves me! It is all because He loves you!
Jesus appeared to me that day because He loved me, and He wanted to tell me what He had given me because of His love for me. When He was crucified, I was there on the cross with Him. While He was suffering in pain, I was there with Him. His love for me made Him take me with Him on the cross. While he was suffering in pain and left alone without His father, he thought, “It is worth it because I am doing it for Bjørn.” And while He was paying for all my sins, my life was crucified. And when He was raised in victory, I was raised with Him. My own life was gone. But He had a new life for me - His own life. I now live through His life, through His faith and through His strength.
He IS my life. He IS your life.
So you see Jesus is more than number one in my life. He IS my life. He IS your life. Galations 2.20 says, “I have been crucified with Christ and I no longer live, but Christ lives in me. The life I live in the body, I live by the faith of the Son of God, who loved me and gave himself for me.”
So when Jesus lives in me, I can always sing and praise Him. “Are you always happy?” you may ask. Yes, I can always rejoice in the Lord. I can, of course, feel sorrow in many situations, but I can stand in the middle of all difficulties and rejoice in Him. I am saved and He lives in me!
God loves you. He has always loved you and will always love you. There is nothing you can do to make him not love you. He loved you when you were created in your mother’s womb, and he wrote your name in the book of life. And you know what? He loves every person equally! Everyone has his or her name written in the book of life when created in their mother’s womb. His love is the same for all of us. As Revelation 3 says, a person can choose to reject Jesus and thereby be blotted out from the book of life. But God in His love is waiting for your response to His love. His love is the same whether you are good or bad according to this world’s standard.
Everyone has his or her name written in the book of life when created in their mother’s womb.
He loves everyone just as much as He loves you. The only difference between the sinner and you is Jesus! It was a revolution to me when I realized this. It changed my attitude toward other people. When I meet someone - it can be a robber, an alcoholic, or anyone else - I don’t think of them as sinners. I think of them as someone God loves. When they were born, their names were written in the book of life. And God is only waiting for a YES from them.
And as God loves every person, we can also love every person. Or more correctly, Jesus, who lives in us, can love all people. Romans 5.5 says, “God has poured out His love into our hearts by the holy spirit, whom He has given us.”
Say YES to Jesus, and let Him live His LIFE through you!
Pernahkah Anda ditunjuk untuk pergi dan memberitakan kabar baik yang baru saja terjadi pada seseorang? Saya yakin Anda tidak melakukannya dengan hati yang cemas atau dengan wajah yang sedih, tetapi dengan hati yang gembira dan penuh sukacita. Anda tahu kabar itu luar biasa! Dan Anda tahu kabar itu nyata!
Kabar dari Injil tidak hanya nyata tetapi sungguh-sungguh luar biasa baik! Dosa telah diangkat, anugerah serta kasih karunia Tuhan tersedia bagi semua orang – tidak memandang agama ataupun bangsa.
Tuhan tidak menghitung dosa-dosa mereka (2 Kor 5:18), jadi kita juga tidak akan menghitungnya juga. Akan tetapi Dia mengundang setiap orang, dimanapun mereka berada untuk menerima karunia yang terbesar. Ini adalah waktu untuk kasih karunia, tetapi masih ada banyak orang yang belum mendengar kabar tersebut!
Dalam newsletter ini, Peter Youngren mengungkapkan isi hatinya tentang bagaimana membawa kabar baik kepada setiap orang, tidak memandang agama mereka. Orang Muslim dan yang lainnya akan mendengarkan saat kita fokus pada amanat yang kita miliki – menjadi pembawa Kabar Baik – daripada melakukan debat agama atau politik. Untuk mendapatkan pesan selengkapnya dari Peter Youngren, Anda bisa membeli bukunya. Dalam newsletter ini juga ada sebuah kesaksian luar biasa dari seorang pekerja muda di sebuah negara Muslim. Joseph Prince telah memberkati banyak orang dengan pengajarannya, dan kami sangat bersukacita dapat menyajikan artikel pengajaran luar biasa itu bagi Anda.
Tulislah e-mail pada kami, kami menanti tanggapan Anda.
I moved to Indonesia as a missionary when I was twenty years old. The task of bringing the Gospel to the largest Muslim country in the world was more than I ever asked for. So many times I felt like I could not do anything worthwhile there that would make a difference. There were many times that the struggle to make something happen became exhausting. Trying to save a country or building up a great ministry could feel like such a heavy burden on my back. I never imagined I could continue this in the long term. But when I discovered the message of God’s grace, it changed my life, my ministry - it changed everything. The simple realization that it was all about Jesus and not about me truly freed me and allowed me to enjoy preaching the Gospel! My name is Susan Hoover and I have now been a missionary in Indonesia for six amazing years.
Began to enjoy the ministry
And since learning to truly trust in Jesus and not trying to accomplish anything by self effort, I not only began to enjoy my ministry much more, but I also saw effects as the ministry grew by leaps and bounds that I never could have imagined! I never could have imagined that by the time I was 25, I would be preaching the Gospel before crowds of thousands and directing a Bible college - and all of it taking place in a Muslim country. It just doesn’t make sense. People often ask me how it is even possible for a young woman to be doing all of this. I only have one answer. I have stolen this answer from the Apostle Paul, “I am what I am, by the grace of God.”
Crowds in
Muslim areas
In our beginning, we would see thousands of people responding to the beautiful Gospel and receiving Jesus into their lives over a year’s time. But now, by the grace of God, we are seeing thousands respond in a single night as we do outreaches that draw crowds larger than they have ever seen before! And some of these are in Muslim areas where locals have claimed that such a thing cannot be done.
I have seen the impossible happen right before my eyes and I know that it is not one little bit because of anything I have done.
I could not have persuaded the Muslim leaders to work together with us. I could not have raised all of the finances that were needed. I could not have brought all those people to gather on the field. I do not have the wisdom needed to make all the decisions and direct everything and everyone. And I could never produce results, touch hearts and make the people believe. And instead of trying to do all of that I can simply allow Jesus to work through me and count on Him that He will work it all out. There is no burden on my shoulders and no stress of trying to force something to happen. I can stand in the midst of it with a smile on my face as I actually enjoy it!
This isn’t about deserving anything
I am well aware that I do not deserve all of this. But when we really stop and think about it, we realize that we don’t deserve anything. I don’t deserve salvation, healing, blessing, prosperity, or any other thing that God wants to give to me. I don’t deserve to receive anything from God and I don’t deserve to be used by God. But because of His grace He has saved me, given me all things and now continues to work through me, regardless of my weaknesses and failures.
I’m far from perfect. I’m just a young person with little education, money, and everything else that the world says you need for success. But I have all that I need - a revelation of the almighty Jesus living and working in me by His love and grace. I know that on my own I could never do anything worth writing about. But with Jesus working in me I have seen history being changed many times and I continue to see the nation of Indonesia being filled with the gospel of grace!
I see a nation loved by God
I have seen so many lives being changed, so many amazing miracles taking place, and so many locals catching the burning passion to spread the Gospel and become the history makers of the future! Words, even thousands of them, could not tell of all the beautiful things that are taking place as the Gospel shines further and further into the dark areas! The world may see a nation full of terrorists, bombs, and disasters but I see a nation loved by God. And although bringing God’s love to a nation with 220 million people seems like it would be an exhausting and stressful task, I look forward to it with joy and excitement. I can enjoy miracles and preaching the Gospel, even in the hardest of areas, because it is not me working it out, but the grace of God working through me.
Kekristenan bukanlah suatu rumus. Allah tidak memandang rendah kita, melihat kita berada dalam dosa-dosa kita, lalu kemudian melemparkan sebuah buku panduan. Tidak.
Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia sehingga Dia memberikan seorang pribadi bagi kita — Anak-Nya, Yesus Kristus. Segala yang Anda butuhkan sebenarnya adalah adanya Tuhan bersama dengan Anda karena Tuhan sendirilah yang memberkati Anda dengan kebenaran, kekudusan, kesuksesan, kemenangan, anugerah, memenuhi kebutuhan Anda, kesembuhan, hikmat, dan masih banyak lagi!
1 Korintus 1:30
30Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. Sekarang, hal itu sangat indah! Perhatikan bahwa Tuhan tidak membuat hikmat terlepas dari Yesus. Dia adalah hikmat kita! Kita tidak memiliki penyucian atau kekudusan yang dibuat-buat ataupun bercacat. Yesus adalah kekudusan kita! Pribadi-Nya adalah penebusan kita!
Tuhan tidak mengatakan, “Aku akan memberi kesembuhan padamu,” atau “Aku akan menyediakan kesehatan untukmu.” Dia berkata, “AKU-lah kesehatanmu! AKU-lah kesembuhanmu!”
Kesehatan, kesembuhan, pemenuhan kebutuhan dan penyediaan, bukanlah sekedar barang atau pemberian yang diberikan Allah pada Anda. Allah memberikan Yesus bagi Anda. Dialah segala yang Anda butuhkan.
Di Gunung Moria dimana Tuhan menyediakan domba jantan untuk menjadi korban menggantikan posisi Ishak, kita melihat sebutan pertama dari nama lain dari Allah — Yehova-Jireh. (Kejadian 22:1–14) “Jireh” berarti “melihat dan menyediakan,” tetapi dalam bahasa Ibrani, arti secara literalnya adalah Tuhan, Yehova, adalah Jireh! Sama seperti Anda tidak dapat memisahkan pengampunan dari sang pemberi ampun, Anda tidak akan memiliki kemakmuran bila terpisah dari Yehova. Dia adalah pemenuhan kebutuhan Anda, kemakmuran dan persediaan Anda!
Dalam Keluaran 15:26, kita temukan sebutan Yehova-Rapha ditempat dimana Tuhan membuat air pahit yang di Mara itu menjadi manis sehingga bangsa Israel dapat minum. Dalam bahasa Inggris, nama tersebut sering diterjemahkan sebagai “Tuhan yang menyembuhkanmu” tetapi dalam bahasa Ibrani, secara literal berarti “Akulah kesembuhan, Akulah kesehatan!” Tuhan tidak mengatakan, “Aku akan memberimu kesembuhan,” atau “Aku akan menyediakan kesehatan bagimu!” Dia berkata, “Akulah kesehatanmu! Akulah kesembuhanmu!”
1 Samuel 15:29 mengatakan, “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal…” Kata “mulia” disini, dalam bahasa Ibraninya adalah natsach, berarti “kemenangan yang tinggal tetap” — kemenangan abadi. Perhatikan bahwa kemenangan itu adalah seorang pribadi – Tuhan itu sendiri. Bahkan kemenangan itu adalah Tuhan! Dia adalah kekuatan, keberhasilan dan kemenangan umatNya!
Apa pun situasi dalam hidup Anda, apa pun karier Anda, semua yang Anda butuhkan adalah Tuhan berada bersama Anda karena berkat tidak berada di perusahaan atau situasi Anda. Kemakmuran Anda tidak tergantung pada hal-hal yang dapat berubah. Semua itu tergantung pada pribadi Tuhan Yesus yang tidak berubah, yang selalu sama baik kemarin, hari ini dan selamanya!
Jadi Anda lihat, ada sesuatu yang salah ketika seorang percaya hanya menginginkan pemberian, tetapi tidak punya hati untuk Sang Pemberi.
Banyak orang ingin kebijaksanaan. Banyak ingin memiliki kekayaan dan kehormatan, dan umur panjang. Tapi mereka tidak melihat bahwa hikmat adalah seorang pribadi, dan bahwa dengan berada dalam hadirat Tuhan-lah yang membuat Anda memiliki hikmat. Mereka juga tidak menyadari bahwa umur panjang tidak terpisahkan dari Dia yang adalah hidup. Yesus telah dijadikan hikmat bagi kita – dan Dia duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:2) Dia adalah hikmat sejati. Dalam Alkitab, hikmat dikatakan memiliki dua tangan. Di tangan kiri adalah kekayaan dan kehormatan, dan di sebelah kanan adalah umur panjang. (Amsal 3:16) Jadi dalam Kristus ada kedua tangan hikmat - kekayaan dan kehormatan, serta umur panjang!
Dalam Ulangan 30:19, Tuhan berkata pada bangsa Israel, “kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk” dan kalau saja sebagian dari kita masih belum mengerti, Dia menambahkan,
Ulangan 30:19−20
19… Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu; 20…sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu… Lanjut umurmu itu adalah seorang pribadi! Tuhan adalah hidup dan lanjut umur Anda, dan dalam hadiratnya adalah kehidupan.
Salomo berumur sekitar 20 tahun saat Tuhan menampakkan diri dalam mimpinya dan berkata, ““Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu?” Salomo menjawab, “Tuhan beri aku hikmat.” Dan Tuhan menjawabnya, “sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau.” (1 Raja 3:12) Kebanyakan orang tidak memperhatikan bahwa Tuhan juga mengatakan hal ini:
1 Raja 3:13–14
13 Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan…14 Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan… sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.
Perhatikan bahwa umur panjang — memperpanjang umur — mempunyai syarat? Tuhan mengatakan, “Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, maka Aku akan memperpanjang umurmu.” Kita tahu bahwa hikmat Salomo tidak tinggal tetap dan ia menjadi sangat kecewa dalam tahun-tahun akhirnya. Berbeda dengan ucapan-ucapan bijaksana yang tercatat dalam Amsal, di Pengkhotbah ia menulis hal-hal seperti, “karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.” (Pengkhotbah 1:18) Dan dia mati muda — mungkin sekitar umur 60. (1 Raja 11:42–43) Apa yang terjadi?
Sebaliknya, yang memberitahu kita bahwa banyak dari kita mengalami kematian dalam berbagai bentuk karena kita tidak sadar akan kehadiran Tuhan.
Salomo berganti Tuhan dalam tahun-tahun terakhirnya. Dia lupa bahwa Allah adalah hikmat yang sejati, sukses, dan sumber. Tanpa Tuhan, Sang Pemberi, karunia yang dia terima menjadi tidak memuaskan dan menjadi rusak. Salomo hanya memiliki tangan kiri kebijaksanaan. Dia tidak pernah punya tangan kanan, karena tangan kanan Allah adalah Tuhan kita Yesus Kristus dan Salomo telah melepaskan Tuhan.
Jadi Anda lihat, ada sesuatu yang salah ketika seorang percaya hanya menginginkan karunia, tetapi tidak punya hati untuk Sang Pemberi.
Ini bukan soal mempunyai pemikiran, “Cuma Yesus yang saya butuhkan, saya tidak perlu karier atau uang.” Ini tentang membuat Dia sebagai fokus hidup Anda.
Sekarang, Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan. (Kisah 13:22) Dia menghargai kehadiran Tuhan. Dia adalah seseorang yang sering berbicara kepada Tuhan. Dia menghargai kehadiran Allah. Ia bernyanyi di padang gurun di depan domba, di mana tak ada yang peduli keberadaannya! Dalam 1 Samuel 16:1–11, saat nabi Samuel datang untuk mengurapi salah satu dari anak-anak Isai, Isai bahkan lupa akan adanya Daud.
Daud ada di padang, menyanyikan mazmur pujian dan penyembahan “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Mazmur 118:1) … Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup… (Mazmur 63:4)” Tidak ada satu orang pun yang mendengarkan permainan kecapinya kecuali Tuhan. Hal itu bukanlah sebuah doktrin atau agama. Itu adalah sebuah hubungan! Saat Daud bertemu Goliat, meskipun dia saat itu masih sangat muda, dia tidak takut karena dia tidak memandang raksasa, tetapi memandang Tuhan:
1 Samuel 17:45–46
45Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam… 46Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam… supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah.
Beberapa tahun kemudian, setelah Daud menjadi raja, dia melakukan perzinahan dengan Batsyeba, dia berdosa terhadap perempuan itu, terhadap suaminya dan rakyatnya. Tetapi saat Tuhan mengirimkan nabi Natan untuk memperingatkannya, Daud berlutut dan berkata, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa …” (Mazmur 51:6) Dia sadar bahwa pribadi yang lebih terluka adalah Tuhan!
“Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu,” (Mazmur 51:13) adalah permohonannya. “Tuhan, jangan mengambil hadirat-Mu dariku. Itulah yang telah memberkati aku.”
Saat ini kita tidak perlu kuatir seperti Daud, karena kita tidak memiliki ketakutan bahwa Tuhan akan meninggalkan kita. Tuhan mengasihi kita dan Dia telah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan kita. (Ibrani13:5) Tetapi terkadang kita meremehkan segala sesuatu. Kita lupa untuk menyadari kehadiran-Nya. Kadang kita lupa untuk berbicara dengan-Nya sampai pada hari Minggu bila kita pergi ke gereja, hal itu hampir sama seperti sekedar mengatakan, “Halo, Tuhan!”
Saat Anda mencintai seseorang Anda menghargai kehadiran orang tersebut. Anda mengharapkannya. Anda akan mempererat dan menyadarinya karena bagi Anda hal itu sangat berharga! Memang mengetahui secara teori bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan atau pun membiarkan Anda itu baik, tetapi mempererat kehadiran-Nya dan menunjukkan pada-Nya bahwa Anda mempercayainya merupakan hal yang penting.
Tuhan cemburu terhadap kehadiran Anda. Dia mengasihi Anda. Dia ingin mempunyai hubungan pribadi dengan Anda. Dia tidak mengindahkan orang-orang tertentu saja, tetapi Dia mengindahkan mereka yang menghormati-Nya dan menghargai hadirat-Nya. Tuhan juga tidak memberi sesuatu pada kita dengan menggunakan takaran dan dosis — Dia sendiri adalah kesembuhan Anda, pemenuhan kebutuhan Anda, hikmat Anda. Jadi, semakin Anda menghargai kehadiran-Nya, semakin Anda akan melihat Dia menyatakan kemuliaan-Nya!
Saat puteri saya, Jessica, masih bayi, ada waktu-waktu dimana dia mengalami demam dan menangis sepanjang malam. Saya menumpangkan tangan beberapa kali, berdoa, mengusir penyakit… melakukan semua cara yang saya ketahui, tetapi tidak ada hasilnya. Tetapi saat saya berhenti mencari kesembuhan dan mulai mencari Sang Penyembuh, segalanya berubah! Saat fokus saya tidak lagi pada anak saya dan saat dalam pikiran saya Yesus menjadi semakin besar dibanding penyakit anak saya, saat itulah hasil yang diharapkan itu datang.
Carilah hadirat Tuhan! Dialah Yehova-Rapha, Dia sendiri adalah kesembuhan, dan kehadiran-Nya menyembuhkan Anda!
Sekarang mari kita melihat kisah tentang Yusuf. Dalam Kejadian 39:2, Alkitab mengatakan, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.”
Kalau saja Anda bertanya-tanya, Yusuf saat itu tidak berada di posisi tinggi dalam suatu kantor dengan ruangan kantor yang luas serta memakai pakaian mahal. Kejadian 39:1 memberi tahu kita, “Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ.” Kita sedang melihat seorang budak! Seorang budak muda yang berumur sekitar 17 tahun. Berdiri di pasar budak, telanjang untuk diperiksa kondisinya, tetapi Alkitab mengatakan Tuhan menyertainya, “dan dia adalah seorang yang berhasil.” Bagaimanakah keberhasilan Yusuf?
Kejadian 39:3
3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya. Wow! Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf. Dia melihat bahwa Tuhan membuat semua yang dikerjakan Yusuf menjadi berhasil. Dia adalah seorang kafir tanpa sedikitpun kepekaan akan Tuhan dalam dirinya, tetapi dia bisa melihat hal tersebut!
Potifar melihat manifestasi kehadiran Tuhan dalam hidup budak itu. Tuhan tidak disana untuk sekedar menjadi pembonceng rohani! Saya percaya bahwa saat Yusuf menanam tomat, tomatnya lebih besar daripada milik orang lain. Saat dia menjinakkan kuda (orang Mesir terkenal karena kuda-kuda mereka), semua kuda meresponi dengan baik, sepertinya Yusuf bisa bicara dengan kuda. Budak muda ini mendapatkan kebaikan yang begitu besar dan bahkan menarik perhatian dari isteri tuannya!
Saya percaya bahwa Yusuf sadar akan kehadiran Tuhan karena saat isteri Potifar mencoba untuk menggodanya, dia menolak dengan berkata, “Bagaimanakah mungkin aku berbuat dosa terhadap Allah?” (Kejadian 39:7–9) Tidak ada seorang pun kecuali perempuan itu yang bisa mendengar jawabannya. Hal itu diucapkan bukan untuk kesombongan. Yusuf sebenarnya mengatakan, “Tuhan ada disini!” Pengalaman Yusuf berikutnya membuktikan bahwa dia mempercayai Tuhan untuk setiap kebutuhan, hikmat, dan kesuksesannya. Dia menikmati pertolongan yang begitu besar dan mendapatkan kesuksesan sehingga menjadi tangan kanan Firaun!
Apakah Anda ingin mendapatkan kesuksesan seperti itu? Kalau begitu, jangan melupakan hal yang pertama — “Tuhan menyertai Yusuf.”
Alkitab mengatakan bahwa Tuhan adalah penolong dalam kesesakan. (Mazmur 46:2) Saat Dia tiba di kubur Lazarus, Lazarus telah mati selama empat hari. Martha, saudara Lazarus, berkata pada Yesus, ““Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Dan saat Yesus memberi tahu dia bahwa, ““Saudaramu akan bangkit,” dia menjawab, ““Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” (Yohanes11:20–24) Dia menempatkan Yesus pada masa lalu dan masa yang akan datang, tidak menyadari bahwa kehadiran-Nya merupakan jawaban!
Yesus menyatakan kepadanya, ““Akulah kebangkitan dan hidup!” (Yohanes 11:25) Tuhan selalu AKU SAAT INI. Dia tidak Aku dulu atau Aku yang akan datang. Perhatikan dalam injil, tidak ada seorang pun yang sampai mati atau tetap mati dalam hadirat-Nya?
Sebaliknya, yang memberitahu kita bahwa banyak dari kita mengalami kematian dalam berbagai bentuk karena kita tidak sadar akan kehadiran Tuhan.
Kita tidak sadar bahwa Dia adalah pertolongan pada saat kita membutuhkan.
Jadi hargailah hadirat Tuhan sama seperti Anda menghargai kehadiran teman atau pasangan Anda. Jika Anda menikmati kehadiran, perkataan, percakapan dengan teman atau pasangan Anda, ekspresikan perhatian Anda! Jangan bertindak sepertinya mereka bagaikan perabot rumah! Bermain mata dengan isteri Anda dari seberang ruangan, sebelum melangkah pergi berlarilah masuk kembali untuk menciumnya. Katakan “halo” pada petugas lift atau pelayan pom bensin.
Saat berjalan di tempat yang ramai dan padat, katakan pada Yesus, “Wow, Tuhan, padat sekali hari ini!” Saudara, anda juga dapat mengatakan, “Tuhan Yesus, itu baru wanita yang cantik!” Bagaimanapun juga, Dia yang menciptakan perempuan, dan Dia adalah kekudusan Anda! Bahkan bila ada sesuatu yang mengganggu Anda, katakan pada-Nya! “Tuhan, aku tidak suka yang dilakukan orang itu.” Pandanglah kesegaran surga dari hal-hal yang kecil, seperti saat seorang anak kecil menoleh dan tersenyum pada Anda, atau saat Anda mendapatkan tempat parkir yang paling strategis. Hal-hal tersebut bukanlah kebetulan — Tuhan sedang berkata, “Hei, Aku bersamamu.”
Apapun yang terjadi, arahkan pandangan Anda pada Yesus. Sembahlah Dia. Kalau Anda tidak bisa bernyanyi, berbicara saja! Alkitab mengatakan, “Perkatakan pada dirimu sendiri mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani.” (Kolose 3:16) Berbicaralah pada Tuhan. Dia, hadirat-Nya, adalah jawaban Anda.
Dimanapun Tuhan berada dan dimanapun ada hadirat-Nya, disana ada peristirahatan.
Sebuah peristirahatan tidak bergantung pada kekuatan alam atau situasi yang ada di luar.
Musa pernah berkata pada Tuhan, “jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu.” (Keluaran 33:13) Tuhan menjawab,
Keluaran 33:14
14… “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu. Dia yang berbicara pada Musa datang dalam rupa daging, berdiri diantara orang Yahudi pada zaman-Nya yang mempunyai beban berat karena hukum taurat dan peraturan-peraturan, dan berkata,
Matius 11:28
28Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Alkitab Amplified mengatakan — “Aku akan membuatmu beristirahat.” Dan dalam bahasa Yunani, secara literal berarti, “Aku mengistirahatkan kamu.”
“Marilah kepada-Ku,” kata Yesus. Bukan kepada suatu negara tertentu, atau sebuah gunung atau sebuah agama, tetapi pada Diri-Nya sendiri.
“Marilah kepada-Ku, dan hadirat-Ku akan membuatmu beristirahat. Dalam hadirat-Ku ada peristirahatan.” Dimanapun hadirat-Nya nyata, disana ada peristirahatan. Iblis tidak dapat beroperasi dimana ada peristirahatan — daerahnya adalah kegelisahan, pergolakan dan tekanan.
Kita memiliki berkat-berkat yang dahsyat, karena kita bergantung pada Yesus yang hidup di dalam diri kita. Karena kesembuhan, panjang umur, kemakmuran dan kesuksesan kita semuanya berdasarkan pada seseorang yang tidak tergoyahkan, penuh kuasa, penuh pengetahuan, terbaik dalam segalanya dan penuh kasih, kita memiliki jaminan yang tidak tergoyahkan! Kedamaian yang tak terungkapkan dengan kata-kata!
Artikel ini dikutip dari khotbah, Your Every Blessing Is Found In The Person Of Jesus, oleh Pastor Joseph Prince pada 6 January 2007. Untuk mendapatkan khotbah selengkapnya, kunjungi online store kami di http://www.destined2reign.com
Welcome to this month’s Global Grace teaching. Each article will point us towards Christ. As we make our personal journey from the Old Covenant religion into the New Covenant, we often have a “death experience.” The old religious performance-based life must be left behind as we enter life in the Spirit. Interestingly, as the children of Israel entered the Promised Land, we see several powerful spiritual death and resurrection symbols.
The grave of Moses represents death to the Law. Moses could not enter into the Promised Land, just as legalism can never bring God’s people into the promises of God. “For the law made nothing perfect; on the other hand, there is the bringing in of a better hope” (Heb. 7:19). Right at the entrance to the Promised Land we find Moses’ grave; legalism can never enter into the inheritance in Christ.
Secondly, there is the grave of Jordan, picturing our identification with Christ, and death to self. As Israel crossed the Jordan, the waters became a symbolic death and burial. This was a very definite moment. At one time Israel was in the wilderness and minutes later they were in the Promised Land. Similarly, there is a moment in our life, when we reckon ourselves truly dead to self and alive to Christ. The crossing of the Jordan required the priest standing in the middle of the river assisting the people. This depicts our High Priest, the Lord Jesus Christ, and without Him we can never enter into our Land of Promise. If we try to crucify ourselves we are always very selective, and we will be sure to let certain areas escape, but “by the Spirit you put to death the deeds of the body, you will live” (Rom. 8:13). Once we have reckoned ourselves dead to our own ability there is no going back, just like there was no going back into the wilderness for Israel.
Thirdly, there is a grave of Gilgal – a practical death. The generation that had been born during the wilderness needed to be circumcised. This depicts the practical working out of the new life in Christ. After this mass circumcision, every male would have a clear mark in his body that the old wilderness life was left behind. All of us have had “Gilgal-experiences” where the Spirit of God deals with us in such a way that it becomes evident that the old life with its goals, pursuits and desires is behind us. We now belong to another - Jesus Christ Himself.
Finally, at the entrance to the Promised Land you find Joshua’s symbolic grave, representing death to our own ability. As Joshua stood before the city of Jericho, he experienced a symbolic death, “...a Man stood opposite him with His sword drawn in His hand” (Joshua 5:13-15). That drawn sword over Joshua’s neck is a picture of death. Joshua, who was a captain of the Lord’s people, discovered that there is a Greater Captain, most likely an appearance of Jesus Himself. Joshua’s strength could never bring the victory; true victory is through someone immensely greater. It reminds us of these words “Now thanks be to God who always leads us in triumph in Christ, and through us diffuses the fragrance of His knowledge in every place” (2 Cor. 2:14). Just as Joshua laid his sword at the feet of a greater Captain, so we lay our abilities at the feet of Jesus.
The purpose of this teaching letter is to help pastors and leaders – yes, all believers - to let go of “wilderness religion” based on our own merits, and instead experience the new life and a “promised land” that is ours by the grace of Jesus Christ.
God bless you,
Peter Youngren
Yesus adalah titik kontak antara umat Muslim dan Kristen. Satu-satunya tulisan rohani kuno yang memberi Yesus kedudukan tertinggi adalah Alkitab dan kitab suci agama Islam, Alquran, yang menyebut nama Yesus sebanyak 97 kali. Seluruh pasal-pasal dipersembahkan kepada-Nya. Meskipun terdapat perbedaan yang mendasar tentang bagaimana umat Kristen dan Muslim memandang Yesus, tidak diragukan lagi bahwa Dia adalah seseorang yang tetap menjadi perhatian umum dan inti sebuah perbincangan.
Izinkan saya memberikan gambaran yang jelas di mana saya berdiri. Yesus datang ke dunia; tidak ada agama maupun kebudayaan yang menguasainya. Dia mengasihi dunia ini, mati bagi semua, dan bangkit kembali untuk memberikan kehidupan yang baru kepada setiap orang. Anugerahnya berlaku bagi semua agama termasuk umat Muslim dan Kristen juga. Yesus adalah Juruselamat semua manusia.
Salah satu kalimat pertama yang saya katakan kepada kawan-kawan Muslim adalah, “Aku tidak sedang berusaha untuk menjadikanmu seorang Kristen.” Hal ini tidak berarti bahwa saya memandang kekristenan dalam sebuah pandangan yang negatif, meskipun sama seperti setiap agama, kekristenan juga memiliki masalahnya sendiri. Intinya bahwa tidak ada agama, betapapun betapa mulia tujuannya, yang memiliki kuasa untuk menjadikan kita benar. Kuasa tersebut hanya ada pada Yesus sendiri. Selama bertahun-tahun saya telah berusaha keras untuk menunjukkan kepada orang-orang Kristen kebutuhan kita untuk menerima kehidupan yang baru melalui Yesus Kristus. Bagaimana kita merespons Yesus adalah sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang tidak peduli apa agamanya. Ini adalah area dari sebuah kesetaraan sepenuhnya: semua orang, laki-laki maupun perempuan, Kristen maupun Muslim, kaya maupun miskin, yang percaya dan menerima kasih Tuhan yang dinyatakan dalam Yesus akan memperoleh kehidupan yang kekal.
Misi saya dalam hidup saya adalah membagikan Kabar Baik dari Yesus Kristus. Selama tiga puluh tahun saya telah menikmati bekerja dengan orang-orang Kristen dari hampir semua denominasi dan semua belahan bumi ini. Denominator kita semua adalah kasih kita kepada orang-orang dan iman kita dalam Injil Yesus Kristus.
Sebagai tambahan dalam hal bekerja dengan orang-orang Kristen, saya dengan senang hati bekerja dengan semua orang yang memperjuangkan perdamaian dan saling pengertian. Perjalanan saya telah membawa saya untuk menjalin hubungan dengan banyak orang-orang Muslim yang jujur, pekerja keras, dan mencintai perdamaian. Saya sering mendapatkan banyak persahabatan dan pemahaman dari orang-orang Muslim. Telah menjadi sukacita bagi saya untuk bisa membuka tangan bagi sebuah persahabatan dengan orang-orang yang berbeda agama dengan saya, seperti yang dicontohkan oleh Yesus dan Rasul Paulus yang menolak mendiskrimasikan seseorang ataupun sekelompok orang. Persahabatan saya dengan orang-orang Muslim tidak membuat saya mengkompromikan iman saya mengenai Injil. Namun sebaliknya, hal itu menolong saya untuk benar-benar fokus kepada inti dari pesan kita yaitu mengenai Yesus dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi dunia. Ketika kita berbalik dari kebenaran diri sendiri dan kekauatan diri sendiri dan menerima Mesias yang dikirim Tuhan ke dalam hati kita, kita akan menerima kedamaian dari Tuhan. Yesus sendiri adalah Raja Damai.
Saya ingat betapa terkejutnya saya ketika menemukan bahwa Alquran meninggikan Injil.
Saya ingat betapa terkejutnya saya ketika menemukan bahwa Alquran meninggikan Injil. Nabi orang Islam, Muhammad, mengajarkan bahwa Injil itu berasal dari Tuhan, namun jutaan orang Muslim dan Kristen tahu sedikit atau sama sekali tidak mengenai Injil. Ketidakpedulian ini menjadikan tugas untuk menyatakan Kabar Baik dari Kristus benar-benar mendesak.
Pada masa-masa awal agama Islam, Muhammad mempunyai hubungan yang cukup baik dengan umat Kristen. Orang-orang Kristen dan Yahudi dalam istilah Arab disebut sebagai “Ahl al Kitab”, yang berarti “Ahli-ahli Kitab”. Selanjutnya Alquran menyebutkan penilaian yang baik ini terhadap ahli-ahli Kitab: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (Surah 5:82).
Umat Muslim didorong untuk menerima Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen, dan untuk hidup dalam damai dengan mereka. “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri” (Surah 29:46).
Saya benar-benar serius ketika mengatakan bahwa saya tidak ingin menjadikan orang-orang pindah dari satu agama ke agama lain.
Lebih jauh Alquran mengatakan bahwa jika seorang Muslim memiliki pertanyaan-pertanyaan mereka dapat bertanya kepada “Ahli-ahli Kitab”, “maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu” (Surah 10:94).
Dalam bagian selanjutnya dari kehidupan Muhammad, Alquran mencatat contoh-contoh permusuhan antara orang-orang Muslim dan Kristen, begitu pula dengan kemarahan-kemarahan dari orang-orang Kristen. Namun, ayat yang disebutkan di atas tetap menunjukkan akan adanya keterbukaan dan itikad baik. Saya akan lebih berfokus pada poin-poin persamaan, dan hal membangun jembatan, ketimbang pada hal-hal yang bisa melahirkan perselisihan. Cukup banyak buku-buku yang telah ditulis mengenai peperangan antara orang-orang Kristen dan Muslim. Fokus saya adalah Yesus dan kasih-Nya bagi semua orang.
Saya benar-benar serius ketika mengatakan bahwa saya tidak ingin menjadikan orang-orang pindah dari satu agama ke agama lain. Hal ini tidak akan berbuah oleh karena tidak ada satu agama pun yang mampu menyelamatkan bahkan satu orang saja. Orang-orang Kristen terkadang merasa tersinggung pada saat saya mengatakan pernyataan ini. Sangatlah mudah bagi kita orang-orang Kristen untuk lebih memusatkan perhatian kepada agama kekristenan daripada pribadi Yesus sendiri. Sebuah pengkajian yang singkat dalam Alkitab akan mengungkapkan bahwa keselamatan tidak ditemukan dalam sebuah agama. Pernyataan dari Alkitab seperti: “‘Barangsiapa percaya kepada Anak (Yesus) akan memiliki hidup’ dan kehidupan yang kekal ada dalam ‘tiada nama lain selain Yesus’” menempatkan fokus kepada Yesus dan hanya Yesus sendiri (lebih lagi mengenai hal ini akan dibahas nanti).
Saya benar-benar serius ketika mengatakan bahwa saya tidak ingin menjadikan orang-orang pindah dari satu agama ke agama lain.
Sementara saya tidak berusaha untuk mengalihkan agama seseorang ke agama yang lain, saya mencoba untuk mempengaruhi orang-orang dari semua agama untuk memiliki Yesus dan kebenaran-Nya, yang merupakan sebuah pemberian cuma-cuma kepada semua yang mau percaya. Hal ini tidak sama dengan berusaha mengalihkan seseorang dari satu agama ke agama yang lain. Faktanya, jutaan orang menyatakan kesetiaannya pada kekristenan, dan masih saja tidak memiliki pengetahuan mengenai pemberian cuma-cuma akan kebenaran Yesus.
Seperti banyak orang Kristen lainnya, saya tumbuh dalam sebuah lingkungan di mana orang-orang Muslim dicurigai. Entah bagaimana, sebuah pemikiran masuk dalam pikiran saya di masa kecil bahwa orang-orang Muslim ingin membunuh orang-orang Kristen. Sementara tidak dapat disangkal bahwa orang-orang Muslim fanatik telah membunuh orang-orang Kristen, dan sama benarnya bahwa orang-orang Kristen fanatik telah membunuh orang-orang Muslim.
Apakah interaksi saya dengan umat Muslim berjalan tanpa konfrontasi atau konflik? Sedikit banyak, ya. Ada beberapa kesempatan di mana ketegangan dan konflik muncul, tetapi setiap kali hal itu disebabkan umat Muslim salah berpikir bahwa saya akan menyerang agama mereka.
Mengapa beberapa umat Muslim berpikir bahwa saya ingin berkhotbah menentang agama mereka? Mari sya jelaskan. Selama lebih dari 30 tahun, saya telah menyelenggarakan Perayaan Injil akbar di seluruh dunia. Kerumunan massa yang mencapai 600.000 orang menghadiri satu kali kebaktian. Sementara tidak semua acara dihadiri oleh orang dengan jumlah sebesar itu, hampir semua Perayaan dihadiri oleh puluhan ribu orang. Tidaklah mungkin untuk menyelenggarakan acara sebesar itu tanpa menarik perhatian dari media. Dalam beberapa kesempatan, umat Muslim memberikan reaksi negatif terhadap publikasi kami. Pada setiap kesempatan saya berbicara dengan umat Muslim yang menentang acara kami, saya menemukan bahwa permasalahannya disebabkan oleh pertemuan mereka sebelumnya dengan para pengkhotbah Kristen. Mereka telah mendengar pelayan-pelayan Kristen yang menggunakan mimbar untuk meremehkan Islam dan umat Muslim. Ketika mereka melihat publikasi acara kami, mereka menyangka bahwa ini adalah salah satu acara lain di mana umat Kristen akan menampar umat Muslim.
Saya ingat satu peristiwa yang menegangkan di mana kerusuhan terjadi di jalan-jalan sebelum acara Perayaan kami dimulai. Setelah orang-orang mendengar khotbah pertama saya mengenai Yesus mereka memahami bahwa saya tidak sedang mengkritik Islam. Lima belas pemimpin Muslim datang ke hotel saya pada larut malam. Satu demi satu para pemimpin ini meminta maaf. Itu adalah salah satu peristiwa yang paling menyentuh dalam kehidupan saya ketika mereka berkata, “Tuan Youngren, kami sadar sekarang sekarang bahwa Anda tidak datang untuk menyerang kami ataupun agama kami, tetapi Anda hanya berbicara dengan penuh kasih mengenai Tuhan Yesus Kristus.”
Ketika saya mampu membagi kasih Tuhan yang dinyatakan dalam diri Yesus dengan sikap yang bersahabat, kesalahpahaman akan disingkirkan. Saya tidak mengatakan bahwa kami setuju dengan semua fakta yang terjadi, atau bahwa para pemimpin Muslim tersebut menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka malam itu. Tidak, kami masih memiliki perbedaan-perbedaan. Namun, ketika saya berfokus pada kasih Tuhan yang dinyatakan dalam diri Yesus, maka akan ada kerelaan untuk mendengarkan.
Pada awal tahun 2006, surat kabar Eropa menampilkan gambar kartun dari Nabi Muhammad. Umat Muslim memandang hal ini sebagai penghinaan dan demonstrasi meledak di seluruh dunia. Yang menyedihkan, beberapa orang meninggal dunia sebagai dampak dari protes tersebut. Orang-orang Kristen bersikukuh mempertahankan hal tersebut dengan dasar kebebasan pers. Pemuka agama Muslim sama gigihnya menyatakan bahwa penggambaran itu sebuah penghinaan. Lagi-lagi, banyak pengkhotbah Kristen terlibat dalam percekcokan. Beberapa pengkhotbah menyatakan bahwa demonstrasi yang anarkis menunjukkan wajah sebenarnya dari Islam. Saya menghargai kebebasan berekspresi di negara barat dan menyayangkan bahwa kebebasan ini tidak ada di negara-negara Muslim. Namun demikian, orang-orang Kristen seharusnya mengetahui dengan lebih baik ketimbang menyerang agama lain. Ketika media massa menodai nilai-nilai Kristen, perasaan kita tersakiti dan kita meminta hal tersebut dihentikan. Umat Kristen memprotes film-film seperti “The Last Temptation of Christ”, dan “The Da Vinci Code” karena film-film tersebut menggambarkan Yesus dalam sebuah tampilan yang kita anggap sebagai sebuah penghinaan. Sudah sewajarnya bagi kita untuk menghormati orang lain. Tugas kita sebenarnya jauh lebih penting daripada mempertahankan atau mengkritik sebuah gambar kartun. Politikus bergelut di bidang politik. Editor surat kabar bergelut dibidang redaksi. Perhatian kita bukanlah kebebasan untuk berbicara dengan menyakitkan melawan orang lain, melainkan kebebasan untuk menyatakan kabar baik dari apa yang Tuhan telah lakukan dalam Yesus Kristus bagi dunia. Saya menantang umat Kristen untuk berfokus pada tugas kita, dan saya menantang umat Muslim untuk tidak merasa khawatir untuk membiarkan berita Injil Yesus Kristus didengar.
Cukup banyak buku-buku yang telah ditulis mengenai peperangan antara orang-orang Kristen dan Muslim. Fokus saya adalah Yesus dan kasih-Nya bagi semua orang.
Kepada orang-orang Kristen yang mungkin menganggap saya bersikap naif dengan mengajak bersahabat orang-orang Muslim dalam sebuah dunia kekerasan dan terorisme, saya bertanya, “Bagaimana hasil pendekatanmu dengan dunia Muslim?” Saya bertanya kepada teman-teman Kristen saya yang menyerang dan merendahkan Islam melalui kata-katanya, “Hasil apa yang Anda lihat?”
Yang terpenting, pendekatan apakah yang Yesus pakai? Yesus berkata, “Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yohanes 12:47-48). Ini merupakan sebuah pernyataan yang luar biasa.
Yesus berkata:
1. Dia tidak akan menghakimi orang yang tidak percaya kepada-Nya;
2. Tujuannya sekarang adalah membawa keselamatan bagi manusia; dan
3. Penghakiman akan datang pada akhir zaman.
Apakah Anda melihat bagaimana hal ini membebaskan kita dari menghakimi orang lain? Ini tidak berarti bahwa tidak akan pernah ada penghakiman. Tidak, Tuhan akan menghakimi semua orang pada akhir zaman.
Pada tiap kesempatan, Yesus mengabaikan pertanyaan tersebut dan tetap berfokus pada pesan-Nya—membawa keselamatan dan hidup baru bagi semua orang tanpa diskriminasi.
Terdapat banyak kesempatan sekarang yang bisa ditarik ke dalam suatu perdebatan politik. Yesus juga mengalami tantangan seperti ini. Wanita Samaria yang berbalik kepada Yesus mencoba untuk memulai sebuah perdebatan dengan bertanya manakah tempat yang benar untuk menyembah, di Yesrusalem atau di Samaria (Yohanes 4). Para murid ingin mendiskusikan pembentukan kerajaan Israel secara politis (Kisah Para Rasul 1:4-8). Pada tiap kesempatan, Yesus mengabaikan pertanyaan tersebut dan tetap berfokus pada pesan-Nya—membawa keselamatan dan hidup baru bagi semua orang tanpa diskriminasi. Yesus tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan. Kita mengikuti Yesus!
Artikel ini dikutip dari buku, My Muslim Friends, oleh Peter Youngren. Untuk memperoleh salinan buku tersebut, kunjungi toko online mereka di http://www.peteryoungren.org
Dalam buku yang kadang-kadang provokatif dan menantang ini, orang Kristen didorong untuk membuang pandangan fanatiknya terhadap Muslim, sementara umat Islam ditantang untuk belajar lebih banyak dari Injil Yesus Kristus. Penulis mengutip secara bebas dari Alkitab maupun kitab suci Islam, Alquran, mencatat bahwa ini adalah satu-satunya kitab suci kuno yang memberi Yesus sebuah posisi tertinggi. Dalam dunia yang tampaknya pernah semakin dekat ke jurang bencana, buku ini pendukung adanya jalan persahabatan dan bukan fanatisme, dialog dan bukan perpecahan. Sebagian besar isinya akan menarik pembaca ke dalam perjumpaan dengan Yesus yang lebih mendalam.”
“Saat ini seluruh pondasi kami sedang terguncang!” Kalimat tersebut diungkapkan oleh seorang hamba Tuhan pada saat mengikuti seminar Injil Kasih Karunia yang diadakan di Afrika sekitar delapan bulan lalu. Perkataannya masih begitu jelas dalam ingatan saya dan menguatkan saya saat kami tetap berlari dalam visi.
Pengajaran seperti apa yang menghasilkan reaksi sampai sedemikian? Itu merupakan sebuah pengajaran singkat mengenai perjanjian lama vs perjanjian baru, Hukum Taurat vs kasih karunia, pelayanan penghukuman vs pelayanan kebenaran, dan kebenaran dari diri sendiri vs kebenaran dari Allah.
Dalam 1 Kor. 3:10-11 Paulus berkata, “ Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.”
Jika kita mencampur-adukkan perjanjian lama dengan perjanjian baru, kita akan menemukan, sama seperti yang ditemukan hamba Tuhan tersebut, bahwa kita telah meletakkan dasar yang lain! Sekarang adalah waktunya untuk mendirikan kembali dasar kita – mari kita membangun hanya diatas Yesus dan karya yang telah Dia selesaikan!
Bulan ini kita meneruskan topik tentang mendapatkan sebuah Revolusi Injil. Dapatkan kekuatan dan perubahan saat anda mempelajari dua artikel pengajaran penting yang kami sajikan pada bulan ini, dari Steve McVey dan David Sterling. Anda juga bisa memperhatikan berita tentang perubahan yang terjadi dalam GGN.
Kasih karunia akan membawa Anda keluar dari rumah tahanan, keluar dari hidup yang dibawah kungkungan hukum Taurat dan membawa Anda kedalam “rumah pesta” dari kasih karunia Allah. Saya merasa jauh lebih baik setelah meninggalkan agama saya yang kosong. Selama bertahun-tahun saya adalah seorang yang religius dan saya percaya bahwa hal itu adalah jalan yang seharusnya saya lakukan. Saya berpikir seorang Kristen harus berperilaku dengan suatu cara tertentu. Tetapi kehidupan kekristenan bukanlah sebuah tindakan. Kita malah beristirahat di dalam Kristus dan membiarkan Dia menyatakan hidup-Nya melalui kita. Pesan yang akan saya bagikan pada Anda sangatlah sederhana: Jadilah diri Anda sendiri! Ketahuilah siapa Anda di dalam Yesus Kristus!
Dalam 2 Kor 5:17 Alkitab mengatakan bahwa Anda adalah ciptaan baru di dalam Kristus. Anda bukan lagi pribadi yang sama dengan yang dulu. Tuhan mengambil pribadi Anda yang dulu dan membiarkannya mati di atas kayu salib. Setelah itu Dia memberi Anda hidup yang baru – hidup-Nya sendiri. Sebuah hidup yang benar. Hidup yang kudus. Hidup yang supranatural. Sebuah hidup yang membawa Anda kedalam persekutuan dan persatuan dengan Bapa melalui Anak-Nya, Yesus Kristus.
Pesan kasih karunia sangat sederhana Dikatakan: “Berhentilah mencoba dan mulailah mempercayai!”
Sekarang Anda tidak perlu mencoba untuk hidup kudus lagi. Mencoba untuk selalu hidup kudus adalah pekerjaan sia-sia. Lebih buruk lagi bila berada di sekitar orang-orang yang mencoba untuk menjadi kudus. Kelihatannya, mereka sangat tahu apa yang harus Anda lakukan untuk menjadi seperti mereka. Pesan kasih karunia sangatlah sederhana. Dikatakan: “Berhentilah mencoba dan mulailah mempercayai!” Berhenti berusaha dalam keinginan agamawi untuk berhasil secara rohani dan hanya datang dan beristirahat di dalam Kristus! Berhentilah menghabiskan tenaga Anda dalam meraih berkat-berkat dari Tuhan!
Dulu saya berpikir bahwa menghabiskan tenaga untuk hal tersebut adalah sebuah hal yang luar biasa. Tetapi, Tuhan tidak bermaksud untuk membuat kita kehabisan tenaga, Dia memanggil kita untuk tetap menyala saat kita beristirahat. Sekarang, mari saya ingatkan, ini bukanlah pesan saya, saya hanya seorang pembawa pesan. Pesan itu datang dari Tuhan Yesus sendiri! Yesuslah yang mengatakan: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30)
Bisakah Anda melihat hidup yang ditawarkan Yesus? Dia menggunakan kata-kata seperti ringan dan kelegaan/istirahat. Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku dan temukan peristirahatan!” Agama berkata: “Berusahalah!” Yesus berkata: “Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan!” Agama berkata bahwa Anda harus bekerja keras bagi-Nya. Ada perbedaan yang sangat besar antara agama dan kehidupan kekristenan. Kehidupan kekristenan adalah hubungan pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus.
Rom 8:2 berkata: “ Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”
Alkitab menjelaskan bahwa ada dua hukum berbeda yang bekerja dalam dunia ini dan salah satunya adalah hukum dosa dan maut. Itu adalah hukum universal yang mempunyai pengaruh sama di semua tempat dan pada waktu yang sama. Sama seperti hukum grafitasi yang akan menarik sebuah benda ke arah pusat bumi, hukum dosa dan maut akan mencoba untuk menarik manusia jatuh dan melakukan dosa.
Bagaimana sebagai orang Kristen kita bisa menang atas hukum ini? Saya mempunyai beberapa kabar buruk bagi Anda tetapi ada juga beberapa kabar baik. Kabar buruknya adalah Anda tidak akan pernah mendapatkan kemenangan dengan kekuatan Anda sendiri. Tidak peduli betapa berdedikasinya Anda dan berapa lama Anda mencoba, Anda tidak akan pernah mampu untuk menjalani hidup kekristenan yang sesuai dengan standarnya Tuhan. Anda sebaiknya menyerah saja! Kabar baiknya adalah Yesus bisa dan akan menghidupi hidup itu melalui Anda. Anda tidak bisa melakukannya – tetapi Yesus bisa!
Hal ini menjadi siklus kehidupan; kembali berkomitmen, mencoba, gagal, kembali berkomitmen, mencoba, gagal ….
Selama 29 tahun saya terus menerus memperbarui komitmen hidup saya bagi Tuhan. Setiap kali saya berjanji untuk berusaha lebih keras untuk menghidupi hidup saya bagi Dia. Saya berkomitmen lagi dan lagi. Saya mencoba dengan keras, tetapi saya gagal! Hal ini menjadi siklus kehidupan; kembali berkomitmen, mencoba, gagal, kembali berkomitmen, mencoba, gagal ….Selama 29 tahun saya terus menerus melakukan hal itu! Akhirnya saya mengerti bahwa hal tersebut tidak mungkin berhasil. Anda bisa berkata bahwa saya lambat dalam belajar. Saya melakukan hal yang sama selama 29 tahun dan hal itu tidak berhasil!
Berapa kali Anda telah berkomitmen kembali kepada Tuhan? Saya punya kabar baik bagi Anda! Anda sebaiknya segera menghentikannya, karena hal itu tidak akan berhasil! Anda berkata: “Tapi saya pikir ini pasti akan berhasil!” Kalau begitu mengapa Anda harus melakukannya lagi dan lagi? Anda tahu hal itu tidak akan berhasil! Kita tidak dipanggil untuk terus memperbarui komitmen kita kepada Kristus. Saat kita melakukan hal ini, kita berusaha dengan kekuatan kita sendiri untuk hidup bagi Dia. Masalahnya disini adalah diri Anda sendiri. Yang dibutuhkan bukanlah terus menerus memperbarui konitmen kita tetapi berhenti berusaha dengan kekuatan kita sendiri.
Anda harus menyadari bahwa Anda tidak akan dapat hidup sempurna dengan kekuatan Anda sendiri. Kita dapat berhenti berdoa: “Tuhan, beri aku kekuatan.” Akan tetapi kita dapat berdoa: “Tuhan, aku lemah dan selalu akan lemah dalam diriku sendiri, tetapi Engkau adalah kekuatanku!” Dalam kelemahan kitalah kekuatan Allah menjadi nyata. Hukum dosa dan maut akan menjatuhkan Anda. Anda mungkin bisa memiliki semua iman dan komitmen yang Anda pikir mampu untuk bisa mengatasinya, tetapi Anda tidak akan pernah berhasil. Saya bisa memanjat atap gedung yang tinggi, mempunyai kepercayaan yang besar bahwa saya dapat terbang. Saya dapat melompat dari atap, mengepakkan tangan saya dengan seluruh iman yang dapat dimiliki oleh manusia, tetapi dijamin saya pasti jatuh.
Alkitab mengatakan kepada kita tentang hukum yang lain. Hukum itu adalah hukum Roh dari hidup di dalam Kristus Yesus. Jika seseorang naik keatas gedung tinggi dengan membawa pesawat terbang layang, Anda tahu bahwa dia tidak akan jatuh seperti orang yang mengepakkan tangannya tadi. Pesawat terbang layang tersebut membuat sebuah perbedaan besar bagi orang tersebut, karena benda itu menyebabkan ada hukum lain yang berlaku – hukum aerodinamika. Hukum ini lebih besar dari hukum gravitasi. Sekarang orang tersebut dapat beristirahat dibawah pesawat terbang layang dan mengalahkan gravitasi. Gravitasi tetap ada tetapi orang tersebut dapat beristirahat dalam hukum yang lebih hebat yang memberinya kemampuan untuk menaklukkan gravitasi.
Yesus berkata: “ Marilah kepada-Ku, Aku akan memberi kelegaan kepadamu!” Agama berkata: “Berusahalah!”
Hukum dosa dan maut akan menarik kita jatuh, tetapi saat kita beristirahat dalam iman bahwa Kristus hidup di dalam kita – bahwa Dia dapat melakukannya – maka kita mendapatkan kemenangan atas hukum dosa dan maut. Anda tidak memiliki kemenangan dalam kekuatan Anda sendiri; Yesus Kristus adalah kemenangan Anda! Saat Anda beristirahat di dalam Dia dan membiarkan Dia hidup melalui Anda, Dia akan memastikan Anda berjalan didalam kemenangan atas hukum dosa dan maut.
Kita tidak memiliki kemenangan dengan menggunakan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, tetapi oleh karena Roh Tuhan. Jika Anda ingin mengatasi kuasa yang merusak dari dosa, Anda perlu datang dan beristirahat dalam hukum Roh dari Kristus Yesus. Alkitab mengatakan bahwa kita mati bagi dosa. Pribadi yang dulunya hidup dalam dosa sekarang telah mati. Itu tidak berarti bahwa Anda tidak akan pernah merasa tergoda untuk melakukan dosa, tetapi yang sebenarnya Anda membenci dosa karena Anda telah mati bagi dosa.
Bayangkan seseorang yang mengalami over dosis kokain dan meninggal. Saat dia terbaring dalam peti matinya di pemakaman, salah satu temannya yang biasa memakai narkoba bersamanya datang ke pemakaman itu. Temannya itu membungkuk di atas peti mati dan berkata: “Hei, aku punya kokain! Kamu mau?” Tahukah Anda apa yang dilakukan orang yang di dalam peti mati itu? Tidak ada! Dia sudah mati! Orang mati tidak membutuhkan kokain!
Alkitab mengatakan Anda telah mati bagi dosa. Anda mati di atas kayu salib bersama-sama dengan Yesus.
Aku telah disalibkan bersama Kristus, bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Bagiku hidup adalah Kristus! Di dalam Dia kita hidup, bergerak dan menjalani hidup kita.
Paulus memberi tahu kita untuk memperhitungkian diri kita telah mati bagi dosa tetapi hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus. Kita mati bagi dosa. Saat dosa datang dan mengetuk pintu kita, kita hanya perlu menegaskan bahwa kita telah mati bagi dosa. Anda tidak lagi perlu berkata tidak pada godaan karena adanya perasaan bahwa itu adalah tugas Anda; sekarang Anda dapat berkata tidak karena Anda tidak MAU berbuat dosa! Anda telah bebas! Jadi mengapa Anda harus kembali ke sampah? Kita memiliki hidup Yesus Kristus di dalam kita dan kita telah merdeka!
Terlalu banyak orang Kristen yang terikat oleh hukum Taurat. Mereka mencoba untuk memerangi godaan dengan kekuatan kehendak mereka sendiri. Kita perlu mengerti tentang kondisi kita – bahwa kita telah mati bagi dosa. Kita juga perlu mengetahui posisi kita di dalam Kristus. Saat ini kita telah menjadi satu dengan Dia. Kita telah dibangkitkan dari kematian bersama dengan DIa. Alkitab berkata kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
Terlalu sering orang Kristen mencoba untuk berjalan menurut hukum dosa dan maut. Mereka mencoba untuk mengalahkan dosa melalui kekuatan tekad mereka sendiri. Mereka berfokus pada dosa dan mencoba dengan kekuatan mereka sendiri untuk mengatasi godaan. Mereka sangat berfokus pada dosa yang menempati sebagian besar dari pikiran mereka. Anda tidak mendapatkan kemenangan atas dosa dengan berfokus pada dosa, tetapi dengan mengarahkan pandangan Anda pada Yesus!
Saya pernah mendengar seseorang mengajarkan bahwa dosa dalam hidup Anda bagaikan rumput liar di taman. Dia berkata bahwa Anda perlu berkonsentrasi untuk mencabutnya satu per satu. Tetapi ada satu masalah dengan teologi itu, dan hal itu adalah fakta bahwa rumput liar bertumbuh dengan cepat. Saat saya berusaha dan bergumul untuk membuang rumput-rumput liar di satu tempat, mereka tetap bertumbuh di tempat yang lain. Hal itu kekal, siklus yang buruk.
Anda tidak mendapatkan kemenangan atas dosa dengan berfokus pada rumput-rumput liar. Anda menang dengan berfokus pada Yesus! Saat kita berfokus pada Yesus, kuasa dosa akan berkurang dan kemudian sirna. Dosa bukanlah solusi – Yesus adalah solusi! Dia ADALAH kemenangan kita atas dosa. Anda mendapatkan kemenangan dengan mengarahkan pandangan Anda pada-Nya!
1 Kor 15:57: “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Rom 8:37: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”
Kita perlu mengetahui kondisi kita. Kita telah mati bagi dosa! Kita perlu mengetahui kondisi kita. Kita menyatu dengan Kristus Yesus!
Kita telah dimerdekakan oleh kehidupan Yesus! Inti dari kehidupan kita telah dibenarkan. Roh kita telah disempurnakan melalui Yesus Kristus. Jiwa kita diperbarui setiap hari saat kita berjalan bersama dengan-Nya. Suatu hari nanti, kita akan menerima tubuh kemuliaan yang sempurna dan akan bebas sepenuhnya dari kehadiran dosa. Sampai saat itu tiba, kita beristirahat di dalam Kristus Yesus. Kita tidak hidup dengan pengakuan bahwa kita masih menjadi orang berdosa, tetapi kita adalah orang-orang kudus yang kadang masih bisa berbuat dosa. Tetapi kita bukan orang-orang berdosa!
Dia melimpahi anaknya dengan kebaikan dan kasih.
Bagaimana Anda bertingkah laku dan siapa Anda sebenarnya bisa iya, bisa juga tidak terjadi tepat pada saat yang sama. Tetapi, meskipun kita mungkin melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan siapa kita sebenarnya di dalam Yesus, hal itu tetap tidak merubah siapa kita sebenarnya di dalam Dia. Saya bisa melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepribadian saya, tetapi hal itu tetap tidak merubah siapa saya sebenarnya. Bisa saja suatu hari saya berpakaian seperti perempuan, memakai rok dan riasan wajah, tetapi hal itu tidak akan membuat saya menjadi perempuan. Dengan cara yang sama, kita dapat jatuh dan melakukan dosa, tetapi hal itu tidak merubah kenyataan tentang siapa kita sebenarnya di dalam Kristus Yesus. Saat Anda berbuat dosa dan kesalahan, hal itu tidak akan merubah siapa Anda sebenarnya. Anda mungkin bisa bertindak bodoh, tetapi Anda tetap merupakan anak Allah.
Allah setiap waktu mengasihi Anda tanpa syarat. Beberapa orang mungkin mempercayai bahwa kasih Allah hanya berlaku dalam kondisi tertentu. Saat anak yang terhilang ingin kembali pada bapanya, dia berpikir bahwa dirinya bisa kembali sebagai hamba dalam rumah dan ladangnya. Dia akan mengatakan pada bapanya bahwa dia tidak layak lagi disebut sebagai anak, tetapi dia dapat melayani bapanya. Ini adalah pengakuan klasik dari seorang Kristen yang berada di bawah hukum Taurat: “Bapa, aku telah berdosa! Aku tidak layak lagi untuk menjadi anak-Mu, tetapi jika Engkau mau mengampuni aku lagi, aku akan melayani-Mu dan bekerja lebih keras untuk-Mu.”
Saat anak itu semakin mendekat ke rumahnya, bapanya telah melihat dia dari kejauhan dan bapanya berlari menyambutnya! Dia bersukacita karena mendapatkan kembali anaknya dan menciumnya. Anak itu tidak sempat mengutarakan maksudnya. Bapanya tidak mempermasalahkan apakah anak itu mau bekerja keras atau tidak – dia hanya bahagia karena anaknya telah kembali pulang. Dia memerintahkan hamba-hambanya untuk membuat sebuah pesta bagi anaknya itu untuk merayakannya! Dia melimpahi anaknya dengan dengan kebaikan dan kasih.
Jika Anda berbuat dosa, maka larilah kembali ke pelukan Bapa. Anda tidak perlu berlari kepada-Nya dengan memberikan banyak janji yang toh tidak akan pernah bisa Anda tepati. Datanglah kepada Bapa sebagaimana adanya Anda. Anda mungkin berpikir bahwa Dia telah memalingkan hati-Nya dari Anda, tetapi Anda akan menemukan bahwa kasih-Nya kepada Anda tidak akan pernah berubah.
Dia tidak mengasihi kita berdasarkan apakah kita melakukan dosa atau tidak. Dia mengasihi kita karena satu hal: kita adalah anak-anak-Nya.
Anak sulung dalam perumpamaan tentang anak yang hilang tidak senang dengan apa yang terjadi. Dia mengeluh tentang bagaimana dia telah setia melayani bapanya selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah mendapatkan pesta seperti yang sedang diadakan bagi adiknya. Sebagai suatu kenyataan, si sulung ini mempunyai kesalahpahaman yang sama seperti adiknya. Dia menganggap hubungan yang ada diantara mereka adalah tentang melayani. Allah mengasihi kita, tetapi bukan berdasarkan apakah kita mengasihi Dia atau tidak. Dia tidak mengasihi kita berdasarkan apakah kita melakukan dosa atau tidak. Dia mengasihi kita karena satu hal: kita adalah anak-anak-Nya.
Beberapa orang mengatakan bahwa pengajaran tentang kasih karunia akan mengakibatkan orang lebih banyak berbuat dosa. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa kasih karunia akan mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Saat Anda mengetahui betapa Yesus dan Bapa mengasihi Anda, Anda akan menjadi termotivasi untuk hidup dengan hukum yang lebih tinggi, hukum Roh dari kehidupan di dalam Kristus Yesus. Biarkan Tuhan memberi Anda kemampuan untuk berjalan dalam kuasa ini dan bertingkah laku sesuai dengan siapa Anda sebenarnya di dalam Kristus.
(Diterbitkan dengan ijin dari Steve McVey, Presiden Grace Walk Ministries, http://www.gracewalk.org - 1-813-234-9546”.)
Banyak orang di seluruh dunia yang memeluk “agama Kristen” belum pernah benar-benar mendengar Injil yang sejati. Mereka telah menerima sebuah bentuk “Kekristenan” tanpa pernah mengerti seperti apakah Injil yang sejati itu. Mereka berpikir bahwa “Kekristenan” hanyalah salah satu bentuk agama dengan berbagai peraturan tersendiri dan mereka telah menggantikan “perintah dan larangan” tersebut sama seperti pada agama-agama yang lain.
iblis akan memastikan agar anda tahu bahwa perbuatan anda tidak akan pernah cukup baik
Mereka percaya bahwa mereka harus berusaha untuk menuju Tuhan dan pada saat yang sama berbuat sebaik mungkin untuk memperoleh dan mempertahankan keuntungan dari keselamatan. Itu bukanlah Injil yang sejati. Itu benar-benar bukan Kabar Baik!
Bahkan menerima Yesus sebagai Juru Selamat anda, dengan mempunyai kepercayaan bahwa Anda sekarang harus mentaati berbagai peraturan, atau mengganti yang satu dengan yang lain, bukanlah kabar baik. Mengapa? Karena hal itu masih bergantung pada perbuatan Anda. Masih berpusat pada kemampuan Anda untuk memenuhi berbagai standar dan mentaati peraturan. Saya dapat menjamin bahwa iblis akan memastikan pada Anda bahwa perbuatan Anda tidak pernah cukup baik. Dia adalah ahli dalam menunjukkan betapa tidak cukup, tidak lengkap dan tidak mampunya Anda. Dia adalah pendakwa dari saudara-saudara dan dia sangat ahli dalam menunjukkan betapa tidak cukupnya perbuatan Anda (Wah. 12:10).
Banyak orang di seluruh dunia yang memeluk “agama Kristen” belum pernah benar-benar mendengar Injil yang sejati.
Kebenaran yang membuat Injil menjadi “kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan” adalah bahwa kita sepenuhnya diterima oleh Allah melalui apa yang telah Yesus lakukan bagi kita tanpa sedikitpun kebaikan yang kita lakukan. Keselamatan dan hidup berlimpah-limpah yang diberikan Yesus melalui kedatangannya tidak tergantung pada perbuatan kita. Berkat-berkat Allah yang luar biasa tidaklah berdasarkan pada sejauh mana kita berhasil bertindak sebagai orang Kristen. Bahkan jawaban doa tidak berhubungan dengan kebaikan dan kekurangan kita. Pewahyuan tentang kasih karunia Allah yang luar biasa akan membebaskan Anda dari mentalitas yang bergantung pada perbuatan – akan melepaskan Anda dari hidup secara legalistik, hidup yang dipenuhi dengna tekanan. Allah memberkati dan menyediakan karena apa yang telah diraih Yesus bagi kita dan bukan apa yang dapat Anda raih! Keselamatan adalah tentang kesetiaan Tuhan, bukan kita! (Ef. 2:8-9)
Surat Roma menyatakan bahwa Injil itu sendiri adalah kekuatan Allah. Injillah yang menghasilkan hidup dari Allah pada manusia. Akan tetapi, kata Injil telah menjadi sebuah istilah agamawi yang saat ini telah banyak kehilangan arti yang sebenarnya. Banyak orang menghubungkan “Injil” dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama; khususnya agama Kristen. Tetapi “Injil” secara literal berarti “kabar baik.” Bahasa Yunaninya, euaggelion, yang diterjemahkan menjadi “injil” dalam tujuh puluh empat ayat dalam Perjanjian Baru, yang sebenarnya berarti “kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan.”
Kebanyakan “kebudayaan Kristen” saat ini menghubungkan Injil dengan pernyataan berikut ini: “Kamu orang berdosa. Kalau kamu tidak bertobat, kamu akan masuk neraka.” Sekarang, hal itu merupakan pernyataan yang benar. Memang ada surga dan neraka, ada Tuhan dan setan, dan Anda akan masuk neraka kalau tidak bertobat dan menerima keselamatan. Tetapi meskipun hal tersebut benar, itu bukanlah “kabar baik.” Hal itu bukanlah “Injil.”
Tuhan tidak mencari orang-orang “baik” dan menyelamatkan mereka – Dia mencari orang-orang durhaka dan membenarkan mereka
Injil secara langsung berhubungan dengan kasih karunia Allah. Itu merupakan satu-satunya jalan agar dosa-dosa kita bisa memperoleh pengampunan. Hidup kekal tidak diperoleh melalui kekudusan atau perbuatan baik kita. Hanya melalui Kasih Karunia Allah, yaitu kekuatan-Nya yang aktif, maka kita menjadi layak. Hanya melalui kasih karunia yang aktif dan penuh kuasa itu ada dalam hidup kita maka hati kita diubahkan. Tuhan tidak mencari orang-orang “baik” dan menyelamatkan mereka – Dia mencari orang-orang durhaka dan membenarkan mereka (Rom. 4:5).
Ini menimbulkan banyak permasalahan bagi orang-orang beragama. Mereka berkata, “Tunggu sebentar! Aku percaya kamu harus melakukan ini dan itu agar menjadi kudus dihadapan Tuhan.” Agama – agama palsu, konsep manusia – mengajarkan bahwa benar dihadapan Tuhan dan berkat-Nya datang sebagai hasil dari kebajikan, kebaikan dan usaha kita sendiri. Tetapi hal itu adalah anti-Injil! Hal itu bertentangan dengan “kabar baik” dari kasih karunia Allah karena meletakkan beban agar mendapat keselamatan dan mengalami kebaikan Tuhan di atas punggung Anda – dan Anda tidak dapat menanggungnya. Tidak seorangpun dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak seorangpun dapat memperoleh berkat dan anugerah dengan usaha mereka sendiri. Tidak seorangpun dapat mendekat pada Tuhan berdasarkan bagaimana kehidupannya sendiri dan hasil usahanya. Secara mendasar hal tersebut adalah “injil” palsu yang diberitakan agama pada saat ini. Pada intinya, itu adalah “injil” lain – yang berarti sama sekali bukan injil (Gal. 1:7). Itu adalah injil yang tercemar dan rusak. Semua itu adalah tentang apa yang harus Anda lakukan. Itu adalah KABAR BURUK dan bukan KABAR BAIK! (Gal. 1:6-7)
Injil tidak hanya percaya pada keselamatan, tetapi juga pada pengertian tentang bagaimana keselamatan itu didapatkan. “Jika Anda harus bertindak baik dan melakukan yang baik, maka Anda akan diterima” itu bukanlah Injil yang sejati. Perhatikan apa yang dikatakan Paulus pada saat berbicara pada pertemuan pelayan Tuhan yang pertama di Efesus: “ Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” (Kis 20:24).
Kata keselamatan pun seringkali disalahmengerti. Tidaklah aneh bagi orang Kristen untuk percaya bahwa keselamatan adalah sebuah proses satu kali saja, sebuah pengalaman dimana dosa-dosa Anda diampuni.
Keselamatan adalah sebuah perjanjian borongan dan semuanya dikerjakan oleh kasih karunia Allah, bukan usaha kita.
Itu benar, ada sebuah momen dimana Anda berpindah dari maut menuju hidup, tetapi tidak hanya hal itu saja yang terjadi. Hal itu merupakan definisi yang kurang lengkap. Keselamatan tidaklah dibatasi hanya pada pengalaman awal dari lahir baru.
Keselamatan adalah segala sesuatu yang telah dibeli Yesus bagi kita melalui karya penebusan. Sozo, bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “keselamatan”, mempunyai arti lebih dari sekedar pengampunan dosa. Hal itu juga berarti kesembuhan, kelepasan, kedamaian dan kemakmuran. Hal itu merupakan sebuah kata yang merangkum semua yang telah disediakan Yesus bagi kita melalui kematian, kubur dan kebangkitan-Nya.
Keselamatan adalah sebuah perjanjian borongan dan semuanya dikerjakan oleh kasih karunia Allah, bukan usaha kita. Akan tetapi, Iblis selalu saja mencoba untuk menipu kita. Dia ingin agar kita percaya bahwa kita harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Iblislah yang menyebabkan kita meragukan kesediaan Tuhan untuk menggunakan kemampuan-Nya bagi kita. Sayangnya, gereja seringkali memperkuat kepercayaan itu.
“ Aku tidak malu untuk memberi tahu orang lain tentang kebaikan, kasih karunia dan pengampunan Tuhan.”
Kebanyakan orang percaya bahwa Tuhan berkarya dalam kehidupan mereka sesuai dengan perbuatan mereka. Mereka percaya bahwa berkat Tuhan itu tergantung pada seberapa suksesnya mereka hidup dalam kehidupan Kristen yang baik. Itu adalah kesalahan yang dihadapi oleh Paulus dalam surat Roma. Saat Paulus datang dan berkata, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil!” dia sebenarnya berkata, “Aku tidak malu untuk memberi tahu orang lain tentang kebaikan, kasih karunia dan pengampunan Tuhan.” Tuhan mengasihi kita terlepas dari siapa kita dan apa yang telah kita lakukan. Keselamatan telah disediakan – kesembuhan dan kelepasan telah dibayar lunas. Bagian kita adalah menerimanya. Nah, itulah “kabar baik!”
Injil yang sejati - “kabar yang terlalu baik untuk menjadi kenyataan” adalah bahwa Tuhan telah menyediakan segala yang kita butuhkan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kabar baiknya adalah bahwa kita telah didamaikan, ditebus dan disucikan melalui pengorbanan Yesus yang cukup sekali dan untuk selamanya. Itu adalah Kabar Baik tentang kasih karunia Allah yang memampukan manusia untuk menerima pengampunan dosa, kesembuhan bagi tubuh mereka, kelepasan dari cengkeraman Iblis, dan masih banyak lagi. Itulah Injil!
Injil adalah tentang apa yang telah diselesaikan sekali dan untuk selamanya.
Apa Anda butuh makmur secara finansial? Kuasa untuk mendapatkan kemakmuran finansial ada dalam Injil.
Apa Anda merasa perlu kekuatan lebih untuk hidup dalam kemenangan? Injil adalah kekuatan Allah.
Apakah Anda perlu dilepaskan dari pengaruh kuasa setan, dari depresi, dari keegoisan atau dari hal yang lain? Kuasa untuk mendapatkan kelepasan ada dalam Injil!
Injil bukanlah tentang apa yang akan dilakukan Tuhan atau tentang sesuatu yang mungkin akan terjadi.
Injil adalah tentang apa yang telah diselesaikan sekali dan untuk selamanya.
Injil ADALAH kekuatan Allah. (Rom. 1:16) dan “hampir terlalu baik untuk menjadi kenyataan.”
Text: John 3:17, 2 Cor. 3:4-11, Rom 7:6
It is of great importance that we, as ministers of the New Covenant, know what our ministry is. We don’t have the ministry of Moses in the Old Covenant, but we have the ministry of Jesus and the New Covenant.
Let’s take a closer look at this.
1. Many times we see that Jesus HAD reason to condemn people – they were not without faults! But He knew that His ministry was not to condemn, but to save.
Examples:
- Luke 19:1-10. People had been condemning the dishonest tax-collector, Zacchaeus, but it had never brought any change to his life. However, when he was met by Jesus’ unconditional love and favor, it brought a real change to his life - not an external behavior-modification, but a real heart-transformation.
- John 4:7-30. The Samaritan woman was not met by condemnation, but by a word of knowledge given in love and respect. As a result, the woman and many others were saved.
- John 8:3-11. The woman caught in adultery was condemned by the Law of Moses, but Jesus did not condemn her. Earlier she had met Mr. Law but that day she met Mr. Grace.
2. Jesus did not come to condemn sinners, but to solve their sin problem. He came to remove the sin by paying its full penalty Himself. Then He came to live inside of us – so His life is formed in us.
Example:
- The Law is like a mirror. It reveals what is wrong with us, but it has no arms to stretch out to help fix our hair. However, when we are born-again we receive a brand new life inside. (Ezek. 36:26-27.)
1. We are ambassadors for Christ – He is continuing His ministry through us - not to condemn but to save.
2. God does not impute sins to people, and neither do we.
Amplified Version of 2 Cor. 5 says: God is not counting their sins and holding them up against them.
3. We don’t have the ministry of condemnation but the ministry of reconciliation.
1. Study carefully these verses that are comparing the two ministries. Observe which ministry brings the most results and is most glorious.
The Old Covenant | The New Covenant |
The letter | The Spirit | The letter kills | The Spirit gives life | The ministry of death | The ministry of the Spirit | Was glorious | Will be more glorious | The ministry of condemnation | The ministry of righteousness | Had glory | Exceeds much more in glory | What is passing away | What remains | Was glorious | Is much more glorious |
2. We are not under the Law of Moses. Let’s be careful that we don’t keep ministering in its “oldness,” or we will be preaching the Gospel still under the atmosphere of the Law. (Rom 7:6)
Example of ministering in the oldness of the letter, bringing condemnation:
”If you just had more faith, God would have done more miracles here. But your problem is that you are just like the people in Nazareth, you don’t have enough faith.”
To minister in the newness of the Spirit we will instead be preaching the good news, that because of Jesus everything is now available by grace alone! Jesus, our righteousness, lives in us, and HE is now our faith. So we don’t have to try to produce our own faith, we can just look to Him who IS our faith.
HOW MUCH MORE GLORIOUS the fruits of the New Covenant ministry are! Let’s not mix the Old and the New Covenant ministries, but let’s be 100% New Covenant ministers. Then we will see the glorious fruits thereof!
The Gospel is good news to all men. It is of vital importance that we keep it as pure and simple as it really is, so that we may reach ordinary people with the good news. My question to you as a minister is, “From which pulpit are you sharing – Mt. Sinai or Golgotha?” Let us make sure that we share the message with our feet firmly planted on Golgotha! In this article I’m explaining what that means.
“But now we are delivered from the law, having died to what we were held by, so that we should serve in the newness of Spirit, and not in the oldness of the letter.” (Rom. 7:6)
There is an essential difference between “the oldness of the letter” versus “the newness of Spirit.” The oldness of the letter is all about commandments and requirements. Some commandments said: “You shall…,” but most said: “You shall not….” The newness of Spirit is based upon a life that comes from within! This is such a dramatic difference, even though the result is that “the righteous requirement of the law is fulfilled in us.” (Rom. 8:4) The way we fulfill the Law is of vital importance. That is the essential difference I want to show you - the difference in nature. We are preaching about a salvation and a sanctification that are totally dependent on Christ and founded on His completed work. There is no room for works and self-effort. “For by grace you have been saved through faith, and that not of yourselves; it is the gift of God, not of works, lest anyone should boast. For we are His workmanship, created in Christ Jesus for good works…” (Eph. 2:8-10).
The pulpit for “the oldness of the letter” is Mt. Sinai where the Law was given. The pulpit for “the newness of Spirit” is Golgotha where Jesus was given as a sacrifice for sin.
Ever since I was called, at a young age, to teach the Gospel, I have realized that as Christians we have a tendency to bring a lot of bondage, religious rules and human traditions into the Christian life. These are burdens which are not a part of true Christianity as Christ intended it to be. What we have shared is a mixture of Law and Gospel, which has made people think that Christianity is a religion based on works and human performance.
There is a yoke upon Christianity around the world today, and this yoke has made us ineffective in our mission.
There is a yoke upon Christianity around the world today, and this yoke has made us ineffective in our mission. We have succeeded in “putting a yoke on the neck of the disciples,” even though the early Christians solemnly agreed not to do so! (Acts. 15:10) In the apostolic meeting in Jerusalem they agreed that the Mosaic Law, with its rules and regulations, did not apply to the New Testament Church. The converted were to experience the life and liberty in Christ, and have Christ as their Lord, Master and Head. All life should flow from Christ to them, and He should be their only source of life and godliness.
However, bondage tried to creep into the churches in Galatia. Even though the apostle Paul at that time was able to put things straight, new generations of Christians have experienced that same bondage attempting to influence them. I myself was pulled into the same flow of thoughts and traditional views both in the traditional evangelical denomination that I used to belong to, in the Pentecostal-Charismatic traditions, and finally in the traditions of the so-called Faith movement. I want you to understand that I am thankful for many things I learned through these movements, and I am thankful to ministers there. The grief in my heart that I am sharing with you is the grief of the yoke that has been creeping in on us, the yoke of man-made rules and traditions.
These traditions often create struggle and performance anxiety in people’s lives.
Jesus confronted the Pharisees and told them that they were annulling the Word of God because of their own rules and traditions. The same phenomenon is still occurring today, and it is robbing Christians of the liberty that Jesus provided for us in the redemption. These traditions often create struggle and performance anxiety in people’s lives. In many ways it becomes a gospel for the gifted and energetic, and then it produces losers who fail to live up to the standards which man’s religion of works continues to impose.
The apostle Paul warns us against those who “pervert the gospel of Christ.” (Gal. 1:7) My great concern is that often it is a perverted view of the Gospel that ripples into the non-Christian community causing the Gospel to sound like “bad” news rather than “good” news.
I grew up in a traditional evangelical denomination that had a clear definition of grace. That has helped me to come to the clarity I now rejoice in. But at the same time there would be a lot of religious rules that made Christianity appear as a straitjacket to the outsiders. The pietistic environment that I grew up in was extremely strict. Among many other things, the law of keeping the Sunday holy included restricting the use of scissors or going fishing on a Sunday. Doing those things on a Sunday was considered sin! Later I joined the Pentecostal and the Charismatic circles; in some areas the struggle was actually worse. At that time, there were a lot of rules on dress code - for example, that women should have long hair and cover their heads. We were also instructed to abstain from certain types of food and drink. These rules were new to me, as we did not have them in the denomination I came from. I was not aware that eating black pudding was sin, or that the ladies needed to have long hair and a hat to please God. But I soon conformed to the rules. There were also certain requirements in order for you to be baptized in the Holy Spirit. You had to be at a certain level of holiness, and be capable of seeking and praying enough. I was energetic and threw myself into it with great zeal, feeling that I was being productive and useful to God. However, as strange as it would seem, it did not happen until I realized that Jesus had made everything ready for me a long time ago.
I had to come to the end of my own struggling before the miracle could happen—by grace through faith! Later I read Galatians 3 and noticed that the apostle Paul was writing about the same thing. It is not only salvation that we receive by grace through faith; we also receive the Spirit without works, just by hearing and believing - by grace (Eph. 2:8-9).
Burdens Jesus already carried
The “Faith Movement” had some of the same phenomenon when it came to struggling with performance Christianity, but in different areas. There the struggle was found in the areas of prayer, warfare against devils and demons, and struggling to have more faith. Many pastors were also striving because of the focus on church growth.
the ministry of condemnation belongs to the Old Covenant. I have given you the ministry of righteousness, the ministry of reconciliation and the ministry of the Spirit
You know, the invitation of Jesus is still valid, “Come to me, all of you who are weary and carry heavy burdens, and I will give you rest. Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle at heart, and you will find rest for your souls. For my yoke is easy to bear, and the burden I give you is light.” (Matt. 11:28-30, NLT, emphasis added.)
Let me share a life changing encounter with God that happened to me in the Seventies. At the time I was baptized in the Holy Spirit, and I was eager to preach about faith. I realized that “all things are possible to him who believes.” (Mark 9:23) So I tried to preach about faith, and I was frustrated about the attitude Christians had towards the Word of Faith.
I had been taught to be the kind of revivalist who tries the best he can to give as many as possible as much guilt as possible, and then invite them to the altar. Seemingly, this kind of meeting gave a lot of results, and sometimes most of the congregation responded to the altar call. It was after such a meeting, where I had rebuked the congregation because of their lack of faith, that the Holy Spirit whispered to my heart, “This is not preaching the Word of Faith. This is the ministry of condemnation!”
I was shocked! In my opinion I had been preaching faith. However, the Lord showed me that the only thing preaching like that would create was condemnation; people motivated by guilt and shame. He said to me, “The Word of Faith creates faith! However, this kind of preaching creates condemnation, and the ministry of condemnation belongs to the Old Covenant. I have given you the ministry of righteousness, the ministry of reconciliation and the ministry of the Spirit.” (See 2 Cor. 3:6-11.)
T.L. Osborn says, “You can not preach the good news mad, you can only preach the good news glad!”
Then He guided me through my teaching outlines, and I had to throw away more than half of them, including my special sermon, “You Cannot Fool God.” For me that was tough! However, it was after this revising that the turning point in my ministry came. I used to be a mad preacher, but now I am a glad preacher! T.L. Osborn says, “You can not preach the good news mad, you can only preach the good news glad!”
My first encounter with Dr. David Yonggi Cho was in a meeting in Norway in 1981. He is the founder and pastor of “Yoido Full Gospel Church” in South Korea. This is the largest church in the world. Dr. Yonggi Cho told us about how he had visited a classmate from Bible school who experienced stagnation and decrease in the number of church members. Dr. Cho was experiencing growth and increase, and so this friend had invited Dr. Cho to help. Dr. Cho preached a liberating message about how Jesus redeemed us from the curse of the Law. People were set free and became happy and many received salvation, baptism in the Holy Spirit, and healing.
Dr. Cho noticed, however, that his friend was not content. The more glorious the meeting was, the grumpier he became! Subsequently, his reaction came. He responded saying something like this: “You shouldn’t preach like that to this congregation! I know them. They need to be rebuked. They need to understand how things ought to be! Every Sunday I chastise and admonish them, because that’s what they need.”
He guided me through my teaching outlines, and I had to throw away more than half of them, including my special sermon, “You Cannot Fool God.
”That’s when Dr. Yonggi Cho said the liberating words that are the title of this article: “You have to move the pulpit from Mt. Sinai to Golgotha!” In other words, move from where the Law was given to where grace was given. He explained it in more detail saying: “Even a dog knows better and would start to eat at the neighbor’s if it would be hit in the head every time it came to eat!”
Imagine how many churches, chapels and assembly rooms are almost empty, simply because the message has “hit people in the head.” They have heard phrases like these: “What we need is…,” “If we only had been more…,” “As for myself I know…,” “I’ve received a word that has become so serious to me….”
The whole atmosphere has been that of Mt. Sinai! If it has not been “blackness and darkness and tempest” (Heb. 12:18), it surely has been rules and regulations and requirements - “You shall” and “You shall not!”
In fact, it is quite possible to bring the oldness of the letter into the Christian life, so that even the Christian life becomes full of rules, regulations and requirements: “You have to read and pray. You have to tell others about Jesus. You have to attend church services, etc.” The newness of the Spirit, fulfills all these expectations, but it happens through the power of the inner life, and not through outward requirements.
In other words, move from where the Law was given to where grace was given.
Because “the oldness of the letter” has been permitted to survive, Christianity has become a religion of works, just like any other religion. But our faith is futile and of no value without the living Christ who has been raised from the dead (1 Cor. 15:14-20). All our faith is based upon the new man who was created when Christ rose from the dead. Inasmuch as we died to sin and were raised with Him, we now live a new life (Rom. 6:1-11). It is all based on the work that took place on Golgotha, and all we are to share is based upon that finished work. We share about a new nature that is part of “the newness of Spirit,” and we leave “the oldness of the letter” alone on Mt. Sinai.
The headline seems contradictory. Is Christianity without the Gospel possible? It depends on how we define Christianity. If becoming a Christian is about salvation, being born-again and following Jesus, then there is no Christianity without the Gospel. If, on the other side, we view Christianity as a cultural heritage, an institutional religion or a religious doctrine, then there is not much room or need for the Gospel.
We hear much today about the threat against Christianity. Many look at the secularized western society with laws that disregard the Bible, while others cite the advancement of Islam as our major threat. We are encouraged to fight against these forces of secularism and false religion if Christianity is to survive. Books, magazines, and articles are published and sermons are preached where the world around us is described in negative terms. We are fighting immorality, corruption, and secularization. The solution according to many writers is more Christian unity, more “spiritual warfare” and more “unity.” If only all churches could come together and come into agreement, stand united, then we would be strong and have a chance, and maybe revival would come.
If Christianity is about tradition and western culture built on Judeo-Christian principles, then the above reasoning is, of course, correct. This rationality leaves little or no expectation or faith in the power of the Gospel. If Christianity is simply about our efforts to unite and fight evil, what really then is Christianity? In fact, those who question the survival of Christianity, with that question, are actually demonstrating their lack of understanding. Those who believe in the power of the Gospel are not concerned about the survival of a religious form, but our concern is that the Gospel would have “free course.” We know that the Gospel is God’s power and it shall be preached to all nations (Matt. 24:14). If only the Gospel is given room, it contains the life of God and it will prevail.
Christianity without the Gospel is not Christianity at all, and it is not worth fighting for. The Greek word “evaggelio” means “good news” or “glad tidings.” What is this message of good news and glad tidings? It is that God was in Christ and put the world’s sins on Jesus; the world was then reconciled to God through what Jesus did on the cross (2 Cor. 5:18-19; Rom 5:10). Jesus solved the world’s sin problem – He died and rose again. He is now alive and all those who receive Him, receive power to become God’s children. When we turn from self-sufficiency to receiving the Good News of what Jesus has done, we are born-again. Those who receive Jesus become new creations; the nature of righteousness and love comes into us. Then the Gospel has victorious power in itself to transform both the individual and the society.
We are not fighting for a cultural heritage or a tradition - it is the Gospel we are fighting for.
The great question is if we are born-again, or not. The message of grace is simply an offer to the entire world to receive what Jesus has done. And when we receive it, we are recipients of a new life. Muslims need to be born-again. Buddhists, Hindus, Shintoists, Atheists, and especially Christians need to be born-again. We are not fighting for a cultural heritage or a tradition - it is the Gospel we are fighting for.
Our hope with the Global Grace Network is that many will rise up across the world to take up the battle against the deceptive, merit-based religion that focuses on human performance. Neither human wisdom, nor legalistic religion has any power in it. The power is in the Good News.
The important word is “Gospel.” As far as we know Jesus never used the words “Christian” or “Christianity.” Instead He spoke much about the Gospel. Paul, Peter and the other disciples continued in that same style. We, on the other hand, hear little about the Gospel, but much about the defense of Christianity. Maybe a renewed focus on the fact that “God so loved the world that He gave His only begotten Son, so that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life” (John 3:16), would lead to survival of real Christianity and the salvation of the world.
In this edition of our newsletter we deal with “moving the pulpit from Sinai to Golgotha.” Golgotha represents the Gospel while Sinai represents legalistic performance-oriented religion. As long as the pulpit is at Sinai, we are preaching the requirements and rules, which must be adhered to, in order for God to move. When we preach from Golgotha we are declaring the finished work of Christ, in whom we are identified in His death and resurrection.
Who is preaching in your church this Sunday?
In our seminars I frequently ask pastors: “Who is preaching in your church this coming Sunday?” Then I tell the story of the prodigal son and for a moment I imagine: What if the father was not standing there, looking for the lost son, but instead the older brother was waiting at the door? What message would he have given to the prodigal? There would have been no kiss, hug, fatted calf, ring, or celebration. The prodigal’s humble statement, “I’m not worthy to be called your son,” would have been met with: “You surely aren’t worthy, and don’t even think you are going to enter into father’s house. No, you will be staying with the servants until we can test the validity and sincerity of your heart.” Imagine, how discouraging. Surely the prodigal would have responded: “Yes, I know, I’m unworthy and useless; send me out with the servants.” You see, the father didn’t even allow the prodigal to go through his long, prepared speech of penance and remorse. The father represents Golgotha, while the older brother represents Sinai. Who is preaching in your church this Sunday? Is it the older brother, preaching from the Law of Moses constantly exalting, prioritizing and focusing on human failure and shortcoming? Is there continual emphasis on why people aren’t healed, why families aren’t saved and why revival hasn’t come? Are there constant paths of five steps, seven steps, twelve steps or twenty-five steps to breakthrough and victory proclaimed in your pulpit? Then it is the older brother preaching. The message is from Sinai. When we preach from Golgotha, there is a lavishly loving Heavenly Father with arms wide open, welcoming the lost and despairing son. The message from Sinai has no power to change lives; instead it arouses in us a desire to sin. The message from Golgotha transforms lives.
Christianity from Sinai is Christianity without the Gospel. Move your pulpit to Golgotha. That’s the message that transformed the world 2,000 years ago, and when preached, it will have the same effect once again.
Tuhan melakukannya lagi– benar-benar membuat saya terkejut! Saat itu saya sedang mengadakan perjalanan bisnis selama dua minggu di negeri Belanda, begitu saya menyeberang jalan untuk kembali ke hotel, saya merasakan Bapa mengatakan hal ini pada saya: “Tidak ada satupun yang Aku kasihi melebihi kamu!”
Hal itu sangat mengejutkan saya, benarkah demikian? Segera muncul dalam benak saya beberapa orang yang saya pikir pasti lebih Dia kasihi daripada saya. Tetapi setelah beberapa detik saya mengerti: kasih Tuhan begitu kuat dan hebat, dan kasih itu sama bagi semua orang! Air mata saya mulai menetes… Tentu saja tidak ada seorang pun yang dikasihi Tuhan lebih daripada saya – atau lebih daripada Anda– atau lebih dari orang-orang yang Anda temui hari ini.
Yohanes hidup dalam kesadaran akan hal ini dan menyebut dirinya sendiri sebagai “murid yang dikasihi Yesus.” Yesus juga hidup dalam kesadaran akan hal ini dan berkata tentang diri-Nya sendiri, “Bapa mengasihi Anak – dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri.” Dalam Yohanes 15:9 Yesus berkata, ““Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Kasih yang luar biasa besar ini membawa Yesus ke kayu salib dan membuat Dia menanggung penghukuman seluruh dunia di dalam diriNya sendiri!
Newsletter bulan ini adalah tentang Menemukan Kembali Injil! Mintalah pada Tuhan untuk merubah paradigma Anda saat membaca pengajaran dari Peter Youngren dan Steve McVey, juga saat membaca kesaksian yang berjudul Kasih Karunia yang Mengagumkan.
Terima kasih untuk semua e-mail, rasa syukur dan keinginan Anda untuk mengenal Yesus dan Injil. Setiap bulan GGN akan terus menyingkapkan kasih karunia Tuhan bagi kita semua. Lihat juga iklan tentang Sekolah Alkitab - mungkin ini adalah kesempatan ANDA untuk semakin mengenal kasih-Nya. Ingat, tidak ada satu pun yang lebih Dia kasihi daripada Anda!
Merupakan sebuah kata luar biasa yang mempunyai arti “menjungkir-balikkan.” Mengapa “Revolusi Injil?” Mengapa tidak memilih kata seperti “pembaruan” atau “kebangunan?” Sederhana sekali, permasalahan yang ada telah sangat dalam sehingga hanya revolusi saja yang bisa merubahnya – diperlukan sebuah perubahan pola pikir dalam memahami Injil. Beberapa orang mengatakan bahwa Amerika telah mengeraskan hati terhadap Injil. Saya rasa tidak. Amerika harus mendengar Injil.
Selama pertanyaan kita adalah, “Apa yang harus aku lakukan?”, jawabannya akan selalu, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kau lakukan.”
Agama menekankan pada apa yang “harus kita lakukan” agar diselamatkan, disembuhkan, makmur atau memperoleh kebangunan. Ada seorang pemimpin muda yang kaya bertanya kepada Yesus, “Apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, ““Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan.” Hal ini meringkaskan dilema dari semua agama. Selama pertanyaan kita adalah, “Apa yang harus aku lakukan?” jawabannya akan selalu, “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kau lakukan.” Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kebangunan rohani? Apa yang diperlukan? Seberapa banyak doa, puasa, belajar dan iman yang dibutuhkan? Apa yang harus dilakukan agar disembuhkan? Lima langkah, sepuluh langkah atau limabelas langkah untuk mendapat kesembuhan? Bagaimanapun juga setiap orang yang sakit tidak akan mencapai standar tersebut. Agama berfokus pada perbuatan manusia dan usaha sendiri, sementara Injil memerdekakan. Pertanyaan kita tidak lagi, “Apa yang harus aku lakukan?” tetapi, “Apa yang telah Yesus lakukan?” Doa kita adalah, “Tuhan, kiranya mataku terbuka untuk bisa melihat apa yang telah Engkau lakukan bagiku.”
Tidak sekedar melepaskan kekuatan Allah – Injil adalah kekuatan Allah! Saat kita memperkatakan Injil, kekuatan itu keluar dari mulut kita. Saat kita bergantung pada Roh Kudus, ini bukanlah tentang berdoa agar kekuatan itu turun tetapi, memberitakan keluar kekuatan itu. Saat kabar baik tentang apa yang telah dilakukan Kristus keluar dari mulut kita, hal itu bagaikan pancaran sinar yang menghalau kegelapan.
ini bukanlah tentang berdoa agar kekuatan itu turun tetapi, memberitakan kekuatan itu ke luar
Era ini dimulai dengan kematian dan kebangkitan Yesus, pada saat hari Pentakosta itu tiba, era Injil telah berjalan. Sebelum saat itu, orang-orang menantikan tentang apa yang akan datang; sekarang kita melihat ke belakang pada apa yang telah terjadi. Kita membaca kitab Perjanjian Lama dalam sudut pandang yang baru – setiap kejadian dilihat melalui sudut pandang dari apa yang telah dilakukan oleh Yesus. Kita menyaring Perjanjian Lama melalui kaca mata Perjanjian Baru. Aplikasi utama dari kisah tentang Daud dan Goliat tidak lagi melihat Goliat sebagai lambang dari persoalan kita sebagai manusia. Akan tetapi, Daud mewakili Anak Daud (Yesus), dan Goliat, iblis dan kerajaannya. Kita melihat Daud mengalahkan Goliat sebagai lambang dari apa yang telah Yesus lakukan saat Dia menginjak kepala iblis di salib Kalvari. Kita tidak lagi mencari “kemenangan kita” – kita sekarang masuk kedalam kemenangan dari “Daud” kita, Yesus Kristus.
Saat kita bergumul melawan tipu muslihat dari pemerintah-pemerintah dan penghulu-penghulu dunia yang jahat, kita tidak berusaha untuk mengalahkan mereka. Kita hanya berdiri pada kemenangan yang telah disediakan oleh Kristus – Iblis telah dikalahkan 2,000 tahun yang lalu.
Dalam era sebelum kebangkitan, setiap orang bekerja agar mendapatkan sesuatu. Aktivitas kerohanian kita adalah menemukan dan belajar untuk berjalan dalam apa yang telah kita miliki melalui Kristus. Segala sesuatu telah menjadi milik kita – hal-hal yang sudah berlalu, saat ini, atau yang akan datang; hal-hal surgawi, hal-hal duniawi; semua berkat menjadi milik kita melalui Kristus Yesus. Saat kita melihat doa Yabes, “Oh Tuhan kiranya Engkau memberkati aku,” kita menyaring doa tersebut. Kita berdoa dalam gaya Perjanjian Baru: “Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memberkati aku dengan segala berkat rohani di dalam Kristus. Tolong aku agar bisa melihat sepenuhnya segala yang telah Engkau berikan kepadaku.” (Efesus 1:3)
Inti dari Injil adalah Kristus sebagai kebenaran kita. Saya temukan bahwa saya semakin sedikit mengkhotbahkan tentang keselamatan, kemakmuran, kesembuhan, tanda-tanda dan mukjizat dibanding sebelumnya. Sebaliknya saya mengkhotbahkan tentang Yesus Kristus sebagai kebenaran kita – dan keselamatan, kesembuhan, tanda-tanda dan keajaiban mengikutinya.
Ini adalah salah satu perbedaan yang mencolok dari sebelum dan sesudah kebangkitan. Para pengkhotbah sebelum kebangkitan, sebagai contoh Yohanes Pembaptis, mengkhotbahkan tentang dosa-dosa dan kelemahan orang untuk mengarahkan pada pertobatan. Pengkhotbah Perjanjian Baru, dimulai oleh para rasul dan Filipus sang penginjil, mengkhotbahkan Kristus. Mereka menekankan pertobatan dari mengandalkan diri sendiri dan mempercayai kebenaran kita sendiri dengan cara mengarahkan orang-orang pada Kristus.
“ Dunia tidak mempunyai masalah DOSA; dunia punya masalah ANAK.”
Pendiri gereja Missionary Alliance, A.B. Simpson, mempopulerkan frase: “Dunia tidak mempunyai masalah DOSA; dunia punya masalah ANAK.” Sekilas pernyataan ini sulit dicerna oleh banyak orang. Akan tetapi, saat kita melihat kitab suci tanpa pandangan dihalangi oleh tradisi, kita melihat bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang telah menghapus dosa dunia (Yohanes1:29). Dia melakukannya dengan satu pengorbanan – sekali dan untuk semuanya. Darah Yesus tidak hanya merupakan pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia (1 Yohanes 2:2). Banyak orang belum mendengar pesan ini. Sebaliknya mereka telah diberitahu untuk membereskan dosa-dosanya, sementara faktanya Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan mendamaikan dunia dengan diri-Nya – dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka (2 Korintus 5:18-19). Roh Kudus tidak lagi menginsyafkan manusia dari dosa-dosa mereka, tetapi akan dosa karena mereka tetap tidak percaya kepada Yesus (Yohanes 16:8-11). Sekarang semuanya telah tercakup dalam Yesus.
Seringkali saya mendengar orang mengatakan bahwa Tuhan akan menghakimi Amerika atau beberapa negara lainnya. Sangat sedikit yang mengatakan tentang bagaimana Tuhan telah menghakimi dosa-dosa Amerika dengan penghakiman yang telah ditimpakan pada Kristus (Yesaya 53:5-6).
Kasih karunia Allah yang menyelamatkan kita merupakan kasih karunia yang sama yang mendidik kita supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah dalam dunia yang tidak mengenal Allah (Titus 2:11). Banyak orang telah mendengar bahwa mereka harus “menyucikan” hidup mereka agar bisa menerima kasih karunia Allah. Ini adalah pengajaran yang salah, karena manusia tidak mempunyai kemampuan untuk “menyucikan” diri mereka sendiri. Jika mereka memang mampu maka kematian Kristus di kayu salib tidaklah dibutuhkan. Faktanya, kita manusia tidak mempunyai harapan. Lima ratus tahun lalu para Reformis Kristen memang benar saat mereka mengemukakan doktrin tentang “kebejatan total” manusia. Rasul Paulus menggambarkan kebejatan ini dalam bahasa yang sangat gamblang: ““Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.” (Roma 3:10-17)
Pernyataan yang luar biasa! Inilah umat manusia, tidak mampu untuk merubah dirinya sendiri. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyamarkan kondisi yang sebenarnya dari hati kita yang penuh dosa dengan perilaku keagamaan.
sekali hati manusia diubahkan maka perilakunya juga berubah
Hanya ada satu harapan yang tersisa – menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Kemauan keras kita tidaklah cukup untuk membuat kita bertobat; tidak ada satupun yang baik di dalam kita. Menjadi ciptaan baru dalam Kristus, itulah yang ada artinya. (Galatia 6:15).
Itulah mengapa Paulus mengatakan, “Aku tidak malu akan Injil.” Mengapa? Injil menjadikan kita ciptaan baru. Injil adalah kekuatan Allah! Injil bukanlah sekedar kisah yang kedengarannya indah, logis dan agamawi. Injil merubah hati manusia; sekali hati manusia diubahkan maka perilakunya juga berubah.
Injil itu mulia, luar biasa, mengagumkan dan indah. Janganlah mengurangi hal tersebut dengan menganggapnya hanya sebatas agama belaka
Salah satu tragedi terbesar dari kekristenan modern adalah terlalu banyak orang percaya yang terikat, terintimidasi, tertahan. Orang yang telah pergi ke gereja sepanjang hidupnya masih mencari “terobosan” mereka. Lebih menyedihkan, beberapa dari mereka bahkan belum mengetahui bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni dan bahwa kita telah memiliki segalanya di dalam Kristus. Dalam kondisi yang kalah ini, harapan apa yang harus kita tawarkan pada dunia? Inilah yang membuat pesan kita menjadi tidak menarik. Jika mereka yang mengaku mempunyai kebenaran itu belum mengalami kemerdekaan, akankah orang lain mau bergabung dengan kita? Peperangan untuk kemerdekaan orang percaya bukanlah hal yang baru. Orang percaya di Galatia mundur dari kemerdekaan mereka di dalam Kristus, menjauh dari Injil kasih karunia masuk ke dalam agama yang digerakkan oleh perbuatan. Paulus menulis: “Berdirilah teguh dalam kemerdekaan dimana Kristus telah memerdekakan kamu.”
Menjauhkan gambaran yang tidak menyenangkan tentang orang percaya yang memegang wadah kaleng, meminta agar Tuhan memberikan terobosan, berkat dan keuntungan lebih lagi. Sebaliknya, kita sekarang hidup dalam terang pewahyuan bahwa “oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita – membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.” (1 Korintus 1:30)
tugas kita bukanlah menyampaikan hikmat manusia – kita harus memberitakan salib Kristus
Pengajaran tentang hikmat manusia semakin populer. Tanpa kasih karunia Allah melalui apa yang telah dilakukan Yesus, hal terbaik yang bisa kita dapatkan saat ini ada pada bagian motivasi di toko buku dimana banyak penulis yang memberikan nasehat yang baik. Ada banyak ahli yang berusaha sebaik mungkin untuk memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk meraih hidup yang lebih baik melalui TV. Saya menghargai usaha mereka, tetapi semua nasehat tersebut tidak memiliki kuasa untuk bisa merubah perilaku manusia. Memang menganalisa masalah dan menerima nasehat bagaimana memecahkan situasi yang kita hadapi merupakan suatu hal tersendiri. Kita menganggukkan kepala, setuju untuk membereskan masalah kita dengan cara yang berbeda, dengan harapan hal itu bisa merubahnya. Bahkan melalui hikmat manusia mungkin kita meraih kesuksesan dalam tingkatan tertentu, meskipun pada akhirnya kita akan gagal juga.
Injil benar-benar berada pada dimensi yang berbeda. Peringata Paulus bahwa hikmat manusia membuat salib “tidak ada pengaruhnya.” Sama seperti bangsa Yunani 2000 tahun lalu, banyak orang pada saat ini mencari hikmat. Hal itu menarik bagi pikiran dan logika kita. Kita semua senang dengan hal-hal yang kedengarannya masuk akal dan dipikirkan dengan baik. Bagaimanapun juga, tugas kita bukanlah menyampaikan hikmat manusia – kita harus memberitakan salib Kristus. Mengapa? Hikmat manusia yang terbaik pun akan tetap gagal. Bahkan orang-orang yang mempunyai tujuan baik pun tidak dapat bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip hikmat yang mereka anggap benar.
Sangat sering, Injil Kristus dikesampingkan agar dapat mengajarkan hikmat manusia. Mengambil pengajaran dari kitab Amsal dan Pengkhotbah menjadi sangat umum. Kitab-kitab tersebut adalah Firman Tuhan, tetapi jika Anda membacanya dalam terang Perjanjian Baru, Anda akan menyadari bahwa Yesus Kristus telah menjadi Hikmat kita. Yesus Kristus adalah satu-satunya yang dapat membuat kita bertindak dalam kebenaran-kebenaran tersebut. Tanpa mempunyai hubungan yang terus menerus dengan Kristus, kita semua tidak akan dapat melakukan semua kebenaran yang dituliskan oleh Salomo dan para penulis yang lain. Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1 Korintus 1:19-24)
Dunia harus mendengar bahwa dosa-dosa mereka telah dibatalkan.
Saat ini banyak orang lebih memfokuskan waktu mereka pada iblis dan kegelapan, tetapi hal ini tidak pernah menjadi perkara dalam kitab Kisah Para Rasul. Mereka tidak melakukan peperangan rohani seperti yang sering kita lihat terjadi pada saat ini. Fokus mereka adalah membiarkan terang itu bercahaya sehingga kegelapan itu sirna. Salah satu acara TV favorit saya selama bertahun-tahun adalah “Crossfire” dari CNN, dimana ada dua pihak yang saling bertentangan berdebat tentang posisi politik yang berbeda. Terkadang kekristenan saat ini telah menjadi seperti acara “Crossfire”. Kita berdebat tentang banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kita melakukan protes besar-besaran saat balai kota memasang spanduk “Happy Holidays” dan bukan “Merry Christmas”. Secara alami, jika saya harus membuat keputusan, saya akan memasang “Merry Christmas” dimana-mana. Saya suka nama Kristus. Meskipun demikian, sejujurnya perbedaan apa yang dihasilkan jika orang-orang belum lahir baru? Mengapa kita berjuang begitu keras dalam hal-hal semacam itu sementara rasul Paulus mengatakan bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya (Galatia 6:15)? Apa baiknya bila negara kita melekat pada nilai-nilai Kekristenan atau tradisi tetapi warganya tidak lahir baru? Sebenarnya, saya menyukai nilai-nilai Kristen, namun nilai-nilai saja tidak menyelamatkan manusia – Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan.
Rasul Paulus menulis tentang terang cahaya Injil dan dia menambahkan: “Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita! Kita memiliki harta Injil ini di dalam hati kita. Solusi dari semua dilema adalah membiarkan terang Tuhan bercahaya. Dunia harus mendengar bahwa dosa-dosa mereka telah dibatalkan. Apakah Anda ingin keluarga, kota, gereja dan bangsa Anda mengasihi Tuhan? Bagaimana hal itu bisa terjadi? Cukup sederhana. Kita mengasihi Tuhan karena Dia lebih dulu mengasihi kita.
Saat orang bisa melihat betapa luar biasanya Injil, mereka secara alami akan mau membagikannya.
Semakin banyak kita menunjukkan kepada orang betapa besar Tuhan mengasihi mereka, semakin besar pula mereka akan mengasihi Dia. Kita bukanlah yang memulai – Tuhan yang telah memulai segalanya. Kita tidak lagi menantikan gerakan Tuhan – kita melihat bahwa Tuhan telah bergerak. Saat kita menemukan apa yang telah Dia lakukan, respon kita merupakan salah satu tindakan timbal-balik dari kasih, pelayanan, dedikasi dan penyucian.
Kadang kita memutuskan untuk “bersaksi” selama beberapa jam. Betapa tidak alaminya membatasi kesaksian dalam suatu jangka waktu, dibanding membagikan Kristus kapanpun seseorang bertemu kita dengan hanya membiarkan terang di dalam kita bercahaya. Selama bertahun-tahun saya mencoba membuat orang mau memberitakan Injil kepada teman-teman mereka. Saya telah menghentikan hal itu. Sekarang saya lebih fokus pada membantu orang untuk menemukan betapa luar biasanya Injil itu. Saat orang bisa melihat betapa luar biasanya Injil, mereka secara alami akan mau membagikannya. Jika Anda menemukan dealer Mercedes Benz di kota Anda memberikan diskon 90%, tidakkah Anda memberi tahu teman-teman Anda? Tentu saja. Jika Dell memberikan komputer tercanggihnya secara gratis, dalam jumlah yang tidak terbatas, maka Anda pasti menceritakannya pada orang lain. Saat kita menemukan realita mengagumkan dari Injil, kita tidak akan menahannya.
Pesan ini berbicara pada hati nurani yang terluka, terluka karena mencoba berbuat sesuai dengan yang mereka ketahui itu benar tetapi terus menerus gagal melakukannya.
Jutaan, bahkan milyaran orang lelah akan hidup mereka yang kalah, penuh dengan kegagalan dan penyesalan. Merupakan sebuah kesempatan untuk menawarkan pada mereka sebuah hidup yang baru! Tukarkan yang lama dengan yang baru. Pesan ini berbicara pada hati nurani yang terluka, terluka karena mencoba berbuat sesuai dengan yang mereka ketahui itu benar tetapi terus menerus gagal melakukannya. Pesan tentang kasih karunia Allah – belas kasihan Allah yang sebenarnya tidak semestinya diberikan, tidak bisa diusahakan, tidak pantas diterima – yang memberikan kemerdekaan bagi semua yang percaya. Selama kita memandang kekristenan hanya sebatas nilai-nilai, etika dan prestasi manusia, kita tidak berbeda dengan agama-agama lainnya. Saat kita membebaskan Injil dari agama buatan manusia, hari yang baru akan menyingsing. Biarkan Injil sebagaimana adanya – brilian, bersinar, indah, menarik dan memberi kekuatan. Revolusi telah dimulai – dunia sedang menanti!
Saya banyak berubah dalam berbagai hal setelah sekian tahun. Mungkin hal yang paling banyak berubah adalah bagaimana cara saya memandang Tuhan. Tuhannya gereja yang saya bayangkan saat saya masih kecil, juga pada tahun-tahun pertama pelayanan saya, sama sekali tidak seperti Bapa yang kemudian saya kenal dalam tahun-tahun terakhir ini. Memang benar bahwa Tuhan tidak pernah berubah. Sebenarnya Dia selalu sama baik dahulu, sekarang dan selamanya. Tetapi ketika usaha untuk mematuhi peraturan keagamaan yang begitu banyak dan telah melekat selama bertahun tahun pada diri saya itu terkikis oleh semakin bertumbuhnya pewahyuan dari kasih-Nya yang luar biasa, saya bisa melihat Dia dalam pandangan berbeda yang sebelumnya tidak pernah saya kenal.
Saya dulu memandang bahwa Allah membenci dosa dan karena hal itu merupakan satu hal terbaik yang bisa saya lakukan, saya membutuhkan bantuan untuk mengetahui bagaimana caranya menjaga agar Dia tetap tidak menghukum saya.
Saya bertumbuh dengan melihat Allah, Yesus dan Roh Kudus sebagai sebuah tim yang masing-masing memiliki cara pandang berbeda dalam pendekatannya terhadap saya. Saya dulu memandang bahwa Allah membenci dosa dan karena hal itu merupakan satu hal terbaik yang bisa saya lakukan, saya membutuhkan bantuan untuk mengetahui bagaimana caranya menjaga agar Dia tetap tidak menghukum saya. Disitulah Roh Kudus mulai berperan. Peran-Nya adalah untuk datang dan memberi tahu saya melalui berbagai hal yang berubah-ubah untuk “menghentikannya!” Kadang Dia akan menggunakan perasaan bersalah dan malu. Pada saat yang lain Dia akan dengan keras mengingatkan saya bahwa Allah membawa saya masuk ke dalam dunia ini dan Dia dapat dengan mudah mengeluarkan saya bila saya tidak segera membereskan dan berjalan dengan benar. Kemudian datanglah Yesus. Pandangan saya saat itu adalah Dia datang untuk menahan Allah melakukan hal yang sudah ingin Dia lakukan – yakni menghukum saya. Saya merasa sepertinya Allah telah habis kesabaran-Nya dan telah benar-benar marah. Yesus ada disana untuk mendiamkan Allah saat Dia hampir meledak dengan memegangi tanganNya dan berkata, “Bapa, ingat, –bekas luka, bekas luka!” “Oh, iya,” Allah akan berkata demikian dan kemudian tenang untuk sementara waktu sampai saya membuat kekacauan lagi dan Yesus harus mengulang lagi prosesinya.
Apakah mengherankan kalau saya mempunyai masalah dalam merasakan keintiman dengan Tuhan? Hal yang menyedihkan adalah saya tidak berpikir bahwa cara pandang saya itu unik. Saya bertemu banyak orang yang saat ini masih percaya entah bagaimana ada dikotomi antara Bapa dan Anak bila berkaitan dengan penerimaan mereka akan kita. Banyak yang berpikir bahwa Bapa mempunyai tipe yang selalu gelisah, tidak santai, dan Yesus adalah Seorang yang duduk di sebelah kananNya untuk menenangkanNya. Roh Kudus? Mereka melihat-Nya sebagai polisi yang mengawasi tingkah laku.
Bapa, Anak dan Roh Kudus sebenarnya berada pada tim yang sama
Pada kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Berita baiknya adalah, berlawanan dengan yang dipercayai banyak orang, Bapa, Anak dan Roh Kudus sebenarnya berada pada tim yang sama. Tidak pernah ada satu saat pun mereka tidak mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama tentang Anda. Di dalam hubungan yang ada antara Bapa, Anak dan Roh Kudus, selalu ada keintiman penuh kasih yang tidak tidak terdefinisikan dan tergambarkan terhadap manusia. Coba bayangkan hubungan kasih yang terdalam, termanis, terindah yang pernah Anda miliki terhadap seseorang di dalam dunia ini. Kalikan hal itu dengan jumlah yang tidak terhingga dan tetap tidak dapat menyamai kasih yang diberikan dari Trinitas. Berita yang luar biasa dari Injil kasih karunia adalah tarian ilahi tersebut bukanlah merupakan suatu pesta tertutup. Kasih Mereka begitu besar untuk dapat ditampung dan terlalu kuat untuk ditahan. Jadi Sang Trinitas membuka pintu dari klub pribadinya lebar-lebar diatas kayu salib dan meneriakkannya sepanjang waktu dan kekekalan, memanggil masuk “yang miskin, timpang, buta dan lumpuh.”
Kasih Mereka begitu besar untuk dapat ditampung dan terlalu kuat untuk ditahan.
Bapa, Anak dan Roh Kudus memandang segalanya dengan cara yang sama, melakukan segalanya dengan cara yang sama dan melihat Anda dengan cara yang sama pula. Mereka semua ada di pihak Anda. Ada sebuah pesta yang berlangsung saat ini, dan oleh kasih karuniaNya, Anda berada di dalamnya. Seperti itukah Anda memandang Tuhan? Saya harap begitu, karena hal itu nyata. Bapa, Anak dan Roh Kudus mengasihi Anda dan ingin agar Anda santai dan menikmati pesta. Itulah yang disebut hidup berkelimpahan.
Before I share this testimony, I want to tell you some information about myself. I am a third generation Pentecostal believer and preacher. I grew up hearing and singing “Amazing Grace,” but even after having been saved for over 23 years and in ministry for 20 years, I had little understanding of that Amazing Grace.
For years I have heard and even ministered a mixed message of Law and grace. But finally I realized that I was burning myself out, busy “doing” ministry. I have for many years had the privilege of ministering in many nations in the world. But many times I have returned from these trips with a tremendous cloud of condemnation and feeling guilty for not having performed to my fullest.
If you ask my wife Trace, she will tell you that I wasn’t easy to live with. This would last for weeks and months – I couldn’t shake off these chains of performance religion. I had heard teaching over the years that made me believe that it was how long I prayed and fasted that determined my performance – when really it is all about Jesus. I struggled a lot – even though I could quote Romans 8:1, “There is therefore no condemnation to those who are in Christ Jesus”.
I had heard teaching over the years that made me believe that it was how long I prayed and fasted that determined my performance
Many of us can quote the scriptures, but they’re not really a living reality in us. Because I felt and preached and heard so much preaching on being performance-driven, I thought it was my fasting and my praying that would give me more anointing. I had heard and even preached “if – then…” Then there would follow a list of seven steps, six steps or even twelve steps. There were message titles such as “If You Want More Anointing Then…” And because I felt I had not followed the steps, I assumed that was why everyone was not saved or healed in the meetings I was doing.
But then one day I came across the ministry of Pastor Peter Youngren and Pastor Joseph Prince who delivered a message to me that really set me free. I thought I was free but now I know I am free, not because of what I have done but because of what Jesus has done. It was like I had been walking through life with a flashlight on the Word of God, but when this message of Grace and the finished work of Christ Jesus was revealed to me, it was like a whole floodlight opened over and in my life. I began to see Jesus and what He did for me throughout the scriptures.
It has changed my life and ministry to the point where I have had to go through messages I used to preach and throw them away because they were a mixture. I have learned to relax in Him and realize that it’s not me – it’s Him! Why? Because of what Paul the Apostle says: Christ in you.
Somebody said to me recently, in fact it was a pastor who said it: “Yes, but how much of Christ is in you – what percentage is in you?” My response was that 100% is in me, because He is in me and as He is, so am I.
The ministries of Pastor Peter Youngren and Pastor Joseph Prince, and also a very important life source for me, the Global Grace Network Newsletter, have become an inspiration and also a great ministry resource. I have preached many of the messages from the newsletters.
In the process of this amazing grace transformation, a woman I have known for many years e-mailed me and asked me a question. She had earlier been a part of a church worship team, but through things that had happened in the church, she had been away from church for over 20 years. She now had four children by four different men.
when this message of Grace and the finished work of Christ Jesus was revealed to me, it was like a whole floodlight opened over and in my life
But as the Father in the story of the prodigal son, I knew the Father was looking and awaiting her return. The question she asked was: “If I die tonight, where will I go?” Many times I hear Christians give the answer that you will be going to hell. Well, I began to e-mail her what the Father was saying to me from the prodigal son. I said to her: “You think you are unworthy like the prodigal son. But the Father ran to him and embraced Him.” I was able to share with her that before you began to run towards Him, He ran to you and embraced you in Christ.
Romans 5:8: “But God demonstrates His own love towards us, in that while we were still sinners, Christ died for us.”
2 Corinthians 5:18-19 (AMP):
“But all things are from God, Who through Jesus Christ reconciled us to Himself [received us into favour, brought us into harmony with Himself] and gave to us the ministry of reconciliation [that by word and deed we might aim to bring others into harmony with Him]
It was God [personally present] in Christ, reconciling and restoring the world to favour with Himself, not counting up and holding against [men] their trespasses [but cancelling them], and committing to us the message of reconciliation (of the restoration to favour).”
Reconciled – Greek word, katallasso – means to change, exchange, reestablish, make things right, remove enmity. It describes the reestablishing of a proper, loving, interpersonal relationship, which has been broken or disrupted.
And today I can tell you that she is now reconciled and has reestablished a proper, loving relationship with God the Father. She also attends a Pentecostal church in her city and is, in fact, very involved in the life of the church. That’s how powerful the message is – Amazing Grace!
So this message is now all I know. I preach “Jesus Christ and Him Crucified,” declaring to the nations: be reconciled to God.
Romans 1:16: “For I am not ashamed of the gospel of Christ for it is the power of God to salvation for everyone who believes, for the Jew first and also for the Greek.”
Paul is saying: I refuse to give up on this message, to modify it or leave it for another message.
And I echo those same words: I refuse to give up this message or to modify it or leave it for another. Because this message transforms lives, it can transform nations.
Artikel-artikel dapat digunakan dengan cuma-cuma selama penggunaan tersebut secara utuh dan disertai keterangan bahwa artikel tersebut bersumber dari Global Grace News http://www.globalgracenews.org.