Mari Melihat Kembali Kepada Yesus

Oleh: Peter Youngren
Dari: August 2009
Peter Youngren tidak mencoba untuk merubah seseorang dari agama satu ke agama yang lain, tetapi hanya membawakan kabar baik tentang Yesus pada semua orang dalam SEMUA agama.

Yesus adalah titik kontak antara umat Muslim dan Kristen. Satu-satunya tulisan rohani kuno yang memberi Yesus kedudukan tertinggi adalah Alkitab dan kitab suci agama Islam, Alquran, yang menyebut nama Yesus sebanyak 97 kali. Seluruh pasal-pasal dipersembahkan kepada-Nya. Meskipun terdapat perbedaan yang mendasar tentang bagaimana umat Kristen dan Muslim memandang Yesus, tidak diragukan lagi bahwa Dia adalah seseorang yang tetap menjadi perhatian umum dan inti sebuah perbincangan.

Izinkan saya memberikan gambaran yang jelas di mana saya berdiri. Yesus datang ke dunia; tidak ada agama maupun kebudayaan yang menguasainya. Dia mengasihi dunia ini, mati bagi semua, dan bangkit kembali untuk memberikan kehidupan yang baru kepada setiap orang. Anugerahnya berlaku bagi semua agama termasuk umat Muslim dan Kristen juga. Yesus adalah Juruselamat semua manusia.

Salah satu kalimat pertama yang saya katakan kepada kawan-kawan Muslim adalah, “Aku tidak sedang berusaha untuk menjadikanmu seorang Kristen.” Hal ini tidak berarti bahwa saya memandang kekristenan dalam sebuah pandangan yang negatif, meskipun sama seperti setiap agama, kekristenan juga memiliki masalahnya sendiri. Intinya bahwa tidak ada agama, betapapun betapa mulia tujuannya, yang memiliki kuasa untuk menjadikan kita benar. Kuasa tersebut hanya ada pada Yesus sendiri. Selama bertahun-tahun saya telah berusaha keras untuk menunjukkan kepada orang-orang Kristen kebutuhan kita untuk menerima kehidupan yang baru melalui Yesus Kristus. Bagaimana kita merespons Yesus adalah sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang tidak peduli apa agamanya. Ini adalah area dari sebuah kesetaraan sepenuhnya: semua orang, laki-laki maupun perempuan, Kristen maupun Muslim, kaya maupun miskin, yang percaya dan menerima kasih Tuhan yang dinyatakan dalam Yesus akan memperoleh kehidupan yang kekal.

Misi saya dalam hidup saya adalah membagikan Kabar Baik dari Yesus Kristus. Selama tiga puluh tahun saya telah menikmati bekerja dengan orang-orang Kristen dari hampir semua denominasi dan semua belahan bumi ini. Denominator kita semua adalah kasih kita kepada orang-orang dan iman kita dalam Injil Yesus Kristus.

Muhammad, Al-Qur’an dan Umat Kristen

Sebagai tambahan dalam hal bekerja dengan orang-orang Kristen, saya dengan senang hati bekerja dengan semua orang yang memperjuangkan perdamaian dan saling pengertian. Perjalanan saya telah membawa saya untuk menjalin hubungan dengan banyak orang-orang Muslim yang jujur, pekerja keras, dan mencintai perdamaian. Saya sering mendapatkan banyak persahabatan dan pemahaman dari orang-orang Muslim. Telah menjadi sukacita bagi saya untuk bisa membuka tangan bagi sebuah persahabatan dengan orang-orang yang berbeda agama dengan saya, seperti yang dicontohkan oleh Yesus dan Rasul Paulus yang menolak mendiskrimasikan seseorang ataupun sekelompok orang. Persahabatan saya dengan orang-orang Muslim tidak membuat saya mengkompromikan iman saya mengenai Injil. Namun sebaliknya, hal itu menolong saya untuk benar-benar fokus kepada inti dari pesan kita yaitu mengenai Yesus dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi dunia. Ketika kita berbalik dari kebenaran diri sendiri dan kekauatan diri sendiri dan menerima Mesias yang dikirim Tuhan ke dalam hati kita, kita akan menerima kedamaian dari Tuhan. Yesus sendiri adalah Raja Damai.

Saya ingat betapa terkejutnya saya ketika menemukan bahwa Alquran meninggikan Injil.

Saya ingat betapa terkejutnya saya ketika menemukan bahwa Alquran meninggikan Injil. Nabi orang Islam, Muhammad, mengajarkan bahwa Injil itu berasal dari Tuhan, namun jutaan orang Muslim dan Kristen tahu sedikit atau sama sekali tidak mengenai Injil. Ketidakpedulian ini menjadikan tugas untuk menyatakan Kabar Baik dari Kristus benar-benar mendesak.

Pada masa-masa awal agama Islam, Muhammad mempunyai hubungan yang cukup baik dengan umat Kristen. Orang-orang Kristen dan Yahudi dalam istilah Arab disebut sebagai “Ahl al Kitab”, yang berarti “Ahli-ahli Kitab”. Selanjutnya Alquran menyebutkan penilaian yang baik ini terhadap ahli-ahli Kitab: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri” (Surah 5:82).

Umat Muslim didorong untuk menerima Kitab Suci orang Yahudi dan Kristen, dan untuk hidup dalam damai dengan mereka. “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: ‘Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri” (Surah 29:46).

Saya benar-benar serius ketika mengatakan bahwa saya tidak ingin menjadikan orang-orang pindah dari satu agama ke agama lain.

Lebih jauh Alquran mengatakan bahwa jika seorang Muslim memiliki pertanyaan-pertanyaan mereka dapat bertanya kepada “Ahli-ahli Kitab”, “maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu” (Surah 10:94).

Dalam bagian selanjutnya dari kehidupan Muhammad, Alquran mencatat contoh-contoh permusuhan antara orang-orang Muslim dan Kristen, begitu pula dengan kemarahan-kemarahan dari orang-orang Kristen. Namun, ayat yang disebutkan di atas tetap menunjukkan akan adanya keterbukaan dan itikad baik. Saya akan lebih berfokus pada poin-poin persamaan, dan hal membangun jembatan, ketimbang pada hal-hal yang bisa melahirkan perselisihan. Cukup banyak buku-buku yang telah ditulis mengenai peperangan antara orang-orang Kristen dan Muslim. Fokus saya adalah Yesus dan kasih-Nya bagi semua orang.

Meninggikan Yesus dan bukan agama tertentu

Saya benar-benar serius ketika mengatakan bahwa saya tidak ingin menjadikan orang-orang pindah dari satu agama ke agama lain. Hal ini tidak akan berbuah oleh karena tidak ada satu agama pun yang mampu menyelamatkan bahkan satu orang saja. Orang-orang Kristen terkadang merasa tersinggung pada saat saya mengatakan pernyataan ini. Sangatlah mudah bagi kita orang-orang Kristen untuk lebih memusatkan perhatian kepada agama kekristenan daripada pribadi Yesus sendiri. Sebuah pengkajian yang singkat dalam Alkitab akan mengungkapkan bahwa keselamatan tidak ditemukan dalam sebuah agama. Pernyataan dari Alkitab seperti: “‘Barangsiapa percaya kepada Anak (Yesus) akan memiliki hidup’ dan kehidupan yang kekal ada dalam ‘tiada nama lain selain Yesus’” menempatkan fokus kepada Yesus dan hanya Yesus sendiri (lebih lagi mengenai hal ini akan dibahas nanti).

Saya benar-benar serius ketika mengatakan bahwa saya tidak ingin menjadikan orang-orang pindah dari satu agama ke agama lain.

Sementara saya tidak berusaha untuk mengalihkan agama seseorang ke agama yang lain, saya mencoba untuk mempengaruhi orang-orang dari semua agama untuk memiliki Yesus dan kebenaran-Nya, yang merupakan sebuah pemberian cuma-cuma kepada semua yang mau percaya. Hal ini tidak sama dengan berusaha mengalihkan seseorang dari satu agama ke agama yang lain. Faktanya, jutaan orang menyatakan kesetiaannya pada kekristenan, dan masih saja tidak memiliki pengetahuan mengenai pemberian cuma-cuma akan kebenaran Yesus.

Persahabatan, Bukan Permusuhan

Seperti banyak orang Kristen lainnya, saya tumbuh dalam sebuah lingkungan di mana orang-orang Muslim dicurigai. Entah bagaimana, sebuah pemikiran masuk dalam pikiran saya di masa kecil bahwa orang-orang Muslim ingin membunuh orang-orang Kristen. Sementara tidak dapat disangkal bahwa orang-orang Muslim fanatik telah membunuh orang-orang Kristen, dan sama benarnya bahwa orang-orang Kristen fanatik telah membunuh orang-orang Muslim.

Apakah interaksi saya dengan umat Muslim berjalan tanpa konfrontasi atau konflik? Sedikit banyak, ya. Ada beberapa kesempatan di mana ketegangan dan konflik muncul, tetapi setiap kali hal itu disebabkan umat Muslim salah berpikir bahwa saya akan menyerang agama mereka.

Mengapa beberapa umat Muslim berpikir bahwa saya ingin berkhotbah menentang agama mereka? Mari sya jelaskan. Selama lebih dari 30 tahun, saya telah menyelenggarakan Perayaan Injil akbar di seluruh dunia. Kerumunan massa yang mencapai 600.000 orang menghadiri satu kali kebaktian. Sementara tidak semua acara dihadiri oleh orang dengan jumlah sebesar itu, hampir semua Perayaan dihadiri oleh puluhan ribu orang. Tidaklah mungkin untuk menyelenggarakan acara sebesar itu tanpa menarik perhatian dari media. Dalam beberapa kesempatan, umat Muslim memberikan reaksi negatif terhadap publikasi kami. Pada setiap kesempatan saya berbicara dengan umat Muslim yang menentang acara kami, saya menemukan bahwa permasalahannya disebabkan oleh pertemuan mereka sebelumnya dengan para pengkhotbah Kristen. Mereka telah mendengar pelayan-pelayan Kristen yang menggunakan mimbar untuk meremehkan Islam dan umat Muslim. Ketika mereka melihat publikasi acara kami, mereka menyangka bahwa ini adalah salah satu acara lain di mana umat Kristen akan menampar umat Muslim.

Saya ingat satu peristiwa yang menegangkan di mana kerusuhan terjadi di jalan-jalan sebelum acara Perayaan kami dimulai. Setelah orang-orang mendengar khotbah pertama saya mengenai Yesus mereka memahami bahwa saya tidak sedang mengkritik Islam. Lima belas pemimpin Muslim datang ke hotel saya pada larut malam. Satu demi satu para pemimpin ini meminta maaf. Itu adalah salah satu peristiwa yang paling menyentuh dalam kehidupan saya ketika mereka berkata, “Tuan Youngren, kami sadar sekarang sekarang bahwa Anda tidak datang untuk menyerang kami ataupun agama kami, tetapi Anda hanya berbicara dengan penuh kasih mengenai Tuhan Yesus Kristus.”

Ketika saya mampu membagi kasih Tuhan yang dinyatakan dalam diri Yesus dengan sikap yang bersahabat, kesalahpahaman akan disingkirkan. Saya tidak mengatakan bahwa kami setuju dengan semua fakta yang terjadi, atau bahwa para pemimpin Muslim tersebut menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka malam itu. Tidak, kami masih memiliki perbedaan-perbedaan. Namun, ketika saya berfokus pada kasih Tuhan yang dinyatakan dalam diri Yesus, maka akan ada kerelaan untuk mendengarkan.

Gambar Kartun

Pada awal tahun 2006, surat kabar Eropa menampilkan gambar kartun dari Nabi Muhammad. Umat Muslim memandang hal ini sebagai penghinaan dan demonstrasi meledak di seluruh dunia. Yang menyedihkan, beberapa orang meninggal dunia sebagai dampak dari protes tersebut. Orang-orang Kristen bersikukuh mempertahankan hal tersebut dengan dasar kebebasan pers. Pemuka agama Muslim sama gigihnya menyatakan bahwa penggambaran itu sebuah penghinaan. Lagi-lagi, banyak pengkhotbah Kristen terlibat dalam percekcokan. Beberapa pengkhotbah menyatakan bahwa demonstrasi yang anarkis menunjukkan wajah sebenarnya dari Islam. Saya menghargai kebebasan berekspresi di negara barat dan menyayangkan bahwa kebebasan ini tidak ada di negara-negara Muslim. Namun demikian, orang-orang Kristen seharusnya mengetahui dengan lebih baik ketimbang menyerang agama lain. Ketika media massa menodai nilai-nilai Kristen, perasaan kita tersakiti dan kita meminta hal tersebut dihentikan. Umat Kristen memprotes film-film seperti “The Last Temptation of Christ”, dan “The Da Vinci Code” karena film-film tersebut menggambarkan Yesus dalam sebuah tampilan yang kita anggap sebagai sebuah penghinaan. Sudah sewajarnya bagi kita untuk menghormati orang lain. Tugas kita sebenarnya jauh lebih penting daripada mempertahankan atau mengkritik sebuah gambar kartun. Politikus bergelut di bidang politik. Editor surat kabar bergelut dibidang redaksi. Perhatian kita bukanlah kebebasan untuk berbicara dengan menyakitkan melawan orang lain, melainkan kebebasan untuk menyatakan kabar baik dari apa yang Tuhan telah lakukan dalam Yesus Kristus bagi dunia. Saya menantang umat Kristen untuk berfokus pada tugas kita, dan saya menantang umat Muslim untuk tidak merasa khawatir untuk membiarkan berita Injil Yesus Kristus didengar.

Cukup banyak buku-buku yang telah ditulis mengenai peperangan antara orang-orang Kristen dan Muslim. Fokus saya adalah Yesus dan kasih-Nya bagi semua orang.

Apakah Saya Terlalu Naif?

Kepada orang-orang Kristen yang mungkin menganggap saya bersikap naif dengan mengajak bersahabat orang-orang Muslim dalam sebuah dunia kekerasan dan terorisme, saya bertanya, “Bagaimana hasil pendekatanmu dengan dunia Muslim?” Saya bertanya kepada teman-teman Kristen saya yang menyerang dan merendahkan Islam melalui kata-katanya, “Hasil apa yang Anda lihat?”

Yang terpenting, pendekatan apakah yang Yesus pakai? Yesus berkata, “Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.
Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman” (Yohanes 12:47-48). Ini merupakan sebuah pernyataan yang luar biasa.

Yesus berkata:

1. Dia tidak akan menghakimi orang yang tidak percaya kepada-Nya;
2. Tujuannya sekarang adalah membawa keselamatan bagi manusia; dan
3. Penghakiman akan datang pada akhir zaman.

Apakah Anda melihat bagaimana hal ini membebaskan kita dari menghakimi orang lain? Ini tidak berarti bahwa tidak akan pernah ada penghakiman. Tidak, Tuhan akan menghakimi semua orang pada akhir zaman.

Pada tiap kesempatan, Yesus mengabaikan pertanyaan tersebut dan tetap berfokus pada pesan-Nya—membawa keselamatan dan hidup baru bagi semua orang tanpa diskriminasi.

Terdapat banyak kesempatan sekarang yang bisa ditarik ke dalam suatu perdebatan politik. Yesus juga mengalami tantangan seperti ini. Wanita Samaria yang berbalik kepada Yesus mencoba untuk memulai sebuah perdebatan dengan bertanya manakah tempat yang benar untuk menyembah, di Yesrusalem atau di Samaria (Yohanes 4). Para murid ingin mendiskusikan pembentukan kerajaan Israel secara politis (Kisah Para Rasul 1:4-8). Pada tiap kesempatan, Yesus mengabaikan pertanyaan tersebut dan tetap berfokus pada pesan-Nya—membawa keselamatan dan hidup baru bagi semua orang tanpa diskriminasi. Yesus tidak datang untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan. Kita mengikuti Yesus!

Artikel ini dikutip dari buku, My Muslim Friends, oleh Peter Youngren. Untuk memperoleh salinan buku tersebut, kunjungi toko online mereka di http://www.peteryoungren.org

Dalam buku yang kadang-kadang provokatif dan menantang ini, orang Kristen didorong untuk membuang pandangan fanatiknya terhadap Muslim, sementara umat Islam ditantang untuk belajar lebih banyak dari Injil Yesus Kristus. Penulis mengutip secara bebas dari Alkitab maupun kitab suci Islam, Alquran, mencatat bahwa ini adalah satu-satunya kitab suci kuno yang memberi Yesus sebuah posisi tertinggi. Dalam dunia yang tampaknya pernah semakin dekat ke jurang bencana, buku ini pendukung adanya jalan persahabatan dan bukan fanatisme, dialog dan bukan perpecahan. Sebagian besar isinya akan menarik pembaca ke dalam perjumpaan dengan Yesus yang lebih mendalam.”

 

Oleh: Peter Youngren

As founder of World Impact Ministries, Celebration Bible College, Way of Peace and the Celebration Churches in Toronto, Hamilton and Niagara, Canada, Peter is committed to equipping believers to fulfill their purpose before the return of Jesus Christ.

Selanjutnya tentang Peter Youngren | Artikel oleh Peter Youngren